Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 34: Angin Ribut


__ADS_3

Sinta sudah mengungsikan Alika, putrinya ke rumah orang tuanya. Dia tidak mau putri semata wayangnya sampai melihat dan mendengarkan pertengkaran antara dia dan suaminya nanti.


Sinta sudah tidak sabar untuk meluapkan emosinya kepada ayah dari anaknya itu. Dia akan menunggu Hendra di kamar mereka. Laki-laki itu juga punya kunci cadangan rumah yang selalu dibawanya untuk antisipasi. Jika dia pulang ke rumah, sementara istrinya itu sedang tidak ada, dia tetap bisa masuk ke rumah dengan leluasa.


Suara Rush hitam Hendra sudah terdengar masuk ke halaman rumah. Mobil itu diberikan oleh perusahaan karena Hendra naik jabatan. Siapa sangka semua itu karena seorang wanita yang telah berhasil menaikkan posisinya di dalam perusahaan.


Ceklek!


"Assalamualaikum" Hendra masuk ke dalam rumah dengan wajah sumringah. Namun dilihatnya suasana rumah terlihat sepi sekali.


"Apa Sinta dan Alika tidak ada di rumah, ya" gumam Hendra.


Dia segera berjalan menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri. Badannya sudah terasa penat sekali. Pijatan Sinta akan terasa enak sekali jika sedang capek begitu. Hendra tersenyum sambil membayangkan istrinya akan memijatnya dengan baju tidur yang seksi.


Sinta sudah keluar dari kamar ketika Hendra masih di luar rumah. Wanita itu berada di dapur untuk mengambil air dingin. Dia menuangkannya ke dalam gelas lalu meneguknya sampai habis. Tenggorokannya terasa haus sekali, padahal mulutnya belum mulai mengomel. Setelah melihat Hendra masuk ke dalam kamar, Sinta duduk di kursi, meja makan. Dia sengaja membiarkan suaminya itu untuk membersihkan diri.


"Happy sekali dia ..." cibir Sinta melihat pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Dia mendengar suara suaminya bersenandung tidak jelas di dalam kamar mandi.


Sinta masuk ke dalam kamar dan berdiri menghadap jendela kamar. Dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, tanda suaminya sudah keluar dari sana. Hendra tersenyum melihat istri ada di dalam kamar. Sinta selalu memakai daster minimalisnya ketika di dalam rumah. Laki-laki itu mendekatinya kemudian memeluknya dari belakang.


"Dek, kenapa tidak menyambut Abang pulang?" bisik Hendra mesra.


Sinta mengerang. "Bisa-bisanya dia bersikap mesra setelah bertemu wanita itu tadi di mall. Dia pikir aku tidak tahu dengan kelakuannya di belakangku" batin Sinta.


Sinta kemudian membalikkan badannya dan mendorong pelan Hendra. Dia tidak sudi untuk disentuh oleh laki-laki yang sudah tega menghianati pernikahan mereka.


"Tidak usah pura-pura lagi, Bang" tatap Sinta tajam.


Hendra mendadak bengong melihat sikap Sinta yang sangat dingin dengannya. Apakah dia tidak merindukan suaminya yang sudah tiga hari pergi keluar kota untuk bekerja?.


"Dek, kamu kenapa?" tanya Hendra bingung.

__ADS_1


"Hari ini kita selesaikan, Bang. Jika Abang mau menikahi wanita itu, silahkan. Tapi Abang ceraikan aku dulu" jawab Sinta.


"Dek, kamu ini ngomong apa, sih. Suami baru pulang tiba-tiba minta cerai" sungut Hendra sambil memegang kedua pundak Sinta.


Sinta berdecak. "Abang nggak usah bersandiwara lagi. Aku sudah tahu Abang sudah selingkuh di belakangku. Bahkan orang tua Abang juga tahu dan merestuinya. Bagus sekali!!" teriak Sinta marah menepis tangan Hendra.


"Mana Alika?" tanya Hendra karena dia tidak mau anaknya sampai mendengar orang tuanya sedang ribut begini.


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan, Bang. Alika sudah aku ungsikan ke rumah orang tuaku. Kita selesaikan hari ini juga" jawab Sinta tidak sabar.


"Dek, aku tidak mengerti apa yang sudah kamu bicarakan. Detik ini aku sangat merindukan kamu" ujar Hendra mengabaikan semua ucapan istrinya itu. Dia kemudian menarik badan Sinta ke dalam pelukannya. Tiga hari sudah dia berpisah dengan istrinya itu dan dia membutuhkan penyaluran hasratnya yang sudah tertahan selama itu.


Sinta meronta tidak mau dipeluk oleh suaminya yang masih berbalut handuk itu. Dalam hati Sinta, sebenarnya dia juga merindukan suaminya itu, tapi kenyataan di depan matanya ketika berada di mall tadi telah menghapus rasa itu. Napas Hendra memburu, menampar wajah ayu Sinta. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya lalu mengunci bibir Sinta dengan ciumannya. Hendra memaksa Sinta agar membuka bibirnya agar dia leluasa bergerilya di sana. Amarah Sinta meredam sesaat ketika menikmati kemesraan yang diberikan oleh suaminya. Hatinya ingin menolak tapi badannya berkata lain. Badannya bereaksi ketika merasakan sentuhan jemari Hendra yang menelusuri setiap lekuk tubuhnya yang masih tertutup baju daster itu.


