
Ketika menuju ke restoran hotel untuk sarapan, Hasna melihat Hamish tampak sedang makan berdua dengan seorang wanita. Mereka berbincang-bincang akrab sekali. Hasna mencari meja lain. Tidak mungkin dia bergabung dengan Hamish. Lagipula dirinya itu siapa, istri juga bukan masa mau datang menghampiri laki-laki tampan itu.
Setelah mengambil sarapannya, Hasna duduk sambil menikmati teh hangat dan roti selai yang dia ambil tadi. Sesekali matanya melirik ke arah tempat duduk Hamish.
"Siapa wanita itu?" tanya hati Hasna sambil mengunyah makanannya.
Hamish tipe laki-laki yang murah senyum dan friendly. Orangnya juga ramah, wajar saja karena dia selalu berinteraksi dengan orang banyak ketika dia sering menjadi nara sumber pada acara seminar enterpreneur.
Sementara itu Hamish sebenarnya menunggu Hasna. Tapi karena dia asyik ngobrol dengan wanita itu, dia tidak melihat kehadiran Hasna yang sudah berada di restoran. Laki-laki berparas tampan itu mengedarkan pandangannya, dia baru menemukan sosok Hasna yang sedang duduk di arah belakangnya.
"Nia, saya permisi, ya" ucap Hamish kepada teman di mejanya.
"Iya, Bang. Saya juga udah selesai. Sampai bertemu lagi, ya" ujar wanita bernama Nia itu beranjak juga dari tempat duduknya kemudian meninggalkan area restoran.
Sementara Hamish tersenyum sambil berjalan menghampiri meja Hasna.
"Ehem ... Ditungguin, rupanya udah makan di sini, ya" tegur Hamish berdiri di samping Hasna.
Hasna menoleh ke sumber suara. Dia kaget melihat sosok Hamish menjulang tinggi di sampingnya.
"Aku tidak mau mengganggu Bang Hamish yang sedang asyik ngobrol dengan wanita itu" ucap Hasna datar memberitahu alasannya.
Hamish kemudian duduk di hadapan Hasna sambil tersenyum. "Tadi yang sarapan cukup ramai. Wanita itu tamu hotel juga, karena aku duduk sendirian jadi dia ikut bergabung duduk di meja yang sama denganku" jelas Hamish.
Hasna hanya mengangguk kemudian tersenyum kecil. "Aku kira fans Abang" gumam gadis itu sambil melihat ke arah Hamish.
Hamish tertawa kecil mendengarkan ucapan Hasna sambil melihat ke arah gadis cantik itu. Mata mereka pun bertemu sejenak kemudian keduanya membuang muka setelah menyadarinya. Jantung keduanya pun berdebar kencang.
"Hm, sudah beres semua barang-barang kamu?" tanya Hamish kemudian.
"Iya, punya Abang?" Hasna balik bertanya dengan wajah masih tersipu.
"Sudah. Kalau begitu kita langsung check out saja, ya" saran Hamish.
Hasna pun setuju. Dia tidak mau terlambat tiba di bandara.
***
Hasna tidak menyadari sikapnya selama di dalam pesawat. Ketika Hamish mengajaknya berbincang-bincang gadis itu tidak meresponnya lagi.
Hamish tersenyum melihat mata gadis itu sudah terpejam. Hasna tertidur. Tak lama kemudian kepalanya bersandar di pundak Hamish. Laki-laki tampan itu membiarkan saja pundaknya menjadi sandaran Hasna.
"Sepertinya kamu semalam tidur sedikit, ya" gumam Hamish. Dia pun ikut memejamkan matanya karena tidak ada lawan bicara lagi.
Setelah pesawat landing, mata Hamish terbuka. Dia melirik ke samping ternyata Hasna belum juga bangun.
"Na ... Hasna" panggil Hamish pelan. "Kita sudah sampai."
