
Keesokan harinya
Dimas sudah mengecek mobilnya sebelum mereka berangkat. Tas berisi pakaian mereka bertiga dan mamanya sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
Ibu mertua Dimas memasuki halaman rumah diantar oleh suaminya.
"Assalamualaikum" sapa Pak Hilwan, ayah mertua Dimas.
"Waalaikumsalam" Dimas menghampiri mertuanya dan menyalami mereka satu persatu.
"Maaf, ya, ayah tidak bisa ikut" ujar Pak Hilwan.
"Iya, Yah. Tidak apa kan sudah diwakilkan oleh ibu" balas Dimas sambil melirik ibu mertuanya.
Ibu Adinda mengambil tas yang tidak terlalu besar yang berisi pakaiannya untuk menginap di sana nanti.
"Belum mau berangkat?" tanya ibu mertuanya.
"Belum, Dinda masih memandikan baby Zain. Masuk saja ke dalam, Bu. Mama juga masih bersiap-siap" jawab Dimas sambil meraih tas di tangan mertuanya untuk diletakkan di bagasi mobil.
Ibu Adinda pun masuk ke dalam rumah meninggalkan suami dan menantunya itu.
"Repot sekali kalau mau pergi, ada bayi seperti kalian. Pakaian banyak yang mau dibawa" ujar Pak Hilwan.
"Betul, Yah. Tapi mau bagaimana lagi karena keluarga, mau tidak mau harus datang. Kalau teman yang menikah, aku tidak akan mengajak Adinda" ucap Dimas.
Sejak ada bayi, Dimas selalu datang sendirian menghadiri undangan pernikahan dari teman atau rekan bisnisnya. Kasihan kalau baby Zain harus dibawa apalagi ditinggalkan karena bayi itu masih minum air susu eksklusif.
Adinda sudah selesai memakaikan baby Zain baju. Aroma khas bayi menyeruak di dalam kamar. Dia pun menggendong baby Zain dan keluar dari kamar.
"Nenek udah ke sini" ujar Adinda melihat ada ibunya.
"Wangi sekali cucu nenek. Sini ikut nenek" Ibu Adinda meraih baby Zain dari tangannya. Dia kemudian menciumi pipi gembul cucunya itu.
Adinda melihat keluar pintu, suaminya tampak sedang mengobrol dengan ayahnya. Tak lama kemudian Mama Dimas keluar dari kamar.
"Eh, besan sudah datang" tegur mama Dimas melihat ibu Adinda sedang menggendong baby Zain.
Ibu Adinda hanya tersenyum. "Ayo, kita berangkat" ajak mama Dimas.
Pagi itu mereka pun berangkat menuju ke kota tempat Hamish dan Hasna tinggal dengan.
***
Ameera dan suaminya menyambut kedatangan Dimas dan keluarga dengan suka cita.
"Ya, Allah. Anakmu lucu sekali, Mas" seru Ameera melihat baby Zain dalam gendongan ibu Adinda.
__ADS_1
"Semoga nanti kamu juga cepat mendapatkan cucu" bisik mama Dimas sambil tersenyum.
"Aamiin. Ayo, aku tunjukkan kamar kalian" ajak Ameera.
Dimas dan Hamish tampak sedang bercengkrama. Dia sudah tidak memperhatikan lagi urusan ibu-ibu itu.
"Sudah menikah, rencananya kalian akan tinggal di mana?" tanya Dimas.
"Sepertinya masih tinggal di rumah papa dulu" jawab Hamish. "Masalah ini sudah kami bicarakan dan Hasna tidak keberatan."
"Baguslah kalau begitu. Lagipula kalian sama-sama sibuk. Bertemu juga sudah malam hari" ujar Dimas setuju.
"Dimas!!" panggil Ameera mendekati anak dan keponakannya itu. Dimas dan Hamish menoleh ke sumber suara.
"Ayo, makan dulu. Baru datang sudah asyik ngobrol saja" ajak Ameera.
"Iya, Mas. Ayo, makan dulu" Hamish menarik tangan Dimas agar berdiri dari tempat duduknya.
Dimas pun menurut dan mengikuti Ameera menuju ke meja makan. Di sana dia tidak melihat sosok istrinya.
"Adinda di mana, Ma?" tanya Dimas kemudian duduk di samping mamanya.
"Di kamar sedang menyusui Zain" jawab mamanya.
Selesai makan, Dimas membawakan sepiring nasi untuk istrinya itu. Istrinya itu belum sempat makan karena menyusui bayinya.
Ceklek!
"Baby Zain belum tidur?" tanya Dimas sambil meletakkan piring nasi di atas nakas.
