
Adinda masih berkutat di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Mama mertuanya menengok orang tuanya yang sakit lagi. Maklum sudah udzur jadi sering sakit-sakitan.
Adinda tidak menyadari kehadiran Dimas di dapur. Dimas tersenyum sambil berjalan pelan mendekati Adinda lalu memeluknya dari belakang.
"Mas!!" teriak Adinda kaget karena tangannya masih memegang sutil di wajan.
"Apa" sahut Dimas menyurukkan kepalanya di leher Adinda sambil sesekali menciumi pipi istrinya itu.
"Aku nggak bisa masak ini kalau kamu terus begitu" rengek Adinda.
"Bisa, kok" Dimas masih saja menggoda Adinda dengan menciumi lehernya.
"Dimas!! Hentikan!" teriak Adinda gemas. Kadang tingkah Dimas membuatnya geleng-geleng kepala.
Dimas mematikan kompor. Adinda berdecak kesal melepaskan sutil. "Apa sih maunya orang ini?" omel batin Adinda. Dimas lalu membalik badan Adinda sehingga menghadap ke arahnya.
"Kalau suami lagi kepingin itu, masak pun harus ditinggalkan. Benar, kan?" Tatap Dimas tersenyum.
"Hmm, kalau ada maunya paling bisa deh merayu" ujar Adinda memonyongkan bibirnya.
Dimas tersenyum lebar mendengarkan ucapan Adinda, dia lalu merapatkan badannya.
"Masih pagi, Mas. Sarapan juga belum" Adinda berusaha mengelak.
"Katanya kalau pagi-pagi begini malah lebih enak. Kita kan belum pernah mencobanya ..." ucap Dimas menggoda Adinda.
"Ih, Dimas apaan sih mesum banget, deh" ujar Adinda malu sendiri.
Tanpa banyak kata lagi Dimas mengangkat badan Adinda. "E ... e ... eh aku mau dibawa ke mana?" Adinda mengalungkan tangannya ke leher Dimas.
"Mau ke kamar. Sarapan kamu dulu" tatap Dimas nakal.
"Dimas!!" teriakan manja Adinda hanya membuat Dimas tertawa lalu menutup rapat pintu kamar dengan kakinya.
***
"Huh, untung hari ini aku nggak ada jadwal mengajar. Rambut basah begini kan jilbab bisa basah juga kalau rambut belum kering" gumam Adinda di depan kaca sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Pakai hair dryer aja Din kalau mau cepat kering" ujar Dimas sambil memakai kemeja kerjanya.
__ADS_1
"Nggak, ah. Katanya kalau pakai itu rambut jadi rusak, bercabang entah apa lagi" tolak Adinda. Kan sayang rambutnya udah halus begitu mirip bintang iklan shampo.
"Kata siapa? Kalau nggak tahu info yang benar jangan langsung mudah percaya" ucap Dimas. Adinda tidak menggubris ucapan Dimas. Dia tetap tidak mau memakai hair dryer.
"Kamu nggak ke sekolah hari ini?" tanya Dimas.
"Awalnya sih nggak, tapi barusan Sinta kirim pesan katanya ada rapat jam 10 nanti jadi masih ke sekolah juga, deh" jawab Adinda.
"Mau aku antar?" tawar Dimas.
"Kamu kan kerja. Nggak usahlah" tolak Adinda.
"Aku kan bisa pulang dulu sebentar untuk menjemput kamu, kemudian nganter kamu ke sekolah terus baru aku balik lagi" jelas Dimas mendekati Adinda.
"Repot banget dengarnya. Nggak usah, Mas. Makasih banget kamu udah mau nawarin nganter" tolak Adinda lagi dengan halus.
"Apa sih yang nggak bisa aku lakukan buat kamu. Menyebrangi lautan saja aku sanggup demi kamu" gombal Dimas
"Iya, tapi paket kapal laut nyebrangnya" balas Adinda sewot.
"Gunung pun ku daki demi kamu, Din" lanjut Dimas.
Bhuahaha. Dimas tertawa terbahak-bahak. Emang yah istrinya itu paling tidak bisa digombalin. Mungkin efek karena dulunya dia nggak pernah pacaran.
"Dasar tukang gombal!" sungut Adinda keluar dari kamar mau menjemur handuknya yang basah.
"Beraninya sama kamu aja, Din" ujar Dimas mengacak rambut Adinda yang sudah hampir setengah kering itu.
Adinda tersenyum geli. "Iyalah. Awas aja kalau berani gombalin wanita lain" batin Adinda.
Adinda berdiri karena dilihat dari pantulan cermin Dimas sudah siap mau berangkat kerja.
"Aku pergi duluan, ya" pamit Dimas mengecup kening Adinda, hidung lalu berakhir ke bibir.
"Pamitan model apa itu?" protes Adinda. Tidak pernah Dimas memperlakukannya seperti barusan.
"Pamit kerja ala Dimas" jawab Dimas terkekeh. Adinda tersenyum geli. Ada aja tingkah suaminya itu yang membuatnya tersenyum di pagi hari.
Adinda mengantar Dimas sampai ke pintu keluar rumah. Setelah mobil Dimas menghilang dari pandangannya Adinda baru masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
***
Tiba di sekolah
Suasana kantor mulai ramai. Hampir semua guru sudah berkumpul di dalam ruangan. Sebagian guru masih ada yang mengajar di dalam kelas karena memang belum jam 10 waktu dimulainya rapat.
"Ssst, Din, sini" panggil Sinta. Dia sudah duduk di balik mejanya tepat bersebelahan dengan meja Adinda.
"Apa?" Adinda meletakkan tasnya lalu duduk di sebelah Sinta.
"Ada guru baru" bisik Sinta.
"Hah, siapa? Cowok atau cewek?" Tanya Adinda kepo.
"Cewek. Kamu pasti kaget, deh" seru Sinta.
Tak lama ibu kepala sekolah masuk ke ruangan guru diiringi seorang wanita berjilbab panjang sama seperti dirinya.
"Amanda!!" Teriak Adinda di dalam hatinya.
Adinda tidak menyangka kalau Amanda istri Farhan, laki-laki yang pernah dia sukai sewaktu kuliah dulu pindah mengajar di tempatnya.
Dalam rapat, kepala sekolah memperkenalkan Amanda kepada seluruh guru dan staf. Amanda mengundang seluruh guru untuk datang ke rumahnya sekaligus tasyakuran rumah barunya.
"Mba Dinda, senang sekali bisa bertemu lagi" sapa Amanda melihat Adinda seusai rapat.
"Aku dengar Mba baru aja nikah. Barakallah, ya, Mba" lanjutnya tersenyum manis.
"Syukron" jawab Adinda singkat.
"Hal yang paling aku hindari adalah bertemu Farhan. Kalau Amanda mengajar di sini otomatis aku akan sering bertemu dengannya" batin Adinda.
"Nanti datang ajak suami Mba, ya"ucap Amanda. Adinda dan Sinta saling lirik setelah Amanda menjauh dari mereka.
"Bawa aja, Din. Dia merasa bangga tuh udah dapetin Farhan" kompor Sinta.
Satu kelas tahu kalau Adinda dan Farhan cukup dekat. Apalagi statusnya di Lembaga Dakwah Kampus Farhan sebagai ketuanya dan Adinda sebagai bendahara. Banyak yang mengira kalau Farhan akan menikah dengan Adinda namun siapa sangka malah menikah dengan adik tingkatnya.
"Iya, Sin. Semoga aja Dimas bisa" gumam Adinda.
__ADS_1