Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 38. Hamish


__ADS_3

Di tempatnya mengajar, Adinda mendengarkan Sinta bercerita panjang lebar tentang suaminya yang dikejar-kejar anak atasannya itu.


"Ya, Allah, Sin. Orang tuanya sampai menganjurkan Bang Hendra untuk poligami?" tatap Adinda tidak percaya setelah mendengarkan cerita sahabatnya itu.


"Stres nggak!!" seru Sinta emosi.


"Apa nggak ada cowok yang masih single, ya?. Kok, nguber suami orang" timpal Adinda.


"Bang Hendra terpaksa berhenti bekerja, Din. Lagipula tida nyaman bekerja di sana dengan situasi seperti itu. Apalagi gadis itu sudah berani menunjukkan paha mulusnya di depan Bang Hendra" ujar Sinta. Sebenarnya dia sedih juga. Hendra pulang kemarin tidak membawa mobil yang diberikan oleh Pak Juan. Dia sudah menyerahkan kunci kontak mobil itu kepada security perusahaan.


"Sabar aja, Sin. Insya Allah akan ada ganti yang lebih baik" ujar Adinda menguatkan Sinta.


"Aku baru merasakan apa yang pernah kamu rasakan ketika Hasna mencintai Dimas" tatap Sinta. "Aku juga tidak mau berbagi suami, Din."


Adinda menggenggam tangan Sinta. Tapi saingan Sinta tidak dia kenal. Sedangkan Adinda justru temannya sendiri. Itu yang lebih menyakitkan lagi.


"Apa kabar Hasna, ya?" tanya Adinda. Sejak Dimas menyatakan penolakannya kepada Hasna, gadis itu tidak pernah menghubungi Sinta ataupun Adinda lagi.


"Dia pasti sibuk. Apalagi dia membantu papanya di perusahaan" jawab Sinta.


"Iya, semoga saja Hasna bertemu dengan jodohnya" doa Adinda.


Di tempat lain


Hasna menarik kopernya sambil berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan. Setelah kopernya diperiksa. Hasna mencari tempat duduk. Dia akan terbang kembali ke kota tempat tinggal Adinda. Bukan untuk menemui teman lamanya itu, tapi karena ada urusan bisnis.


Tanpa melihat kanan kiri lagi Hasna langsung duduk di tempat yang kosong. Dia meraih ponselnya untuk mengisi waktu sambil menunggu masuk ke badan pesawat.


"Hei" seorang laki-laki yang duduk di samping Hasna menegurnya. Hasna menoleh ke samping dan melihat wajah sang pemilik suara.


Hasna begitu terkejut melihatnya. Dia bisa bertemu kembali dengan laki-laki yang telah memberinya hadiah buku.


"Bang Hamish" gumam Hasna tersenyum.


"Senang bisa bertemu lagi dengan kamu" ucap Hamish tersenyum melihat Hasna.


Hamish tampak sendirian, wanita yang duduk di sampingnya merupakan penumpang juga yang tidak dia kenal. Laki-laki tampan itu tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan Hasna. Dia pernah menulis nomor kontaknya di buku yang dia tanda tangani untuk Hasna. Hamish mengira Hasna akan menghubunginya seperti gadis-gadis lain yang telah mendapatkan nomor kontaknya. Ternyata dugaannya salah. 


Belajar dari pengalaman sebelumnya, Hasna tidak mau terlihat mengejar laki-laki. Dia juga belum berani untuk melabuhkan hatinya kepada laki-laki, dia takut kecewa dan salah mencintai lagi.

__ADS_1


Hamish melihat tempat duduk Hasna di boarding pass miliknya. Ternyata tempat duduk mereka bersebelahan. "Kenapa seperti kebetulan sekali" batin Hamish.


"Kita duduk berdekatan" ujar Hamish.


"Masa, sih" Hasna tidak percaya. Dia mengambil boarding pass milik Hamish dan melihatnya sendiri.


Hasna membulatkan matanya. Dia tidak percaya bisa kebetulan seperti itu. Padahal mereka satu sama lain tidak tahu akan pergi ke tempat tujuan yang sama.


"Kok, bisa kebetulan begini, ya, Bang?" tanya Hasna tersenyum.


"Apakah kita berjodoh?" canda Hamish ikut tersenyum melihat Hasna.


Hasna kaget mendengarkan ucapan Hamish. Dia memalingkan wajahnya dari tatapan Hamish. Suara bagian informasi mengalihkan pembicaraan mereka. Hasna berdiri meninggalkan ruang tunggu, langkahnya pun diiringi Hamish dari belakang.


