
Dimas terbangun dari tidur sebelum adzan subuh berkumandang. Dia melihat Adinda masih tidur sambil memeluk badannya. Perut Adinda yang sudah terlihat membulat membuat Dimas tersenyum. Tidak lama lagi dia akan menjadi seorang ayah. Dimas sangat menjaga Adinda yang sedang hamil itu. Dia tidak mau kejadian silam terulang kembali, kehilangan bayi mereka.
"Sedang hamil begini, kamu justru terlihat seksi sekali" gumam Dimas tersenyum sambil mengelus pundak Adinda yang polos.
Adinda bergeming, meskipun Dimas sudah memutar badan menghadap ke arahnya. Dengan leluasa Dimas memandangi wajah cantik istrinya itu. Laki-laki yang tidur hanya bertelanjang dada itu tersenyum smirk. Dia ingin membangunkan Adinda dengan caranya.
Laki-laki tampan itu mengecup lembut bibir Adinda, tangannya menyusup di balik baju tidur Adinda yang membentuk lekuk tubuhnya. Adinda melenguh dengan mata yang masih terpejam. Dia seakan bermimpi merasakan sentuhan jemari Dimas di setiap lekukan kedua bukitnya. Dengan bibir yang masih bertautan, Adinda pun masih merasa dia sedang bermimpi. Matanya baru terbuka ketika merasakan gigitan Dimas di bibirnya. Laki-laki itu hanya tersenyum setelah melepaskan pagutannya.
"Sudah bangun, Sayang" bisik Dimas.
"Mas!!" rengek Adinda manja." Jam berapa ini?. Kamu sudah membangunkan aku."
"Setengah jam lagi waktu Subuh. Masih sempat untuk ..." Dimas tidak melanjutkan ucapannya. Dia hanya mengekspresikan ucapannya melalui gerakan tangannya yang masih menelusuri bukit kembar dan beralih ke lembah berumput milik istrinya.
"Aaahh, kamu ini, Mas. Bisa-bisanya, aku masih mengantuk tahu nggak" ucap Adinda manja dan merasakan tubuhnya sudah menegang akibat sentuhan itu.
"Kamu tidur memelukku begitu, membuatku bangun, Sayang" bisik Dimas masih mengeksplorasi tubuh istrinya yang sudah memberikan sinyal siap menerimanya.
"Sebentar saja" sambung Dimas berbisik mesra. Dimas kemudian melanjutkan aktivitasnya yang sudah disambut hangat oleh istrinya itu.
Adinda sebenarnya malas sekali harus keramas pagi-pagi. Apalagi kalau dia ada jadwal mengajar.
"Kamu itu niat mau membangunkan tidur atau apa, sih?" omel Adinda sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Dimas hanya nyengir kuda sambil memandang wajah istrinya yang manyun. Dia sengaja membelikan Adinda hairdryer karena jika aktivitas intim mereka berlangsung di pagi hari, Adinda bisa dengan cepat mengeringkan rambutnya.
"Kamu juga yang salah, setiap malam pakai baju tidur seksi begitu. Suami mana yang bisa tahan hanya melihat saja tanpa disentuh" balas Dimas tidak mau disalahkan.
"Alasan saja!" Adinda meletakkan hairdryer itu dan mendekati Dimas. "Dari awal menikah, kamu memang selalu tergoda kan, kalau melihatku" ucap Adinda percaya diri.
Dimas tertawa renyah. "Iya, Sayang. Kamu paling tahu" ucap Dimas menyerah sambil memandang Adinda.
***
Mayang yang tidak bisa terima penolakan Hendra. Dia telah melaporkan sikap laki-laki itu kepada papanya. Alhasil Hendra pun dipanggil atasannya itu ke dalam ruangannya.
"Aku juga heran kenapa kamu menolak putriku, Hen. Dia sangat mencintaimu" ujar Juan, pria paruh baya dengan wajah bule itu. Tak heran jika Mayang memiliki paras yang cantik seperti orang barat.
Hendra menarik napas dalam. "Bapak dan anak sama saja!" umpat Hendra di dalam hatinya.
"Kalau saya masih single atau duda, tentu saja saya tidak akan menolak putri Pak Juan. Tapi masalahnya saya sudah ada istri dan anak, Pak" jelas Hendra bersabar.
"Apa kamu tidak ada niat untuk berpoligami?" tanya Juan.
Hendra melongo. Tidak ada dalam pikirannya punya niat seperti itu. Gila. Ada ya orang tua yang rela anaknya mau dijadikan yang kedua. Selagi masih ada laki-laki single di luar sana, ya mbok cari yang single saja tho, Pak.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa membagi cinta saya untuk wanita lain. Saya sudah cinta mati sama istri saya" tegas Hendra. Memang seperti itulah kenyataannya.
__ADS_1
Juan terdiam menatap Hendra. Suami Sinta itu pun tidak mau banyak bicara lagi dan membahas tentang Mayang. "Kalau Bapak ingin memecat saya karena saya telah menolak cinta anak Bapak, saya akan terima. Saya tidak mau rumah tangga saya hancur karena masalah ini. Saya permisi" Hendra berpamitan dan berdiri lalu keluar dari ruangan Juan.
Setelah Hendra pergi, tak lama Mayang masuk menemui papanya. Dia berpikir bahwa papanya bisa mempengaruhi dan mengancam Hendra untuk menerima cintanya.
"Pa, gimana?" tanya Mayang tidak sabar.
