
Adinda menahan senyum ketika melihat Farhan. Dia terpana karena melihat perubahan dari penampilan teman kuliahnya itu. Sungguh perawakan Farhan sekarang begitu jauh berbeda ketika kuliah dulu. Bodynya bagus, otak smart, sholeh pula. Idaman para akhwat banget pada waktu itu. Kalau wajah lumayan ganteng, tapi masih kalah jauh dengan Dimas. Ehemm.
Lha, sekarang Farhan udah kayak bapak-bapak banget. Pipi tembem dengan perut yang sedikit agak membuncit. Jauh sekali jika dibandingkan dengan penampilan Dimas. Entah kalau mereka udah nikah dua atau tiga tahun, body Dimas apakah masih se-atletis sekarang.
"Kenapa, Din senyum-senyum gitu?. Pasti kaget ya ketemu dengan ane" begitulah Farhan menyapa Adinda teman kuliahnya dulu.
Farhan dulu selalu mengandalkan Adinda karena kesibukannya. Jika ada tugas dari dosen Adinda memberi jawaban kepada Farhan untuk disalinnya. Kalau mau nulisin Adinda ogah. Atau Farhan akan membawa catatan Adinda jika dia sering izin tidak kuliah karena sibuk berorganisasi.
"Sedikit. Kamu jauh banget berubahnya" gumam Adinda tersenyum kecil.
"Maklum lah istri ane hobi masak, Din. Jadi ya beginilah ..." jelas Farhan menggantung ucapannya. Adinda tahu, jadi doyan makan toh penyebabnya.
Dimas melirik Adinda karena melihat tegur sapa yang tidak biasanya. "Sepertinya mereka sudah lama saling kenal" batin Dimas.
"Eh, Han. Kenalkan ini kekasih halalku" ucap Adinda tersenyum.
"Dimas" Dimas mengulurkan tangannya.
"Farhan, teman sekelas Adinda sewaktu kuliah" sambut Farhan menjabat tangan Dimas.
"Ayo, Mas. Kita ke tempat bapak-bapak" ajak Farhan.
Amanda memperhatikan Dimas sedari tadi. "Mba Adinda kenal dimana dengan suaminya, ya. Kayaknya bukan aktivis dakwah, deh" batin Amanda. Ada rasa bangga di hatinya karena bersuamikan Farhan yang merupakan pentolan aktivis dakwah itu.
Karena sudah sore acara pun berlangsung tidak terlalu lama. Setelah makan-makan satu persatu berpamitan pulang.
***
"Din, sini" panggil Sinta di bawah pohon depan kelasnya. Sinta sedang mengawasi siswanya latihan upacara.
Adinda yang kebetulan lewat di depannya karena bel pergantian jam baru dua menit berbunyi.
"Apa?" Adinda menghampiri Sinta lalu duduk di sampingnya.
"Aku nggak nyangka, ya, Farhan jadi melar kek gitu" ucap Sinta menahan tawa.
"Seperti apa body-nya sekarang, Amanda tetap cinta, lho" balas Adinda.
"Anak juga baru satu. Kok, yang melar malah bapaknya bukan Amanda" ujar Sinta tertawa kecil.
"Itu tandanya dia bahagia, Sinta" jelas Adinda penuh penekanan.
"Eh, Din. Kamu masih ada rasa nggak sih sama Farhan?" selidik Sinta.
"Astaghfirullah, Sinta!!!" Jerit Adinda gemes.
Pletak!!
Adinda menjitak kepala Sinta yang mulai nggak beres itu.
"Sakit, Din!!" Sinta meringis memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Habisnya kamu kok ngomong begitu. Kalau ada yang dengar gimana?" Pelotot Adinda.
"Aku udah ada Dimas ngapain mikirin suami orang" sambung Adinda lalu meninggalkan Sinta.
"Idih, yang baru fall in love sama suami sendiri" sindir Sinta.
"Biarin asal jangan suami orang" balas Adinda berbalik sebentar lalu melanjutkan lagi langkahnya masuk ke ruang guru.
"Katanya sih, Adinda mau nikah sama suaminya yang ganteng itu karena bapak Dinda banyak hutang dengan keluarga suaminya" cerita Bu Kenken si ratu gosip.
Amanda yang ikut mendengarkan sedikit tidak percaya. Memang sejak Dimas hadir di rumah Amanda kemarin, laki-laki itu menjadi topik hangat ibu-ibu di kantor. Secara orang yang dibicarakan tampangnya ganteng begitu.
Ketika Adinda masuk ke ruang guru. Mereka yang sedang bergosip tadi pura-pura melakukan aktivitas lain agar Adinda tidak curiga kalau mereka sedang membicarakannya.
"Jadi Mba Dinda terpaksa menikah dengan suaminya" pikir Amanda iba.
"Apa Mba Dinda pura-pura bahagia di depan semua orang ketika mengajak suaminya kemarin? Jangan-jangan dia masih suka dengan kak Farhan lagi" Amanda geleng kepala. Dia menepis pikiran itu jangan sampai terjadi.
"Dinda tumben suami mu mau datang kemaren?" tegur Bu KenKen.
