Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 53: Klarifikasi


__ADS_3

Hamish masih teringat dengan ucapan papa mertuanya. Dia penasaran ingin tahu. Sebenarnya ada hubungan apa antara istri dan sepupunya itu dulu. Hamish menahan rasa penasarannya hingga acara pernikahan mereka selesai. Hasna harus memberikan penjelasan kepadanya.


Selesai acara resepsi mereka di sebuah hotel, Hamish dan Hasna pun menginap di sana. Pengantin baru itu kini sudah berada di dalam kamar hote. Aroma wangi menyeruak, kamar hotel yang sudah disulap menjadi kamar pengantin membuat suasana tampak begitu romantis. Taburan kelopak bunga mawar masih tertata rapi di atas ranjang berukuran king size itu.


Jantung Hasna berdegup kencang karena berdua saja dengan Hamish di dalam kamar hotel. Gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi. Dia melihat suaminya duduk di tepi ranjang yang masih bertaburan kelopak mawar sedang menatapnya.


"Kenapa?" tanya Hasna salah tingkah mendapatkan tatapan intens dari suami tampannya itu.


"Duduklah di sini" ucap Hamish sambil menepuk tepi ranjang di sampingnya.


Hasna menurut. Dia kini berada di samping Hamish dengan gemuruh di dadanya.


"Boleh aku tanya sesuatu?" ujar Hamish melirik Hasna yang tertunduk.


"Tanya saja?"


"Apa maksud ucapan papamu tentang Dimas tadi?"


Deg. Kali ini jantung Hasna berdebar bukan karena berada sangat dekat dengan Hamish tapi karena pertanyaan dari suaminya itu.


"Hmm. Papa dulu menjodohkan aku dengan anak teman papa yaitu Dimas. Tapi dia menolak perjodohan kami setelah papanya meninggal dan menikah dengan wanita yang sudah lama dia cintai, Adinda, temanku sendirian" jawab Hasna jujur. Dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Hamish.


Hamish tersenyum. "Untunglah Dimas menolak perjodohan itu karena kamu adalah jodohku" ucap Hamish tersenyum kemudian menarik tangan Hasna ke dalam genggaman tangannya.


Hasna berharap Hamish tidak bertanya kepada Adinda atau Dimas dan menceritakan betapa dia dulu dibutakan oleh cinta semu hingga rela mau menjadi istri kedua Dimas.


"Kenapa Abang mau menikahiku?" tanya Hasna.


"Kenapa kamu mau menerima lamaran Abang?" Hamish balik bertanya.


"Aaah. Orang nanya, dia malah balik nanya" seru Hasna gemas. Hamish terkekeh kemudian menjatuhkan badannya di ranjang dan menarik Hasna hingga ikut terjatuh di sampingnya.


Laki-laki tampan itu mengurung Hasna dengan kedua tangannya sambil menatap wajah cantik istrinya itu.


"Tidak perlu jawaban, hanya perlu dibuktikan saja sekarang" ucap Hamish mendekatkan wajahnya kemudian menempelkan bibirnya di bibir istrinya itu.


Luapan cinta keduanya dapat mereka saling rasakan satu sama lain. Penyatuan raga di atas kelopak mawar menjadi awal kisah cinta halal mereka berdua.

__ADS_1


***


Hasna tampak sedang menyetrika pakaian yang akan dia pakai kerja besok.


Drettt. Drettt. Drettt


"Na, ada telpon tuh" panggil Hamish melihat ke arah ponsel istrinya yang berbunyi.


"Tolong angkat dulu, Bang. Tanggung ini. Di loud speaker aja supaya aku bisa dengar juga" sahut Hasna.


Hamish pun meraih ponsel istrinya dan menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum. Na, gimana lingerie hot hadiah dariku dan Adinda kemarin udah dipakai belum. Pasti Hamish langsung menerkam kamu. Hahaha.Oya, gaya yang itu udah dipraktekkan belum supaya kamu cepat dapat momongan" suara Sinta nyerocos dari seberang sana.


Hamish mengeryitkan dahinya mendengarkan celotehan teman istrinya itu. Sementara Hasna wajahnya sudah bersemu merah. Dia meletakkan setrika dan segera meraih ponselnya di tangan Hamish, sebelum Sinta lebih banyak bicara lagi.