Hasna pun membuka matanya. Dia baru menyadari kalau dirinya sedang bersandar di pundak Hamish. Hasna spontan menarik badannya menjauh dari laki-laki tampan itu. Gadis itu tersenyum tidak enak kemudian memejamkan matanya.
"Benar-benar memalukan" batinnya.
"Ayo" ajak Hamish menahan senyuman karena melihat Hasna tersipu.
__ADS_1
"Kalau sudah halal, lama-lama juga nggak apa" bisik Hamish kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Hasna melongo, wajahnya memerah setelah menyadari ucapan Hamish kepadanya barusan. Gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya dan mengekor di belakang laki-laki tampan itu keluar dari badan pesawat.
***
Di sekolah
Ketika jam istirahat Sinta mengajak Adinda makan di kantin. Mereka lebih suka menikmati makanan langsung di kantin daripada dibawa ke ruang guru.
"Din, terima kasih banyak, ya, Dimas sudah mau menerima Bang Hendra bekerja di perusahaannya" ucap Sinta.
"Iya, Sin. Gimana respon bos di tempat kerja yang lama setelah tahu Bang Hendra mengundurkan diri?" tanya Adinda.
"Bang Hendra cerita kalau atasannya meminta dia untuk membatalkan pengunduran dirinya. Atasannya tidak akan memecatnya karena dia telah menolak anaknya, tapi Bang Hendra takut saja hal itu akan terulang kembali" jawab Sinta.
"Iya, memang harus waspada. Wanita sekarang tidak malu-malu menyatakan perasaannya dan merayu laki-laki yang bukan mahramnya" timpal Adinda. Sinta hanya mengangguk sambil mengunyah pentol bakso.
Ponsel Adinda di atas berbunyi. Dia melihat di layar ponselnya tertera nama suaminya.
"Assalamualaikum" sapa Adinda setelah menggeser layar ponselnya.
"Waalaikumsalam. Sedang ngapain?" tanya Dimas.
"Sedang makan bakso di kantin dengan Sinta" jawab Adinda sambil melirik Sinta.
"Jangan sering-sering makan makanan yang pakai MSG, Sayang. Nggak baik nanti untuk adek bayinya" pesan Dimas.
"Nggak pake, Mas. Kantin di sini aman dari MSG, kok" jelas Adinda.
Wajah Adinda berubah muram. "Sudah hamil besar begini, dia malah nggak peduli" batin Adinda kecewa.
"Din ... Dinda" panggil Dimas diseberang sana karena suasana tampak hening.
"Ya, udah" jawab Adinda pasrah.
"Hei, hanya hari ini saja" ucap Dimas. Dia tahu Adinda pasti kecewa.
"Iya, dah" balas Adinda memutuskan sambungan telpon dari Dimas.
"Kenapa, Din? Muka kamu kok cemberut begitu" tanya Sinta.
"Dia nggak bisa menjemput" jawab Adinda memanyunkan bibirnya.
"Ya, udah. Kamu ikut aku saja" tawar Sinta.
"Aku naik taksi sajalah, aku takut naik motor sudah hamil besar begini" tolak Adinda.
"Ah, untunglah kamu nolak. Aku juga takut membonceng ibu hamil kayak kamu" ucap Sinta.
"Ihh, cuma basa-basi doang, ya" sungut Adinda. Sinta pun tertawa kecil.
"Kalau terjadi apa-apa dengan kamu, aku nggak bisa ganti rugi. Susah, Din" canda Sinta. Mau ganti anak, beli dimana coba.
__ADS_1
Akhirnya pulang dari mengajar Adinda naik taksi. Dia tidak langsung pulang ke rumah, tapi mampir ke pasar tradisional untuk membeli kue cemilan dia nanti.
Di kantor Dimas
Laki-laki tampan itu menelpon istrinya kembali untuk mengecek apakah sudah sampai di rumah atau belum. Namun nomor kontak Adinda tidak dapat dihubungi.
