Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Mulai Giat Lagi


__ADS_3

Tak ingin larut dalam suasana galau yang berkepanjangan, akhirnya Jamal memutuskan untuk fokus pada pekerjaan dan semua pelajaran yang dia terima dari sistem bertani yang dia miliki.


Sekarang dia berbincang-bincang sebentar dengan Indah, yang selama ini sudah banyak membantu dirinya untuk mengurus segala sesuatu pada pekerjaan yang memang dua serahkan pada Indah.


"Apa kandang sapi yang dipersiapkan sudah selesai Ndah?" tanya Jamal, membahas kandang sapi yang baru saja dibangun, di salah satu kebun yang baru saja dia beli.


Letaknya memang lumayan jauh dari perkampungan, sehingga diharapkan tidak menggangu masyarakat sekitar. Dengan adanya limbah pakan dan kotoran sapi nantinya. Jika sudah beroperasi.


"Sudah Mas. Sudah siap 90% untuk ditempati. Ada dua orang yang sudah siap mengurus ternak juga, jika sapi_nya datang besok."


Jamal menganggukkan kepalanya, paham dengan jawaban yang diberikan oleh Indah.


"Bagus. Lanjutkan saja sebagaimana awal rencana yang sudah Aku katakan padamu kemarin," pinta Jamal pada Indah, yang memang lebih mirip seperti assisten baginya.


Anggukan kepala Indah, mewakili kesediaan dirinya untuk melakukan sesuatu yang diminta oleh Jamal.


Dan di saat mereka berdua sudah selesai membicarakan tentang pekerjaan, Indah baru memberitahu pada Jamal. Jika tadi ada Hendra yang datang mencarinya.


"Tadi ada mas Hendra datang cari mas Jamal lho ke sini."


"Tadi, waktu Aku gak di rumah?" tanya Jamal merespon laporan yang disampaikan oleh Indah, jika ada Hendra.


"Iya Mas. Katanya sih, nanti mau ke sini lagi."


Jamal menghela nafas panjang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Indah barusan.


"Aku akan telpon dia, biar dia datang ke sini sekarang saja."


Akhirnya Indah pamit untuk pergi bekerja lagi, di saat Jamal akan melakukan panggilan telpon untuk Hendra.


Tut tut tut!


Panggilan pertama tidak ada yang menjawab. Mungkin Hendra sedang tidak membawa handphone miliknya, atau memang tidak mendengar bunyi notifikasi yang ada pada dering ponselnya.


Tut tut tut!


Sekali lagi Jamal mencobanya, karena dia harus segera menyelesaikan semua urusannya dengan Hendra, terkait dengan Ajeng. Anak Tuan Wiro, yang sedang dijodohkan dengan dirinya.


..."Halo Jamal! Ada di mana Kamu?"...


..."Aku ada di rumah Hen. Datanglah ke rumah, sekarang ya!"...


..."Oh ya-ya. Ok!"...


Klik!


Jamal membuang nafas panjang, setelah menutup panggilan teleponnya dengan Hendra.

__ADS_1


"Semoga saja Hendra punya jawaban dan keputusan yang tepat. Agar masalah ini tidak berlarut-larut." Gumam Jamal, mencoba untuk menenangkan hatinya sendiri.


Tak butuh waktu lama, akhirnya suara motor Hendra terdengar dari luar rumah. Sehingga Jamal pun melangkah keluar, untuk menyambut kedatangan temannya itu.


"Assalamualaikum..."


"Waallaikumsalam..."


Dengan cepat, Jamal menjawab salam yang diucapkan oleh Hendra, begitu berada di depan pintu rumahnya.


"Masuk Hen!"


"Apa kabar Kamu? On ya, kabar pak Dhe Kasan bagaimana?"


Hendra beluk duduk di kursi tamu, Jamal sudah mengajukan banyak pertanyaan ini itu.


Tapi Hendra juga tidak protes. Karena memang sudah lama dia tidak pulang ke desa G ini, apalagi bertemu dengan Jamal. Yang notabene memang tidak pernah pergi dari desa mereka ini.


Obrolan basa-basi pun akhirnya terjadi, kemudian merembet ke hal-hal yang memang perlu mereka bicarakan dengan serius.


"Sebenarnya... Hemmm... sebenarnya Aku datang ke sini mau minta tolong Mal. Itupun jika Kamu tidak keberatan." Hendra bicara dengan wajah menunduk.


