Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 50: Kerja Sama


__ADS_3

Dimas bisa memahami keadaan istrinya. Ketika baby Zain sudah bangun maka aktivitas istrinya akan terhambat, dia harus menyusui bayinya itu. Apalagi pada pagi hari, baby Zain harus dimandikan. Alhasil membuat sarapan pagi saja Adinda tidak sempat. 


"Zain ganteng udah wangi, nih" ucap Adinda sambil menciumi pipi baby Zain. " Bobo sini dulu, ya. Umi mau melihat Abi sebentar" Adinda menaruh baby Zain ke dalam box bayi. Bayi itu tidak dipakaikan kain bedong lagi.


Adinda mencari suaminya. "Dia pasti di dapur. Ya, Allah. Aku belum membuatkan sarapan untuknya" gumam Adinda. Dia merasa malu sekali.


Dimas sedang berkutat di dapur sedang membuatkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Laki-laki tampan itu sedang menggoreng nasi. Tak lama kemudian dia mematikan kompor. Dimas berbalik akan membawa sarapan mereka ke meja makan. Dia terkejut melihat istrinya berdiri di muka pintu dapur sedang melihatnya.


"Jadi kamu yang membuat sarapan" ujar Adinda memanyunkan bibirnya. Dia merasa tidak enak sekali.


Dimas tersenyum sambil menatap wajah istrinya. "Kamu kan sedang mengurusi baby Zain. Kalau mau menunggu kamu selesai, kita nggak bakalan sarapan pagi" ujar Dimas tidak merasa keberatan.


Adinda mengiringi langkah kaki suaminya menuju ke meja makan. "Baby Zain tidak digendong, Yang?" tanya Dimas.


"Dia kan di dalam box bayi, aman kok" jawab Adinda.


"Ya, udah. Cepat sarapan. Baby Zain jangan lama-lama ditinggal sendirian"  ujar Dimas.


Adinda segera sarapan pagi. Setelah itu dia kembali lagi ke dalam kamar. Rupanya baby Zain tampak lapar, ibu muda itu langsung mengambil anaknya dari dalam box bayi. Dia kemudian menyusui baby Zain di atas ranjang.


Selesai sarapan, Dimas pun merapikan meja makan dan mencuci piring bekas mereka makan tadi. Kemudian dia menuju ke kamar untuk mandi.


Beberapa menit kemudian


"Sayang, kalau kamu tidak sempat masak untuk makan siang, kamu delivery aja, ya" pesan Dimas setelah dia selesai mandi.


"Nanti ibuku ke sini nganterin lauk, Mas" ucap Adinda masih sambil menyusui baby Zain.


"Kalau sempat, nanti aku pulang" sambung Dimas sambil mengenakan kemejanya.


Baby Zain sudah kenyang. Adinda kemudian berdiri mendekati suaminya untuk membantu memasangkan dasi. Dimas tersenyum sambil memandang wajah Adinda.


Istrinya itu sudah selesai memasangkan dasinya namun tangannya masih memegang dasi bagian atasnya.


"Ada apa?" tegur Dimas melihat Adinda seperti sedang melamun.


"Tidak" Adinda tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah Dimas.


Kedua tangan Dimas menarik pinggang Adinda, memutuskan jarak di antara mereka.


"Kalau sudah selesai aku mau pergi atau ... " Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Adinda. Bibirnya menyentuh permukaan bibir istrinya. Mata mereka bertemu mengisyaratkan kerinduan untuk lebih intim lagi. Perlahan Dimas mencium bibir Adinda. Istrinya itu ikut menikmati pagutan demi pagutan darinya. Hingga Dimas tersadar dan melepaskan ciumannya.


"Aku sudah rapi begini, kalau belum ... Hmm ... " ujar Dimas menyunggingkan senyuman sambil melirikkan matanya ke arah ranjang.


"Emang berani?" tanya Adinda tersenyum geli.


"Hmm, gimana kalau kita coba malam nanti" bisik Dimas.


"Serius?" tanya Adinda deg-degan. Kenapa dirinya seperti mau menantikan malam pertama saja.

__ADS_1


Melihat wajah Adinda mendadak berubah tegang, Dimas hanya tersenyum. Sebenarnya dia juga belum berani. Dia hanya ingin menggoda istrinya saja.


"Udah nggak usah dipikirkan. Aku pergi dulu" ujar Dimas menjentikkan jarinya di depan wajah Adinda yang tampak sedang berpikir.


"Ah, iya, Mas. Hati-hati" Adinda meraih tangan Dimas dan mencium punggung tangannya.


Setelah baby Zain tertidur, Adinda menuju ke dapur untuk membersihkan piring kotor bekas mereka makan tadi.


"Ya, Allah. Sudah rapi dan bersih begini" gumam Adinda.


Adinda terkejut melihat suasana dapur seperti tidak ada aktivitas apapun sebelumnya. Dia tidak menyangka kalau Dimas, ringan tangan dalam urusan rumah.


***


Di kantor


Dimas menyandarkan punggungnya di kursi empuknya.