Para penumpang mulai berjalan menuju ke pesawat dan mencari tempat duduk masing-masing. Hasna tidak menyangka perjalanannya kali ini dia tidak seorang diri. Ada teman mengobrol selama di dalam pesawat.


Setelah pesawat landing, mereka pun berpisah. Hasna menuju ke hotel tempat dia menginap, sementara Hamish menuju ke rumah budenya. Sudah lama dia tidak mengunjungi rumah budenya. Ketika anaknya menikah saja, Hamish tidak sempat hadir karena berbenturan dengan acara seminar di mana dia yang menjadi Nara sumbernya.


"Hati-hati, ya, Na" Hamish menutup pintu taksi yang ditumpangi oleh Hasna. Hamish sengaja mendahulukan Hasna pergi. Kalau saja arah tujuan mereka sama tentunya mereka akan naik satu taksi saja. Hasna hanya mengangguk tersenyum sambil membalas lambaian tangan Hamish. Mobil pun berjalan meninggalkan area bandara.


Taksi Hamish tiba di depan rumah budenya. Rumah itu dari luar terlihat sepi sekali. Hamish memang sengaja tidak mengabari kedatangannya kepada budenya itu. Kalau pun nantinya sampai tidak ada orang, dia tinggal pergi ke hotel saja.


Hamish menekan bel rumah yang berada di samping pintu masuk.


"Assalamualaikum" sapa Hamish melihat budenya muncul dari balik pintu.


"Ya, Allah, Hamish. Waalaikumsalam" seru bude Hamish terkejut melihat kedatangannya.


Hamish meraih tangan wanita paruh baya itu kemudian mencium punggung tangannya.


"Bude sehat?" tanya Hamish.


"Ayo, masuk. Apa-apaan kamu ini, datang kok tidak memberitahu dulu" omel bude Hamish.


"Ada acara bude, jadi numpang menginap di rumah bude saja sekalian mau melihat bude dan si Mas" jelas Hamish tertawa.


"Si Mas, belum pulang kerja" ujar bude Hamish.


"Ma, aku mau ke rumah Ibu dulu" ujar Adinda setelah keluar dari kamar.

__ADS_1


Adinda melihat ada seorang laki-laki tampan bersama mama mertuanya. Melihat Adinda, Hamish sudah tahu kalau dia adalah istri Dimas, sepupunya.


"Din, sini!" panggil Mama Dimas.


"Siapa dia, Ma?" tanya Adinda yang memang belum pernah bertemu Hamish sebelumnya.


"Ini Hamish, keponakan almarhum Papa Dimas. Papa Hamish, adiknya papa" jelas Mama Dimas.


Adinda masih mengeryitkan dahinya. Kok, bisa. Hamish memiliki wajah timur tengah begitu, sementara papa mertuanya berwajah Indonesia asli.


"Mamaku orang timur tengah" ucap Hamish menjawab raut wajah heran Adinda.


"Oh, begitu. Pantas saja" gumam Adinda tersenyum.


"Aku pergi dulu, Ma. Assalamualaikum" ujar Adinda meninggalkan mertuanya dan Hamish. Adinda mau ke rumah Ibunya sebentar.


"Aku belum dapat kabar Bude sudah ada cucu atau belum" ujar Hamish setelah Adinda pergi.


"Memang belum, Ham. Tapi Adinda sekarang sedang hamil" ucap mama Dimas.


"Oh, Alhamdulillah kalau begitu" gumam Hamish.


Dulu dia dan Dimas sangat akrab, Hamish sering dititipkan ke rumahnya ketika orang tua Hamish masih tinggal satu kota dengannya.


"Kamu kapan mau menikah?. Jangan sibuk bekerja terus" tanya mama Dimas sambil mengingatkan keponakannya itu.


"Belum ada calon, Bude" jawab Hamish santai sambil bersandar di sofa ruang keluarga.


"Masa keponakan Bude yang ganteng ini nggak ada yang naksir" sindir mama Dimas tersenyum.


"Kalau yang naksir banyak Bude, tapi akunya yang nggak" timpal Hamish tertawa kecil.


"Jangan kelamaan memilih" pesan budenya lagi.


"Nggaklah, Bude. Belum bertemu dengan yang tepat saja. Dia kan saja" tepis Hamish.


"Kamu tanya Dinda tuh. Siapa tahu dia punya teman gadis yang cocok buat kamu" saran mama Dimas sembari berjalan ke dapur.


"Boleh juga tuh" ucap Hamish setuju.

__ADS_1


Hamish kemudian beranjak dari sofa menuju ke kamar yang sudah diberitahu oleh budenya untuk dia tempati.


__ADS_2