
Adinda menyiapkan pakaian baby Zain, suaminya dan pakaiannya untuk dibawa ke rumah Tante Ameera. Mereka semua akan berangkat ke sana untuk menghadiri pernikahan Hamish dan Hasna. Untunglah Adinda masih cuti jadi mereka tidak perlu buru-buru pulang setelah acara akad nikah nanti.
"Yang, sudah belum? Baby Zain sepertinya lapar" ujar Dimas sambil menggendong baby Zain.
"Sebentar, Mas. Nanti lupa lagi pakaian kita yang mau dibawa. Pokoknya pakaian yang sudah ada di dalam tas ini, jangan diganggu lagi" ucap Adinda mengingatkan suaminya.
"Umi, adek udah lapar. Mau mimik cucu" ujar Dimas menirukan suara anak kecil.
"Iya, sabar. Ini udah kelar" Adinda berdiri dan berjalan mendekati suaminya.
"Nggak usah banyak-banyak bawa pakaian. Siapa juga yang mau menginap lama-lama?" ujar Dimas sambil menyerahkan baby Zain kepada Adinda.
"Kenapa?" tanya Adinda mengambil alih baby Zain ke tangannya.
"Setelah resepsi kita langsung pulang" jawab Dimas. Adinda melongo. Dimas masih banyak urusan lain.
"Kan jarang-jarang kita ke rumah Tante Ameera" Adinda masih mencari alasan untuk menginap lama di rumah orang tua sepupu suaminya itu.
"Nggak pake lama, sudah acara kita langsung pulang" ujar Dimas tidak menyetujui keinginan istrinya itu.
"Kenapa sih, Mas?. Kamu kan atasan, bisalah ambil jatah satu hari nggak ke kantor" ujar Adinda belum bisa menerima keputusan Dimas.
"Justru karena aku atasan. Aku tidak mau menjadi contoh yang buruk untuk bawahanku. Paham!" tegas Dimas. Adinda cukup kaget dengan intonasi suara suaminya yang tidak seperti biasanya.
"Kenapa dia seperti mau marah?" batin Adinda heran.
Adinda berlalu begitu saja meninggalkan Dimas sambil menggendong baby Zain keluar dari kamar.
"Ma, aku mau ke rumah ibu sebentar" ujar Adinda memberitahu mama mertuanya yang sudah kembali dari rumah kakek.
"Zain dengan Oma saja" tawar mama Dimas.
"Justru neneknya mau ketemu Zain, Ma" ucap Adinda.
"Sudah sore ini, Din. Sebentar lagi Maghrib"
"Iya, sebentar saja, Ma. Nanti aku minta antar Arif pulang naik motor saja" Adinda bersih keras tetap mau ke rumah ibunya. Dia sedang malas berada di dekat Dimas. Ujungnya nanti malah ribut.
Adinda tetap pergi meskipun mertuanya melarangnya.
Di rumah orang tua Adinda
"Ibu dan ayah jadi kan ikut ke acara pernikahan Hamish?" tanya Adinda setelah baby Zain berada di tangan ibunya.
"Sepertinya ibu saja yang ikut. Ayahmu mengurus rumah makan. Weekend begitu pengunjung ramai, Din. Arif diminta ayahmu untuk membantunya"jawab ibu Adinda.
"Ohh ... "
"Hanya menginap semalam juga, kan?" tanya ibunya lagi.
"Rencananya mau menginap untuk beberapa malam di sana, Bu. Tapi Mas Dimas nggak mau" jawab Adinda sambil memanyunkan bibirnya.
"Sepertinya Dimas tidak suka menginap lama di tempat lain, ya" ujar ibu Adinda.
"Sepertinya begitu" timpal Adinda.
"Bu, hampir mau Maghrib. Aku pulang dulu" sambung Adinda. "Besok pagi, ibu langsung ke rumah saja, ya."
__ADS_1
"Iya" Ibu Adinda menyerahkan baby Zain kembali kepada anaknya. "Rif ... Arif!!" panggil ibu Adinda.
Adik laki-laki Adinda muncul dari balik pintu kamar. "Apa, Bu?" sahut Arif.
"Antar Mbamu pulang ke rumah mertuanya pake motor" titah ibunya.
