Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 13: Fitnah


__ADS_3

Sinta selesai memilih baju untuk suaminya. Dia melihat Adinda tampak berdua dengan seorang laki-laki.


"Eh, itu kan Farhan" gumam Sinta menyadari siapa sosok laki-laki tersebut. Sinta lalu berjalan mendekati Adinda dan Farhan.


"Din, aku udah selesai, nih" tunjuk Sinta memilih dua baju kaos untuk suaminya.


"Farhan mau cari sesuatu untuk Amanda, kira-kira bagusnya apa, ya, Sin?" Tanya Adinda.


"Emm, kenapa nggak dibelikan gamis aja, Han" usul Sinta.


"Iya, Han. Bagus juga itu usul Sinta" sela Adinda setuju.


"Boleh juga. Aku minta bantuan kalian deh untuk memilih gamis seperti apa yang cocok untuk dia" ujar Farhan.


Adinda dan Sinta dengan senang hati mengajak Farhan ke bagian pakaian wanita. Sementara Farhan mengiringinya dari belakang.


"Han, yang ini kayaknya cocok untuk Amanda" tunjuk Adinda mengangkat salah satu gamis dan menyerahkannya kepada Farhan.


Cekrek! Cekrek!


Orang yang sama masih mengikuti Adinda dan mengambil fotonya bersama Farhan. Padahal ada Sinta di dekat Adinda namun orang yang mengambil foto itu tidak memasukkan Sinta dalam bidikan kameranya.


"Warnanya soft banget, Din. Cantik juga modelnya" sela Sinta melihat pilihan Adinda.


"Ya, udah. Kalau begitu aku ambil yang ini saja" ucap Farhan setuju dengan pilihan Adinda.


Sebagai ucapan terima kasih Farhan pun mentraktir Adinda dan Sinta makan di salah satu food court.


"Kalian makan saja, ya. Semua udah ane bayar" ujar Farhan sebelum meninggalkan Adinda dan Sinta. Farhan memilih membawa makanannya pulang ke rumah agar bisa makan bersama istrinya.


"Syukron, Han" ucap Adinda dan Sinta serempak.


"Assalamualaikum" pamit Farhan.


"Waalaikumsalam" balas Adinda dan Sinta.


"Ya, Allah. Mimpi apa aku semalam ditraktir dua manusia yang nggak berjodoh ini" seru Sinta bahagia.


"Ish. Ngomong apa kamu, Sin. Ujungnya itu nggak enak banget dengarnya" sungut Adinda.


Sinta hanya tertawa kecil menikmati keberuntungannya hari ini.


***


"Kamu suka nggak kemeja yang aku belikan?" Tanya Adinda setelah Dimas menerima pemberiannya.


"Oh, jadi kamu shopping nih ceritanya" lirik Dimas ke arah Adinda yang duduk di sisi ranjang.


"Suka nggak?' tanya Adinda lagi.


"Suka. Aku suka warna ini. Kamu tahu banget seleraku" puji Dimas menjawil dagu Adinda.


Adinda tersenyum simpul. Sudah seharusnya dia membelikan Dimas pakaian karena setiap bulan Dimas sudah mentransfer uang ke rekeningnya lebih dari cukup.


"Cobain, Mas" pinta Adinda manja.


"Oke. Aku cobain, ya" Dimas melepas baju kaos yang dipakainya. Adinda menatap lekat badan atletis Dimas. Maklum Dimas kan mantan anak paskibra hehehe yang sudah biasa menjaga pola makan supaya badannya tetap ideal.

__ADS_1


"Pas sekali ... pinter banget kamu pilih ukuran yang pas di badanku" puji Dimas lagi.


"Iyalah masa istrinya nggak tahu ukuran baju suaminya sendiri" timpal Adinda bangga.


Keesokan harinya


Amanda datang ke sekolah dengan wajah sumringah. Dia sangat bahagia karena sebelum berangkat kerja Farhan memberikannya kado anniversary pernikahan mereka yang ke 2. Sebuah gamis yang sangat disukai Amanda baik warna maupun modelnya.


