Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 30: Positif


__ADS_3

Adinda pulang ke rumah sudah agak sore. Antrian panjang membuatnya cukup lama di rumah sakit walaupun hanya sekedar pemeriksaan saja.


Adinda meletakkan hasil USG di atas nakas. Dia akan membersihkan diri dulu sambil menunggu kepulangan Dimas dari kantor. Adinda benar- benar lupa untuk memberitahu Dimas agar tidak menjemputnya ke sekolah. Tapi apa daya ponselnya lowbat dan akhirnya mati sama sekali.


Setelah membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi. Dimas masuk ke dalam kamar. Dimas agak sedikit terkejut melihat Adinda yang baru selesai mandi, itu artinya dia baru saja pulang.


"Dari mana saja kamu, Din?. Jam segini baru pulang. Kalau aku tahu kamu nggak mau minta jemput, aku nggak bakalan datang ke sekolahan kamu" sembur Dimas mendekati Adinda yang masih mengenakan handuk itu.


Adinda menatap wajah Dimas sambil tersenyum tidak enak. Memang salah dia, sih. Tidak mengabari suaminya itu.


"A ... aku dari rumah sakit, mau periksa ..." jawab Adinda takut, dia tidak menyelesaikan ucapannya.


Sepertinya Dimas akan marah besar dengannya karena melihat wajah Dimas tanpa senyuman sedikit pun.


"Kamu sakit?" tanya Dimas bingung lalu semakin mendekati Adinda. Adinda menggelengkan kepalanya.


"Terus kalau tidak sakit mau periksa apa?" tanya Dimas lagi sambil menarik badan Adinda, laki-laki itu sudah mengurung istrinya ke dalam pelukannya. Dimas menunduk dan pemandangan di bawah membuat matanya tergoda.


"Kamu lihat sendiri, hasilnya di atas nakas" tunjuk Adinda mengalihkan pandangannya ke arah nakas. Dimas pun menoleh ke arah yang sama. Ada sebuah amplop di atas sana.


"Apa itu?" tanya Dimas mengurai pelukannya lalu berjalan menuju nakas.


"Bukalah, Mas" Adinda mengiringi langkah Dimas dari belakang sambil tersenyum.


Dimas mengambil amplop itu lalu membukanya cepat. Terlihat hasil USG yang menyatakan bahwa Adinda positif hamil. Dimas tersenyum tidak percaya. Lantas dia membalikkan badannya melihat ke arah Adinda yang sedang berdiri tidak jauh sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Din, kamu..." Dimas pun tak sanggup berkata-kata lagi karena saking bahagianya. Adinda hanya mengangguk tersenyum.


Dimas berjalan mendekati Adinda lalu menariknya ke dalam pelukannya. Dimas pun tersenyum bahagia.


"Kamu kok, nggak bilang-bilang. Aku kan bisa mengantar kamu periksa" ucap Dimas sambil mengecup puncak kepala Adinda.


"Aku mau buat kejutan untuk kamu" Adinda mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya. Sebuah kecupan hangat lalu mendarat di bibir Adinda.


"Terima kasih, Sayangku" ujar Dimas sambil tangannya mengelus perut Adinda. "Sama-sama kita akan menjaga calon bayi kita ini."


"Iya, Mas"


"Istirahatlah. Aku mau mandi dulu" Dimas mengurai pelukannya.


"Iya. Mandi sana, pantes aja bau asem" ledek Adinda.


"Asem dari mana?. Masih wangi begini" ucap Dimas tidak terima.

__ADS_1


"Sini handuknya" lanjut Dimas menunjuk ke arah handuk yang masih melilit di badan Adinda.


"Pake handuk lain kan ada" tolak Adinda sewot.


"Aku mau handuk itu" kerling Dimas memainkan matanya.


"Nggak mau!! Aku mau pakai baju dulu" tolak Adinda.


"Belum mau pakai baju juga. Ya, udah. Kamu mandikan aku, ya" ujar Dimas menggoda Adinda.


"Dimas!! Kamu kayak anak kecil saja" Adinda menghindari Dimas dengan berjalan ke arah lemari pakaian. Namun Dimas menangkap badannya dan membawa Adinda ke dalam kamar mandi.


"Aaaa!! Dimas, aku nggak mau mandi dua kali" teriak Adinda. Dimas hanya terkekeh melihat Adinda menyiraminya dengan air karena kesal.


***


Sejak mertuanya tahu Adinda hamil, dia tidak diizinkan untuk bantu-bantu lagi di dapur.


"Nggak apa, Ma. Hanya cuci piring, kan cuma sedikit juga" tolak Adinda.


