
"dengan berat hati Reno menyetujui syarat dari Vely karena sejujurnya Reno juga ingin segera menikahi Vely, masak Reno kalah sama Gilang yang bentar lagi nikah kan nggak lucu ma pa" Reno meminta dukungan dari mama dan papa nya.
"kalau papa setuju dengan Vely, niat dia baik dan papa rasa itu tidak ada salahnya. Lalu bagaimana menurutmu Roy?"
"bagaimana baiknya saja Den, mereka berdua yang nantinya akan menjalani rumah tangga ini jika kita terlalu memaksakan kehendak kita takutnya mereka akan tertekan dan malah tidak nyaman"
"ya sudah jadi kita semua sepakat menunggu kesiapan dari mereka berdua" Sasha
"kapan makan nya ini aku udah laper" Rengek Kayla yang memang dari tadi di kacangin karena semua sedang sibuk membicarakan tentang rencana pernikahan Vely dan Reno sampai acara makan malam belum juga di mulai.
"oh iya anak mama yang cantik ini udah laper ya" Lia
"dasar lu tukang makan" Reno
Mereka pun menyudahi pembicaraan yang tanpa sadar saling meminta dukungan itu.
Beberapa hari setelah perbincangan Gilang dengan Reno di cafe....
Gilang kembali membolak-balik undangan di tangannya. Undangan pernikahannya dengan Sarah yang akan dilakukan sekitar tiga minggu lagi. Ada rasa ragu di dalam hati karena ini menyangkut masa depan dirinya dan kehidupannya kelak. Bayangan akan Vely masih menancap dalam di dalam hati dan pikirannya, andai bisa bersanding dengan Vely pasti bukan keraguan melainkan harapan indah yang tengah dipikirkan hari ini.
"eh yang calon penganten ngelamun mulu" Adel menepuk pundak Gilang
"mbak Adel"
"ngelamunin apa kamu Lang?"
"enggak mbak" Gilang membenarkan duduknya.
"persiapan kamu udah sampai mana?"
"udah ada yang ngurusin mbak, eh aku ke kamar dulu ya mbak istirahat"
Gilang sengaja meninggalkan kakak iparnya itu agar tidak ada banyak pertanyaan yang akan di terimanya, setelah di kamar Gilang merebahkan tubuhnya di ranjang, dia mengambil ponselnya dan memandangi foto Vely yang ada di ponselnya.
"aku beneran nggak bisa lupain kamu semudah itu, andai kita berjodoh pasti saat ini aku sudah tidak sabar untuk menikah dengan mu"
Gilang menekan nomor Vely tanpa di sadari nya, setelah tersambung Gilang baru menyadari hal itu.
__ADS_1
📞 Vely : iya Lang
📞 Gilang : emm Vel ada yang mau aku omongin, bisa ketemu?
📞 Vely : ngomong apa?
📞 Gilang : ada yang mau aku tanyain
*pasti mau tanya tentang Sarah* (Vely)
📞 Vely : iya, mau ketemu dimana?
📞 Gilang : dimana aja terserah kamu
📞 Gilang : boleh, sejam lagi aku ke sana
📞 Vely : ok
Gilang menutup saluran telepon dengan Vely.
"gua ngapain ngajakin Vely ketemu? yang ada gua malah nggak bakalan bisa move on dari dia, dasar bego lu Lang" gerutu Gilang pada dirinya sendiri, ketika sedang asyik mengutuk kebodohan nya tiba-tiba Sarah nyelonong masuk ke dalam kamar Gilang.
"beb...." dengan manjanya Sarah bergelayut di lengan Gilang yang duduk bersandar di ranjang nya.
"kamu nggak bisa masuk permisi atau ketuk pintu dulu?"
__ADS_1
"iiih kamu gitu amat deh sama calon istri sendiri, lagian sebentar lagi kan kita jadi pasangan suami istri masa mau masuk kamar aja pakek ketok pintu segala"
Gilang memilih diam tidak ingin menanggapi Sarah karena nantinya yang ada hanya rengekan dan tuntutan dari nya.
"kamu mau apa?"
"eemm kita jalan yuk, tadi di mall aku lihat ada tas cantik banget nggak mahal kok cuma 30juta"
"terus?"
"ayo sekarang kita ke sana, kamu beliin buat aku"
"bukannya tadi kamu udah ke sana? kenapa nggak beli sekalian? kenapa harus sama aku?"
"nggak mau pokoknya mau kamu yang beliin"
"aku sibuk"
"kamu iiihh pokoknya aku mau sekarang kita ke sana"
"kamu ke sana sendiri aja, aku akan transfer uangnya ke rekening kamu"
"bener beb?" Gilang mengangguk mengiyakan
"aaaah makin sayang deh sama kamu" Sarah ingin mencium Gilang tapi dengan gerakan cepat Gilang sudah berdiri dari duduk nya.
"ya udah beb aku jalan dulu ya, dah bebeb ku" Sarah meninggalkan kamar Gilang dengan suasana hati sangat gembira, betapa tidak, Gilang dengan mudahnya memberikan apa yang diinginkan Sarah.
__ADS_1
"semua nya memang urusan uang, kalau ada uang Sarah akan cepet pergi" Gilang