
Adinda melihat Dimas tampak begitu sibuk. Apa bisa dia menemani Adinda datang menghadiri undangan ke rumah Amanda.
"Din, ngapain bengong di sana. Kalau mau masuk ya sini" tegur Dimas melihat Adinda termenung di depan pintu ruang kerjanya.
"Mas, kamu sibuk banget, ya?" Tanya Adinda masuk menghampiri Dimas.
"Nggak juga. Ada apa?" Dimas menghentikan sejenak aktivitasnya di depan layar laptop.
"Hmm, besok kamu ada waktu nggak?" Tanya Adinda pelan.
"Untuk apa dulu" jawab Dimas menatap Adinda penuh tanda tanya.
"Ada guru baru di sekolahku. Dia mengundang acara tasyakuran rumahnya. Acaranya sih setelah pulang sekolah" jelas Adinda.
"Aku nggak bisa janji, Din. Besok aku mau mengumpulkan semua karyawan untuk rapat bulanan. Tapi..." ucap Dimas.
"Bilang aja nggak bisa" Adinda mendengus lalu keluar meninggalkan Dimas.
"Eh, suami belum selesai ngomong udah ngambek aja" gumam Dimas tersenyum.
Dimas menyusul Adinda yang ternyata sudah naik ke tempat tidur dengan posisi membelakanginya. Dimas tidak yakin kalau Adinda sudah tidur. Gaya Adinda kalau udah merajuk dia akan tidur membelakangi Dimas. Perlahan Dimas merangkak naik ke atas tempat tidur. Dia mensejajarkan badannya dengan badan Adinda lalu memeluknya dari belakang.
"Cepet banget udah tidur" bisik Dimas. Ucapannya tidak ada respon dari Adinda.
"Din, beneran udah tidur?" Ucap Dimas lagi kali ini disertai dengan kecupan di leher jenjang Adinda. Dimas yakin Adinda tidak akan bisa tidur kalau dia ganggu begitu.
"Dimas!! Udah, orang baru mau tidur juga" ucap Adinda sewot.
"Aku kan belum selesai bicara tadi kamu main pergi aja" ujar Dimas masih melakukan aksinya hingga membuat Adinda menggeliat.
"Tapi apa? Kamu tetap nggak bisa kan. Ya, udah. Nggak apa. Aku nggak maksa, kok" balas Adinda melirik tangan Dimas yang menyusup ke dalam bajunya.
"Tapi demi kamu aku bisa meng-cancel rapat itu, Sayang" ujar Dimas melanjutkan ucapannya yang terpotong di ruang kerjanya tadi.
Wajah Adinda yang semula ditekuk berubah ceria mendengar ucapan Dimas.
"Bener, Mas? Kamu nggak bohong, kan?" tanya Adinda membalikkan badannya. Dia masih tidak percaya. Secara Dimas orangnya sibuk begitu.
Dimas melototkan matanya. "Apa wajahku ini tukang bohong" batin Dimas jengkel. Adinda nyengir melihat ekspresi Dimas yang tampak tidak suka dengan ucapannya.
"Iya. Aku serius" jawab Dimas.
"Makasih, Sayang" tiba-tiba Adinda mendaratkan ciuman kilat ke bibir Dimas karena saking bahagianya. Karena setiap ada undangan atau acara dari guru-guru di sekolahnya Adinda selalu datang sendirian atau bareng Sinta kalau sama-sama sendirian.
Dimas bengong sekejap lalu tersenyum. "Baiklah, tapi kamu harus memberi lebih dari yang barusan kamu lakukan tadi" ujar Dimas dengan tatapan menggoda.
__ADS_1
"Ihh, kamu ini kesempatan, ya!!" seru Adinda tersenyum malu sambil mencubit perut Dimas.
Kalau Adinda sudah tersipu malu seperti itu tandanya kode alam yang diberikan Adinda bahwa dia tidak akan menolak keinginan Dimas.
***
"Kamu chat aja, ya, jam berapa mau pergi ke rumah siapa tadi ..." ucap Dimas sembari mengancingkan kemejanya.
"Amanda" sahut Adinda masih di depan towalet menyemat bros di jilbabnya.
"Iya ... nanti aku bisa perkirakan pergi dari kantor jam berapa" sambung Dimas.
Dimas mengantar Adinda sampai ke depan gerbang sekolah. Sebenarnya Adinda enggan untuk datang ke acara di rumah Amanda. Sudah pasti dia nanti akan bertemu dengan Farhan dan kenangan itu akan muncul kembali.
"Hei, kok bengong" tegur Sinta lewat di depan meja Adinda.
"Sin, kamu datang sama suamimu, kan ? tanya Adinda.
"Iya, dong. Nanti dia jemput aku ke sini. Makanya tadi dia nganter aku" jawab Sinta.
"Dimas bisa datang nggak ?" Sambung Sinta.
