
Sinta tidak menyangka bahwa Hasna begitu berani mengutarakan niatnya kepada Adinda untuk menjadi istri kedua Dimas.
"Benar-benar buta cinta tuh Hasna" ujar Sinta ikut merasa geram. Adinda hanya mengangguk. Bagaimana caranya menyadarkan Hasna agar dia bisa move on dari Dimas.
"Dia malah SMS Dimas mau ngajak ketemuan, waras nggak tuh anak" curhat Adinda.
"Wah, parah ini Hasna. Dia benar-benar tidak menganggap kamu sebagai teman" timpal Sinta.
"Untung aku buka ponsel Dimas, Sin. Jadi SMS itu langsung ku hapus, sebelum Dimas membacanya" ucap Adinda.
"Tindakan kamu udah bagus, Din. Aku mendukung sikap yang sudah kamu lakukan kepada Hasna" ujar Sinta memberi semangat kepada Adinda.
Adinda hanya tersenyum melihat Sinta yang semangat sekali mendukungnya.
Di kantor Dimas
"Pak, ada yang mau bertemu dengan Bapak" ujar Ayu, sekretaris Dimas.
"Siapa? Laki-laki atau perempuan, Yu?" tanya Dimas menghentikan aktivitasnya sebentar.
"Perempuan, Pak" jawab Ayu.
"Tunggu saja di luar, jangan diajak ke dalam. Sebentar lagi Bapak ke sana" perintah Dimas.
Dimas memang tidak pernah menyuruh tamu perempuan untuk masuk ke dalam ruangannya, kecuali Adinda. Dia akan menemui tamu perempuan di ruang tamu yang berada di luar ruangannya. Dimas keluar dari ruangannya setelah menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit tadi.
"Hasna!!" tegur Dimas ketika membuka pintu ruangannya melihat Hasna sedang duduk di sofa.
Dimas cukup terkejut melihat kedatangan Hasna ke kantornya. Rasanya dia sudah tidak ada urusan pekerjaan lagi dengan gadis itu. Hasna tersenyum melihat sosok Dimas menghampirinya.
"Mas, aku mau bicara. Tapi..." Hasna melirik sekretaris Dimas yang berada tidak jauh dari sofa.
"Bicara saja di sini. Apa yang mau kamu bahas?" ujar Dimas. Tidak masalah Ayu mendengarkan pembicaraan mereka. Pikir Dimas.
"Aku hanya mau memastikan perasaanku" ujar Hasna menunduk.
"Kalau dulu kamu tidak bertemu lagi dengan Adinda, kamu akan menerima perjodohan kita, kan?" tanya Hasna.
"Hasna, kamu tidak perlu menyalahkan Adinda di sini. Asal kamu tahu ketika almarhum papaku mengajakku ke rumah orang tua kamu, aku tidak tahu kalau aku mau dijodohkan. Kalau aku tahu, aku akan menolaknya sejak awal dan tidak akan ikut ke rumah orang tuamu" jawab Dimas dengan tegas.
Hasna terdiam. Ternyata sedikit pun di hati Dimas tidak ada tempat sama sekali untuk cintanya.
"Berikanlah cintamu untuk kekasih halalmu nanti. Insya Allah, kamu akan mendapatkan laki-laki yang mungkin lebih baik dariku. Kamu tahu kan, dulu Adinda sangat membenciku bahkan aku berpikir mustahil untuk bisa menikah dengannya. Tapi karena sudah takdir Allah, pernikahan kami tetap terjadi dengan cara yang tidak disangka-sangka. Kita tidak berjodoh, Hasna" nasihat Dimas melihat Hasna.
"Bukankah kamu juga nanti bisa menerimaku, seperti Adinda yang juga akhirnya bisa mencintaimu" ujar Hasna mengembalikan ucapan Dimas. Dimas menggelengkan kepalanya. Bukannya sadar Hasna malah mencari cela.
"Ck. Gadis ini" gumam Dimas pelan. Lama-lama Hasna menjengkelkan juga. Dia masih berharap Dimas mau menikahinya.