"Lho, ada Mba Dinda dan baby Zain ganteng" seru Arif.
Arif baru tahu kalau ada kakaknya main ke rumah. Dia mendekati. Adinda dan mencium pipi baby Zain.
"Dekat juga, pake mau diantar segala. Kebiasaan udah jadi istri bos" sindir Arif.
"Keburu Maghrib, Rif. Nanti aku diomelin Mas Dimas" jelas Adinda.
"Sekalian aja sudah Maghrib. Sebentar lagi adzan, lho" ujar Arif menahan Adinda karena dia mau menggendong keponakan gantengnya itu.
"Iya, Din. Nggak baik juga. Langit sudah merah" ujar ibunya.
"Jangan kalian membiarkan anak-anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam, sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam. (Dari Jabir dalam kitab Sahih Muslim)" sambung Arif mengingatkan Adinda hadist Rasulullah tentang hal itu.
Adinda akhirnya menurut saja dengan nasehat ibu dan adiknya. Setelah 15 menit dari sholat Maghrib, Arif mengantar Adinda pulang ke rumah mertuanya dengan motor.
"Nggak masuk dulu" tawar Adinda.
"Nggak usah. Pulang, ya" pamit Arif men-starter motornya dan pergi meninggalkan rumah mertua Adinda.
Adinda membawa baby Zain ke kamar. Bayi itu ingin menyusu. Dia melihat Dimas berada di dalam kamar sedang menatap tajam ke arahnya.
"Aku nggak suka kamu mengajak baby Zain keluar sore hari dan pulang Maghrib begini" tegur Dimas.
Adinda hanya diam saja. Dia tidak mau meladeni Dimas, bisa-bisa nanti mereka ribut.
Adinda pun membaringkan baby Zain di atas ranjang. Bayi itu sudah tidak sabar lagi ingin menyusu.
***
Hari semakin malam, Dimas belum juga kembali ke dalam kamar. Baby Zain sudah tidur nyenyak.
"Abi Zain ngapain, sih? Udah malam begini kok belum mau tidur. Besok pagi kan sudah harus berangkat ke rumah Tante Ameera" gumam Adinda sembari menutup pintu kamar dengan pelan.
Adinda menuju ke ruang kerja Dimas. Laki-laki tampan itu pasti sedang berada di sana. Ibu muda itu membuka pintu ruangan yang tidak terkunci.
"Ya, Allah. Kok, malah tertidur di sini" seru Adinda melihat suaminya tidur bersandar di kursi.
Adinda tersenyum mendekatinya dan berdiri di belakang kursi kerja Dimas.
Kedua tangannya memegang pundak Dimas sambil memijat dengan pelan.
Dimas yang belum lama memejamkan matanya itu pun terkejut merasakan sentuhan tangan di pundaknya. Dia pun membuka matanya dan mencium aroma wangi dari tubuh istrinya itu. Melihat Dimas menggerakkan badannya, Adinda berjalan ke depan suaminya sambil membuka tali pengikat baju tidur kimono yang dia pakai kemudian bersandar di meja kerja Dimas.
"Kok, tidur di sini?" tanya Adinda.
Mata Dimas fokus melihat pakaian minim di balik baju tidur kimono yang Adinda pakai. Lekuk tubuh istrinya itu tampak terekspose di depan matanya.
"Mas!" panggil Adinda melihat suaminya hanya diam saja. "Kalau mau tidur di sini, ya udah, aku mau ke kamar."
"Kenapa memakai baju seperti itu?" tanya Dimas curiga. Dia memang belum berani meminta haknya sebagai suami kepada Adinda setelah istrinya itu selesai masa nifasnya.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Aku seksi, kan?" Adinda balik bertanya sambil melepaskan baju tidur kimononya dan memperlihatkan lingerie di baliknya.
Dimas menyunggingkan senyuman di bibirnya. Dia menarik tangan Adinda hingga istrinya itu jatuh ke pangkuannya. Mata mereka pun bertemu dengan degup jantung yang saling bergemuruh.
"Seksi sekali ... " ucap Dimas merapatkan badannya ke arah Adinda tanpa lepas menatap wajah istrinya itu. Tak lama kemudian Adinda pun merasakan ciuman hangat dari suaminya.
