Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 18: Janjian


__ADS_3

Sebelum pulang ke rumah, Sinta mau mengajak Adinda menemui seseorang. Sebenarnya Adinda mau menolak, tapi Sinta memaksanya.


"Siapa sih, Sin? Kamu kok main rahasia segala" sungut Adinda sambil merapikan barang-barangnya di atas meja.


"Ya, Allah. Aku yang nggak enak kalau sampai kamu nggak ikut. Dia udah datang dari jauh mau ketemu kita" jelas Sinta.


"Makin nggak jelas aja nih anak" batin Adinda.


"Aku mau ngabarin Dimas dulu, ya. Soalnya dia udah janji mau jemput aku" ujar Adinda merogoh tasnya dan mengambil ponselnya lalu segera menghubungi Dimas yang masih berada di kantor.


[Kamu udah mau pulang?]


Dimas melirik jam di tangannya. Biasanya jam segini dia sudah stand by di depan sekolahan. Tumben Dinda  baru menghubungi.


[Mas, aku mau diajak Sinta pergi sebentar. Boleh, ya?]


[Mau ke mana?]


[Nggak tau nih, Sinta. Katanya ada yang mau ketemuan dengan ku]


[Siapa? Cowok atau cewek? Di mana?]


Dimas mulai tidak tenang. Eits, tapi kan ada Sinta, ngapain juga harus cemas.


[Nggak tau, Sinta nggak mau bilang]


[Ok. Telpon aja kamu nunggu di mana kalau udah mau pulang. Nanti aku jemput]


[Iya, makasih]


Setelah mengucapkan salam, Adinda menutup panggilan telponnya. Adinda menghembuskan nafasnya.


"Kenapa? Dimas curiga ?" Selidik Sinta.


"Siapa yang nggak curiga, Sin. Kamu sih mau ngajak orang nggak jelas begini" sungut Adinda.


"Udah, yuk. Kita ke sana. Dia udah lama menunggu" ajak Sinta menarik tangan Adinda keluar dari ruangan guru.


***


Tiba di lokasi, Adinda turun dari motor matic Sinta. Mereka tiba di salah satu mall ternama. Setelah memarkir motor, Sinta mengajak Adinda mencari salah satu food court yang ada di mall tersebut.


"Nah, itu dia" tunjuk Sinta ke salah satu meja. Di sana sudah duduk seorang wanita berjilbab yang sedang membelakangi mereka berdua.


"Assalamualaikum" sapa Sinta menegur wanita berjilbab marun itu.


"Waalaikumsalam" toleh wanita itu sambil menggeser kursinya lalu melihat ke arah Sinta dan Adinda.


Adinda tampak terkejut sekali melihat sosok wanita yang ada di hadapannya. Sungguh dia tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan wanita itu.


"Hasna!" tunjuk Adinda ragu. Wanita itu hanya mengangguk tersenyum.


"Ya Allah, jadi beneran kamu Hasna si anak tomboy itu" seru Adinda tertawa  kecil, dia hampir tidak percaya melihat teman masa SMA-nya bisa menjadi feminin begini. Hasna pindah ke kota lain ketika tahun ke dua mereka di SMA, hingga sekarang baru bertemu kembali dengan Adinda.


"Iya. Ini aku, si anak tomboy itu" balas Hasna tersenyum geli. "Waktu terus berlalu dan orang kan, bisa berubah ke arah yang lebih baik lagi" sambung Hasna.

__ADS_1


"Kok, kamu bisa janjian dengan Sinta?" tanya Adinda heran. Padahal sudah lama mereka tidak berkomunikasi.


"Hm. Itu, aku masih ingat rumah Sinta, jadi aku mampir ke sana. Ternyata Sinta udah tinggal di rumah sendiri, ya. Ibu Sinta lantas memberiku nomor ponsel Sinta" jawab Hasna tersenyum.


"Iya, Din. Hasna langsung menelponku dan ngajak ketemuan. Kangen katanya" lirik Sinta.


"Kalian ternyata sudah menikah semua, ya" ucap Hasna menatap teman-temannya bahagia.


"Kamu juga udah nikah kan, Na ?" tanya Adinda dan Sinta.


"Aku ... aku nggak jadi nikah dengan calon yang mau dijodohkan denganku" jawab Hasna sendu.


"Lho, kenapa sampai nggak jadi?" tanya Sinta penasaran. Hasna gadis yang cantik apalagi setelah dia memakai jilbab.


"Laki-laki itu anak dari teman papaku. Dia menolak perjodohan itu padahal aku sudah jatuh cinta dengannya" jawab Hasna lirih.


"Artinya laki-laki itu bukan jodoh kamu, Na. Insya Allah, kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik darinya" hibur Adinda.


"Udah, deh. Sekarang jangan cerita yang sedih-sedih. Kita kan, baru bertemu" sela Sinta. Adinda dan Hasna tersenyum melihat Sinta.


"Oya, Na. Kamu kok, bisa ada di kota ini lagi?" sambung Sinta bertanya.


"Iya, deh. Lain kali aja aku curhatnya. Aku ke sini mau mewakili papaku bertemu dengan rekan bisnisnya untuk MOU kerja sama. Nah, ini yang membuat aku teringat lagi dengan laki-laki itu" jawab Hasna.


"Maksudnya?" tanya Adinda.


"Pimpinannya laki-laki itu" jawab Hasna tersenyum kecut. Adinda dan Sinta saling pandang.


