Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Simpati


__ADS_3

'Ini anak maunya apa ya? Kan Aku sudah bilang, jika Jamal tidak ada di rumah. Kenapa dia tidak pergi juga?'


Umi membatin dalam hati, karena melihat Lina yang tidak pergi juga dari tempatnya berdiri sejak tadi.


Bahkan Lina tampak gelisah. Seperti sedang mencari dan memikirkan sesuatu, yang tidak bisa dia bicarakan dengan Umi. Entah apa maksudnya, datang pagi-pagi mencari keberadaan Jamal.


"Lin, ada apa lagi?" tanya Umi jengah. Karena keberadaan Lina yang tidak dia inginkan.


"Anu Ami, emhhh... ada perlu dengan mas Jamal. Ini... ini tentang Indah."


"Ada apa dengan Indah? jika soal Indah, bicara saja dengan Ami. Tidak usah cari Jamal, dengan Ami pun sama saja." Ami memberikan penjelasan kepada Lina, supaya bisa membicarakan tentang Indah dengannya saja. Jadi tidak perlu mencari Jamal.


"Emhhh... ya Ami."


"Sebenarnya... Lina datang ke sini mau memintakan ijin untuk Indah. Dia tidak bisa masuk kerja, sebab tiba-tiba badannya demam tinggi tadi malam."


Umi terkejut mendengar perkataan Lina, mengenai kondisinya Indah pagi ini. Karena kemarin Indah terlihat biasa-biasa saja, dan tidak mengeluhkan apapun tentang kondisi tubuhnya.


"Sudah periksa ke dokter Lin?"


Akhirnya Umi bertanya pada Lina, karena merasa khawatir dengan keadaan salah satu pegawai terbaiknya. Yaitu Indah.


"Ini tadi, bapak sedang bersiap-siap untuk membawa Indah ke rumah sakit. Karena demamnya tidak turun-turun Ami."


"Ya sudah. Nanti Ami kasih tau Jamal. Kamu juga, kenapa susah-susah datang ke sini! Tidak telpon saja, kan gampang!" cicit Umi dengan perasaan kesalnya.


'Maaf Ami. Selain ingin memberikan kabar tentang adikku Indah, Aku juga ingin bertemu dengan mas Jamal,' batin Lina sedih. Karena pada kenyataannya, Jamal justru tidak ada di rumahnya sepagi ini.


Akhirnya Lina pulang, setelah berpamitan dengan Umi yang berwajah datar. Tidak lagi tampak rasa cemas, sama seperti tadi. Di saat mendengar tentang keadaan Indah.


Di jalan menuju pulang ke rumah. Lina menahan air matanya, dengan mengusapnya dengan kasar.


Dia tidak mau terbawa suasana sedihnya, apalagi saat ini dia sedang mengendarai sepeda motor sendiri.


"Hiks... hiks... penyesalan yang Aku miliki ini tidak ada gunanya. Ami dan mas Jamal juga tidak mungkin mau menerimaku lagi. Meskipun mereka mau memaafkan diriku."


Sepanjang jalan, sambil terisak-isak, Lina juga bergumam seorang diri. Menyesali semua rasa bersalahnya, dan rasa cintanya pada Jamal yang baru dia rasakan sekarang ini.


"Aku salah, karena sudah mempermainkan perasaannya mas Jamal. Hiks..."


"Semua memang salahku. Aku patut untuk menerima semua ini. Hiks..."


******


Di tempat lain.


Jamal yang baru saja pergi dari peternakan sapi perah miliknya, berangkat ke sawah.


Dia tidak tahu jika, ada seseorang yang sedang mencari keberadaan dirinya. Yaitu seorang wanita cantik yang tadi datang ke rumahnya. Dengan alasan susu sapi segar yang biasa digunakan untuk mandi habis.

__ADS_1


Itulah sebabnya, dia mencari keberadaan Jamal. Agar bisa membawakan susu segar untuk keperluan mandi su_sunya pagi ini.


Tapi ternyata mereka berdua selisih jalan, sehingga tidak bisa bertemu. Karena saat Jamal baru saja keluar dari gerbang peternakan, wanita cantik tersebut baru sampai di belokan jalan.


Dan sekarang ini, Jamal sedang ada di sawahnya. Memandangi hijaunya daun-daun pada batang padi, yang baru beberapa hari kemarin di tanam.


Menurut perhitungan waktu dari sistem bertani yang dimiliki oleh Jamal, padi-padi ini akan panen sekitar dua puluh lima hari lagi. Sebab masa tanam ke masa panen, memang relatif lebih singkat dibanding padi biasa.