"Aku tunggu di kamar" ujar Adinda tersenyum setelah Dimas melepaskan ciumannya. Dia turun dari pangkuan Dimas dan meraih kimononya kemudian keluar dari ruangan kerja Dimas.
Dimas beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Adinda ke kamar. Istrinya itu sudah memberikan sinyal. Di dalam kamar Adinda sudah menunggunya di tepi ranjang. Dimas melirik box bayi yang tidak jauh dari ranjang. Baby Zain tampak sedang tidur nyenyak di sana.
Laki-laki tampan itu tersenyum kemudian meraih pinggang istrinya. "Apa ini tandanya aku boleh ... " ujar Dimas dengan suara berbisik sambil melihat bagian atas Adinda yang terekspos sehingga membangkitkan gairahnya.
"Jika aku menahannya. Suamiku ini nantinya bisa uring-uringan terus" goda Adinda sambil tersenyum geli.
"Kau ... sudah bisa menggodaku, ya" ujar Dimas langsung menciumi leher dan pundak istrinya itu.
Adinda tertawa geli sambil menghindari serangan suaminya. Namun Dimas semakin tergoda melihat istrinya bergelinjang menghindarinya.
"Aaaa!!! Mas ... hentikan!" teriak Adinda tanpa sadar kalau ada baby Zain di kamar mereka.
Dimas langsung menjatuhkan badan Adinda ke atas ranjang. Dia membungkam mulut istrinya dengan ciuman. Dimas tidak mau baby Zain sampai bangun karena mendengarkan teriakan istrinya. Jika baby Zain bangun gagal sudah aktivitas intim mereka.
"Mas ..." panggil Adinda setelah Dimas melepaskan pagutannya.
"Apa?" tanya Dimas sambil menatap wajah istrinya.
"Pelan-pelan" ucap Adinda hampir berbisik. Jantungnya berdetak kencang. Ini pertama kalinya mereka berhubungan intim setelah Adinda melahirkan.
Dimas tersenyum mengiyakan. Dia tahu apa maksud ucapan istrinya itu. Dia pun sama deg-degan seperti Adinda. Laki-laki tampan itu pun segera menunaikan tugasnya sebagai suami.
Malam semakin pekat, pasangan suami istri itu mengatur napas setelah menuntaskan hasratnya bersama. Adinda segera beranjak dari atas ranjang. Dia ingin membersihkan diri sebelum baby Zain terbangun ingin menyusu.
Setelah itu Adinda kembali tidur di samping Dimas yang sudah memejamkan matanya.
"Cepat sekali sudah tidur" gumam Adinda. Dia pun ikut memejamkan matanya. Belum lama menutup mata, Dimas mengurung badan Adinda ke dalam pelukannya.
"Aku kira sudah tidur" lirik Adinda. Dimas tersenyum sambil menciumi pipi Adinda.
"Belum bisa tidur, melihat kamu masih seksi begini" bisik Dimas sambil tangannya bergerilya menyusup di balik lingerie Adinda.
"Mass!!" ujar Adinda menahan suaranya agar tidak berteriak.
"Bu bidannya pintar, ya, bisa membuat kamu seperti perawan lagi" ucap Dimas tersenyum masih sambil mencium badan Adinda.
"Ihh, kamu apaan sih, Mas!" Adinda mencubit gemas pinggang Dimas yang belum berbalut pakaian sama sekali.
Dimas melancarkan aksinya, tangannya sambil menyusuri area bagian atas Adinda.
"Masss!!" teriak Adinda bergelinjang merasakan sentuhan jemari tangan Dimas. Laki-laki baby face itu terkekeh merasakan respon tubuh istrinya.
"Oek ... Oek ... Oek" suara baby Zain menangis menghentikan tawa Dimas. Mereka berdua pun saling pandang. Aksi Dimas gagal.
"Baby Zain tahu, ya, kalau abinya nakal" ledek Adinda tersenyum. Dia pun turun dari ranjang untuk mengambil baby Zain.
Dimas tersenyum sambil mengusap rambutnya. Kalau baby Zain tidak bangun. Sudah pasti dia akan mengulangi kembali aktivitas intim mereka.
__ADS_1