
Satu bulan kemudian
Sejak ada baby Zain, ibu Adinda sering mendatangi rumah besannya untuk membantu Adinda mengurusi anaknya. Maklum anak pertama belum ada pengalaman. Adinda masih takut untuk memandikan baby Zain.
"Din, mama mau menengok kakek. Hanya menginap dua malam saja" ujar Mama Dimas sambil mengemasi pakaian yang akan dibawanya. "Ibumu menginap di sini saja."
"Iya, Ma. Mas Dimas sudah tahu, Ma?" tanya Adinda sambil menggendong baby Zain.
"Sudah. Lauk untuk makan siang sudah mama buatkan. Ibumu tidak perlu mengantar lauk ke sini" pesan mertuanya.
Mama Dimas sudah siap mau berangkat. "Cucu Oma yang ganteng. Oma pergi dulu, ya" ucapnya sambil mencium pipi baby Zain.
"Mama pergi dulu, ya" pamit mertuanya. Adinda mengantar mertuanya hingga ke teras. Setelah itu dia masuk kembali.
"Kita sendirian, Nak" ucap Adinda kepada baby Zain.
Bayi itu terlihat lapar, Adinda mengajaknya ke kamar untuk menyusuinya.
Siang hari
Pulang dari mengajar, Sinta mampir ke rumah Adinda. Mau langsung pulang ke rumah juga sepi. Anaknya di rumah orang tuanya, suaminya juga masih di kantor.
"Sepi sekali, Din. Mertua kamu di mana?" tanya Sinta sambil menghempaskan badannya di atas sofa. Mereka berada di ruang tengah. Sementara baby Zain sedang tidur.
"Pergi menengok kakek" jawab Adinda. "Kamu sudah makan, Sin?" tanya Adinda.
"Sudah, tapi makan waktu jam istirahat tadi saja, Din. Berharap di sini ditawari makan" canda Sinta.
"Ya, Allah, Sin. Ayo, makan" ajak Adinda. "Nggak usah malu-malu."
Adinda menarik tangan Sinta menuju ke meja makan. Mertua tadi juga masak banyak. Mereka kemudian kembali lagi ke ruang tengah.
"Dimas masih puasa, Din?" tanya Sinta sambil makan. Adinda pun langsung nyambung ke mana arah pembicaraan Sinta.
"Sebenarnya masa nifasku sudah selesai meskipun belum 40 hari. Tapi dia belum berani mendekatiku" jawab Adinda sambil tertawa kecil.
"Lho, kenapa?" tanya Sinta heran.
"Dia takut nanti aku masih merasa sakit karena bekas jahitan itu. Sebenarnya aku juga masih takut-takut, sih" jawab Adinda tersenyum. "Lebih takut dari membayangkan malam pertama."
"Masa, sih?" Sinta tidak percaya. Dia belum pernah mengalaminya karena anak pertamanya dilahirkan secara caesar.
"Iya, Sin" Adinda selalu deg-degan jika Dimas tiba-tiba menginginkannya.
"Kasihan banget, Din, suamimu" gumam Sinta. Adinda hanya tersenyum kecil.
"Eh, ada info apa nih di sekolah?" tanya Adinda karena dia masih cuti.
"Nggak ada yang penting, sih. Amanda jualan tas branded. Bu Kiki berangkat umroh" cerita Sinta.
"Terus, kamu beli tas Amanda?" tanya Adinda.
__ADS_1
"Iya, sih. Lumayan bisa kredit, Din" jawab Sinta cengengesan. Adinda hanya tersenyum. Ibu-ibu paling suka mencari kreditan.
"Oya, Sin. Kamu udah dapat undangan dari Hasna belum?" tanya Adinda.
"Undangan apa? Hasna mau menikah, ya?" Sinta balik bertanya. Sudah lama Hasna tidak menelponnya jadi dia tidak tahu kabar.
"Iya, dia mau menikah" jawab Adinda.
"Wah, bisa move on juga tuh anak. Alhamdulillah, deh. Aku ikut senang. By the way, dia mau menikah dengan siapa?" tanya Sinta lagi. Dia penasaran ingin tahu.
"Kamu pasti kaget kalau tahu siapa calon suaminya" ucap Adinda tersenyum.
"Siapa, Din?. Kamu buat aku penasaran saja" Sinta meletakkan piring bekas makannya di atas meja.
"Calon suaminya itu sepupu Dimas, Sin" jawab Adinda.
"Hah!! Yang benar, Din?. Itu artinya Hasna masih bertemu lagi dengan Dimas, dong. Kan jadi keluarga suamimu" seru Sinta.
"Ya, gitu, deh" ujar Adinda. "Ganteng banget, deh. Pantas saja Hasna langsung bisa melupakan Dimas."
"Maksud kamu, calon Hasna lebih ganteng dari Dimas?" lirik Sinta tidak percaya.
"Hm. Gimana bilangnya, ya. Dimas itu ganteng, Hamish juga ganteng, sih" ujar Adinda bingung.
"Yang jelas, suami sendiri lebih ganteng dari pria manapun. Titik" Sinta tidak mau membandingkan-bandingkan suaminya dengan laki-laki lain.
"Iyalah. Suamiku paling ganteng. Melihat wajahnya tidak membosankan dan yang penting setia. Untuk apa ganteng kalau nggak setia" ucap Adinda tidak mau kalah.
