Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 21: Pura-pura Tidak Tahu


__ADS_3

Adinda tidak bisa memejamkan matanya. Biasanya jam 10 malam dia sudah terlelap tidur. Bayangan wajah Hasna tersenyum berjalan di samping Dimas terlintas lagi di kepalanya.


Adinda menoleh ke samping. "Dimas udah tidur belum, ya?."


Adinda lalu merapatkan badannya dengan tangan melingkar di atas perut Dimas.


"Mas!!" Adinda menjawil hidung mancung Dimas.


"Hmm. Apa?" sahut Dimas masih memejamkan matanya. Namun dia bisa merasakan pelukan hangat Adinda.


"Belum tidur?" tanya Adinda pelan.


"Kamu udah membangunkan aku, masih tanya lagi" jawab Dimas dengan suara malas.


Adinda hanya senyam-senyum menatap paras tampan laki-laki yang dulu selalu membuatnya naik darah.


"Mas!!" Adinda mengangkat separuh badannya menghadap wajah Dimas, sentuhan lembut badan Adinda dapat Dimas rasakan.


Dimas masih memejamkan matanya. "Sebenarnya apa yang mau dia lakukan" batin Dimas masih enggan membuka mata.


Adinda membelai wajah Dimas dengan jari jemarinya sambil tersenyum geli.


"Adinda tidak sedang coba menggodaku, kan? Kalau sudah bisa ku sentuh, dari tadi kamu bakalan ku terkam, Din" batin Dimas geram.


"Mas, aku nggak bisa tidur" rengek Adinda lalu memencet hidung Dimas hingga mata laki-laki itu terbuka.


"Kenapa nggak bisa tidur? Aku kan udah ada di samping kamu" tatap Dimas menarik punggung Adinda agar lebih dekat lagi.


Adinda tersenyum nakal, dia sudah berhasil menggoda Dimas. Alhasil suaminya itu akan sudah tidur lagi kalau sudah dibangunkan.

__ADS_1


"Din, kamu sengaja ya membangunkan aku" tatap Dimas jengkel.


Adinda hanya tertawa geli. "Sini, kamu akan menyesal karena sudah membangunkanku" ancam Dimas lalu mengurung Adinda ke dalam pelukannya kemudian menghujani wajah cantik Adinda dengan ciuman.


"Dimas!!! Jangan macam-macam ya kamu. Aku..." teriak Adinda memperingatkan Dimas.


"Cuma semacam saja, Din. Nggak banyak. Aku nggak akan nganggurin kamu, kok" balas Dimas terkekeh.


Adinda tak berkutik, salah dia sendiri karena sudah mengganggu Dimas tidur. Akhirnya dia harus menemani Dimas bergadang. Mereka bercerita ngalor-ngidul tentang masa SMA mereka dulu.


"Mas" panggil Adinda masih dalam pelukan hangat Dimas. Ini saatnya dia menanyakan tentang perjodohan antara suaminya dan Hasna.


"Hmm"


"Kamu pernah nggak dijodohin oleh orang tua kamu?" pancing Adinda.


Sejenak Dimas menatap wajah Adinda. "Apa aku harus jujur?. Dinda pasti kenal dengan gadis itu karena mereka dulu pernah satu kelas" batin Dimas.


"Di dalam rumah tangga, kita kan harus jujur. Karena kalau sudah tidak ada kejujuran artinya tidak ada lagi rasa saling percaya" ucap Adinda serius sambil mengurai pelukan Dimas.


Dimas mengangguk setuju. Itu artinya Adinda memintanya untuk jujur.


"Hmm. Pernah, waktu papa masih hidup. Saat itu aku masih kuliah. Papa mengajakku ke rumah rekan bisnisnya sekalian untuk berkenalan dengan anak gadisnya. Aku nggak tahu lho, kalau papa ternyata mau menjodohkan aku dengannya. Makanya aku oke-oke saja ikut Papa" ujar Dimas memulai cerita.


"Bagaimana gadis itu, cantik nggak?" tanya Adinda tersenyum pura-pura tidak tahu siapa gadis tersebut.


"Lumayan cantik, sih" jawab Dimas datar.


"What??? Dimas bilang Hasna lumayan cantik. Orangnya cantik begitu, kok dibilang lumayan. Gimana ini mata Dimas?" gerutu Adinda di dalam hatinya.

__ADS_1


"Terus kamu mau dijodohkan dengannya?" tanya Adinda lagi.


"Kalau Papa berharap sekali aku mau menerima perjodohan itu. Sampai ketika beliau mau meninggal pun berpesan kepadaku untuk menerima gadis itu. Tapi kalau hatiku tidak sreg dengan dia, bagaimana?" jawab Dimas.


"Kamu nggak istiqoroh apa" sela Adinda.


"Karena istiqoroh itulah aku semakin mantap untuk tidak menerima perjodohan itu" jelas Dimas.


"Kok, bisa?" Adinda semakin penasaran.


Karena kalau dari cerita Hasna, terkesan Dimas lah yang jahat seolah-olah telah menyakiti hatinya dengan menolak perjodohan itu.


"Aku bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki paruh baya itu bilang namanya Hilwan, yang ternyata aku baru tahu kalau beliau adalah Bapak kamu, Din. Di dalam mimpi itu, Bapak kamu bilang kalau dia tidak bisa membayar hutangnya kepada Papa. Sebagai gantinya aku boleh menikahi anak gadisnya" Dimas menarik napas lalu menatap Adinda tersenyum.


"Iih. Kamu pasti ngarang, deh" celetuk Adinda tidak percaya.


"Sumpah demi Allah, Din. Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba mimpi bertemu bapak kamu. Padahal waktu aku mimpi itu, aku belum tahu lho kalau Pak Hilwan itu adalah bapak kamu" ucap Dimas sungguh-sungguh.


"Terus"


"Setelah mimpi itu, aku lalu bertanya dengan Mama kira-kira Mama kenal nggak dengan laki-laki bernama Hilwan yang punya hutang dengan Papa. Ternyata Mama kenal. Dan aku tanya lagi dengan Mama, apakah Pak Hilwan itu punya anak gadis. Mama bilang, Pak Hilwan memang punya anak gadis yang bernama Adinda" Dimas menghentikan ceritanya.


"Oh...jadi kamu menemui Bapak dan langsung melamarku?" tanya Adinda antusias.


Dimas mengangguk. "Aku memang langsung menemui bapak kamu untuk memastikan apakah Adinda, anak Bapak sama tidak dengan Adinda, cewek sengak yang sering aku usilin ketika SMA dulu"  jelas Dimas sambil memencet hidung Adinda gemas.


"Ihh dasar!! Kamu itu cari kesempatan dalam kesempitan !!" ledek Adinda sambil menepis tangan Dimas.


"Akhirnya aku menemukan kamu" ujar Dimas sambil mencium pipi Adinda kemudian memeluk erat Adinda.

__ADS_1


"Ternyata Dimas tidak pernah melupakan aku. Padahal aku sama sekali tidak ingat lagi dengannya setelah tamat SMA" Adinda tersenyum lebar.


Adinda merasa beruntung sekali telah dicintai oleh laki-laki berparas tampan itu. Belum nikah aja Dimas udah setia menjaga cintanya apalagi setelah menikah. Hmm.


__ADS_2