Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 23: Ternyata


__ADS_3

Dua Minggu kemudian


Ruangan guru tampak kasak-kusuk membicarakan sesuatu. Adinda yang baru saja datang tampak bingung melihat ibu-ibu yang duduk di ruang guru begitu heboh.


Adinda berjalan mendekati Sinta kemudian menjawil ibu beranak satu itu.


"Ada apa?" tanya Adinda pelan dengan tatapan heran.


"Bu Kenken diopname, Din. Semalam dia jatuh dari kamar mandi dan belum sadarkan diri sampai pagi ini" jawab Sinta menyampaikan cerita yang sama dari Bu Kiki.


"Ya Allah. Semoga Bu Kenken baik-baik saja, ya" ucap Adinda ikut merasa sedih mendengarkan kabar itu. Meskipun kadang teringat ucapan tajam yang keluar dari mulutnya.


"Rencananya, pulang sekolah nanti guru-guru mau membesuk Bu Kenken. Kamu mau ikut nggak?" ajak Sinta.


"Iya, ikut. Seperti biasa aku nebeng kamu, ya" ujar Adinda tersenyum.


"Iya ... Iya. Kalau nggak sama aku, kamu mau nebeng siapa lagi" balas Sinta geleng kepala.


"Nanti bensin kamu aku ganti, deh" bujuk Adinda.


"Aku hanya bercanda, Din. Serius amat, sih" tolak Sinta.


Setelah pulang dari sekolah beberapa guru ke rumah sakit membesuk Bu Kenken. Sampai mereka di sana kondisi Bu Kenken begitu memprihatinkan. Dia belum juga sadarkan diri.


Tidak lama mereka membesuk Bu Kenken. Adinda minta temani Sinta untuk mencari gamis dan kemeja untuk Dimas.


"Gamis seperti apa, Din?" tanya Sinta setelah tiba di mall.


"Gamis yang cocok untuk ke acara formal gitu, Sin. Dimas mau mengajak aku untuk menemaninya ke suatu acara di hotel" jelas Adinda.


"Acara apaan, Din?" Sinta kepo juga.


"Katanya sih, pertemuan para pengusaha gitu. Ada nara sumbernya juga. Nggak ngerti aku, dia mintanya aku ikut" jelas Adinda lagi.


"Istri bos, ya emang gitu" gumam Sinta. Adinda hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Sinta.


***


Di meja makan


Dimas makan dengan khusyuk tanpa ada suara. Sejak pulang dari kerja, Adinda baru sadar, dia belum mendengar suara Dimas. Ada apa?


Mama mertuanya kebetulan sedang liburan di rumah kakek. Jadi hanya ada mereka berdua saja di rumah.


"Kenapa dia diam saja, sih. Pagi tadi baik-baik saja, ngobrol seperti biasanya" batin Adinda merasa heran.


Adinda segera menghabiskan makanannya di piring. Dimas sudah beranjak dari meja makan lalu duduk di sofa ruang keluarga. Setelah merapikan meja makan, Adinda menyusul Dimas dan duduk di sampingnya.


"Hey, kok diam aja. Sariawan, ya? Aku ambilkan obat kalau kamu sariawan" goda Adinda tersenyum geli. Dimas menoleh ke arah Adinda tanpa senyuman.


"Kamu sepertinya nggak butuh aku lagi?" tanya Dimas menatap Adinda dengan wajah serius.


"Maksud kamu apa?" Adinda bingung sendiri dengan pertanyaan Dimas.

__ADS_1


"Ke mana-mana kamu lebih suka pergi dengan orang lain daripada dengan suami kamu sendiri" jawab Dimas lalu memalingkan wajahnya.


Adinda mengingat-ingat, belakangan ini memang dia sering pergi dengan Sinta. Itu Adinda lakukan karena dia tidak mau merepotkan Dimas. Lagi pula dia kan perlu waktu juga untuk bersama teman-temannya.


"Aku nggak mau merepotkan kamu, Mas" ucap Adinda.


"Aku nggak pernah merasa direpotkan. Sampai membeli baju saja kamu tidak mau minta pendapatku dulu" elak Dimas.


Dimas tahu kalau Adinda sudah membelikannya pakaian untuk pergi ke acara di hotel itu nanti. Karena Dimas melihat barang itu masih Adinda letakkan di sofa kamar mereka.


"Mas, aku mau sekali ke mana-mana ada kamu di sampingku. Tapi aku justru takut mengganggu kesibukan kamu di kantor. Selagi bisa aku lakukan sendiri, aku tidak mau merepotkan kamu" jelas Adinda agar Dimas tidak salah paham kepadanya.


Dimas hanya diam. Sudah berapa kali Adinda pulang tidak bersamanya. Ketika Dimas menghubungi untuk menjemputnya, ternyata Adinda sudah ada di rumah.


"Kalau kamu tidak suka dengan baju pilihanku, kamu tidak usah memakainya" ucap Adinda kecewa sambil menundukkan wajahnya.


"Aku mengkhawatirkan kamu, Din. Ketika tidak ada kabar jam berapa kamu mau minta dijemput, aku gelisah. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Tapi dengan santainya malah kamu sudah ada di rumah" Dimas berdiri dari sofa lalu membelakangi Adinda.


"Ya Allah, Mas. Aku bukan anak kecil yang harus kamu antar jemput ketika bekerja" batin Adinda tidak mengerti dengan sikap suaminya itu.


