
Semua yang dibutuhkan untuk peralatan di sebuah studio editing, sudah disediakan oleh Jamal. Sesuai dengan apa yang sudah di list Dewi Riani sendiri.
Jamal juga mendapatkan semua peralatan yang dibutuhkan itu, atas rekomendasi dari Dewi Riani juga.
Jadi, Jamal hanya membelanjakan dan menyediakan pesanan yang diinginkan oleh Dewi Riani, untuk buatan sebuah studio mini. Seperti kamera, lensa, tas kamera, menyiapkan ruangan dan Dekorasi P
pendukung, lampu untuk mendukung pencahayaan, peralatan-peralatan foto yang sesuai kebutuhan, alat pendukung lainnya.
Fungsi studio mini sendiri itu nantinya sama dengan sebuah studio besar. Intinya, membuat objek yang akan di potret atau di video menjadi lebih bisa diatur pencahayaan dan latarnya. Sehingga bisa menghasilkan sebuah gambar katalog yang berkualitas.
Meskipun tidak banyak peralatan yang dibutuhkan, ternyata harganya cukup besar juga. Apalagi Jamal juga harus menyediakan dekorasi ruangan yang pas, sama seperti sebuah studio.
Proses editing akan menjadi salah satu tahapan terpenting dalam pembuatan sebuah video. Melalui proses tahapan editing ini, di harapkan dapat memaksimalkan penggunaan material yang diperoleh selama proses pengambilan gambar, sehingga memperoleh hasil yang memuaskan.
Biasanya, para pekerja di bidang ini akan menyiapkan sendiri untuk beberapa langkah, seperti :
Langkah 1. Rencana.
Langkah 2. Mengambil gambar atau objek.
Langkah 3. Impor media.
Langkah 4. Mengatur media.
Langkah 5. Mengedit cerita.
Langkah 6. Memangkas cerita.
Langkah 7. Tambahkan transisi.
Langkah 8. Menambahkan judul.
Benar-benar terasa sangat melelahkan juga, saat Jamal membayangkan bagaimana sibuknya Dewi Riani nanti jika sudah bekerja.
"Itu sudah resiko sebuah profesi Mas. Sama seperti profesinya Mas Jamal juga, yang menjadi seorang petani. Jika sampai gagal panen, yaitu resiko yang ada. Jadi, semua profesi itu ada untung ruginya. Berat atau ringan, tergantung sebut pandang masing-masing juga Mas," terang Indah, memberikan penjelasan kepada suaminya.
Jamal, mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh istrinya itu.
__ADS_1
Dia memang tidak mau terlalu ribet, dalam segala sesuatu yang harus dilakukan.
Mungkin karena dia terbiasa berpikir simple, sehingga jika menemukan sesuatu yang sedikit rumit, Jamal akan mengatakan itu susah dan berat.
Padahal profesinya sebagai petani, menurut mereka yang tidak terbiasa juga rumit dan membingungkan. Karena harus mengurus dan memikirkan lahan yang cocok, pengolahan lahan sebelum di tanami, pemilihan bibit yang baik, Mada tanam yang pas, pengobatan dengan tahapan demi tahapan yang harus dilakukan, dan masa panen yang sesuai, juga perlu direncanakan.
Jadi, apapun profesi yang dikerjakan, pasti ada sesuatu yang tidak biasa bagi orang lain, yang tidak biasa melakukannya.
Sawang sinawang jika kata orang.
( Ada yang tidak tahu artinya? Boleh komentar ya, nanti TK kasih tahu artinya. Hehehe... )
Kembali pada Jamal.
Dia sudah menghubungi Dewi Riani, untuk mengabarkan bahwa studio mini yang dia butuhkan sudah siap. Jadi, dia di minta untuk segera datang.
Dan Dewi Riani, juga sudah memberikan jawaban bahwa, dia akan sampai besok pagi.
Setelah semua di rasa beres, Jamal kembali mengurusi bibit pohon durian, yang belum dikirim oleh pihak pemasok. Padahal sudah dibayar lunas.
Dia mulai menghubungi orang-orang yang kemarin memberikan kontak padanya, untuk para penjual bibit pohon durian. Sebab, yang memberikannya adalah orang-orang yang ada di Chanel Jamal Farm News.
Jamal yang terbiasa percaya pada orang, akhirnya mulai waspada terhadap segala sesuatu yang berbentuk penipuan. Apalagi ini secara online.
Sekarang, Jamal mencoba untuk bertanya sekali lagi, melalui kolom komentar yang kemarin digunakan oleh orang tersebut.
Tapi kenyataannya, komentar tersebut sudah dihapus. Bahkan, akun tersebut juga sudah ditutup, dan tidak bisa dihubungi lagi.
"Ini sudah pasti penipuan Mas! Kok bisa mas Jamal asal transfer ke orang itu sih?" keluh Indah, yang merasa bahwa suaminya saat ini sedang kena tipu.
