Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 46: Ingin Makan Berdua


__ADS_3

Dimas menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah. Dia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Din, kamu belum ngurus surat cuti?" tanya Dimas sembari membantu istrinya turun dari mobil.


"Iya, nanti aku urus, Mas" jawab Adinda.


"Buruan diurus, aku nggak mau lihat kamu kecapekan" ucap Dimas.


"Iya. Aku masuk dulu, ya. Assalamualaikum" Adinda tersenyum kemudian meraih tangan Dimas dan mencium punggung tangannya.


"Eh, ibu hamil ini belum cuti juga" tegur Bu Kiki melihat Adinda berjalan perlahan menuju ruang guru. Bu Kiki menggandeng Adinda.


"Aku yang ngos-ngosan melihat kamu jalan, Din" sambung Bu Kiki.


"Iya, Bu. Sekarang mudah capek" sahut Adinda. "Aku mau ngurus cuti nanti."


"Din, sini!" panggil Sinta melihat Adinda baru datang. "Aku bawa kue kesukaan kamu."


"Apa, sih?" tanya Adinda menghampiri Sinta.


Sinta menunjukkan tepak makanan yang berisi kue. "Wah, putu ayu" seru Adinda. Sudah lama dia tidak makan kue itu.


"Kamu buat sendiri?" tanya Adinda sambil memasukkan satu putu ayu ke dalam mulutnya. "Enak, Sin."


"Iyalah, Bang Hendra kebetulan minta dibuatkan kue ini. Dia juga bawa ke kantor" jawab Sinta.


"Mba Dinda, anaknya cowok atau cewek?" tanya Amanda mendekati Adinda dan Sinta.


"Udah berapa kali USG hasilnya sih cowok" jawab Adinda.


"Alhamdulillah. Biasanya para suami suka anak pertamanya itu cowok" ujar Amanda.


"Ah, nggak juga, Man. Suamiku malah suka dengan anak cewek. Anak pertamaku cewek, dia bahagia sekali" sela Sinta tidak setuju.


"Kebanyakan sih begitu, Mba. Karena anak cowok itu kan penerus keturunan" jelas Amanda.


"Terserah kamu, deh" sungut Sinta.


"Udah ... udah. Mau cowok atau cewek yang penting nanti menjadi anak yang sholeh atau sholehah" lerai Adinda.


Bel masuk pun berbunyi. Mereka membubarkan diri dan masuk ke dalam kelas masing-masing.


***


"Sin, aku mau ke kantor Dimas. Mau ikut nggak. Siapa tahu kamu mau melihat tempat kerja baru suami kamu" tawar Adinda. Dia tidak ada mengajar lagi pada dua jam pelajaran terakhir begitu juga dengan Sinta.


"Boleh. Kalau begitu minta izin dengan kepala sekolah dulu" saran Sinta.


"Iya, bilang saja kamu yang mau mengantarku pulang karena nggak enak badan" ujar Adinda tersenyum.


Dia mendadak ingin bertemu suaminya itu. Ingin makan siang bersama.


Setelah berhasil meminta izin, kedua ibu muda itu meninggalkan sekolah. Mereka naik bis menuju ke tempat kerja suami mereka.


"Kamu masih gagah aja. Nanti Dimas marah, lho" ujar Sinta karena Adinda tidak memberitahu Dimas tentang kedatangannya.


"Nggak akan" tampik Adinda.


Mereka sudah tiba di teras perusahaan, Adinda dan Sinta memasuki area lobi disambut oleh security yang menjaga di pintu lobi.


"Pak Dimas ada kan?" tanya Adinda kepada Riska, karyawan yang bertugas di lobi.

__ADS_1


"Ada, Bu. Apa perlu saya beritahu kalau Bu Dinda ada di lobi?" tawar Riska.


"Nggak usah, saya langsung ke ruangannya saja" tolak Adinda. "Yuk, Sin."


"Eh, ruangan Bang Hendra di mana?" tanya Sinta baru sadar.


"Ihh, kenapa nggak sekalian tanya tadi" ujar Adinda sewot karena mereka sudah berada di depan lift. "Buruan tanya, aku tunggu di sini aja."


Sinta kembali lagi menemui Riska untuk menanyakan ruangan suaminya. Adinda dan Sinta berpisah karena kantor suami mereka beda lantai.


"Bu Dinda" seru Ayu, sekretaris Dimas kaget melihat istri atasannya itu datang. Ayu berdiri ingin memberitahu Dimas yang berada di ruangannya.


"Eh, nggak usah dikasih tahu. Aku langsung masuk saja" ujar Adinda menghalangi Ayu agar tidak masuk ke ruangan suaminya.


"Baiklah, Bu" ucap Ayu tersenyum dan membiarkan Adinda masuk ke dalam ruangan Dimas.


Ceklek!


Dimas yang sedang memeriksa berkas di atas mejanya melihat ke arah pintu ruangannya. Dia tampak kaget melihat sosok istrinya muncul di kantornya. Dimas beranjak dari tempat duduknya.


"Yang, kok jam segini udah pulang?" tanya Dimas mendekati istrinya.


"Kangen dengan Abi" jawab Adinda tersenyum memandang suaminya. Dimas tertawa kecil.


"Ada Sinta juga di ruangan suaminya" sambung Adinda memberitahu Dimas.


"Oh ... jadi kalian janjian minggat, ya?. Ini kan belum waktunya pulang" tuduh Dimas.


"Ihh, siapa yang minggat" ucap Adinda cemberut. "Aku izin kok dengan kepala sekolah. Alasanku kurang enak badan."


"Ya, Allah istriku ini. Nggak boleh bohong, Sayang" Dimas geleng-geleng kepala dengan sikap istrinya. Bisa-bisanya dia seperti itu.