"Aku minta maaf" Adinda memeluk punggung Dimas lalu melingkarkan kedua tangannya ke perut Dimas.


"Aku nggak tahu kalau kamu orangnya suka direpotkan" lanjut Adinda. Sisi lain seorang Dimas ternyata selain pencemburu dia juga agak sedikit posesif.


"Aku hanya ingin tahu aktivitas apa saja yang kamu lakukan di luar sana dan bersama siapa. Kalau aku ada di dekat kamu, aku kan tidak perlu bertanya lagi sama kamu" balas Dimas sambil melepaskan pegangan tangan Adinda di perutnya.


Dimas membalikkan badannya lalu menghadap Adinda. "Apa kamu keberatan dan merasa terbebani?" tatap Dimas bertanya dengan nada lembut kepada Adinda.


"Nggak, kok. Aku akan melakukan apa yang kamu mau" jawab Adinda tersenyum.


Pikiran Adinda sudah menerawang ke mana-mana dengan tatapan masih fokus ke wajah Dimas. Seolah terperangkap dengan paras tampan suaminya. Sehingga tanpa sadar Adinda merasakan bibirnya menghangat karena kecupan mesra dari Dimas.


Adinda pun baru tersadar ketika Dimas melakukan sentuhan lain yang memberikan sinyal bahwa suaminya itu menuntut lebih dari sekedar kecupan di bibir.


***


Keesokan hari


Adinda sudah pulang dari mengajar. Dimas mengantarnya pulang lalu ingin kembali lagi ke kantor.


"Aku balik lagi ke kantor, ya" ujar Dimas merangkul pinggang Adinda dengan mesra. Mereka masih berdiri di muka pintu masuk rumah.


"Nggak capek apa?" tanya Adinda menatap wajah tampan suaminya itu.


"Kalau aku capek, aku nggak akan balik lagi ke sana" jawab Dimas.


"Mas, nggak usah balik lagi kenapa" ujar Adinda dengan suara manja sambil menarik dasi Dimas hingga wajahnya tertarik lebih dekat ke arah Adinda.


"Hmm. Tapi ada syaratnya" ucap Dimas pelan hampir berbisik sambil tersenyum menggoda.


"Apa?"


Dimas menutup pintu rumah lalu menguncinya. "Olah raga siang kayaknya menarik juga" kedip Dimas nakal lalu menggendong badan Adinda.

__ADS_1


"Aaaa!!! Dimas, turunkan!!" teriak Adinda manja sambil tertawa kecil.


"Aku nggak akan balik ke kantor, Sayang" bisik Dimas lalu mencium pipi Adinda yang masih dalam gendongannya.


Dimas mengeringkan rambutnya dengan handuk setelah membersihkan diri bersama Adinda. Dia menatap istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambut juga.


"Apa lihat-lihat !" ujar Adinda tersenyum malu melihat ke arah Dimas karena merasa sedang diperhatikan oleh suaminya itu.


Ting.Tong.Ting.Tong


Terdengar suara bel dari ruang tamu, tanda ada orang di luar rumah.


"Mas, kayaknya ada orang di luar. Kamu aja yang buka pintu. Aku masih pakai handuk begini" ujar Adinda menyuruh Dimas.


"Oke. Seksi" Dimas menurut lalu keluar dari kamar sambil tersenyum manis.


"Ihh, Dimas apaan!! Pake bilang seksi segala" gumam Adinda tersipu.


Dimas membuka pintu ruang tamu. "Siapa lagi siang-siang begini bertamu" gumam Dimas.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Sinta!!" seru Dimas.


Dimas agak terkejut melihat Sinta datang bertamu. "Bukannya udah ketemu di sekolah, mau ngapain lagi."


"Mas, Adinda ada kan di rumah ?" tanya Sinta dengan raut wajah cemas.


"Iya, ada apa memangnya?. Ayo, masuk dulu" ajak Dimas.


Sinta masuk ke dalam rumah lalu duduk di kursi tamu setelah dipersilahkan duduk oleh Dimas.


"Aku panggilkan dulu" Dimas berjalan menuju kamar untuk memberitahu Adinda tentang kedatangan Sinta.


Tak lama Adinda keluar dari kamar menemui Sinta. Sementara Dimas duduk di sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya, tapi telinganya masih bisa mendengarkan perbincangan antara Adinda dan Sinta.


"Din, aku ditelpon Amanda. Katanya Bu Kenken mau ketemu kamu" cerita Sinta.


"Bu Kenken udah sadar, ya?" tanya Adinda.


"Iya, baru sadar dia langsung bicara mau ketemu sama kamu. Kebetulan Amanda sedang membesuk Bu Kenken pulang sekolah tadi" jawab Sinta.


"Mau apa, ya?" Adinda jadi penasaran. Kenapa Bu Kenken mau bertemu dengannya?.


"Udah jangan kelamaan mikir, mungkin dia udah masuk 40 hari" celetuk Sinta.


"Hush. Jangan ngomong sembarangan kamu, Sin" ujar Adinda tidak suka.


"Atau mau pengakuan dosa" timpal Sinta cengengesan.


"Sinta!!" teriak Adinda. Sinta pun cekikikan saja.


"Ya udah, aku izin dulu dengan Dimas" sambung Adinda lalu beranjak  dari kursi mencari Dimas.

__ADS_1


Adinda melihat Dimas tampak santai duduk di sofa ruang tengah. "Semoga saja Dimas mengizinkan aku" batin Adinda berjalan mendekati Dimas.


__ADS_2