
Adinda mengerjapkan matanya, seingat dia setelah sholat shubuh dia rebahan di tempat tidur ternyata kebablasan tertidur lagi. Rambutnya masih basah bergelung handuk. Dia baru ingat kalau semalam dia sudah menjadi istri Dimas seutuhnya. Pipinya bersemu merah.
"Apa aku sudah jatuh cinta dengannya? Ah, tidak ... aku melakukan itu agar mama pulang ke rumah. Tapi bukannya kau menikmatinya Din, sampai tidak bisa menolak keinginan Dimas. Cinta itu sudah ada di hatimu, Dinda. Kenapa kau masih mengingkarinya?" Dialog hati Adinda.
Adinda tidak menyadari bahwa Dimas sudah di dalam kamar mengamatinya yang termangu duduk di atas tempat tidur.
“Hey, mikirin apa?” Dimas mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Adinda. “Mau diulang adegan semalam, biar ingat” goda Dimas tersenyum.
Adinda tersentak sadar setelah mendengar ucapan Dimas. “Apaan sih” ujar Adinda malu memukul lengan Dimas.
“Kayaknya apa yang dibilang Putri itu nggak benar deh” gumam Adinda.
“Apa?” tanya Dimas.
“Kalau kamu gay” jawab Adinda polos.
Dimas melongo. Dia tidak percaya kalimat itu keluar dari mulut istrinya. Lalu Dimas tertawa terbahak-bahak.
“Apanya yang lucu?” tanya Adinda heran.
“Kamu kan udah membuktikannya, Sayang” goda Dimas menatap Adinda.
__ADS_1
Adinda tersipu malu. Wajahnya memerah semerah tomat. Dimas kemudian duduk di samping Adinda.
“Sewaktu SMA banyak cewek yang suka dengan kamu, kenapa nggak pacaran dengan salah satu dari mereka?” tanya Adinda.
“Karena aku nggak suka” jawab Dimas singkat. Adinda tidak percaya.
“Waktu kuliah. Masa nggak ada pacar juga?”
“Dinda, kalau aku nggak pacaran bukan berarti aku nggak normal. Kamu juga apa punya mantan?” ucap Dimas.
“Nggak punya. Tapi aku pernah suka sama seseorang. Aku normal. Hanya saja aku perempuan malulah menyatakan perasaan sama laki-laki duluan” jelas Adinda. “Tapi kamu kan bukan anak Rohis yang anti pacaran. Sementara teman-temanmu di paskibra udah punya pacar semua.”
Adinda mendelik melihat Dimas. “Siapa?” tanya Adinda penasaran.
“Mau tau, apa mau tau banget” goda Dimas sambil menjawil hidung Adinda lalu berdiri menghindarinya.
“Dimas!!” panggil Adinda menyusul Dimas. “Siapa?” desaknya.
Adinda penasaran sekali mau tahu siapa gadis yang sudah membuat Dimas menjaga hatinya sampai tidak mau pacaran.
Dimas menoleh. “Gadis yang selalu sengak kalau aku kerjain.”
__ADS_1
Adinda terpaku mendengarkan jawaban Dimas. Dia tidak percaya dengan pengakuan dari Dimas bahwa gadis itu ternyata dirinya sendiri. Dimas kemudian mendekati Adinda lalu tersenyum.
“Aku berteman dengan anak Rohis. Kami sering bertukar pendapat. Paling tidak aku udah tertular dengan prinsip mereka kalau mau pacaran setelah menikah aja” jelas Dimas tersenyum.
“Tapi kamu selalu ngerjain aku, bikin kesel sampe benci tau nggak” ucap Adinda memanyunkan bibirnya.
Dimas merapikan anak rambut Adinda di keningnya. “Aku begitu agar bisa selalu dekat dengan mu” bisik Dimas.
"Cara yang aneh" Pikir Adinda. Kalau diingat tingkah Dimas sewaktu SMA bikin emosi tingkat tinggi.
“Aku selalu menjaga hatiku untuk kamu” Dimas menarik Adinda ke dalam pelukannya.
Adinda dapat merasakan debaran jantung Dimas. Dia sungguh tidak menyangka jika Dimas mencintainya sejak SMA.
“Karena aku yakin kamu juga menjaga hatimu walaupun aku tidak tahu hati kamu untukku atau bukan” lanjut Dimas.
“Terima kasih sudah menjaga hatimu untukku” gumam Adinda mengeratkan pelukannya.
“I always love you” bisik Dimas mengecup kening Adinda.
Adinda hanya memejamkan matanya. Dimas tidak perlu tahu bahwa dirinya pernah menyukai laki-laki lain sewaktu kuliah dan bayangan Dimas yang suka menjahilinya hilang karena mereka kuliah di tempat yang berbeda. Kini sepertinya Adinda sudah terjebak dalam ranjau cinta suaminya sendiri.
__ADS_1