
Tok. Tok. Tok
"Assalamualaikum" ucap Dimas sambil mengetuk pintu rumah mertuanya.
"Waalaikumsalam" ibu Adinda menyahut sambil membukakan pintu.
"Dimas! Ayo, masuk."
Dimas mengiringi langkah kaki mertuanya masuk ke dalam rumah. Tampak sepi, tidak ada tanda-tanda suara istrinya.
"Adinda masih tidur. Tuh di kamarnya" ujar mertuanya sambil menunjuk ke arah kamar Adinda ketika masih gadis.
"Pulang mengajar dia langsung ke sini, ya, Bu?" tanya Dimas tersenyum. Hatinya merasa lega ternyata istrinya ada di rumah orang tuanya.
"Iya, pulang-pulang kecapekan banget dan langsung ke kamarnya" jawab ibu Adinda.
"Aku ke kamar Dinda dulu, Bu" ujar Dimas kemudian berlalu menuju ke kamar Adinda.
Dimas menyibak gorden yang menutupi pintu kamar yang tidak tertutup rapat itu. Dia melihat istrinya sedang tertidur pulas di atas ranjang.
"Dinda sudah sholat ashar belum, ya?" gumam Dimas sambil mendekati ranjang. Dia kemudian duduk di sisi ranjang.
"Din ... Dinda" panggil Dimas pelan sembari tangannya menyapu wajah istrinya itu.
"Sayang, bangun!. Kamu sudah sholat belum?" ujar Dimas membangunkan istrinya.
"Hoaaam!!" Adinda melihat wajah suaminya di depan matanya.
"Aku udah sholat, tapi tidur lagi" ucap Adinda cuek. Dia masih malas membuka matanya lebar-lebar.
"Din, ponsel kamu kenapa nggak aktif? Aku cemas lho, kamu nggak pulang ke rumah" tanya Dimas mau marah namun ditahannya.
"Ponselku lowbat, males nge-charge-nya" jawab Adinda tanpa memandang wajah suaminya. Dia masih kesal.
"Kamu marah karena aku tidak bisa menjemput tadi?" tanya Dimas memegang wajah Adinda agar melihat ke arahnya.
"Nggak" elak Adinda.
"Marah! Masih nggak mau ngaku" ujar Dimas.
"Udah tahu marah, masih bertanya" pelotot Adinda sebal.
"Ya, Allah, Din" ucap Dimas.
"Kalau aku tiba-tiba melahirkan, kamu juga tetap akan meeting, kan?. Kalau kamu nggak bisa menjemput, aku kan bisa pergi naik motor saja. Ini malah nggak bilang-bilang sebelumnya" gerutu Adinda memalingkan wajahnya.
Dimas terdiam. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya yang sedang hamil tua itu.
"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi" ucap Dimas menyesal.
__ADS_1
Adinda melirik ke arah Dimas. Memang baru kali ini Dimas benar-benar tidak bisa menjemputnya. Dia berusaha duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Aww!!" jerit Adinda tiba-tiba sambil memegang perutnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dimas cemas melihat wajah istrinya meringis.
"Ini, adik bayinya nendang. Sakit, Mas" jawab Adinda masih meringis.
Dimas tersenyum kemudian mengusap perut Adinda. "Dedek jangan nakal, ya, di dalam sana" ucap Dimas.
"Tuh, dedek bayinya aja nggak suka melihat uminya marah dengan abinya" lanjut Dimas sambil menatap wajah istrinya.
Adinda dan Dimas memang sudah sepakat jika anak mereka lahir nanti akan memanggil Abi-Umi kepada mereka.
Adinda hanya memanyunkan bibirnya. Dimas pun menyosor bibir istrinya itu. Satu kecupan hangat membuat Adinda terkejut.
"Maasss!" rengek Adinda.
"Din, pulang yuk" ajak Dimas.
"Mau tidur di sini saja" tolak Adinda.
"Kasihan mama sendirian di rumah" ujar Dimas mencari alasan.
"Kan mama nggak minta ditemani tidur sama kamu" ledek Adinda. Dimas menekuk wajahnya. Istrinya itu selalu tidak mau kalah.
"Iya, tapi ..."
"Tapi kamu nggak boleh ke ruang kerja" tatap Adinda. Percuma dia pulang jika Dimas sibuk di ruang kerjanya.
Dimas tersenyum mendengarkan ucapan istrinya. "Tentu saja, Sayang. Malam ini aku milikmu" ujar Dimas membalas tatapan istrinya. Adinda tersipu malu. Ucapan suaminya itu pasti mengandung modus.
"Nggak makan malam di sini, Mas?" tanya mertuanya ketika melihat pasangan muda itu keluar dari kamar.
"Lain kali saja, Bu. Nanti masakan mama nggak ada yang makan kalau kami sudah makan di sini" tolak Dimas halus.