Adinda tidak menyahut karena melihat baby Zain perlahan melepaskan hisapannya. Baby Zain sudah tertidur. Adinda turun dari ranjang kemudian mendekati Dimas. Laki-laki tampan itu melirik ke arah ranjang dan melihat bayi mereka sedang tertidur.
"Aku bawakan nasi untuk kamu. Makanlah" tunjuk Dimas ke arah nakas.
"Ya Allah, Mas. Aku kan bisa makan di luar saja" ujar Adinda tersenyum karena Dimas begitu perhatian dengannya.
"Kalau kamu tidak mau makan, nanti aku yang akan memakanmu" ucap Dimas sambil menarik pinggang Adinda merapat ke badannya.
"Mas!! Ini rumah orang" Adinda coba mengingatkan sikap Dimas.
"Kalau rumah orang terus kenapa?" tatap Dimas kemudian mencium leher Adinda.
"Malu aja" ucap Adinda tersenyum karena merasa geli.
"Pintunya kan dikunci juga" bisik Dimas sambil terus melancarkan aksinya.
"Iya ... Iya. Aku mau makan nasi yang kamu bawakan" ujar Adinda mengalihkan aksi Dimas.
__ADS_1
Dimas tersenyum geli, dia tahu Adinda ingin menghindarinya.
"Makanlah" Dimas melepaskan pelukannya dan membiarkan Adinda mengambil nasi yang sudah dibawakannya tadi.
"Di tempat Tante Ameera nggak ada acara apa?" tanya Adinda sembari makan. Soalnya di rumah orang tua Hamish itu tampak seperti biasa saja.
"Nggak ada. Akadnya kan di rumah pengantin wanita sedangkan resepsinya kan di hotel" jawab Dimas.
Sambil berbincang-bincang dengan Dimas akhirnya selesai juga Adinda menghabiskan makanannya.
"Mau ke mana?" tanya Dimas melihat Adinda berjalan ke arah pintu kamar sambil membawa piring bekas makannya tadi.
"Mau membawa ini ke dapur" tunjuk Adinda.
"Udah, letakkan saja di atas meja sana. Kita istirahat dulu" perintah Dimas. Adinda pun menuruti kemauan suaminya itu.
Mereka pun beristirahat sejenak, berbaring di samping baby Zain sehingga bayi itu berada di tengah-tengah mereka.
***
Selesai sarapan pagi, rumah Ameera tampak sibuk semua. Pak Hakim, papa Hamish sedang memanaskan kedua mobilnya. Dimas akan membawa mobil pengantin sedangkan om-nya akan membawa mobil yang berisi para orang tua.
"Om Hamish mau merried tambah ganteng aja, nih" ujar Adinda sambil menggendong baby Zain.
"Baby Zain juga bakalan ganteng mengalahkan Om-nya" balas Hamish sambil menjawil pipi chubby baby Zain. Adinda tersenyum kecil mendengarkan ucapan Hamish.
"Ayo, kalo sudah siap semua kita berangkat" ujar Pak Hakim.
Mereka pun segera menuju ke mobil yang sudah disiapkan. Keluarga yang lain sudah menunggu di luar rumah. Mobil pun beriringan-iringan berjalan menuju ke rumah orang tua Hasna.
Tiba di rumah orang tua Hasna, Adinda langsung menemui Hasna yang masih berada di dalam kamarnya.
"Tante Hasna cantik sekali" puji Adinda melihat temannya itu memakai gamis kebaya putih.
"Terima kasih, Din" wajah Hasna bersemu mendengarkan pujian Hasna.
Ceklek!
"Hasna!!" teriak suara wanita yang tidak asing lagi di telinga mereka datang memasuki kamar. Sinta.
"Akhirnya datang juga" ucap Adinda melihat Sinta baru datang.
Mereka berkumpul di kamar menemani Hasna. Acara ijab Qabul di luar kamar pun dimulai. Suara lantang Hamish mengucapkan Qabul terdengar hingga ke dalam kamar.
"Hasna binti Reifan sudah resmi menjadi istri Hamish" seru Sinta memeluk Hasna. Adinda tidak bisa memeluknya karena sedang menggendong baby Zain.
"Barakallah ya, Na" hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Adinda. Hasna sudah menjadi bagian dari keluarga suaminya, itu artinya menjadi keluarganya juga.
__ADS_1
Adinda dan Sinta pun mengajak Hasna keluar dari kamar pengantin. Kedua orang tua pengantin dan para tamu undangan sudah menunggu mempelai wanita.
"Om tidak menyangka, meskipun Hasna tidak jadi menikah dengan Dimas, dia tetap menjadi bagian dari keluarga Dimas juga" ucap Pak Reifan, papa Hasna di dekat kedua pengantin. Adinda dan Dimas saling pandang karena mereka berada di dekat pengantin juga. Hamish melirik Hasna, dia masih belum nyambung dengan ucapan mertuanya itu.