
"Aku jadi malu Mal, jika ingat semua itu. Dan untuk itu, Aku minta maaf ya. Karena Aku selalu menjadi penghalang untuk hubungamu dengan para cewek dulu. Tapi, sungguh, Aku benar-benar tidak tahu, jika laki-laki yang mau dijodohkan dengan Ajeng dulu itu Kamu Mal. Ajeng gak pernah cerita, tentang nama orang yang akan dijodohkan dengannya."
Hendra merasa tidak enak hati, mengingat kembali kejadian yang dulu-dulu. Baik itu dengan Lina, dan juga Ajeng.
"Apa sih Hen! Udahlah, mungkin dengan begini Aku jadi bisa memilih istri yang baik dan tidak harus memikirkan penampilan ku juga. Dan seperti itulah yang akhirnya terjadi. Karena selama ini, Indah tidak pernah komplain dengan apa yang ada padaku. Aku juga harus mengutamakan apa-apa tentang Indah sekarang. Dan Aku gak mau cewek lain selain indah."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Jamal, membuat Hendra meringis canggung.
Dia merasa bersalah, atas semua yang sudah terjadi di masa lalu mereka berdua. Dengan sebuah persaingan yang tidak terlihat dari luar. Meskipun Hendra juga yakin, jika Jamal tidak pernah melihatnya sebagai saingan.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di penggilingan padi. Para pekerja yang masih membereskan barang-barang atau peralatan pertukangan, semuanya ikut menoleh, saat ada Jamal dan Hendra yang datang.
"Halo Bos Jamal! bagaimana kabar pengantin baru ini? hahaha..." kepala mandor menyapa Jamal yang datang bersama dengan temannya, yaitu Hendra.
"Hahaha... baik-baik Pak. Ini sudah selesai nih?" tanya Jamal, karena melihat banyak alat pertukangan yang dibereskan.
"Sudah hampir selesai semua Bos. Itu sengaja kami letakkan di situ semuanya, ya biar besok sekalian, kalau pas ada peresmian semuanya beres dan rapi gitu!"
"Oh siap-siap! terima kasih banyak ya Pak, udah banyak bantu untuk pembangunan pengilingan padi ini. Jadi panen tahun ini, bisa langsung digunakan juga."
Jamal mengucapkan terima kasih, kepada kepala mandor, yang sudah dia kenal dengan baik. Sejak renovasi rumahnya yang dulu.
"Iya sama-sama. Semua juga sudah beres kok Bos, masing-masing sudah terpasang rapi dan bagus, sama mekanik mesinnya. Aman dan nyaman pokoknya! sudah ada di sana semuanya, lagi cek ulang aja biar gak salah."
Kepala mandor kembali memberikan penjelasan kepada Jamal.
"Oke Pak, terima kasih ya."
"Oh ya, ini kenalin temanku, namanya Hendra. Dia nanti yang akan menghandle penggilingan padi ini," ujar Jamal, dengan memperkenalkan Hendra dengan pak Mandor.
"Ya-ya Mas siap-siap! Ini, Saya kontraktor yang menangani, serta bertanggung jawab atas pembangunan penggilingan padi. Jadi jika ada apa-apa, bisa hubungi kami lagi."
__ADS_1
Baik Jamal maupun Hendra, sama-sama menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan pak mandor.
"Bos Jamal, terima kasih ya, untuk kepercayaannya selama ini."
"Sama-sama Pak. Saya juga terbantu dengan adanya Bapak dan tim, yang dengan cepat membangun ini. Kemarin peternakan sapi Bapak yang bantu bangun. Dan ini pengilingan padi juga Bapak. Pokoknya the best deh! makasih banyak."
"Sama-sama Bos Jamal. Kami juga dapat kerjaan juga kan? hehehe..."
Jamal dan Hendra akhirnya berkeliling di sekitar bangunan panggilan padi. Melihat-lihat keadaan dan bagaimana tata letak yang sesuai dengan yang dia inginkan.
Model dan arsitektur dari pengilingan padi ini, di ambil Jamal dari sistem. Jadi, tidak akan ada yang menyamainya di luar sana.
"Mal, pengilingan padi model kayak gini kan besar Mal modalnya. Aku... bagaimana bisa ngikutin Kamu ini?" Hendra bingung dengan apa yang akan dia kerjakan nanti, di saat semua sudah berjalan sesuai rencana.