"Hasna!! Aku tidak ada niat sama sekali untuk berpoligami. Aku hanya mencintai Adinda. Paham!" tegas Dimas menatap tajam Hasna.
Entah ucapannya akan menyakiti hati Hasna atau tidak, Dimas sudah tidak peduli lagi. Hasna terdiam melihat Dimas. Dimas telah menegaskan bahwa tidak ada tempat lagi di hatinya untuk wanita lain. Air mata Hasna mengalir namun tanpa isakan tangis.
"Mengertilah Hasna, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Tapi cinta tidak bisa dipaksakan. Kau sudah memaksa cintamu kepada orang lain akibatnya kamu sendiri yang terluka. Benar, kan?" ujar Dimas pelan. Hasna mengangguk dengan berlinang air mata.
"Terima kasih sudah mencintaiku, tapi cintailah aku sebagai saudara seiman. Kita tetap berteman. Kamu, Adinda, dan aku" ucap Dimas lagi. Hasna masih tergugu di hadapan Dimas.
__ADS_1
"Belajarlah untuk melupakan cinta semu itu agar kamu bisa menerima cinta lain yang sudah ditakdirkan Allah untukmu" tambah Dimas lagi.
Hasna tersenyum lalu menghapus air matanya. "Maaf kan aku. Aku akan mencobanya" ucap Hasna getir.
"Oya, terima kasih kamu sudah mau bertemu denganku. Ku pikir kamu tidak mau bertemu denganku. Karena SMS yang ku kirim semalam tidak kamu balas" sambung Hasna lalu berpamitan pergi meninggalkan kantor Dimas.
Dimas merogoh ponselnya di saku celana lalu membuka pesan untuk mengecek apakah ada SMS dari Hasna. Namun tidak ada sama sekali pesan dari Hasna. Hm, Dimas baru ingat kalau semalam ponselnya ada di dekat Adinda.
"Pasti dia yang sudah menghapus pesan dari Hasna" Dimas membatin lalu tersenyum masuk ke dalam ruangannya.
***
Adinda berdiri di luar kantor sambil melirik ke pintu gerbang sekolah apakah mobil Dimas sudah datang atau belum.
"Din, Dimas belum jemput, ya?" tegur Sinta menghentikan motor maticnya di samping Adinda.
"Belum, Sin. Mungkin sebentar lagi" balas Adinda.
"Aku duluan, ya" pamit Sinta.
"Iya, hati-hati" Adinda melihat Sinta melajukan motornya meninggalkan sekolah.
Sebuah mobil silver berhenti di depan pintu gerbang sekolah. Seorang laki-laki turun dari mobil dan berjalan memasuki sekolah.
"Eh, itu kan Farhan. Bukannya Amanda sudah pulang duluan tadi" gumam Adinda. Farhan pun berjalan mendekati Adinda karena dia sudah melihat keberadaan Adinda ketika turun dari mobil tadi.
"Assalamualaikum" tegur Farhan.
"Waalaikumsalam. Kamu mau jemput Amanda, Han?" tanya Adinda.
"Setahuku Amanda udah pulang, Han. Emang dia nggak konfirmasi ke kamu kalau dia pulang duluan?"
"Aku belum sempat buka ponsel lagi" gumam Farhan lalu merogoh ponsel di saku celananya.
"Astaghfirullah!!" Farhan menepuk dahinya setelah membaca pesan dari Amanda.
"Benar, Din. Dia pesan nggak usah dijemput karena mau ketemu temannya, Aliya" sambung Farhan.
Adinda melihat Dimas baru saja turun dari mobil. Dimas pun melihat ke arahnya.
"Yuk, Han. Itu Dimas udah datang menjemputku" ucap Adinda.
Farhan lalu mengiringi Adinda berjalan ke arah pintu gerbang karena mobilnya juga berada di sana. Adinda mdlihat wajah Dimas tanpa senyuman.
"Mas, aku duluan, ya. Orang yang mau dijemput nggak ada" ucap Farhan melambaikan tangannya kepada Dimas.
Dimas pun membalas dengan melambaikan tangan. Farhan berjalan menuju mobilnya yang parkir di depan mobil Dimas.
"Masuklah! Nggak perlu dilihatin sampe orangnya pergi" sindir Dimas.