"Kenapa nggak kamu tolak aja, Na?" tanya Sinta.


"Aku udah menolaknya. Tapi kondisi kesehatan papa sedang tidak baik. Karena aku bekerja membantu papa di perusahaan makanya papa yang meminta ku untuk mewakilinya" jelas Hasna.


"Kenapa, Din?" selidik Sinta memperhatikan Adinda dari tadi memainkan ponselnya.


"Suamiku udah mau jemput, nih" jawab Adinda dengan raut wajah tidak enak dengan kedua temannya.


"Ya, udah. Kamu pulang duluan aja. Maklumlah, Na. Pengantin baru" ledek Sinta melihat Adinda.


"Iya. Iya. Nggak apa, Din. Kalau kamu mau pulang duluan. Sampai jumpa lagi, ya" ujar Hasna tersenyum.


"Maaf, ya, lain kali kita kumpul lagi" ujar Adinda lalu berpamitan meninggalkan food court tempat mereka makan.


***


Dimas sudah menunggu Adinda di pelataran parkiran mobil. Ketika Adinda memberitahu lokasi keberadaannya, Dimas segera menuju ke sana karena kebetulan dia melewati daerah sana.


Adinda melihat Outlander marun Dimas masih di parkiran. Wanita itu segera menuju ke sana.


Tok.Tok.Tok


Adinda mengetuk kaca mobil Dimas sambil mengintip ke dalam, kaca pun terbuka.


"Masuklah" perintah Dimas. Adinda masuk ke dalam.


"Kenapa aura wajahnya begitu?" batin Adinda melihat raut wajah Dimas tanpa senyuman.

__ADS_1


Dimas memundurkan mobilnya lalu meninggalkan area mall. Hening tidak ada suara. Sesekali Adinda melirik ke arah Dimas.


"Hmm. Kenapa, kamu? Sariawan?" ujar Adinda bercanda menoleh ke arah Dimas. Dia hanya mau mencairkan suasana di mobil yang seperti mengheningkan cipta itu.


"Kamu kalau nggak dihubungi belum mau pulang, kan" ucap Dimas datar dengan sedikit nada marah.


"Ya Allah, jadi karena itu doang, sampe nggak mau ngomong" Adinda membatin dengan sudut bibirnya yang melengkung melihat sikap Dimas.


"Aku diajak Sinta ketemu sama temen lama" jelas Adinda. Dimas membisu tidak menanggapi ucapan Adinda. Dia hanya fokus menyetir.


"Temenku itu cewek, kok. Nggak usah cemburu" lirik Adinda menggoda Dimas.


"Siapa yang cemburu?" elak Dimas cuek dengan pandangan masih fokus di depan.


Adinda menahan tawa, jelas-jelas sikap Dimas menunjukkan dia ingin tahu sekali siapa orang yang ditemuinya itu, cowok ataukah cewek.


"Udah dong, senyum kenapa" ujar Adinda dengan suara manja menjawil pundak Dimas.


"Nanti cepat tua, lho. Kalau muka sering cemberut" ujar Adinda lagi menggoda Dimas. Kali ini Adinda menjawil pipi suaminya itu.


Dimas menyunggingkan senyuman, lama-lama dia tidak tahan juga digoda


Adinda.


Tiba di rumah


Adinda menyusul Dimas yang sudah lebih dulu ke kamar. Wanita itu menyapa mama mertuanya sebentar yang sedang duduk santai di ruang keluarga ketika mereka lewat.


"Mas, nggak lihat ada Mama di sana. Kok dicuekin, sih" protes Adinda melihat sikap suaminya.


"Mama lagi asik nonton begitu, aku nggak mau mengganggunya" jelas Dimas.


Dimas tahu kebiasaan mamanya kalau sedang menonton. Walaupun ditegur, mamanya tidak akan menyahut juga. Beliau kalau menonton acara kesukaannya terlalu fokus dan tidak peduli dengan orang di sekitar.


"Oh, kiraiin masih ngambek" ujar Adinda pelan sambil mengambil pakaian kotor Dimas di atas ranjang.


"Aku mau mandi" ucap Dimas yang sudah bertelanjang dada. Dimas mengambil handuk sambil melirik Adinda.


"Maksudnya apa, lihat-lihat begitu?" Adinda pura-pura tidak tahu dengan gelagat Dimas.


"Mau mandi bareng nggak ?" pancing Dimas tersenyum kecil.


"Aaaa!! Kamu tuh, yah" teriak Adinda tersipu.


Tanpa sadar tangannya melempar baju kotor milik Dimas tadi dan tepat mengenai wajah tampan suaminya itu.


"Dinda!!" teriak Dimas geram.


Dimas berjalan mendekati Adinda lalu mengangkat badannya masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas, turunkan!!" Adinda malu harus mandi bareng dengan Dimas dengan kondisinya yang masih nifas itu.


"Kamu nggak harus mandi bareng aku, tapi mandikan aku aja" ucap Dimas tersenyum menggoda istrinya itu.


"Aaaa!! Dimas!!! Kamu kayak anak kecil aja" seru Adinda. Dimas terkekeh lalu menurunkan badan Adinda.

__ADS_1


"Emangnya kamu aja yang bisa menggoda suami kamu ini" batin Dimas.


Rupanya Dimas membalas perbuatan Adinda yang sudah berani menggodanya di dalam mobil tadi.


__ADS_2