"Ck, kenapa ponselnya tidak aktif?" gumam Dimas sambil mencoba lagi untuk menghubungi istrinya itu. Namun hasilnya tetap sama. Dia kemudian mencoba menghubungi mamanya. Hasilnya sama saja, panggilan telponnya tidak diangkat oleh mamanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Dimas beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil kunci mobilnya. Dia segera pulang ke rumah. Hatinya mendadak cemas.
Tiba di rumah, dia melihat mamanya sedang duduk di ruang tengah.
"Ma, kenapa telponku tidak diangkat?" tanya Dimas sewot.
"Lho, kok sudah pulang, Mas?" tanya mamanya heran melihat anaknya pulang lebih awal. "Ponsel mama di kamar jadi nggak terdengar kalau ada yang telpon."
"Adinda mana? Dia sudah pulang, kan?" tanya Dimas masih berdiri melihat ke arah mamanya.
"Kok tanya mama, bukannya kamu yang menjemputnya pulang. Dari tadi Adinda juga belum pulang. Mama pikir dia pergi dengan kamu" jawab mama Dimas santai padahal anaknya sudah cemas setengah mati.
"Ma, aku tadi tidak bisa menjemput Dinda pulang. Jadi dia pulang sendiri" jelas Dimas.
"Mas, Adinda memang belum pulang ke rumah dari tadi. Lantas ke mana dia?. Dia itu sedang hamil besar, Mas" ujar mamanya ikut cemas.
Dimas menghembuskan napasnya dengan kasar. Semua karena kesalahannya juga. Dimas pikir Adinda akan diantar oleh Sinta, sahabatnya. Tapi setelah dia menghubungi Sinta ternyata istri Hendra itu tidak berani membonceng istrinya.
Di tempat lain
Adinda tampak sedang tertidur pulas di rumah orang tuanya. Ponselnya yang lowbat sengaja tidak dia charger ketika tiba di rumah. Paling juga suaminya pusing mencarinya. Meskipun jarak rumah orangtuanya dan mertuanya tidak jauh, tapi Adinda memang jarang menginap di rumah orang tuanya itu. Paling juga mampir sebentar kemudian pulang kembali ke rumah mertuanya.
Dimas masih mencoba menghubungi nomor ponsel Adinda. Hari sudah menjelang sore, Dimas pun keluar dari rumah. Dengan pakaian santai dan hanya mengenakan sandal jepit, dia berjalan menuju ke rumah mertuanya sekalian jalan sore.
"Mau ke mana, Mas?" tegur seorang bapak yang berpapasan dengannya.
"Ke rumah ibu mertua, Pak" jawab Dimas tersenyum.
"Pasti mau menjemput Adinda, ya" tebak si Bapak lagi.
"Iya" jawab Dimas asal padahal dia tidak tahu Adinda ada di sana atau tidak. "Mari, Pak."
"Iya .... Iya, mari Nak Dimas" si Bapak pun melanjutkan perjalanannya.
"Semoga saja kamu ada di rumah itu" batin Dimas sambil melanjutkan perjalanan menuju ke rumah mertuanya.
Dimas memasuki halaman rumah mertuanya yang tampak asri. Ibu mertuanya memang rajin menanam bunga dan tanaman bermanfaat lainnya. Pintu rumah mertuanya tampak tertutup rapat. Dia pun mengetuk pintu rumah itu, berharap istrinya memang ada di rumah.
Nggak tahu cocok atau tidak visual 😂 susah euy cari yang ganteng-ganteng sesuai cerita🤭
Dimas wajahnya awet muda makanya banyak yang naksir 😄
__ADS_1
Kalau Hamish meskipun usianya lebih muda dari Dimas tapi berwajah dewasa dan ganteng.
Persepsi ganteng tiap orang kan beda-beda ya. Terima aja deh visualnya pusing author 🤦🏼♀️