"Apa ini?" Amanda melihat ada amplop coklat di atas mejanya. Dia menoleh kanan kiri, ruang guru masih sepi karena kebetulan dia datang lebih pagi.


"Sepertinya untukku" gumam Amanda mengambil amplop itu lalu membukanya.


Mata Amanda hampir keluar saking terkejutnya melihat beberapa foto di dalam amplop itu. Foto Adinda bersama suaminya, Farhan. Amanda melihat satu persatu foto itu dimana salah satunya Adinda menyerahkan gamis kepada Farhan. Suasana hati yang tadinya bahagia mendadak jadi badmood.


"Jadi ... gamis yang diberi Kak Farhan semalam pilihan Mba Dinda" gumam Amanda geram. Amanda rasanya ingin menangis melihat foto-foto itu. Tega sekali seniornya itu menikamnya dari belakang.


Amanda menyimpan foto itu ke dalam tasnya ketika beberapa guru mulai berdatangan. Wanita itu menunggu kedatangan Adinda untuk melabraknya.


"Mba Sinta, Mba Dinda ada jam mengajar kan hari ini?" tanya Amanda tersenyum menutupi hatinya yang sakit.


"Iya. Tapi biasanya dia langsung ke kelas kalau hampir bel masuk begini" ujar Sinta tanpa curiga.


"Akan ku tunggu dia keluar dari kelas saja" gumam Amanda.


Sinta pun berlalu menuju mejanya untuk mengambil perlengkapan mengajarnya karena bel masuk sudah berbunyi.


Setelah bel pergantian jam belajar berbunyi. Amanda keluar dari kantor.


"Mba Dinda!" panggil Amanda melihat Adinda berjalan menyebrangi lapangan upacara untuk menuju ruang guru. Amanda sudah mencegatnya jangan sampai mereka ribut di dalam kantor.


"Ada apa, Manda?" tanya Adinda tersenyum. Senyum Adinda memudar melihat Amanda tidak membalas senyumannya sedikit pun. Amanda justru bersikap dingin terhadapnya.


"Tega, ya, Mba main di belakangku. Apa Mba masih mengharapkan Kak Farhan?!!" teriak Amanda emosi.


"Maksud kamu apa?" tanya Adinda bingung.


Adinda shock melihat Amanda meradang  kepadanya apalagi mendengar ucapan Amanda yang belum dia mengerti. Adinda pun memungut foto yang sudah berserakan di lantai.


"Astaghfirullah!!" Adinda menutup mulutnya dengan tangan. Dia benar-benar tidak percaya melihat foto dirinya bersama Farhan ketika di mall kemarin.


"Man, foto itu tidak seperti yang kamu lihat. Ada Sinta di dekat Mba, kok. Kami kebetulan bertemu di mall kemarin" jelas Adinda.


"Sudahlah ... aku tahu Mba terpaksa menikahi suami Mba karena uang, kan. Dan Mba ternyata masih suka sama kak Farhan, kan?" tuduh Amanda menatap benci Adinda.


Adinda terbelalak, bagaimana Amanda bisa tahu tentang pernikahannya dan menuduh dirinya masih menyukai Farhan yang sudah beristri itu. Adinda masih waras.


"Aku tidak ada perasaan apa-apa lagi dengan Farhan, Man. Bukankah kamu yang sudah memenangkan hatinya. Kenapa kamu percaya begitu saja dengan foto murahan ini?" elak Adinda.


"Ya, Allah. Siapa yang sudah memfitnahku begini" batin Adinda sedih.


"Munafik!!" ucap Amanda pelan namun masih bisa didengar oleh Adinda. Amanda berlalu  meninggalkan Adinda yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Rasanya ingin menangis namun Adinda tahan. Sakit sekali dituduh sebagai orang munafik oleh sesama muslimah.


"Dinda, kamu kenapa? Amanda kenapa teriak-teriak sama kamu?" tanya Sinta mendekati Adinda. Sinta memang melihat Adinda dan Amanda terlibat perdebatan di lapangan upacara. Adinda menunjukkan foto-foto di tangannya kepada Sinta.


"Ya Allah, Din. Foto ini..." Sinta membekap mulutnya tidak percaya ada orang yang mengambil foto Adinda dan Farhan ketika di mall kemarin.