"Kemarin itu, orangnya memperlihatkan secara langsung bibit-bibit duriannya. Dia ada di antara pohon-pohon yang siap tanam. Katanya, itu milik saudaranya sendiri, yang kereta tidak jauh dari rumahnya. Makanya Aku langsung membayar sejumlah uang yang diminta, sesuai juga dengan jumlah pohon yang akan dikirim."
Indah mengelengkan kepalanya beberapa kali, mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya, Jamal.
"Mas Jamal punya truk sendiri, harusnya, mas Jamal survei ke sana langsung. Dan jika bibit-bibit tersebut memang siap tanam, Mas Jamal bisa langsung membawanya dengan truk juga. Sama seperti saat Mas Jamal pergi dengan mas Tarno kemarin. Meskipun dari pihak sana nanti yang akan mengirimnya, tapi Mas Jamal kan puas, bisa melihatnya secara langsung."
Sekarang, Jamal menyadari kekeliruannya, yang sudah terlanjur. Dan semua sudah terjadi, jadi tidak ada gunanya juga untuk disesali dan diratapi.
__ADS_1
"Media sosial itu tidak semua orang jujur Mas. Meskipun tidak semua pembohong juga. Tapi setidaknya, kita wajib untuk waspada, supaya tidak tertipu dengan orang-orang yang juta kenal di sosial media."
Jamal kembali menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh istrinya barusan. Karena itu memang benar adanya.
Dia memang tidak terlalu mempedulikan, apakah orang yang ikut ada di Chanel nya itu buruk atau tidak. Karena menurutnya, semua orang yang selalu mengikutinya itu adalah orang-orang yang mendukungnya.
Sama halnya saat mereka memesan kentang, yang selalu sesuai dengan pesanan. Meskipun semuanya juga diurus oleh agen-agen yang ada di beberapa kota. Yang akan menjadi tempat yang dipasok dari Jamal sendiri.
Jadi, pendistribusian kentang berwarna miliknya, melalui agen-agen yang sudah kerjasama dengan Jamal. Sehingga Jamal hanya akan mengantar ke agen tersebut, dan agen itulah yang akan mendata, mengirim, dan mengumpulkan uang, setelahnya baru akan dikirimkan ke jamal. Sesuai dengan harga agen, bukan yang ada di pasaran.
Jika ada yang penipuan atau semacamnya dari pesanan, itu adalah resiko yang akan ditanggung oleh agen. Sebab, Jamal mengirim sesuai pesanan mereka, yang sudah di jumlah dari pesanan orang-orang melalui agen tersebut.
Itulah sebabnya, Jamal juga tidak menghafal siapa-siapa saja, yang biasanya memesan l Kentang berwarna miliknya.
Akhirnya, atas usulan Indah, dia mencoba menelusuri nomor yang kemarin menghubunginya, untuk mendapatkan bibit pohon durian pada pihak agen.
Siapa tahu, agen-agen yang tersebar bisa membantunya, untuk menemukan pemilik nomor ponsel dan akun, yang sudah menipunya kali ini.
"Jika tidak ketemu juga, mas Jamal bisa melaporkannya kepada pihak yang berwajib, dengan bukti-bukti percakapan mas Jamal melalui pesan-pesan yang terkirim. Jadi, pesan-pesan yang ada jangan sampai terhapus dulu."
"Iya Yang. Semoga saja, orang itu hanya sedang ada masalah sehingga menghilang untuk sementara waktu. Siapa tahu, beberapa waktu ke depannya nanti iya akan muncul dan memberikan penjelasan kepada pihak kita. Kenapa dia sampai melakukan ini."
Ternyata, Jamal masih berusaha untuk berpikir jernih. Dan tidak berprasangka buruk pada orang tersebut.
Indah hanya mengangguk saja, tanpa banyak berkomentar. Karena itu akan memicu ketegangan di antara mereka berdua, pada saat beda pendapat.
"Makan dulu Mas. Biar kita pikirkan nanti lagi untuk masalah ini."
Jamal mengikuti langkah istrinya kemeja makan, setiap hari memang sudah siang. Dia tidak mau, jika hanya karena masalah ini, dia sampai melupakan kesehatannya sendiri.
"Anak-anak sudah makan Yang?" tanya Jamal, mengingatkan pada istrinya untuk memperhatikan anak-anaknya juga.
"Sudah Mas. Anak-anak sudah makan duluan kok," sahut Indah, dengan memperlihatkan beberapa piring yang sudah terpakai, atau kotor. Karena digunakan untuk tempat makan anak-anaknya tadi.
Akhirnya, Indah melayani dan menemani Jamal untuk makan siang.
Indah tidak mau, jika suaminya itu merasa terabaikan olehnya, hanya karena perbedaan pendapat yang tadi.
__ADS_1
Sekarang, mereka berdua menikmati makan siang mereka, dan melupakan untuk sementara waktu permasalahan demi permasalahan yang mereka hadapi barusan.