
Adinda bersembunyi di balik tiang lobi agar Dimas tidak melihat kehadirannya di sana. Adinda menggelengkan kepalanya tidak percaya melihat sosok wanita itu.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" batin Adinda penasaran.
"Tidak mungkin!!" teriak batin Adinda melihat Dimas mengantar wanita itu yang tidak lain adalah Hasna, sampai keluar pintu lobi.
Adinda berjalan cepat masuk ke dalam lift menuju ruangan Dimas. Dia terduduk lemas di sofa di dalam ruangan Dimas.
"Jadi, laki-laki yang dicintai Hasna adalah suaminya sendiri" Adinda masih belum percaya. Ucapan Sinta dan Hasna silih berganti terngiang-ngiang di telinga Adinda.
"*Laki-laki itu membatalkan perjodohan karena sudah menemukan wanita yang dicintainya"
"Aku sudah jatuh cinta dengannya*"
Adinda menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. "Ya Allah, cobaan apalagi ini" jerit hatinya.
Dimas masuk ke ruangannya. Pak Amad memberitahunya kalau Adinda barusan saja mau menemuinya. Tapi Dimas merasa tidak berpapasan dengan Adinda ketika di lobi tadi.
Dimas tersenyum ketika melihat sosok Adinda sedang duduk di sofa. Laki-laki berparas tampan itu berjalan mendekati Adinda yang masih menutup wajahnya dengan tangan.
"Dinda!" panggil Dimas duduk di dekat Adinda sambil menarik tangan yang menutupi wajahnya.
"Kenapa?" tanya Dimas heran melihat wajah Adinda tampak muram.
"Ah, nggak. Aku hanya merasa capek aja" jawab Adinda menutupi perasaannya yang sedang campur aduk. Dimas tersenyum lalu meraih tangan Adinda agar berdiri.
"Ayo, pulang. Harusnya kamu nggak usah mampir ke sini" ucap Dimas.
"Huh, kalau aku nggak ke sini. Aku nggak bakalan tahu kalau laki-laki yang dicintai Hasna itu kamu" batin Adinda sebel.
"Kamu nggak suka ya aku ke sini?!!" ucap Adinda dengan nada marah sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dengan wajah ditekuk.
"Bukan begitu, aku malah suka banget kamu ke sini. Apalagi kalau setiap hari" ujar Dimas tersenyum sambil memegang dagu Adinda. Wajah Adinda masih terlihat cemberut.
__ADS_1
"Udah ah, cemberutnya. Jelek banget" ledek Dimas.
"Iya, jelek. Karena kamu udah lihat yang lebih cantik dari aku, iya kan" balas Adinda tidak terima.
Adinda jadi teringat ketika melihat Dimas mengantar Hasna sampai keluar pintu lobi tadi. Spesial banget kan artinya. Rasa cemburu itu menyusup ke dalam hatinya.
"Siapa yang kamu maksud?. Karyawanku di sini memang banyak yang cantik-cantik, tapi tidak ada yang bisa menandingi kecantikan permaisuri hatiku ini" ujar Dimas merayu agar nantinya tidak dijutekin oleh Adinda.
"Kamu tadi ke mana?" pancing Adinda. Dia ingin tahu apakah Dimas jujur atau tidak kepadanya.
"Aku tadi meeting. Udah selesai meeting langsung mau pulang, tapi kunci mobil tertinggal di kantor, jadi balik lagi. Pak Amad juga bilang katanya kamu ada di ruanganku jadi sekalian aja mau ngajak kamu pulang" jelas Dimas.
"Oh, jadi Dimas tadi sekalian mau pulang makanya bisa barengan dengan Hasna. Aku kira dia sengaja mau mengantar Hasna pulang sampai ke pintu lobi" Adinda membatin sambil menahan senyumnya. "Ternyata Dimas nggak bohongin aku."
"Ya, udah. Ayo pulang!" Adinda merangkul tangan Dimas lalu mengajaknya berjalan keluar dari kantor.
Senyum Adinda mengembang tanpa Dimas sadari. Hatinya kini menjadi lega mendengar kejujuran Dimas
Tiba di rumah
"Sepi. Mama ke mana, ya?" gumam Adinda berjalan melewati ruang keluarga.