"Percuma juga, Sin kalau aku suka dengan dia dari dulu. Toh, aku nggak tahu kan, dia itu jodohku atau bukan. Kalau aku udah suka dengan dia dari dulu ternyata dia menikah dengan wanita lain kan nyesek, tahu nggak?" jelas Adinda.
"Iya, nyesek karena udah jagain jodoh orang" timpal Sinta sambil terbahak-bahak.
"He-eh. Makanya aku biasanya aja dengan dia dulu meskipun dia mempesona" tambah Adinda tersenyum geli.
"Din, aku mau melihat baby Zain sebentar. Mau cium" ujar Sinta sebelum dia berpamitan pulang.
Adinda kemudian mengajak Sinta masuk ke dalam kamarnya dan mendekati box baby Zain. Bayi itu diangkatnya dengan pelan agar tidak bangun. Sinta pun mencium pipi lembut itu.
"Aku mau menjemput Alika dulu. Kalau nggak, nanti keburu Bang Hendra pulang lagi" pamit Sinta setelah Adinda meletakkan lagi baby Zain ke dalam box bayi.
"Sering-sering ke sini, Sin. Nggak apa kamu jemput Alika dulu baru main ke sini" ujar Adinda.
"Iya, lain kali akan aku ajak. Pulang dulu, ya. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Adinda menutup pintu rumah dan menguncinya setelah Sinta pergi. Dia kembali lagi ke dalam kamar.
"Ngantuk banget, deh. Mumpung baby Zain masih tidur. Aku mau memejamkan mata sebentar" gumam Adinda membaringkan badannya di atas ranjang. Tidak sampai 5 menit dia sudah tertidur. Matanya benar-benar sudah mengantuk.
Setelah sholat ashar di kantor, Dimas beranjak pulang. Mamanya sudah mengabarinya kalau beliau sudah pergi ke rumah kakek.
__ADS_1
"Seharian ini aku tidak sempat menghubunginya. Dia dan baby Zain sedang apa, ya?" gumam Dimas sambil menyetir mobilnya.
Tiba di rumah, Dimas harus membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa. Suasana rumah tampak sepi. Dimas segera menuju ke kamar. Benar sekali dugaannya, Adinda dan bayinya sedang berada di dalam kamar. Istrinya masih tertidur sementara baby Zain sudah bangun di dalam box. Bayi itu sedang memainkan tangannya yang masih tertutup sarung tangan bayi.
"Eh, anak Abi sudah bangun, ya. Uminya masih tidur" ucap Dimas kepada baby Zain yang melihat ke arahnya.
"Abi cuci tangan dan ganti baju dulu, ya" sambung Dimas kemudian berjalan ke kamar mandi.
Setelah merasa bersih, Dimas baru mengangkat baby Zain ke dalam gendongan.
"Kita bangunkan Umi, yuk" Dimas mendekatkan baby Zain ke arah wajah istrinya itu dan menciumkan baby Zain ke pipi Adinda.
Adinda menoleh karena merasakan pipinya dicium. Dia pun sontak kaget melihat baby Zain ada di sampingnya.
"Ya, Allah" seru Adinda. "Mass!!" Adinda melihat suaminya sudah pulang.
"Aaaa!! Aku belum sholat" teriak Adinda. Kalau Dimas sudah pulang itu tandanya sudah sore. Adzan sholat ashar sudah lewat.
"Baby Zain sudah bangun dari tadi, Yang" ucap Dimas sambil melihat Adinda cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi.
Dimas kemudian mengalihkan pandangannya kepada baby Zain dalam gendongannya.
"Umi kamu mau sholat dulu, nanti baru mimik susu" ucap Dimas kepada baby Zain.
Benar kata orang yang sudah mempunyai bayi. Rasa letih pulang dari kantor mendadak hilang ketika melihat wajah anak sendiri yang masih bayi.
Selesai sholat, Adinda mengambil alih baby Zain dari tangan Dimas. Dia kemudian menyusuinya.
Dimas tersenyum lalu keluar dari kamar. Dia menuju ke dapur, dilihatnya ada beberapa piring dan gelas kotor di wastafel. Laki-laki tampan itu pun mencucinya kemudian merapikan dapur.
Dimas kemudian memanaskan lauk tadi siang. Sepertinya Adinda belum sempat memanaskannya, orangnya saja baru bangun dari tidur siang. Selesai memanaskan lauk, Dimas melihat mesin cuci yang sudah berisi pakaian kotor bayinya. Maklum kalau di rumah baby Zain tidak memakai pampers.
"Mas!" panggil Adinda melihat suami tampak sibuk di kamar mandi. Dimas sedang mencuci pakaian.
"Baby Zain tidur lagi?" toleh Dimas melihat Adinda tanpa bayi mereka.
"Nggak, aku masukkan ke dalam box bayi karena mau memanaskan lauk, nanti kamu mau makan" jawab Adinda sambil memperhatikan suaminya.
"Udah aku panaskan" ucap Dimas.
"Mas, biar aku saja yang mencucinya. Mas pasti capek, pulang kerja udah kerja lagi di rumah" ujar Adinda merasa tidak enak.
Biasanya juga ada Bik Ina yang datang ke rumah pagi-pagi untuk membantu mertuanya khusus mencuci pakaian.
"Tidak apa. Kamu juga capek kan karena udah jagain baby Zain" tolak Dimas sambil tersenyum. Adinda hanya tersenyum tipis.
Selama mamanya tidak ada di rumah, Dimas sudah memberitahu Bik Ina untuk tidak ke rumah.
__ADS_1