
Adinda tidur sendirian di kamar. Sejak pertengkaran itu Dimas tidur di kamar lain. Laki-laki itu ingin menenangkan dirinya. Mama Dimas tidak akan tahu karena beliau juga masih merawat kakek di rumahnya.
"Ya, Allah. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk memecahkan masalah ini. Dimas tidak mau mendengarkan penjelasanku. Aku harus bagaimana? Bantu aku, Ya Allah" tangis Adinda dalam sujud malamnya.
"Aku mencintainya karena Engkau. Engkaulah yang menumbuhkan rasa ini sehingga aku tidak mampu untuk menolaknya. Jika kami memang ditakdirkan untuk tetap bersama dalam bahtera rumah tangga ini kokohkan lah, Ya Allah" Adinda mengadu kepada sang pemilik hati.
Semalam dia tidak bisa tidur nyenyak.
Paginya Adinda tidak menjumpai Dimas. Wanita itu berjalan keluar rumah, dilihatnya mobil yang biasa Dimas pakai sudah tidak ada lagi di garasi. Dimas pergi kerja tanpa sarapan.
***
Di rumah Amanda pun tampak kisruh. Farhan tidak menyangka kalau Amanda begitu percaya dengan foto-foto itu dibandingkan dengan ucapannya yang menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Menuduh Adinda yang tidak-tidak. Aku teman sekelasnya lebih dulu mengenalnya dibandingkan dengan kamu, Manda. Empat tahun bukan waktu yang singkat. Jadi aku tahu betul siapa Adinda..." ucap Farhan yang ikut tersulut emosi.
"Coba kamu pikirkan apa maksud orang ini mengambil foto kami, sementara ada Sinta juga di sana. Aku masih tahu adab dengan wanita yang sudah beristri" lanjut Farhan.
Amanda diam seribu bahasa. Wanita itu sudah terbakar api cemburu sehingga pikirannya pun menjadi kacau dan tidak bisa berpikir jernih lagi. Amanda menangis, belum pernah dia melihat Farhan semarah itu dengannya.
***
Pulang mengajar Adinda langsung ke rumah orang tuanya. Percuma juga pulang ke rumah mertuanya, toh Dimas juga tidak ada di rumah.
"Din, kamu belum mau pulang. Nanti Dimas mencari kamu" ujar ibunya melihat hari sudah hampir Maghrib.
"Aku udah SMS Dimas kok kalau aku di sini, Bu" sahut Dinda.
Meskipun SMS Adinda tidak digubris oleh Dimas, dia tetap nekad menginap di rumah orang tuanya. Ketika Dimas pulang, suasana rumah tampak sepi. Dia tidak membalas SMS Adinda yang memberitahunya akan menginap di rumah orang tua Adinda.
Selesai mandi, Dimas bersandar di sofa. Ucapan temannya, Aldi di kantor masih terngiang-ngiang.
"Mas, dari dulu kamu tahu kan karakter istrimu seperti apa. Adinda itu aktif berorganisasi, temannya banyak dan dia juga mudah akrab dengan siapa saja. Farhan itu kan teman sekelasnya ketika kuliah wajar kalau mereka dekat. Empat tahun lho mereka berinteraksi, tentunya tanpa ada kamu di sana. Bisa jadi memang Adinda mengagumi sosok Farhan, tapi kan laki-laki itu malah memilih wanita lain bukan Adinda. Karena Adinda ternyata bukan jodoh Farhan tapi kamu."
Dimas menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Aku sudah menjaga hatiku untuk kamu, Din. Ternyata aku bukanlah sosok suami yang kamu dambakan" lirih Dimas.
__ADS_1
***
Hari ini Adinda pergi mengajar dari rumah orang tuanya. Ketika melewati rumah mertuanya, mobil Dimas sudah tidak ada lagi.
"Aku benar-benar sakit hati dengan ucapan Amanda, Sin" lirih Adinda di perpustakaan. Dia malas berada di kantor karena ada Amanda disana.
"Sabar, Din. Kamu dengan Dimas gimana?" tanya Sinta.
"Dia tidak mau tidur sekamar denganku, tidak mau makan sarapan yang aku buat dan pergi dari rumah begitu saja. Aku sama sekali tidak dianggapnya ada. Apa kesalahanku sangat besar sampai dia harus bersikap begitu" tangis Adinda pun tumpah.
Sinta memeluk Adinda, dia belum pernah melihat Adinda menangis sedih begitu. Seberat apapun masalah yang Adinda hadapi dia belum pernah melihat sahabatnya itu menangis sesedih ini.
"Kamu udah jelaskan kejadian yang sebenarnya?" tanya Sinta.
"Sudah. Tetap saja dia tidak percaya" jawab Adinda sedih. Sinta begitu iba melihat keadaan Adinda.