[ Ding ]


[ Waktu cek in harian Tuan ]


'Aku selalu cek in harian. Dan mendapat banyak keuntungan dari sistem. Tapi kenapa Aku merasa hampa ya?'


[ Ding ]


[ Karena hati Anda sedang berada pada posisi yang tidak seharusnya Tuan ]


'Lalu, bagaimana seharusnya hatiku?'


[ Ding ]


[ Bersabarlah sedikit lagi Tuan ]


[ Kebahagiaan akan datang seiring keberhasilan Tuan dengan usaha yang telah ditetapkan oleh sistem ]


'Baiklah. Aku akan bersabar untuk menunggui waktu itu.'


[ Ding ]


'Iya. Aku sudah membawa pupuknya.'


[ Ding ]


[ Pemupukan tanaman oleh Sistem Bertani ]


1%


10%


20%


30%


40%


50%...


Dan seterusnya hingga selesai menjadi 100%.

__ADS_1


Jamal hanya perlu berkeliling ke pematang sawah satu ke pematang sawah lainnya, dengan meletakkan beberapa pupuk yang dia bawa dari rumah.


Sistem Bertani yang memproses pupuk tersebut, sampai tersebar merata pada seluruh tanaman.


[ Ding ]


[ Proses pemupukan tanaman padi selesai ]


"Alhamdulillah..."


Tak lupa, Jamal pun mengucapkan syukur atas anugrah yang dia miliki ini.


Setelah selesai melakukan beberapa pekerjaan yang harus dia lakukan di sawah, barulah Jamal beranjak dari tempatnya berada. Bersiap-siap untuk pulang ke rumah.


Akhirnya Jamal kembali berjalan menuju ke tepi jalan, di mana tadi sepeda motornya dia parkir kan seperti biasanya.


Sebenarnya, Jamal sudah punya beberapa mobil untuk kendaraannya, yang siap untuk dia bawa kemana-mana. Tapi ternyata dia masih mengunakan sepeda motor warisan ayahnya. Karena menurutnya, sepeda motor tersebut sangat bersejarah dan tidak bisa dibandingkan dengan kendaraan miliknya yang sekarang ini.


Sepeda motor yang sudah tua dan seharusnya pensiun di gudang, justru dia gunakan untuk kegiatan sehari-hari. Mengurus segala pekerjaan yang dia miliki.


"Mas Jamal!"


Seseorang berteriak memanggil namanya.


"Nastiti," gumam Jamal menyebut nama seorang gadis, yang sekarang berjalan ke arahnya.


"Dari mana?" tanya Jamal pada Nastiti, di saat gadis tersebut sudah berada di dekatnya.


Nastiti adalah anaknya pak RT, yang seumuran dengan Indah. Tapi dia kuliah di kota besar, tidak seperti Indah yang hanya kuliah di daerahnya sendiri.


"Dari jalan-jalan saja Mas. Mumpung liburan semester, jadi pulang kampung."


Jamal mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Nastiti padanya.


"Mas Jamal sudah mau pulang?" Nastiti memperhatikan bagaimana kondisi Jamal yang masih rapi.


'Mas Jamal ke sawah, tapi pakaiannya rapi begini. Gak ada bekas tanah atau lumpur di celana panjangnya.' Nastiti membatin, dengan melihat ke arah kakinya Jamal.


Dan yang membuatnya lebih heran lagi adalah, sandal yang digunakan oleh Jamal, tidak memperlihatkan bahwa, Jamal baru saja berkeliling di sawah. Berjalan di pematang sawah satu ke pematang sawah lainnya. Sebab sawah-sawah yang di miliki oleh Jamal saat ini memang terbentang luas di persawahan ini.


"Nas. Nastiti," panggil Jamal dengan menggoyang-goyangkan tangannya di depan mata Nastiti.


"Eh... Emhhh, iya Mas. Monggo kalau mau pulang. Nastiti mau lanjut joging lagi."


Setelah melihat anggukan kepala Jamal, Nastiti langsung berlari-lari kecil lagi. Karena dia memang sedang joging pagi ini.


"Hemmm..."


Jamal membuang nafas panjang, melihat punggung Nastiti yang semakin menjauh dari jangkauan matanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Jamal pun meninggalkan area persawahan. Karena dia harus segera pulang ke rumah. Mengurus segala sesuatu yang harus dia kerjakan di kebun jeruk miliknya. Yang ada di sekitar rumahnya.


__ADS_2