"Dinda!! Dengarkan Mama, kamu duduk saja di sana" mertuanya marah juga karena Adinda bersihkeras tidak mau mendengarkan.


"Udah, Din. Nurut aja apa kata Mama" ucap Dimas sambil menarik tangan Adinda agar meninggalkan area dapur.


"Aku nggak enak, Mas. Masa semua Mama yang mengerjakan hanya karena aku sedang hamil" ujar Adinda dengan raut wajah sedih.


Hari libur begini biasanya Adinda main ke rumah orang tuanya. Tapi kali ini dia sedang ingin di rumah saja.


***


Beberapa hari kemudian


Rencananya Dimas mau mengajak Adinda jalan keluar. Dilihatnya Adinda sedang duduk santai di sofa ruang tengah dengan mamanya sambil menonton televisi.


"Din, jalan yuk" ajak Dimas.


Adinda dan Mamanya menoleh ke arah Dimas yang sudah rapi berpakaian casual.


"Mau ke mana?" tanya Adinda malas.


"Ayolah!" Dimas tidak mau menjawab namun mendekati Adinda dan menarik tangannya agar berdiri dari sofa.


"Gantilah pakaian, aku tunggu" ucap Dimas.

__ADS_1


Dengan enggan Adinda berjalan masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Kalau di dalam rumah dia hanya memakai baju santai, setelan baju pendek.


"Mau ke mana, Mas? Adinda lagi malas begitu," tanya Mama Dimas.


"Jalan-jalan saja, Ma. Biar Adinda nggak suntuk," jawab Dimas sambil duduk di samping Mamanya.


"Mau ke mall, ya ?" tanya Mamanya lagi.


"Kayaknya ke sana. Kenapa, Ma?"


"Mama titip cemilan, Mas. Sekalian aja keperluan dapur yang udah habis" jawab Mama Dimas.


"Yah, Mama. Ini bukannya nitip tapi nyuruh kami belanja, dong" gerutu Dimas.


"Ya, sekalian Mas," Mamanya mencari kertas dan menulis apa saja yang harus Dimas beli nanti.


Tak lama Adinda keluar dari kamar. "Kenapa muka Dimas ditekuk begitu?" batinnya sambil melihat Dimas.


"Ayo, Mas. Aku udah selesai" ajak Adinda.


Dimas beranjak dari sofa, lalu menggamit tangan Adinda menjauh dari ruang tengah.


"Kenapa muka kamu kok ditekuk begitu?" tanya Adinda setelah mereka berada di dalam mobil.


"Nih, kamu baca," jawab Dimas sambil menyerahkan catatan Mamanya tadi di kertas. Adinda membaca beberapa daftar belanjaan dari mertuanya.


"Jadi Mama, nyuruh kamu belanja?" tanya Adinda heran.


"Awalnya nggak, Din. Aku cuma mau ngajak kamu keluar untuk jalan saja, ya salah satunya ke mall. Mama nitip beli cemilan tapi ujungnya sekalian sesuai daftar belanjaan yang ditulis di sana" jelas Dimas sambil menunjuk kertas yang Adinda pegang.


Adinda pun tertawa kecil. "Ya, nggak apalah. Kepalang kamu emang mau ngajak ke mall, kan" toleh Adinda.


"Iya, sih" gumam Dimas pelan.


"Aku paling malas kalau harus bawa belanjaan. Tapi nggak mungkin juga Adinda yang bawa, ibu hamil nggak boleh bawa yang berat-berat" batin Dimas sambil fokus membawa mobil.


"Mas, sebelum belanja kita beli es campur dulu, ya" ajak Adinda. Dia lagi kepingin sekali minum es campur.


"Kamu pingin minum itu?" tanya Dimas mengerti karena Adinda sedang hamil. Kalau nggak dituruti kata orang-orang tua nih anaknya nanti bisa ngences alias ileran.


"Iya, pingin banget. Padahal aku kurang suka minuman es kayak gitu" jawab Adinda merasa heran juga dengan selera makannya sekarang. Apa yang tidak dia suka sekarang menjadi suka.


"Itu namanya ngidam, Sayang" celetuk Dimas dengan wajah bahagia.

__ADS_1


Dimas kemudian mengajak Adinda untuk segera mencari pesanan Mamanya.


Beberapa bulan ke depan Adinda dan Dimas akan menjalani hari-hari dalam menanti buah hati yang sudah mereka berdua tunggu. Bersama pula mereka akan menjalani pernak-pernik dalam berumah tangga. Karena sejatinya pernikahan adalah ibadah seumur hidup bagi setiap pasangan.


__ADS_2