
Adinda memang belum memperlihatkan auratnya kepada Dimas. Dan Dimas pun tidak memintanya untuk melakukan tugasnya sebagai istri. Pikiran Adinda berkecamuk lagi memikirkan ucapan Putri.
“Kamu kenapa, sakit?” tanya Dimas melihat Adinda lebih banyak diam.
Mereka berdua makan malam dengan suasana hening tanpa suara. Dimas merasa aneh dengan sikap Adinda. Adinda sering terlihat menatapnya tanpa ekspresi seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Eh ... nggak, kok” tepis Adinda menunduk melihat piringnya masih penuh dengan nasi.
"Tidak bisa. Aku harus mencari tahu yang sebenarnya dari Dimas langsung. Tapi harus dimulai darimana... " batin Adinda.
Dimas sudah meninggalkan meja makan. Adinda hanya melirik Dimas yang sudah menghilang masuk ke ruang kerjanya.
***
__ADS_1
Adinda mondar-mandir di dalam kamar. Sudah dua hari ini Dimas selalu sibuk di ruang kerjanya. Bahkan dia sampai tidur di sana. Adinda merasa tidak nyaman ketika tidur sendirian di kamar sebesar itu. Adinda rindu dengan Mama mertuanya. Dia sempat menelpon menanyakan kabar Mama mertuanya kapan akan pulang. Masih terngiang-ngiang di telinga Adinda ucapan Mama mertuanya, dia akan pulang jika Dimas sudah membuatkan cucu untuknya. Adinda benar-benar tidak percaya mendengar ucapan mertuanya. Itu artinya mertuanya tahu bahwa dia belum memberikan hak Dimas sebagai suami. Tapi dia kembali ingat dengan ucapan Putri. Oh, kepalanya mulai pusing. Bagaimana bisa memberikan cucu kalau suaminya tidak tertarik dengan wanita.
Adinda melangkahkan kakinya ke ruang kerja Dimas. Pintu kamar itu terbuka sedikit. Adinda masuk dan berdiri di muka pintu.
“Ehem ... kamu tidur di sini lagi?” tanya Adinda ragu melihat Dimas menatap layar laptopnya.
“Pekerjaanku masih banyak, kalau ngantuk paling juga tertidur di sini” jawab Dimas datar tapi matanya sekilas melirik Adinda.
“Oh...” Adinda menautkan kedua tangannya. Dimas sama sekali tidak tertarik dengannya. Pekerjaan itu lebih menarik daripada dirinya. “Mau ku buatkan sesuatu?” tawar Adinda pelan.
“Baiklah. Aku buatkan dulu, ya” Adinda lalu keluar dari ruang kerja Dimas.
"Hmm. Kenapa dia? Tumben peduli dengan ku" Dimas tersenyum melanjutkan lagi kerjanya.
__ADS_1
"Apa Adinda sudah membuka dirinya" tanya hati Dimas.
Dimas menyibukkan diri di ruang kerjanya untuk menghindari Adinda. Setiap melihat Adinda dia takut tidak bisa menahan hasratnya. Dia tidak ingin hubungannya dengan Adinda semakin runyam jika dia memaksa Adinda untuk memberikan haknya sebagai suami. Makanya lebih baik dia tidur di ruang kerja. Melihat gelagat Adinda yang menemuinya di ruang kerja, Dimas berpikir bahwa Adinda sudah mau menerimanya. Tidak sampai sepuluh menit Adinda sudah membawakan secangkir kopi hitam untuk Dimas.
“Ini kopinya” Adinda meletakkan cangkir kopi di samping Dimas.
Adinda kemudian berjalan menjauh dari meja Dimas. Dimas segera memutar kursinya dan berdiri mendekati Adinda. “Mau ke mana?” tanya Dimas.
Adinda berhenti dan berbalik, betapa terkejutnya dia melihat wajah Dimas tepat di hadapannya. Adinda akui wajah Dimas begitu tampan di matanya. Wajah itu tidak berubah, terlihat awet muda. Jika tidak mengenalnya, orang akan mengira di masih anak kuliahan.
“A ... aku ... ” Adinda menjadi gugup menatap Dimas apalagi ketika tangan Dimas sudah melingkar di pinggangnya.
Dimas terus menatap intens Adinda, tangannya menarik Adinda lebih dekat menghapus jarak di antara mereka. Hembusan napas Dimas menerpa wajah Adinda. Gemuruh jantungnya sudah tidak terkendali ketika Dimas memagut bibirnya. Malam itu Adinda larut dalam pesona suaminya. Adinda tidak dapat menghindari lagi bahwa dia juga menginginkan suaminya.
__ADS_1
“Kita lanjutkan di kamar, Sayang” bisik Dimas.
Adinda hanya mengangguk lalu Dimas menggendongnya ala bridal style masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan kakinya.