"Sebaiknya kamu pulang ke rumah mertuamu, Din. Kalau kamu tetap tinggal di rumah orang tua kamu, seolah-olah kamu membenarkan semuanya dan lari dari permasalahan. Hadapi Dimas ... tunjukkan kalau kamu memang mencintainya" ujar Sinta memberi semangat.
Adinda menatap Sinta tidak percaya. Dia seolah mendapatkan kekuatan untuk menghadapi persoalan rumah tangganya.
Di kantor Dimas
"Demi Allah, Mas. Aku menjadi saksi. Aku ada di sana, kami tidak sengaja bertemu Farhan di mall. Farhan mencari kado untuk istrinya dan kami membantunya memilih. Kalau kemeja untuk kamu memang Adinda yang memilihnya sendiri, tetapi dia meminta pendapat Farhan kira-kira kamu nanti suka atau nggak. Karena Adinda nggak tahu selera laki-laki itu seperti apa" jelas Sinta setelah berjumpa dengan Dimas.
"Tapi aku bukan suami yang dia dambakan" gumam Dimas.
"Oh, ya? Adinda sangat cinta sama kamu. Betapa dia bahagia cerita denganku ketika kamu menjemputnya pulang atau menemaninya hadir kalau ada acara sekolah. Kamu nggak tahu, kan?" jelas Sinta tentang Adinda yang tidak diketahui Dimas.
Dimas sangat terkejut mendengarkan fakta tentang Adinda dari mulut Sinta. Adinda begitu mencintainya lalu kenapa dia meragukan cinta istrinya itu.
"Mas, aku ke sini ingin membantu agar rumah tangga kalian tidak hancur karena ulah seseorang yang entah tidak menyukai Adinda atau Amanda sehingga orang itu membuat fitnah seperti ini" ucap Sinta serius.
Apa yang diucapkan Sinta memang ada benarnya. Seharusnya dia tidak mudah tersulut emosi. Bukankah Adinda ketika masih sendiri saja bisa menjaga jarak dengan lawan jenis.
"Apa Dinda masih menginap di rumah orang tuanya malam ini?" batin Dimas.
Ketika pulang dari kantor Dimas langsung mampir ke rumah mertuanya.
__ADS_1
"Lho, Dinda kan udah pulang, Mas" ucap ibu mertuanya.
"Oh, aku kira masih di sini, Bu. Soalnya aku pulang dari kantor langsung mampir ke sini" jelas Dimas.
Mertuanya hanya tersenyum. "Zaman udah canggih begini, kenapa nggak telpon saja" pikir mertuanya.
"Aku pamit dulu, Bu. Assalamualaikum" pamit Dimas.
"Waalaikumsalam" balas mertuanya. "Hmm, sebenarnya ada masalah apa di antara mereka."
Adinda keluar dari kamar ketika mendengar suara mobil Dimas masuk ke halaman rumah. Adinda akan bersikap biasa saja. Dia tidak akan mengungkit tentang Farhan di dalam rumah tangga mereka. Adinda bisa memaklumi kalau suaminya itu cemburu.
Dimas membuka pintu rumah, tapi seperti dikunci dari dalam.
Ceklek! Pintu terbuka.
Adinda berdiri di muka pintu menyambutnya pulang. Sejenak tatapan mereka beradu. Sudah dua malam mereka tidak bertegur sapa.
"Assalamualaikum" Dimas masuk kemudian melewati Adinda.
Adinda menarik napas melihat Dimas berlalu dari hadapannya. "Waalaikumsalam" balasnya pelan.
"Sepertinya masih marah" batin Adinda.
Dimas langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Sementara Adinda ke dapur memanasi lauk pauk untuk makan mereka nanti. Biasanya pulang kerja setelah mandi, Dimas akan mengajaknya makan. Jadi nanti malam mereka tidak akan makan lagi.
Adinda sudah selesai menata lauk pauk di meja makan. Dilihatnya Dimas pun baru keluar dari kamar.
"Makanannya sudah siap" ucap Adinda berdiri di dekat meja makan.
Tanpa suara Dimas duduk di meja makan dan membiarkan Adinda mengambilkannya nasi beserta lauk pauknya. Sambil makan Adinda sesekali melirik Dimas yang duduk di hadapannya. Dimas makan begitu khusyuk dengan kepala tertunduk.
"Suasana macam apa ini? Kenapa dia masih belum bicara juga?" tanya batin Adinda.
Makan berdua terasa makan sendirian. Tak lama Dimas meletakkan sendok dan garpunya di piring.
"Aku sudah selesai" ucap Dimas. Dia berdiri dari kursi lalu kembali ke kamar. Laki-laki itu sedang tidak mood untuk membahas masalah apa pun.
__ADS_1
Sementara Adinda masih di dapur membersihkan piring kotor. Usahanya belum membuahkan hasil. Tapi paling tidak Dimas sudah mau makan bersamanya.