Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 26: Ketegasan Adinda


__ADS_3

Setelah pertemuan di hotel kemarin Hasna mengajak Adinda untuk bertemu berdua saja. Hasna berharap Adinda bisa memahami perasaannya.


"Sin, gimana? Hasna mau mengajakku bertemu di Kampung Bambu sebelum dia check out dari hotel" tanya Adinda disela jam istirahat.


"Ya udah, temui aja dia. Kamu harus punya sikap kalau dia emang nekad meminta izin untuk jadi yang kedua" jawab Sinta sambil terkekeh. Adinda mengerucutkan bibirnya mendengarkan kata terakhir Sinta.


"Resiko kamu, punya suami ganteng dan emang udah banyak fans dari SMA dulu, kan" gumam Sinta.


Adinda hanya membisu. Apa yang harus dia persiapkan untuk menghadapi Hasna nanti. Itu yang menjadi pikiran Adinda.


Pulang dari sekolah, Adinda langsung menuju ke Kampung Bambu tempat di mana Hasna mengajaknya bertemu. Adinda sudah memberitahu Dimas bahwa dia ada janji dengan temannya, sehingga Dimas tidak perlu menjemputnya ke sekolah.


Sebelum masuk ke tempat yang sudah dipesan Hasna, Adinda menarik napas dalam lalu menghembuskannya. Adinda mencoba menenangkan diri untuk tidak bersikap emosional nantinya.


"Bismillah. Aku harus cepat menyelesaikan masalah ini"gumam Adinda sambil berjalan.


"Rupanya dia sudah datang duluan" gumam Adinda berbisik lalu mendekati Hasna yang sudah duduk manis menunggu kedatangannya. Hasna tersenyum menyambut kedatangan Adinda.


"Sudah lama?" tanya Adinda basa-basi.


"Nggak juga. Duduklah. Kamu mau pesan apa?" ujar Hasna ramah.

__ADS_1


"Nggak usah, Na. Aku masih kenyang" tolak Adinda halus. Dalam situasi begini bagaimana dia bisa makan dengan tenang.


"Paling nggak pesan minum aja, Din" tawar Hasna lagi.


"Terima kasih, Na. Langsung saja. Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan?" ujar Adinda to the point, dia tidak ingin berlama-lama di sini.


Dimas pasti tidak suka dengan izin kepergiannya yang tidak jelas itu. Adinda memang tidak memberitahu ke mana tujuan dia pergi.


"Din. Aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau istri Dimas adalah kamu" ucap Hasna membuka pembicaraan mereka.


"Kalau kamu tahu wanita itu aku, apa kamu masih berani menyimpan rasa dengan suamiku?" tanya Adinda serius menatap manik Hasna.


Hasna terdiam sejenak. "Aku tidak bisa menghilangkan rasa itu, Din" ucap Hasna bergetar.


Hasna tersentak mendengarkan ucapan Adinda yang begitu tegas kepadanya.


"Bukankah rasa cinta itu fitrah. Aku tidak bisa menolak rasa itu ketika hadir. Sejak SMA perasaan itu sudah ada sebelum aku pindah ke sekolah lain. Apalagi ketika orang tua kami sepakat akan menjodohkan kami, rasa cintaku semakin besar kepadanya" jelas Hasna pelan.


"Rasa cinta memang fitrah pada setiap manusia. Tapi yang sering disalahgunakan oleh manusia adalah tidak menempatkan rasa cinta itu dengan benar. Kamu terlalu berharap pada cinta manusia yang belum tentu menjadi jodoh kamu, Na" jelas Adinda.


"Din, aku ingin kamu memahami perasaanku. Bagaimana kalau kamu berada di posisiku?" tanya Hasna meminta pengertian dari Adinda.

__ADS_1


"Kalau aku berada di posisi kamu, aku tidak akan memupuk perasaan yang belum tentu menjadi milikku. Masalah jodoh aku percaya kepada takdir Allah, Na. Bukan feeling kamu sendiri!!" jawab Adinda langsung.


Adinda sudah tidak bisa tersenyum lagi di hadapan Hasna yang masih belum bisa menerima kenyataan.


"Din, bantu aku agar tidak semakin berdosa karena perasaan ini" pinta Hasna menarik tangan Adinda yang berada di atas meja.


"Caranya?" tanya Adinda bingung. Bagaimana dia harus membantu Hasna.


"Aku tidak masalah kalau menjadi istri kedua Dimas" ujar Hasna tanpa rasa berdosa. Rasa malu Hasna entah pergi ke mana sampai sanggup berbicara seperti itu.


Mata Adinda melotot melihat keberanian Hasna mengutarakan hal yang sama seperti yang dia bicarakan sewaktu di food court tempo hari. Adinda menarik pelan tangannya dari genggaman Hasna.


"Aku hanya manusia biasa bukan seorang wanita berhati malaikat, Na. Aku, wanita yang tidak bisa berbagi suami dengan siapa pun. Untuk apa kamu menjadi yang kedua dalam rumah tangga kami kalau Dimas saja hanya mencintaiku. Bangunlah dari mimpi dan lupakan cinta semu kamu itu. Maafkan aku, Na. Aku tidak bisa. Permisi!!" ujar Adinda dengan nada tegas.


Adinda bergegas pergi meninggalkan Hasna. Percuma saja dia berlama-lama duduk di sana. Hasna tidak akan mendengarkan ucapannya lagi. Wanita itu sudah dibutakan oleh cinta sepihak.


Adinda lebih baik mengorbankan persahabatannya daripada suaminya. Hidup ini bukan seperti dalam sinetron, di mana seorang wanita yang seolah-olah ikhlas suaminya menikah lagi dengan sahabatnya sendiri sementara hatinya sakit teriris.


Hasna menatap kepergian Adinda dengan airmata yang meluncur deras di sudut matanya.


"Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan?" gumam Hasna perih menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


"Kenapa aku selalu saja kalah dengan Adinda. Kenapa!!"


Hasna menghapus airmatanya lalu pergi meninggalkan Kampung Bambu dan kembali ke hotel dengan membawa luka di hati karena ulah dirinya sendiri.


__ADS_2