
Adinda berdiri menghadap jendela kamar, menatap lurus taman yang dihiasi air terjun mini yang terletak di samping kamar. Hatinya masih diselimuti duka karena telah kehilangan buah hatinya. Tangannya pun sembari mengelus perutnya dengan mata yang mulai berkabut.
"Ehem ..." Dimas menatap sendu istrinya lalu berjalan mendekatinya.
Adinda membalikkan badannya, Dimas sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Aku sudah menghubungi kepala sekolah, untuk berapa hari ini kamu izin tidak ke sekolah dulu" ujar Dimas.
"Nggak perlu lama-lama. Besok aku udah bisa mengajar kembali, kok" tolak Adinda.
Kalau dia semakin lama di rumah dan tidak menyibukkan diri, dia akan selalu meratapi kehilangan bayinya.
"Bukannya kamu mau keluar kota untuk mengecek usaha papa" ujar Adinda mengingatkan.
"Aku tidak bisa pergi karena kondisi kamu belum pulih begini" ucap Dimas.
"Aku baik-baik saja" elak Adinda.
"Wajah kamu masih pucat begitu, apanya yang baik-baik saja" sanggah Dimas. Adinda menundukkan kepalanya.
"Din ..." panggil Dimas. Adinda mendongakkan kepalanya memandang wajah Dimas.
"Kamu ... masih marah denganku?" tanya Dimas ragu.
Adinda menggeleng. "Bukannya kamu yang begitu marahnya denganku" jawab Adinda.
"Maafkan aku" ucap Dimas tulus lalu meraih tangan Adinda.
"Aku ... terlalu cemburu" lanjut Dimas pelan.
"Semoga musibah ini bisa mendewasakan kita" tatap Adinda membalas genggaman tangan Dimas.
"Bukankah cemburu itu tandanya cinta?" sambung Adinda tersenyum.
"Dari dulu aku mencintai kamu ..." balas Dimas.
"Mas ... kamu sudah lama menjaga cintamu untukku. Aku pun akan melakukan hal yang sama" ujar Adinda menyakinkan suaminya itu.
Adinda menatap lekat manik Dimas agar laki-laki itu bisa menyelami hatinya lebih dalam lagi. Tidak ada nama laki-laki lain di hatinya selain suaminya itu.
Dimas menunduk tersipu malu. Betapa dia seperti remaja saja yang baru mengenal cinta. Kekanakan dalam menyikapi masalah.
Adinda merebahkan kepalanya ke dada Dimas. Laki-laki itu mengusap punggung Adinda lalu mengecup puncak kepalanya.
***
Di sekolah
__ADS_1
"Aku nggak nyangka, ya, wanita seperti kamu bermulut tajam juga. Dan karena mulut kamu, Adinda sampai kehilangan bayinya" tuding Sinta kepada Amanda ketika suasana kantor masih sepi.
Amanda begitu kaget mendengarkan ucapan Sinta. "Maksud Mba apa?" tanya Amanda tidak mengerti.
"Jangan pura-pura nggak tahu!!. Kamu sudah menuduh Adinda yang bukan-bukan. Karena masalah itu membuat dia dan suaminya ribut sehingga membuatnya stres. Dan kamu tahu wanita yang sedang hamil jika stres akan berdampak buruk kepada janin yang di kandungnya" jelas Sinta emosi melihat wajah polos Amanda.
"Mba Dinda sedang hamil?" tanya Amanda lagi. Dia belum percaya dengan ucapan Sinta.
"Iya dan kamu lah penyebab Adinda keguguran!! Puas!!" sengak Sinta lalu pergi meninggalkan Amanda. Lama-lama dia bisa khilaf juga melihat wajah tidak berdosa seperti Amanda itu.
Amanda terduduk di kursi kerjanya. Ada rasa bersalah menyusup di hatinya. Dirinya terlalu cemburu melihat kedekatan suami dan kakak tingkatnya yang merupakan teman satu kelas suaminya itu.
"Amanda, kenapa bengong begitu?" tegur Bu Kenken.
"Eh, Bu Kenken. Barusan aku dapat info dari Mba Sinta kalau Mba Adinda keguguran, Bu" sahut Amanda.
"Adinda hamil?. Dan sekarang keguguran?" Bu Kenken tampak kaget namun hatinya seolah senang mendengar musibah yang menimpa rekan kerjanya itu.
Amanda hanya mengangguk. Dan berita tentang Adinda yang mengalami keguguran itu sudah menyebar di sekolah dari mulut Bu Kenken, si Ratu gosip.