__ADS_1


***


Amanda pun mencari informasi di mana suami Adinda bekerja. Setelah dia dapatkan info dari Bu KenKen, ada senyuman smirk pada wanita itu.


Amanda langsung ingin menemui Dimas. "Laki-laki itu harus tahu kelakuan istrinya yang masih menyukai suami orang lain" batin Amanda geram.


Tiba di kantor Dimas, Amanda langsung menuju ruangan Dimas.


Dimas mempersilahkan masuk tamunya dengan membiarkan pintu ruangannya terbuka agar tidak ada fitnah.


"Manda istrinya Farhan, kan?" Dimas coba mengingat teman kerja Adinda yang berdiri di depan meja kerjanya.


"Iya, Kak"


"Ada perlu apa?" tanya Dimas heran.


"Tolong ya, Kak, ajari istri Kak Dimas untuk tidak mengganggu suami orang" ujar Amanda dengan tegas memperingati Dimas.


Dimas tidak mengerti apa maksud ucapan Amanda itu.


"Suami siapa yang sudah diganggu oleh istriku?" tanya Dimas masih santai.


Amanda dengan kesal melempar foto-foto yang dia dapat tadi ke meja kerja Dimas. Dari mulut Amanda juga mengalir cerita tentang Farhan dan Adinda semasa kuliah dulu.


"Farhan dan..." Dimas mengeraskan rahangnya sambil melihat foto-foto itu.


"Jadi kemeja yang dibelikan Adinda itu pilihan Farhan" batin Dimas geram. Hatinya pun terbakar api cemburu.


"Urus saja suami kamu. Pergilah!!" usir Dimas jengkel.


"Berani juga perempuan itu melabrakku" ucap Dimas tidak suka.


Amanda pun dengan hati yang kesal, emosi dan cemburu pergi meninggalkan kantor Dimas.


***


Sejak pulang kerja, Dimas sama sekali tidak bicara dengan Adinda. Wanita itu pun merasa heran. Kepalanya juga pusing karena memikirkan tuduhan Amanda kepadanya. Apa yang harus dia lakukan agar masalah itu clear.


Adinda berjalan ke taman yang ada di belakang rumah. Dia melihat Mang Sueb, tukang kebun langganan mertuanya seperti memegang baju yang familiar dengannya.


"Mang, apa itu?" tegur Adinda.


"Baju, Mba. Diberi oleh Den Dimas" sahut Mang Sueb.


Adinda berjalan menghampiri Mang Sueb. "Ya Allah itu kan kemeja yang ku beli kemarin. Kenapa dikasihkan ke Mang Sueb" jerit hati Adinda tidak terima.


"Mang sini bajunya nanti aku ganti yang lain. Maaf ya, Mang" ujar Dinda mengambil kemeja di tangan Mang Sueb.


Mang Sueb pun bengong. Baru saja dikasih kok diambil lagi. Adinda kembali ke kamar menemui Dimas. Dia ingin tahu apa maksud Dimas memberikan kemeja pembelian  darinya kepada orang lain.


"Mas, kenapa kemeja ini kamu berikan kepada Mang Sueb. Maksud kamu apa?" tanya Adinda berang.


"Aku tidak suka kemeja pilihan suami orang" ketus Dimas menatap tajam Adinda.


Adinda benar-benar kaget mendengar jawaban Dimas. Hatinya berdetak tak karuan. "Apa Dimas juga tahu soal foto itu. Tapi tahu dari siapa?" batin Dinda.


"Kamu benar-benar tidak menghargai aku. Aku memilih sendiri kemeja itu dan menggunakan uang yang kamu transfer setiap bulan. Tapi kamu malah memberikannya kepada Mang Sueb" ujar Adinda menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


"Kamu yang tidak menghargai aku, Din!! Kamu sudah jalan dengan suami orang" teriak Dimas menunjukkan foto Adinda sedang memegang kemeja ke arah Farhan.


Lemas sudah seluruh badan Adinda. Foto itu ternyata benar-benar sudah sampai kepada Dimas. Bagaimana dia harus menjelaskannya.


__ADS_2