Dia sebenarnya merasa malu pada Jamal. Karena dia dulunya, pernah meremehkan Jamal yang tidak mau ikut dirinya pergi bekerja ke kota.


Tapi kini, justru Jamal yang lebih sukses, dibandingkan dengan dirinya sendiri. Yang sudah lama bekerja di kota.


*****


Inti dari kedatangan Hendra bertemu dengan Jamal adalah, dia ingin menjual tanah dan rumahnya. Yang saat ini ditempati oleh bapaknya. Yaitu kang Kasan.


Hendra butuh uang untuk biaya adiknya yang kritis di rumah sakit jiwa. Sedangkan bapaknya sudah tidak punya apa-apa lagi, yang bisa dijual.


"Terus bapak Kamu bagaimana?" tanya Jamal, karena kang Kasan juga tidak mungkin dia usir dari rumahnya sendiri. Meskipun nanti Jamal mau membayarnya atas permintaan Hendra. Karena sekarang, rumah dan tanah tersebut sudah menjadi hak milik Hendra sendiri.


Sisa uang untuk biaya adikku akan Aku belikan perumahan di kota Mal. Nanti, Aku akan menikahi pacarku dan membawa bapakku ke sana. Biar di urus istriku."


Jamal mengerutkan keningnya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Hendra tentang rencananya ke depan.


"Maksudmu... Kamu mau boyong pak Dhe Kasan ke rumahmu, yang nantinya juga ada istrimu? Apa istrimu mau mengurus bapakmu yang sudah dalam keadaan seperti itu?"


Sekarang Hendra yang termenung, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Jamal padanya.


'Benar juga. Apa Ajeng mau ya, merawat bapak yang sudah tidak sehat secara mentalnya sekarang?' tanya Hendra membatin.


"Aku akan bicarakan ini dengan calon istriku nanti Mal."


"Hum..."

__ADS_1


Jamal pun tidak menanggapi perkataan Hendra. Dia hanya bergumam tidak jelas, karena dia tidak yakin jika Ajeng adalah tipe istri yang mau mengerti dengan keadaan Hendra, belum diketahui secara pasti oleh Ajeng sendiri.


Tapi Jamal juga tidak mau ikut campur. Biar mereka sendiri yang akan menyelesaikan semua urusan dan permasalahan.


Jamal hanya menyanggupi permintaan Hendra, untuk membeli rumah dan tanahnya saja. Dengan memberinya pesan, "sebaiknya Kamu segera selesaikan urusanmu dengan pacarmu itu. Biar orang tuanya juga tidak ada kesalahpahaman antara anaknya yang memilih Kamu sebagai suami."


Mendengar pesan tersebut, Hendra memiringkan kepalanya. Agar bisa lebih paham. Tapi Jamal mengalihkan perhatiannya Hendra dengan harga yang akan mereka berdua sepakati.


*****


Tengah malam.


Saat seperti ini, Jamal biasanya berinteraksi dengan sistem bertani yang dia miliki.


Dia belajar banyak dari berbagai macam usaha, yang berkaitan dengan pertanian. Sama seperti usahanya yang sekarang dia jalani. Karena selain menanam padi sebagai bahan pangan pokok, dia juga berkebun jeruk.


Tidak lama lagi, Jamal juga akan beternak sapi perah. Yang bisa menghasilkan susu sapi segar, untuk masyarakat sekitarnya.


[ Ding ]


[ Selamat malam Tuan ]


[ Selamat mempelajari sistem bertani ini ]


'Aku ingin memperdalam pengetahuan tentang ternak sapi perah.'


[ Ding ]


[ Peternakan terbaik dari sistem ]


'Apa Aku harus mencontoh peternakan sapi perah yang ada di sistem bertani ini?'


[ Ding ]


[ Tepat sekali Tuan ]


[ Dengan sistem ini, Tuan tidak hanya menghasilkan su_su sapi yang segar, tapi juga pupuk organik dari kotoran sapi ]


'Oh iya. Benar juga itu. Jadi bisa digunakan untuk pupuk organik sawah dan juga kebun jeruk ya!'


[ Ding ]


[ Tuan pintar dengan jawaban yang benar ]


'Aku hanya tahu, jika kotoran sapi bisa digunakan untuk keperluan pupuk organik. Tapi untuk proses pembuatannya, Aku harus belajar banyak.'


[ Ding ]

__ADS_1


[ Sistem akan membantu Anda Tuan ]


__ADS_2