"Aku nggak bohong. Aku jadi nggak enak badan karena nggak melihat suamiku" ujar Adinda menahan tawa.


"Kan kamu gurunya" ujar Adinda tidak mau kalah.


"Paling bisa, ya" Dimas mengacak jilbab yang menutupi kepala Adinda.


"Aduh ... duh" teriak Adinda tiba-tiba sambil memegang perutnya.


"Din ... kenapa, Sayang?" tanya Dimas cemas memegang badan istrinya.


"Lapar, Mas" tatap Adinda menahan lapar.


"Kamu buat aku cemas saja" omel Dimas memencet hidung mancung istrinya dengan gemas. Adinda nyengir.


"Ayo, kita makan didekat sini saja" ajak Dimas merangkul pinggang Adinda. "Ini juga sudah masuk jam makan siang."


Mereka berdua memang jarang makan siang berdua di luar. Kalau Adinda pulang cepat, Dimas akan makan siang dulu di rumah baru kembali lagi ke kantor.


"Jadi kamu nyusul aku hanya mau mengajak makan siang di luar" toleh Dimas sambil menyetir mobilnya.


"Udah aku bilang kangen" ucap Adinda. Dimas tersenyum tidak yakin dengan ucapan istrinya.


"Kangen apa, datang-datang mencium saja tidak" sanggah Dimas. Walaupun Adinda susah untuk memeluk karena sedang hamil besar paling tidak kan mencium saja, bukti kalau dia memang kangen dengan suaminya itu.


"Muach" Adinda tiba-tiba menyosor pipi mulus Dimas. Laki-laki tampan itu tersenyum lebar merasakan bibir hangat Adinda menempel di pipinya.


"Masih nggak percaya?" tanya Adinda.


Dimas menghentikan mobilnya di salah satu cafe yang tidak jauh dari kantornya.

__ADS_1


"Tidak" jawab Dimas mendekatkan wajahnya menantang Adinda.


Adinda memanyunkan bibirnya. "Memangnya seperti apa orang yang sedang kangen, aneh" batinnya.


Dimas menatap istrinya dan mengarahkan badannya ke depan Adinda untuk membuka safety belt istrinya. "Kalau kangen itu seperti ini"  ujar Dimas mendekatkan wajahnya dan mencium bibir istrinya pelan. Kemudian dia menarik badannya ke posisi semula.


"Ihh, itu artinya kamu yang kangen denganku" toleh Adinda tertawa kecil setelah menyadari ucapan suaminya.


Dimas tersipu malu. Dia kemudian membuka pintu mobil. " Ayo, turun. Katanya tadi lapar."


"Pelan-pelan" ucap Dimas sambil membantu Adinda turun dari mobil. Dimas menggenggam tangan istrinya hingga masuk ke dalam cafe.


"Ssst, lihat tuh ada cowok ganteng banget" bisik seorang gadis melihat Dimas sedang mencari tempat duduk yang nyaman.


"Hei, lihat tuh. Dia menggandeng cewek yang sedang hamil besar. Cewek itu pasti istrinya" sahut temannya.


"Iya, sayang udah punya istri. Wajahnya baby face banget. Eh, siapa tahu itu kakaknya"


Pletak!


Gadis itu menjitak kepala temannya yang masih ngeyel. "Mana ada adik menggandeng kakaknya yang sedang hamil, kemana suaminya. Kurang kerjaan saja" omelnya.


Si gadis ngeyel hanya memanyunkan bibirnya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Dimas melihat Adinda yang pandangan mata istrinya itu tampak tidak di depannya. "Dinda!" panggil Dimas.


"Sama aja dengan kamu, Mas" ucap Adinda datar.


"Kamu kenapa?" tanya Dimas heran.


"Begini nih kalau jalan dengan dia di luar. Banyak yang meliriknya" omel Adinda dalam hati sambil memonyongkan bibirnya.


Dimas hanya tersenyum saja melihat perubahan ekspresi wajah istrinya. Dia pun menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia baru sadar banyak mata yang memandang ke arahnya, tentu saja mata para wanita.


"Hei, nggak usah begitu ekspresinya. Biasa aja" ucap Dimas pelan.


"Kamu yang biasa, aku nggak!" sengak Adinda menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Permisi, Mas" ucap waiters membawa pesanan mereka ke meja.


"Terima kasih, Mba" ucap Dimas ramah setelah waiters meletakan makanan mereka.


"Ayo, makan" ajak Dimas. Dia sudah tidak sabar lagi mau menyantap hidangan yang dia pesan.


Dimas melihat Adinda bergeming sambil melihat meja. "Lain kali kita delivery, makan di kantor aja" ujar Dimas santai.


"Coba deh, bebek panggangnya enak banget" Dimas menyodorkan potongan daging bebek ke mulut Adinda untuk mengalihkan perhatian istrinya yang sedang cemburu itu. Mau tidak mau Adinda membuka mulutnya dan menikmatinya.


"Enak kan?" tanya Dimas.


"Iya, enak sekali" jawab Adinda. "Kamu kok nggak pernah ngajak aku makan di sini."


Dimas tahu bebek panggang itu kesukaan istrinya. Dia tahu dari ibu mertuanya. Bapak Adinda kan punya usaha kuliner.


"Tempatnya kan jauh" ujar Dimas memberi alasan.


"Tapi kalau enak kan nggak masalah"


"Iya, lain kali aku beli untuk kamu makan di rumah"


Adinda tersenyum riang. Sejenak terlupakan dengan para wanita yang melirik suaminya karena bebek panggang. Tidak sia-sia dia menemui Dimas di kantor. Setelah makan siang, Dimas mengantar Adinda pulang ke rumah.

__ADS_1




__ADS_2