"Oh ya, Mama tadi telpon katanya main ke rumah Ibu kamu" ujar Dimas membuka pintu kamarnya.
"Hmm. Kasihan Mama kesepian kalau nggak ada kami di rumah. Kalau udah ada cucu beliau nggak akan kesepian lagi" batin Adinda sedih sambil mengelus perut ratanya.
Setelah membersihkan diri, Adinda menuju ke dapur. Perutnya sudah minta diisi lagi. Lapar. Adinda mengeluarkan gulai di lemari makan untuk dipanaskan sebentar supaya hangat.
"Sinta pasti sudah tahu, deh. Kalau laki-laki yang dimaksud Hasna adalah Dimas. Ugh, dasar Sinta!! Kok, nggak mau cerita dengan ku. Pake ditutup-tutupi segala" omel Dinda sambil mengaduk-aduk gulai namun pikiran entah ke mana.
"Din ... Dinda!!" panggil Dimas melihat Adinda memanaskan gulai, tapi tampak sedang melamun. Bisa-bisa kering tuh gulai.
Adinda belum merespon panggilan Dimas. Laki-laki yang sudah berpakaian santai itu mendekati Adinda dan langsung mematikan kompor.
__ADS_1
"Eh..." Adinda begitu kaget mendengar suara kompor dimatikan.
"Kalau masak jangan melamun. Nanti bisa gosong" tegur Dimas lalu berjalan meninggalkan Adinda. Adinda mengerucutkan bibirnya sambil memindahkan gulai ke dalam mangkuk.
"Mas, kamu belum mau makan?" tanya Adinda melihat Dimas duduk santai di sofa ruang keluarga.
"Belum lapar. Kamu makan duluan aja" tolak Dimas membuka ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk.
Adinda membawa piring yang sudah berisi nasi dan lauk ke ruang keluarga. Dia makan di sana, duduk di samping Dimas.
"Mas, lihat apa, sih?. Kok, di rumah masih sibuk aja" protes Adinda.
"Kalau masih kurang, ngapain ngajak pulang tadi" tambah Adinda.
Lama-lama Adinda bete juga duduk bersebelahan, tetapi sibuk masing-masing. Adinda memasukan suapan terakhirnya lalu meletakkan piring kosongnya di atas meja. Karena merasa tersindir, Dimas pun menaruh ponselnya di atas meja.
"Kamu mau cerita apa?" toleh Dimas memasang wajah siap mendengarkan keluh kesah Adinda.
"Mas, salah nggak sikap ku kalau belum bisa memaafkan Amanda. Dia sudah minta maaf tapi aku belum mau memaafkannya" cerita Adinda.
Adinda belum berani menanyakan soal Hasna kepada Dimas. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu.
"Bukannya sebagai muslimah yang baik harus saling memaafkan" ingat Dimas.
"Tapi gara-gara dia, kamu jadi berprasangka buruk dengan ku. Dan kamu tidak mau mendengarkan penjelasan ku, sampai aku keguguran karena stres memikirkan itu" Adinda tak mau kalah mengingatkan Dimas juga.
"Sudahlah jangan diperpanjang lagi masalah itu. Yang jelas kita sudah jadi korban dari orang yang tidak menyukai kamu atau Amanda. Siapa orangnya kita tidak tahu. Apa coba alasan orang itu mengambil foto kamu dan Farhan, kalau tidak ingin merusak rumah tangga kamu dan Amanda? Jadi kamu juga tidak bisa menyalahkan Amanda saja" jelas Dimas meraih tangan Adinda.
Adinda terdiam sambil mencerna semua ucapan Dimas. "Benar, ada orang yang tidak menyukai ku dan ingin mengadu domba aku dengan Amanda" batin Adinda.
"Masalah bayi kita yang telah pergi. Itu sudah takdir, Sayang. Kita berdua harus mengikhlaskannya" Dimas tersenyum sambil menggenggam erat tangan Adinda. Adinda pun mengangguk setuju sambil menatap suaminya itu.
"Semoga Allah cepat memberikan kepercayaannya lagi kepada kami berdua untuk menjadi orang tua" doa Adinda dalam hatinya.
__ADS_1