"Iya, bisa. Tapi kok malah aku ragu ya mau mengajak dia" Adinda menatap Sinta sambil berpikir.
"Nggak apa, Din, kan suami kamu jarang banget ikut nimbrung kalau ada acara sekolah. Bu Kepsek kan penasaran" canda Sinta sambil tertawa.
"Ibu-ibu dan bapak-bapak pulang sekolah jam satu kita langsung mampir ke rumah Ibu Amanda untuk menghadiri acara tasyakuran rumahnya sekaligus acara arisan sekolah" pesan Bu Helda selaku wakil kepala sekolah.
"Iya, karena ini acara sekolah per tiga bulan sekalian kumpul keluarga biar saling mengenal bagi bapak-bapak untuk mengajak istrinya dan ibu-ibu mengajak suaminya" timpal Bu Yulia guru senior di sana.
Masing-masing guru yang jam mengajarnya sudah habis mereka bersiap-siap sambil menunggu waktu pulang. Sementara yang lain ada yang masih mengajar.
Adinda pun menghubungi Dimas untuk menjemputnya sebelum jam satu. Begitu pun dengan Sinta.
Bel pulang sekolah pun berbunyi.
Satu persatu guru-guru meninggalkan sekolah setelah para siswa pulang terlebih dahulu. Mereka langsung menuju rumah Amanda. Ada juga yang menjemput istrinya di rumah dulu.
"Din, Dimas belum datang?" tanya Sinta yang sudah duduk di motor dibonceng suaminya.
"Bentar lagi kayaknya. Kamu duluan aja. Aku tahu kok perumahan itu" jawab Adinda. Dia tidak enak dengan suami Sinta yang ikut lama menunggu.
"Ya udah. Kita bertemu di rumah Amanda saja" pamit Sinta. "Ayo, Bang kita duluan."
"Kami duluan, Din" pamit suami Sinta.
__ADS_1
"Iya, Bang" sahut Adinda sembari melirik jam di tangannya.
"Dimas mana, sih. Udah dikabari satu jam yang lalu kok masih telat aja" gerutu Adinda di dekat pos satpam.
Tak lama Outlander milik Dimas berhenti di depan pintu gerbang sekolah. Dimas membuka kaca jendela melihat Adinda berdiri di dekat pos satpam yang belum menyadari kehadirannya.
"Bu ... Bu mau tumpangan gratis" panggil Dimas melempar senyuman.
Adinda yang mendengar ada suara laki-laki menegurnya langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata suaminya, Adinda mengira kalau orang iseng yang menegurnya.
Adinda tersenyum dan bergegas masuk ke dalam mobil, duduk di samping Dimas.
"Udah telat ini" gumam Adinda tanpa melirik Dimas.
"Iya, maaf. Ada tamu tadi. Terus sholat dulu. Baru bisa jemput kamu" jelas Dimas.
Yah, mau tak mau Adinda harus memaklumi suaminya itu. Untung saja dia mau ikut.
***
"Mba Sinta, Mba Dinda mana?. Kok belum datang?" tanya Amanda.
"Suaminya belum menjemput jadi dia tadi masih menunggu di sekolah" jawab Sinta.
Ibu-ibu yang lain pun sedang asyik nyemil makanan kecil sambil mengobrol.
Amanda penasaran seperti apa sih rupa suami kakak tingkatnya itu. Adinda sendiri terkenal sebagai akhwat yang supel, tapi galak dengan Ikhwan yang suka tebar pesona. Amanda juga tahu kalau suaminya Farhan dan Adinda cukup dekat dan sempat ada gosip kala itu kalau Farhan akan melamar Adinda.
"Eh, itu kayaknya Adinda dan suaminya" seloroh salah satu guru melihat ke arah pintu masuk.
Adinda dan Dimas keluar dari mobil lalu berjalan memasuki halaman rumah Amanda. Mereka pun menjadi pusat perhatian karena Dimas berjalan sambil menggenggam tangan Adinda.
"Pengantin baru masih hangat-hangatnya" celetuk salah satu dari ibu-ibu.
"Udah empat bulan lho, kalau aku mah udah biasa aja" timpal yang lain.
"Kalau Adinda beda, dia nggak pacaran ibu-ibu. Makanya sekarang mereka kayak orang lagi pacaran aja, tapi udah halal" sela Sinta.
"Assalamualaikum" sapa Adinda dan Dimas.
"Waalaikumsalam"
"Masuk, Mba" ajak Amanda melirik Dimas agar ikut masuk juga karena bapak-bapaknya juga duduk di dalam. Walaupun di perumahan, tapi ruang tamu Amanda didesain cukup besar.
"Apa kabar, Din?" sela suara laki-laki muncul di samping Amanda menyambut kedatangan Adinda dan Dimas.
__ADS_1
Adinda terpana melihat laki-laki yang pernah singgah di hatinya itu. Bertahun-tahun tidak pernah bertemu, membuat Adinda pangling melihatnya.