"Capek juga. Adinda pasti lebih capek. Sudah mengurus baby Zain mau mengurus rumah pula" gumam Dimas.


"Ada apa, Pak?" tanya Ayu sambil menyerahkan berkas untuk ditandatangani oleh Dimas.


"Eh, Yu. Suamimu sering membantu kamu dalam urusan rumah tangga nggak?" tanya Dimas kepada sekretarisnya itu.


"Boro-boro, Pak. Pulang kerja udah sama-sama capek. Makanya dia rela mencarikan asisten rumah tangga. Aku pasti senang sekali kalau dia mau membantu mencuci pakaian, menyapu rumah atau pekerjaan rumah lainnya" jawab Ayu panjang lebar.


"Kenapa, Pak?" tanya Ayu. Dia merasa heran dengan pertanyaan dari atasannya itu.


"Tidak. Oya, menurut kamu suami yang romantis itu seperti apa?" tanya Dimas lagi sambil menandatangani berkas yang dibawa oleh Ayu tadi.


"Hmm. Kalau menurut saya, suami yang romantis itu ya, mau membantu pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci pakaian, mengasuh anak, pokoknya hal yang meringankan pekerjaan istri di rumah. Romantis itu tidak melulu dinner candle light, Pak" jawab Ayu.


"Jadi suami kamu tidak romantis, dong" ujar Dimas tertawa kecil.


"Betul sekali, Pak" ucap Ayu.


"Nih, sudah selesai" Dimas menyodorkan berkas yang sudah ditandatanganinya di atas meja kepada Ayu.


"Saya permisi, Pak" Dimas menganggukkan kepalanya kemudian Ayu keluar dari ruangannya.


***


Tok. Tok. Tok


"Din ... Dinda!" panggil ibu Adinda.


Adinda berjalan menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintu sambil menggendong baby Zain.


"Ibu ..."

__ADS_1


"Ibu membawakan lauk makan siang. Dimas makan di rumah atau di kantor?" tanya ibu Adinda sambil menyerahkan rantang berisi lauk pauk. Kemudian beralih mengambil baby Zain dari tangan Adinda.


"Ayo, sini ikut nenek" ujar ibu Adinda sambil menciumi pipi cucunya itu.


"Sepertinya tidak, Bu" jawab Adinda sambil menuju ke dapur untuk memindahkan isi rantang ibunya.


"Ya, sudah. Kamu makanlah. Ibu akan mengasuh Zain" perintah ibunya kemudian duduk di sofa.


"Iya, Bu. Aku makan dulu, deh" Adinda pun segera mengisi perutnya.


"Sekali-sekali tinggal di rumah ibu, Din" ujar ibu Adinda. Mertua Adinda seolah-olah mendominasi cucunya itu.


"Itulah kalau berdekatan begini. Aku jadi serba salah, Bu. Mama Dimas nggak akan mengizinkan baby Zain menginap di tempat lain" jawab Adinda. Ibunya memanyunkan bibirnya. Dia juga ingin mengurusi cucunya.


"Nanti kalau kamu sudah bekerja, pasti dia dengan senang hati dititipkan baby Zain" sungut ibu Adinda.


Adinda hanya tersenyum kecil. "Sudah pasti itu" batinnya.


"Kamu pasti capek mengurus rumah sebesar ini" gumam ibunya.


Adinda membereskan bekas makannya. "Dimas membantuku, Bu. Dia yang membuatkan sarapan, mencuci piring, juga mencuci pakaian" ujar Adinda memberitahu ibunya.


"Ah, masa sih, Din?. Zaman sekarang masih ada suami seperti itu" seloroh ibunya tidak percaya.


"Iya, Bu. Aku nggak bohong. Mas Dimas mau membantu pekerjaan rumah tangga" ucap Adinda menyakinkan ibunya.


"Alhamdulillah. Kamu harus bersyukur mempunyai suami seperti itu. Susah lho mencari suami yang mau membantu pekerjaan rumah tangga apalagi dia berkerja sebagai atasan" ujar ibu Adinda mengingatkan.


Adinda hanya mengangguk setuju. Cintanya kepada Dimas pun semakin besar. Dia juga tidak menyangka dengan sisi lain suaminya.


Sore harinya


Dimas kembali ke rumah sambil tersenyum. Dia melihat Adinda sedang menggendong bayi Zain berada di teras rumah.


"Assalamualaikum" sapa Dimas mendekati istrinya.


"Waalaikumsalam" balas Adinda.


Dimas mencium pipi Adinda. Ketika mau mencium baby Zain, Adinda langsung mendorong badannya.


"Mandi dulu" perintah Adinda melarang Dimas mencium baby Zain.


"Kalau begitu uminya saja lagi yang dicium" Dimas menyosor kembali pipi mulus istrinya itu.


"Aaaa!! Dasar modus!" teriak Adinda memukul pundak Dimas.


Dimas hanya terkekeh sambil menarik pinggang Adinda agar masuk ke dalam rumah.


__ADS_1


__ADS_2