***
Dimas pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Hatinya tidak tenang meninggalkan Adinda sendirian di rumah. Mereka berdua telah sepakat untuk tidak memberitahu ke dua orang tua mereka perihal musibah yang menimpa mereka berdua.
Ceklek!
"Din..." panggil Dimas.
"Eung ... Mas jam berapa ini?. Kok, kamu udah pulang" Adinda memicingkan matanya sembari melihat jam dinding di depannya.
"Kamu udah makan siang belum?" tanya Dimas karena dia pulang ke rumah sewaktu jam makan siang berlangsung.
"Belum ... kayaknya aku ketiduran, deh" Adinda merubah posisinya duduk di atas tempat tidur.
"Kita makan, yuk. Aku membeli nasi kotak, mau makan sama kamu di rumah" ajak Dimas sambil tersenyum.
"Ayo..." Dimas meraih tangan Adinda dan mengajaknya turun dari tempat tidur.
Adinda tersenyum lalu mengikuti langkah Dimas menuju ke sofa di ruang keluarga. Mereka akan makan siang di sana.
"Gimana?. Enak nggak?" tanya Dimas melihat Adinda sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya.
"Enak ... gratis soalnya" canda Adinda dengan mulut penuh nasi.
Perutnya yang lapar atau memang nasinya yang enak. Adinda makan dengan lahapnya. Dimas tertawa kecil. Suasana rumah pun tampak hangat meskipun hanya ada mereka berdua saja.
"Ehm ... Mas, kamu mau balik lagi ke kantor?" tanya Adinda setelah membereskan bekas makan mereka tadi.
__ADS_1
"Nggak ... aku mau menemani kamu di rumah" jawab Dimas.
"Kenapa?" tanya Dimas melihat Adinda yang sedang menatapnya aneh.
"Kok, pakaian kamu masih lengkap begitu" tunjuk Adinda. Dimas baru sadar kalau dia masih memakai pakaian dari kantor tadi.
"Efek karena lapar jadi lupa" ucap Dimas nyengir lalu melepas jas yang dia pakai.
Adinda mendekatinya lalu membantunya melepaskan dasi. "Sekalian bajunya juga" pinta Dimas.
"Ihh, manja!" gumam Adinda kemudian tangannya melepas kancing kemeja Dimas satu persatu.
"Sama kekasih halal, nggak masalah" ujar Dimas mengangkat dagu Adinda dengan jarinya.
Adinda tersenyum malu. "Udah sana ambil baju sendiri di kamar" ucap Adinda lalu membawa pakaian Dimas tadi ke keranjang baju kotor.
***
Malam hari
Adinda tidak bisa memejamkan matanya. Dimas pun belum berada di kamar tidur.
"Hm, dia pasti di ruang kerja" batin Adinda beranjak turun dari ranjang.
Tiba di depan pintu ruang kerja yang terbuka, Adinda melihat Dimas masih membaca beberapa laporan di atas mejanya.
"Mas, kamu belum ngantuk?" tanya Adinda berdiri di muka pintu.
"Lho, kok kamu bangun" Dimas justru terkejut melihat Adinda berada di sana.
"Aku bukannya bangun tapi justru belum tidur sama sekali" jelas Adinda menyilangkan kedua tangannya di dada.
Dimas melirik jam di dinding. "Kamu nggak bisa tidur, ya?" tebak Dimas.
"Aku nggak bisa tidur, siapa tahu kalau ada kamu di sampingku, aku jadi bisa tidur" rengek Adinda.
"Bentar lagi, ya" ucap Dimas tersenyum.
"Kamu sengaja pulang cepat, tapi kenapa membawa kerjaan kantor ke rumah. Huh, sama aja, dong" rajuk Adinda lalu membalikkan badannya meninggalkan ruang kerja Dimas.
Dimas menghembuskan napasnya. Laki-laki itu lalu menutup laporan yang baru separuh dibacanya, dia pun menyusul Adinda ke kamar tidur.
Dilihatnya Adinda sudah berbaring di ranjang memunggunginya. Dimas tersenyum lalu merangkak membaringkan badannya di samping Adinda.
"Aku udah di sini. Tidurlah" bisik Dimas lalu memeluk Adinda. Tanpa Dimas ketahui Adinda menyunggingkan senyuman di bibirnya lalu perlahan menutup kelopak matanya.
Hangatnya pelukan Dimas membuatnya merasa nyaman dan terlelap tidur lebih dulu dari suaminya itu.
__ADS_1