"Oh itu. Kebetulan dia ada waktu senggang Bu" jawab Adinda tersenyum.
"Sibuk banget, ya, Din. Nggak takut nanti malah sibuk sama yang lain" celetuk Bu Nina.
Adinda mengeryitkan dahinya. Maksudnya apa, ya? Adinda belum bisa mencerna kalimat seniornya itu.
"Maksud Bu Nina nanti suami kamu malah sibuk sama wanita lain" sela Bu KenKen sinis.
"Aku percaya sama dia kok, Bu" jawab Adinda singkat.
"Males banget ngeladeni ibu-ibu tukang gosip. Itu Amanda kenapa juga ikutan nimbrung sama mereka" batin Adinda.
Setelah meletakkan absensi dan buku yang dibawanya tadi ke atas meja. Adinda melenggang meninggalkan ruangan guru.
"Jadi Adinda mau nikah sama siapa tadi nama suaminya..." lanjut Bu Nina bergosip.
"Dimas" sahut Amanda.
"Iya Dimas. Dia mau menikah dengan Dimas supaya hutang bapaknya lunas, ya?" tanya bu Nina.
"Iya, kayaknya. Orang tua Dimas kan kaya" seloroh Bu Kiki.
"Ibu-ibu tahu darimana cerita itu?" tanya Amanda.
"Dari tetangga orang tua Adinda. Kebetulan dia teman suamiku" jawab Bu Kenken.
Amanda menghela napas, dia tidak menyangka jika akhwat yang aktif berkecimpung di mushola kampus bisa berjodoh dengan laki-laki biasa seperti Dimas, bukan sesama aktivis.
***
"Aduh, Din. Kamu ngajakin aku ke mall, aku nggak bawa duit. Lagian aku lagi ngirit, nih" sungut Sinta yang ditodong Adinda untuk menemaninya ke mall.
__ADS_1
"Tenang aja, Sin. Kamu mau beli apa nanti aku bayarin, deh" ujar Adinda sumringah. Dia belum pernah menggunakan kartu ATM yang selalu ditransfer Dimas setiap bulan untuknya. Sementara kartu ATM gajinya sering digunakannya untuk keperluan sehari-hari.
"Aku nggak mau ngutang, Din" tolak Sinta.
"Ya, Allah, Sinta!! Aku juga nggak mau ngutangin kamu, kok. Ngasih dengan ngutang kan beda, Sin. Nah ini aku ngasih. Tau nggak" jelas Adinda.
Adinda mengajak Sinta ke bagian pakaian pria. Rencananya Adinda mau membelikan Dimas kemeja baru.
"Sin, kamu nggak mau membelikan suami mu baju?" tawar Adinda.
"Nggak, ah. Mehong, Din" tolak Sinta.
"Ambil aja nanti aku bayarin, kok" ujar Adinda.
"Beneran, Din. Kamu nggak lagi sakit, kan?" Sinta masih tidak percaya dengan kebaikan Adinda yang tiba-tiba itu.
Selama ini memang Sinta tahu kondisi keuangan Adinda. Gajinya selalu disisihkan untuk membantu usaha orang tuanya dan sekolah adiknya.
Ya, mungkin karena sudah bersuamikan Dimas yang kaya, makanya Adinda tidak sayang untuk mentraktirnya atau membelikan sesuatu untuknya.
"Makasih deh kalau gitu" ucap Sinta. "Hm, Din aku ke sana, ya. Ada yang bagus tuh" tunjuk Sinta.
"Iya. Aku mau lihat-lihat yang di sini dulu" ujar Adinda. Sinta tidak jauh meninggalkan Adinda.
"Hm, warna apa ya yang belum Dimas punya?" pikir Adinda sambil memilih kemeja yang berjajar di depannya.
"Ehem ... cari apa, Din?" tegur suara laki-laki mengejutkan Adinda.
"Ya, Allah, Farhan. Bikin kaget aja" seru Adinda melihat ke arah sumber suara.
"Serius banget sampe kaget begitu" ucap Farhan.
"Kamu ngapain di sini? Tumben ada Ikhwan di mall" tanya Adinda tertawa kecil. Kan jarang-jarang tuh ada Ikhwan nge-mall apalagi statusnya udah bapak-bapak gitu.
"Aku mau cari sesuatu untuk Amanda karena besok hari pernikahan kami yang ke 2 tahun" jawab Farhan.
"So sweet banget" canda Adinda. Ternyata Farhan orangnya romantis juga ya. Pikir Adinda.
Farhan hanya tersenyum. "Kamu mau beliin Dimas kemeja, ya?" tanya Farhan melirik kemeja di samping Adinda.
"Iya. Tapi aku bingung cowok itu suka warna apa sih?"
"Warna gelap atau kalem, cowok nggak suka warna yang ngejreng Din" saran Farhan.
Adinda mengambil salah satu kemeja bergaris vertikal warna abu muda.
"Ini bagus nggak?" tanya Adinda mengangkat kemeja ke arah Farhan.
Cekrek! Cekrek!
Seseorang mengambil foto mereka berdua yang tampak seolah-olah seperti seorang istri sedang memilihkan kemeja untuk suaminya.
__ADS_1