"Hendra itu laki-laki setia, May. Sudahlah ... Lupakan dia. Kamu cari laki-laki lain. Jangan merusak rumah tangga orang" jawab Juan tertunduk.
"Papa!!" rengek Mayang. "Kalau dia tetap dengan pendiriannya, papa turunkan lagi saja jabatannya."
"Mayang!!" teriak Juan kesal. "Kalau kamu bekerja di perusahaan papa hanya untuk main-main, lebih baik kamu di rumah saja."
Mayang mendengus kesal. Papanya bukan mendukung dia, tapi justru memarahinya.
Hendra pulang ke rumah dengan wajah tidak bersemangat. Bagaimana dia harus membicarakan tentang pekerjaan dengan Sinta.
"Assalamualaikum" Hendra membuka pintu dan disambut senyuman istrinya.
"Papa" panggil Alika muncul dari balik badan Sinta.
Hendra meraih Alika dan menggendong putrinya itu. Sinta hanya menatap heran suaminya yang pulang tanpa senyuman.
"Alika, bereskan dulu mainan, Sayang. Papa mau ganti baju dulu, ya" ujar Sinta. Hendra kemudian menurunkan Alika dalam gendongannya.
Sinta kemudian mengiringi Hendra masuk ke dalam kamar. Dia kemudian membantu suaminya itu membuka kancing kemejanya.
"Siap-siap saja, Dek" ucap Hendra pelan.
"Siap-siap mau ke mana, Bang?" tanya Sinta bingung. Apa suaminya mau mengajak mereka pergi keluar.
"Besok yang mengantar jemput Alika biar aku saja" ujar Hendra.
"Lho, memangnya Abang nggak kerja?" tanya Sinta lagi.
Hendra menarik pinggang Sinta kemudian memeluknya. Sinta mengerjapkan matanya. Dia mencium aura tidak enak. Sinta pun membalas pelukan suaminya yang sudah bertelanjang dada itu.
"Ada apa, Bang?" tanya Sinta lembut.
"Pak Juan, papa Mayang sudah memanggilku dan membahas tentang anaknya. Dia memintaku untuk menerima cinta anaknya" jawab Hendra masih memeluk Sinta.
Mata Sinta membulat. "Memangnya papa gadis itu tidak tahu apa kalau Bang Hendra sudah punya istri dan anak" batin Sinta geram.
Sinta merenggangkan pelukan Hendra. Dia menatap mata Hendra.
"Abang jawab apa?."
"Makanya aku akan mengantar-jemput Alika besok" jawab Hendra.
__ADS_1
"Abang dipecat karena menolak gadis itu?" tanya Sinta tidak percaya.
"Mungkin, tapi sebelum dipecat lebih baik aku mengundurkan diri. Aku takut gadis itu akan berbuat nekad" jawab Hendra.
"Iya, Bang. Aku mendukung keputusan Abang" ujar Sinta tersenyum.
"Dek!" panggil Hendra sambil merapatkan badan Sinta lagi.
"Apa?"
"Pintunya dikunci nggak?" tanya Hendra sambil menyusupkan tangannya di balik daster Sinta.
"Iya, sudah" jawab Sinta. Dia bisa mendengar suara televisi di luar kamar. Sepertinya Alika, putri kecilnya sedang menonton televisi.
Tangan Hendra sudah menemukan pengait bukit kembar istrinya dan melepaskannya. Mata Sinta mendelik.
"Abang!!" seru Sinta. "Kalau Alika memanggil nanti bagaimana?."
"Sebentar, Dek" bisik Hendra dengan napas memburu, dia pun sudah menjatuhkan badan Sinta ke atas ranjang.
Ketika sedang asik bercumbu untuk melampiaskan hasratnya, pintu kamar mereka diketuk oleh Alika.
Tok. Tok. Tok
"Pa ... Papa!" panggil Alika di luar kamar.
Sinta kaget dan menatap suaminya. "Cepat, Bang. Alika udah memanggil itu" ujar Sinta yang masih berada di bawah suaminya.
"Sebentar, Sayang" ucap Hendra dengan suara berat.
"Mama ... papa!!" teriak Alika lagi karena belum mendapat sahutan dari kedua orang tuanya.
"Iya, Lika. Sebentar!" sahut Sinta masih memegang kedua pundak Hendra dan menikmati irama suaminya yang hampir menyelesaikan misinya itu.
Hendra bernapas lega karena telah selesai melepaskan hasratnya. "Cepat pakai bajunya, Dek" ujar Hendra turun dari ranjang dan mengambil pakaiannya.
Sambil melirik istrinya yang sedang memakai dasternya kembali, Hendra baru membukakan pintu kamar.
"Ada apa, Alika?" tanya Hendra melihat putrinya masih berdiri di depan pintu kamar
"Papa dan mama ngapain? Lama sekali membukakan pintunya" tanya Alika.
"Ehm, papa tadi minta pijat mama. Kan papa capek baru pulang kerja" jawab Hendra tersenyum.
"TV-nya kok gambarnya hilang, Pa. Tadi Alika pencet remote yang satunya, tiba-tiba hilang gambarnya" ujar Alika hampir menangis. Dia takut TV itu rusak karenanya.
"Ada apa, Bang?" tanya Sinta ikut keluar dari kamar.
__ADS_1
"Itu TV nggak ada gambarnya. Ya, sudah. Nanti papa betulkan, tapi papa mau mandi dulu, ya" jawab Hendra tersenyum salah tingkah menenangkan putrinya sambil melirik Sinta. Sinta pun hanya mesem-mesem. Dia bisa melihat senyuman suaminya kembali.