Hendra melepaskan pagutannya dan menatap wajah Sinta yang masih memejamkan matanya. Dia tahu istrinya itu juga merindukannya. "Lepaskan!" ujar Sinta pelan tidak mau meneruskannya lagi.


Semakin Sinta menolak, Hendra pun semakin melancarkan aksinya. Sentuhan Hendra membuat Sinta tidak kuasa untuk menolak keinginan suaminya itu. Hendra sudah menjatuhkan badannya ke atas ranjang. Dia ingin segera melepaskan hasratnya kepada Sinta. Sejenak masalah tadi terlupakan dalam pikiran Sinta. Jika suaminya selingkuh, lantas kenapa suaminya itu masih sangat menginginkan dirinya. Itu sebabnya tubuh Sinta tidak bisa menolak setiap sentuhan yang diberikan Hendra. Hingga dia pun mendesah, menikmatinya. Desahan Sinta pun telah membuat Hendra semakin bergairah untuk mengeksplorasi lekuk tubuh istrinya itu sebelum dia menuntaskan hasratnya.


Sinta berbaring memunggungi Hendra. Dia masih di balik selimut setelah suaminya itu selesai melepaskan hasratnya. Harusnya dia menolak keinginan suaminya itu, bukan malah membuat laki-laki itu tambah bergairah.


Hendra melihat Sinta hanya membisu. Dia tahu kalau istrinya tadi sedang marah, apa penyebabnya dia masih belum tahu. "Selingkuh?. Siapa yang dimaksud Sinta itu?" batin Hendra. Dia kemudian merapatkan badannya ke punggung polos Sinta.


"Dek, aku minta maaf. Aku tidak tahu kenapa kamu semarah itu. Sungguh!" bisik Hendra.


"Abang tidak mencintai aku lagi" ucap Sinta bergetar. "Abang sudah menghianati aku."


"Ya, Allah, Dek. Aku hanya mencintai kamu, Sayang" ucap Hendra sambil mencium pundak Sinta.


"Bohong!!. Lalu siapa Mayang?. Selingkuhan Abang, kan?" cecar Sinta sambil membalikkan badannya menghadap ke arah Hendra.


"Mayang?. Dia ... anak atasanku, Dek" jawab Hendra santai.

__ADS_1


"Abang mencintai gadis cantik itu?" tatap Sinta tajam.


Hendra tertawa kecil membalas tatapan istrinya. "Tidak ada yang lucu, Bang!" ujar Sinta kesal.


"Dia memang cantik, tapi ..."


"Pantas saja Abang betah diluar kota dan tidak ingat anak istri lagi karena gadis itu selalu menemani Abang, kan. Ketika pulang saja Abang masih sempat makan siang bersamanya" tuduh Sinta memotong ucapan Hendra.


Hendra tertegun mendengarkan ucapan istrinya. Dia memang tidak sempat untuk menelpon istrinya selama di luar kota.


"Dek, aku memang tidak sempat menghubungi kamu. Karena ketika tiba di hotel, ponselku lowbat. Acaranya juga padat sekali" jelas Hendra jujur.


Sinta bergeming. Dia masih belum bisa menerima penjelasan suaminya itu. "Makanya aku rindu sekali dengan istriku ini" sambung Hendra tersenyum.


Sinta memalingkan wajahnya. Senyuman suaminya tidak akan membuatnya percaya begitu saja.


"Tadi siang aku mampir ke mall, untuk membelikan sesuatu untuk istriku tercinta..."


"Terus Abang makan siang dengan si Mayang itu, kan" potong Sinta ketus.


"Tidak sengaja bertemu dengan dia di sana, Dek. Aku minta pendapat dia tentang perhiasan yang aku belikan untuk kamu, makanya aku menunjukkannya kepada Mayang" jelas Hendra.


"Jadi, Bang Hendra membelikan perhiasan itu untukku" batin Sinta tidak percaya.


"Mana perhiasannya" tagih Sinta sambil menahan senyum.


"Ada di dalam tas. Tapi perhiasan di depan mata ini lebih indah" ucap Hendra menarik badan Sinta ke dalam pelukannya sehingga dia merasakan gerakan benda kenyal itu menyentuh dada bidangnya.


"Bang!" teriak Sinta manja.


"Mumpung Alika di rumah neneknya. Kita sekarang bisa seperti pengantin baru lagi" ujar Hendra tersenyum nakal.

__ADS_1


"Ah, Abang!. Kesempatan sekali, ya" ucap Sinta malu-malu tapi mau sambil mencubit pinggang Hendra.


Mereka berdua pun bergumul kembali di dalam selimut. Hendra tidak bisa berpaling dari istrinya itu. Karena jika urusan ranjang, Sinta sangat memuaskannya. Makanya Hendra tidak bisa berpaling ke lain hati. Sesibuk apapun Sinta, jika Hendra sedang menginginkannya, wanita ayu itu tidak akan menolaknya untuk urusan yang satu itu.


__ADS_2