Ibu Adinda bisa memaklumi besannya yang hanya tinggal sendirian di rumah itu. Adinda dan Dimas pun berpamitan pulang.
***
Dimas melihat istrinya sudah berada di atas ranjang. Dia kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping Adinda. Sebenarnya dia ingin mengecek email di Ipad-nya, tapi dia sudah berjanji dengan Adinda untuk tidak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan di rumah. Kali ini dia mengalah.
"Hei, lain kali jangan dilakukan lagi, ya" ucap Dimas sambil menjawil hidung mancung Adinda.
"Apa?" toleh Adinda menatap Dimas.
"Pergi ke tempat lain tanpa memberi tahuku" jawab Dimas. Adinda hanya mengerucutkan bibirnya.
"Jangan membuatku cemas, Din" sambung Dimas sambil memiringkan badannya dengan tangan menopang kepalanya.
__ADS_1
"Iya. Lagipula kamu nggak perlu jauh-jauh mencariku. Kalau nggak ada di rumah orang tuamu ya di rumah orang tuaku" jelas Adinda.
"Kamu kan jarang ke sana, makanya aku nggak kepikiran" gumam Dimas tersenyum.
"Sayang, perut kamu bergerak" seru Dimas ketika matanya melihat ke arah perut Adinda.
"Pegang, Mas. Adek bayinya bergerak, nih" ujar Adinda mengambil tangan Dimas dan meletakkannya di atas perutnya.
"Iya, aktif sekali" Dimas tertawa kecil sambil merasakan pergerakan bayi mereka.
"Namanya juga bayi cowok, Mas" timpal Adinda. Dia kadang susah tidur sejak kehamilannya memasuki usia sembilan bulan.
"Sehat terus, ya, anak Abi" ucap Dimas sambil mengelus perut istrinya. Adinda tersenyum menatap wajah suaminya yang tampak bahagia sekali.
"Tidurlah" sambung Dimas sambil mengusap lembut kepala Adinda.
"Belum bisa tidur" ujar Adinda. "Mas ... gimana kabar Hamish dengan Hasna, ya?."
"Nggak tahu. Itukan urusan pribadi orang, ngapain juga ikut campur" jawab Dimas cuek.
"Hasna nggak bakalan menolak kalau dilamar laki-laki setampan Hamish. Kalau aku tahu dulu kamu punya sepupu seperti itu, aku juga nggak akan nolak" ucap Adinda sambil tertawa kecil.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu" tatap Dimas tajam. "Hamish lebih tampan dari aku, suami kamu sendiri?."
"Wajah kalian itu beda banget. Wajah kamu itu Asia Timur sementara Hamish berwajah Timur Tengah. Orang nggak akan percaya kalau kalian itu sepupu" jelas Adinda. Dimas mendengus, kenapa istrinya tampak menyebalkan karena membandingkan dirinya dengan Hamish.
"Tapi aku suka sekali dengan wajah tampan dan imut suamiku ini" puji Adinda tersenyum. Sudut bibir Dimas menyunggingkan senyuman mendengarkan pujian dari istrinya itu.
"Oh, ya?" ucap Dimas belum yakin.
"Iya, muka kamu ini ..." Adinda memegang wajah Dimas. "Tampan dan imut tapi kenapa dulu kamu nyebelin banget, jadinya amit-amit, deh" ujar Adinda tertawa.
"Hm, jadi dari dulu kamu sudah mengakui ketampananku, ya" goda Dimas.
"Iya, tapi aku nggak naksir kamu tahu nggak" elak Adinda.
"Iya ... aku tahu itu. Tapi sekarang ..." Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Adinda. Mata mereka pun bertemu dan saling menatap.
"Kamu tidak bisa berpaling dariku, kan?" sambung Dimas kemudian mengunci bibir istrinya. Keduanya saling menikmati pagutan satu sama lainnya. Dimas melepaskan pagutannya ketika merasakan Adinda sulit bernapas.
"Iya, kan?" ucap Dimas sambil tersenyum.
"Iya, karena kamu mencintaiku" jawab Adinda. "Jatuh cinta itu bukan karena paras kamu yang tampan, tapi aku jatuh cinta kepadamu karena sikap kamu setelah menikahiku, Mas."
Dimas tersenyum mendengarkan ucapan istrinya. Ya, dia memang tetap bersabar dengan penolakan Adinda ketika awal pernikahan mereka. Dulu Adinda belum bisa menerima cintanya, namun Dimas tidak memaksakan kehendaknya. Hal itulah yang membuat Adinda jatuh hati kepada suaminya.
"Tidurlah, nanti kesiangan" ujar Dimas mengingatkan sambil mengusap kepala Adinda. Biasanya Adinda akan tertidur jika Dimas mengusap-usap kepalanya. Tidak sampai 5 menit mata Adinda pun sudah terpejam.
"Love you" ucap Dimas kemudian mencium kening istrinya. Dia pun ikut memejamkan matanya di samping Adinda.
__ADS_1