"Sin, udah dulu, ya, aku lagi sibuk. Assalamualaikum" Hasna langsung menutup panggilan telpon dari Sinta.


"Aduh, kenapa lagi aku menyuruh Bang Hamish mengangkat telepon dari Sinta?" batin Hasna.


"Ini, pakaian Abang udah aku setrika" ucap Hasna. Suaminya hari ini sudah masuk kerja kembali. Sementara dia sendiri besok baru ke kantor.


"Kok, belum dipakai?" tanya Hasna heran.


Hamish menarik pinggang ramping Hasna merapat ke badannya. "Gimana kalau kita praktekkan gaya yang sudah diberitahu oleh teman kamu tadi" bisik Hamish tersenyum.


"Ah ... Abang!!!" pipi Hasna bersemu merah sambil mendorong dada Hamish. Namun apa daya, dia tidak kuasa untuk menjauhkan badan makhluk tampan itu yang menginginkan dirinya.


***


W


aktu terus berlalu. Masa cuti Adinda tidak terasa telah berakhir. Dia akan kembali lagi beraktivitas mengajar di sekolah.


Di meja makan


"Besok aku sudah masuk kerja lagi, Ma" ucap Adinda memberitahu mertuanya.

__ADS_1


"Nggak masalah. Zain biar mama yang urus" ujar Mirda. "Mama kan di rumah saja. Kalau mama menengok kakek baru Zain dititipkan dengan ibu kamu, Din."


Usia baby Zain sudah tiga bulan, sedang lucu-lucunya. Mertuanya itu mana mau menyerahkan baby Zain kepada ibunya.


Selesai sarapan dan membereskan meja makan. Adinda menyusul Dimas ke dalam kamar. Baby Zain sudah berada di tangan mertuanya itu.


"Yang, dasiku yang warna hitam dimana?" tanya Dimas melihat Adinda baru masuk ke dalam kamar.


"Ya, di dalam lemari, Mas. Di tempat biasa, masa nggak ketemu, sih" jawab Adinda mendekati Dimas yang sibuk mencari dasinya.


"Nggak ada" ucap Dimas.


Adinda baru ingat kalau lipatan pakaian dua hari yang lalu masih ada di dalam tempat lipatan pakaian, belum dia pindahkan ke lemari.


"Pakai yang lain dulu, Mas" saran Adinda. "Nih, yang warna navy juga cocok, kok."


Adinda mengambilkan dasi berwarna navy dan langsung mengalungkannya ke leher Dimas.


"Besok sudah kerja lagi, nih" tatap Dimas.


"Hmm, aku udah kangen mau bertemu dengan siswa-siswi dan teman-temanku" balas Adinda tersenyum sambil tangannya menyematkan dasi Dimas.


Dimas melingkarkan kedua tangannya di pinggang Adinda. "Masih mau diantar jemput? Atau mau bawa mobil sendiri?" tanya Dimas.


"Kalau aku bawa mobil sendiri, kamu tidak takut kalau aku nanti mampir kesana kemari?" Adinda meletakkan kedua tangannya di dada Dimas setelah selesai memasangkan dasinya.


Adinda sudah bisa membawa mobil sendiri. Mertuanya mengajarinya selama dia cuti. Dimas diam sembari mengamati wajah Adinda yang sedang menggodanya itu.


"Hmm ..." Dimas tampak berpikir panjang. Dia tidak mungkin selalu mengantar jemput istrinya itu. Tapi membiarkan Adinda bebas memakai mobil membuatnya khawatir.


"Bagaimana? Lama sekali mikirnya" ucap Adinda memanyunkan bibirnya.


"Mmm, aku akan tetap mengantar jemput kamu. Jika aku sibuk dan tidak bisa mengantar jemput kamu baru boleh membawa mobil sendiri" jawab Dimas.


Adinda tersenyum geli. Dia tahu Dimas tidak akan membiarkan dirinya membawa mobil setiap hari. Lagipula dia lebih suka diantar jemput oleh suaminya. Kebersamaan itu yang lebih terasa. Bukannya Adinda merasa tidak mandiri karena bergantung dengan suaminya.


Setelah memiliki anak, Dimas justru lebih protective terhadap Adinda. Dia yang telah melihat perjuangan istrinya melahirkan buah hatinya, membuatnya semakin menghargai wanita yang menjadi pendampingnya sehidup sesurga.

__ADS_1


***


END


__ADS_2