"Ih, kamu apaan, sih. Mau ngajak ribut, nih" sungut Adinda lalu masuk ke dalam mobil.
"Farhan itu mau jemput istrinya, nggak usah pake cemburu" sambung Adinda ketika Dimas sudah duduk di depan kemudi. Dimas hanya diam tidak menanggapi ucapan Adinda.
"Aku sudah lama menunggu, kalau kamu sibuk kenapa nggak bilang. Aku bisa naik bis saja" ujar Adinda menoleh ke arah Dimas.
__ADS_1
"Nggak sibuk. Di jalan sana tadi agak macet" elak Dimas sambil melajukan mobilnya dengan cepat.
Tiba di rumah, Dimas langsung melepas jas dan kemeja yang dipakainya setelah berada di dalam kamar. Dimas lalu membaringkan badannya di atas ranjang.
"Nggak balik ke kantor lagi?" tanya Adinda heran sambil melepas atribut pakaiannya.
"Nggak" jawab Dimas singkat lalu memejamkan matanya.
Adinda melihat gelagat Dimas tidak seperti biasanya. "Apa dia sakit?" pikir Adinda lalu mendekati Dimas.
Adinda mencondongkan badannya ke arah Dimas ingin memeriksa keningnya. Namun belum sempat memeriksa, badannya sudah ditarik Dimas hingga dia jatuh ke samping Dimas.
"Din" tatap Dimas melingkarkan tangannya ke pinggang Adinda.
"Apa?"
"Kamu tahu nggak siapa yang datang ke kantorku tadi siang?" tanya Dimas.
"Mana aku tahu. Aku kan bukan sekeretaris kamu" jawab Adinda bercampur heran.
"Kamu menghapus salah satu SMS di ponsel ku, kan?" tuduh Dimas langsung.
Adinda tersenyum salah tingkah. Rupanya Dimas tahu perbuatannya. "Tapi tunggu dulu kok Dimas bisa tahu, sih" ujar Adinda membatin.
"Walaupun kamu hapus juga SMS-nya, dia tetap datang ke kantorku. Tahu nggak!!" ujar Dimas geram sambil menjawil hidung Adinda.
"Hasna!! Maksud kamu, Hasna datang ke kantor menemui kamu?" ucap Adinda membulatkan matanya tidak percaya. Dimas hanya mengangguk tersenyum geli.
"Ugh ... mau ngapain dia?" tanya Adinda tidak suka.
"Mau jadi istri keduaku" jawab Dimas ingin menggoda Adinda.
"Hah, benar-benar nggak waras dia" umpat Adinda kesal di dalam hatinya.
"Terus kamu bilang apa?" tanya Adinda penasaran.
"Boleh saja kalau Adinda mengizinkan" jawab Dimas asal.
"Aaaa!!! Dimas, kamu benar-benar keterlaluan!!" teriak Adinda marah sambil memukul dada Dimas.
"Sayang, udah!" Dimas menangkap tangan Adinda. "Aku hanya bercanda" sambung Dimas.
"Jahat kamu!! Hal seperti itu mau dijadikan guyonan!!" teriak Adinda lagi dengan air mata yang sudah jatuh merembes di pipinya.
Dimas tampak kaget melihat reaksi Adinda di luar dugaannya. Dimas pun langsung menarik Adinda ke dalam pelukannya.
"Din, maaf. Aku tidak bermaksud begitu" ucap Dimas menyesal.
"Tenanglah. Hasna udah aku kasih pengertian bahwa di hatiku tidak ada tempat untuk wanita lain" lanjut Dimas sambil mengusap punggung Adinda.
"Benar?" Adinda mendongakkan kepalanya melihat wajah Dimas.
"Iya, Sayang. Kita doakan saja. Semoga dia mendapatkan jodohnya" jawab Dimas menyakinkan istrinya itu.
Adinda membenamkan kepalanya kembali ke dada Dimas sambil tersenyum. Untunglah Dimas juga bisa bersikap tegas, agar rumah tangganya tidak rusak karena cinta wanita yang bertepuk sebelah tangan itu.
__ADS_1