"Kamu kerja aja dulu, gak apa-apa. Gak usah pikirin yang belum terjadi. Yang penting Kamu ada kerjaan dan pemasukan, untuk melanjutkan hidup Kamu di desa ini dulu. Itu sudah cukup. Untuk kedepannya nanti, biar nasib yang atur."
Hendra mengangguk mengiyakan perkataan Jamal. Karena dia memang tidak punya keahlian apa-apa di desa ini.
"Mal. Terima kasih banyak ya Mal. Tapi, jika nanti Ajeng mau Aku lamar bagaimana? Kan Aku udah gak punya apa-apa lagi." keluh Hendra memikirkan nasib kedepannya nanti.
"Ya tidak apa-apa. Kita akan jadi ipar nantinya. Hahaha..." Jamal tertawa senang, saat mengatakan Hendra akan jadi iparnya juga.
"Hahaha ngaco Kamu Mal! Aku udah kadung janji sama Ajeng. Tapi ya... begitu. Harus rela dikekang dia. Aku sih, oke-oke sajalah, soalnya Kamu tahu sendiri dia kayak gimana kan orangnya."
Ajeng memang tidak suka di atur, tapi dia yang posesif terhadap pasangan. Dan jika tidak dituruti akan nekat.
"Sabar-sabar. Memangnya begitulah jodohmu mungkin. Tidak usah dipikirkan sekarang, udah bagaimana nantinya ke depan saja. Yang penting Kamu ada niatan baik. Tuan Wiro pasti juga ikut mikirin kok, bagaimana sebaiknya. Soalnya dia pasti udah tahu, bagaimana watak anaknya kan. Secara dia adalah ayahnya. Jadi dia pasti tahu lebih banyak tentang anaknya itu."
Mendengar penuturan Jamal, Hendra kembali mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Kita balik yok!" ajak Jamal, setelah puas berkeliling pengilingan padi, yang akan dia resmikan besok pagi.
__ADS_1
"Ok ayok!"
"Oh ya Mal, jika ada kekurangan atau sesuatu yang Aku perlukan, Aku minta tolong ya, dibantu gitu. Secara sekarang ini, Aku gak punya apa-apa lagi. Kamu tahu sendirilah, bagaimana keadaanku yang sekarang."
Jamal menepuk pundak Hendra, untuk menenangkan hati temannya itu.
Pluk!
"Tenang saja. Apa sih yang Kamu butuhkan? selagi Aku mampu, Aku akan bantu. Gak apa-apa, kita ini adalah temen, tangga, ya... jadinya saudara juga kan!"
Hendra tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Jamal padanya. Dia sungguh malu, dengan segala kesombongannya di masa lalu. Yang meremehkan Jamal.
*****
Di rumah, pada malam hari setelah selesai makan malam.
Umi mengatakan bahwa, semua urusan konsumsi untuk acara besok sudah di handle oleh pihak catering.
"Jadi di rumah gak akan repot-repot Mal. Kamu sama Indah tetap tenang saja di dalam kamar malam ini."
"Eh, tapi ingat ya kalian berdua. Cepat kasih cucu buat Ami!"
Mendengar permintaan Ami nya, Indah hanya bisa menundukkan wajahnya malu.
Berbeda dengan Jamal sendiri. Dia justru menimpali perkataan Ami nya, yang meminta untuk segera diberikan cucu.
"Tenang saja Ami. Jamal kan petani yang hebat, pasti bisa dong dengan cepat memberikan benih-benih pada sawahnya Indah. Hehehe..."
Perkataan suaminya itu, membuat wajah Indah semakin merona merah.
Sedangkan Umi, tertawa-tawa senang mendengar jawaban yang diberikan oleh anaknya kali ini.
__ADS_1
"Ami berdoa, semoga usaha kalian berdua cepat ada hasil. Ami udah gak sabar juga lihat keberhasilan anak Ami menanamkan benih nya. Hehehe..."
'Aduh, ini Mas Jamal sama Ami sama-sama nih pikirannya. hihihi... aku kan jadi malu.' batin indah yang tentunya tidak bisa memungkiri bahwa, apa yang dikatakan oleh suaminya itu memang benar adanya.