Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 48: Baby Zain


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Dimas membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mamanya baru saja menelpon untuk memberi tahu kabar bahwa Adinda mau melahirkan. Dia pergi ke luar kota untuk mengecek usaha papanya karena HPL istrinya itu masih lima hari lagi. Makanya dia memutuskan untuk pergi. Tapi siapa sangka, baru berapa jam sampai dia sudah harus kembali lagi.


Dimas segera menuju ke klinik bersalin. Tiba di sana, dia melihat ada mertuanya juga.


"Ma, Dinda sudah melahirkan?" tanya Dimas cemas.


"Belum, itu ada di kamar. Masih bukaan dua" jawab mamanya.


Dimas masuk ke kamar inap Adinda. "Sayang" panggil Dimas mendekati istrinya dan menggenggam tangannya.


"Mas" toleh Adinda. "Kamu sudah berjanji kan mau menemani aku melahirkan."


"Iya, Sayang. Makanya aku langsung pulang setelah ditelpon mama tadi" ujar Dimas mengusap kepala istrinya.


Tangan Dimas kemudian beralih ke perut Adinda. Dia mengusap lembut perut istrinya itu.


"Anak Abi, kalau mau keluar ... keluarlah. Abi sudah datang" Dimas mengajak bicara bayi mereka yang masih berada di dalam perut Adinda. Kemudian dia mengecup perut Adinda.


Tak lama kemudian, Adinda merasakan kontraksi lagi di rahimnya. "Mas ... panggil bidannya. Aku tidak tahan lagi. Seperti ada yang mau keluar" ucap Adinda sambil meringis menahan sakit.


Ibu Adinda yang mendengarkan ucapan anaknya dan segera memanggil Bu bidan. Dimas pun melihat langsung proses persalinan istrinya.


Tidak lama kemudian


"Oek ... Oek ... Oek"


Tangis nyaring bayi laki-laki itupun terdengar. Adinda melahirkan dengan normal. Bayi itu diletakkan oleh bidan di atas dadanya sembari dia membersihkan sisa-sisa bekas melahirkan.


Dimas tersenyum bahagia sambil mengelap keringat yang membasahi dahi Adinda. Perjuangan istrinya melahirkan buah hati mereka sudah berlalu. Kini mereka harus berjuang bersama untuk membesarkan anak pertama mereka.


Setelah berada di kamar. Baby Zain sudah wangi ciri khas bayi. Mertua dan orang tua Adinda berkumpul untuk melihat cucu mereka.


"Namanya siapa, Mas?" tanya bapak mertua Dimas.


"Zain Al Fatih, Pak"  jawab Dimas. Nama itu adalah pilihan mereka berdua.


"Artinya apa?" sela mama Dimas yang sedang menggendong bayinya.


"Zain itu artinya tampan, Ma. Sedangkan Fatih artinya penakluk" jawab Dimas tersenyum.


"Penakluk yang tampan, hmm" gumam bapak mertua Dimas ikut tersenyum.


Adinda tersenyum melirik suaminya. Zain, nama pilihannya sedangkan Fatih adalah nama pilihan Dimas. Kedua orang tuanya dan mertuanya sama-sama baru memiliki cucu pertama. Mereka sangat bahagia sekali.


"Kamu nggak perlu capek-capek ngurusin baby Zain, udah ada mereka" bisik Dimas.

__ADS_1


"Ihh, nggak boleh begitu, Mas" balas Adinda berbisik.


"Mereka sendiri yang mau, lihat saja tuh" toleh Dimas ke arah mama dan mertuanya bergantian menggendong baby Zain. Adinda mengalihkan pandangannya ke arah ibu dan mama mertuanya.


"Aku nggak mau mereka nanti memanjakan baby Zain" ucap Adinda.


"Untuk sementara nggak apa, Sayang" Adinda hanya mengangguk saja.  


***


Beberapa hari kemudian


Adinda baru mengabari teman-temannya di sekolah dan Dimas juga memberi tahu karyawannya.


"Belum mau di-aqiqah, Din?" tanya Sinta. Dia dan suaminya datang menjenguk baby Zain.


"Belum, Sin. Bapakku nanti yang menyiapkan di rumah makannya, mertuaku nggak mau repot" jawab Adinda.


"Eh, Amanda udah datang ke sini belum?" tanya Sinta lagi. Sinta kemarin mau mengajak Amanda untuk pergi bersama, tapi dia menolak. Ya, sudah. Akhirnya Sinta pergi dengan suaminya.


"Belum, tuh. Mungkin nanti mau pergi bareng dengan teman-teman di sekolah" jawab Adinda.


Biasanya rekan kerja mereka akan datang bersama-sama jika ada guru yang melahirkan, menikah atau mendapatkan musibah.


Sinta melirik baby Zain yang sedang tidur digendongan Adinda.


"Iyalah, orang Alika aja udah besar begitu" timpal Adinda. "Alika belum mau dikasih adik, Sin?."


"Nggak tahu, nih. Harus izin Bang Hendra dulu. Dia belum mengizinkan aku hamil lagi karena takut melihat kondisiku ketika hamil Alika dulu. Aku kan muntah terus dan tidak mau makan sampe diopname segala" jelas Sinta.


"Bang Hendra sayang banget sama kamu, ya" goda Adinda.


"Kalau aku sakit kan yang repot dia juga. Kerja jadi nggak tenang. Orang tua nggak bisa diandalkan karena mereka punya kesibukan masing-masing" ucap Sinta.


"Eh, Bang Hendra belum melihat anak kami. Ayo, ajak baby Zain keluar" ujar Adinda mengajak Sinta keluar dari dalam kamar karena Adinda tadi sedang menyusui bayi Zain.


Sinta mengangguk setuju. Mereka kemudian berjalan keluar dari kamar menuju ke ruang tengah. Di sana Dimas dan Hendra tampak sedang berbincang-bincang.


"Bang! Lihat, deh. Anak Dimas dan Dinda lucu banget" panggil Sinta mendekati suaminya sambil menggendong baby Zain.


Hendra menoleh ke arah istrinya. "Mirip kamu, Mas" seru Hendra. Di luar kantor Hendra tidak memanggil Dimas dengan embel-embel Bapak.


"Iyalah, Bang. Orang anaknya, kok" sela Sinta kemudian duduk di samping suaminya itu. Adinda pun ikut duduk di samping Dimas.


"Nggak mau nambah anak lagi, Bang?" tanya Dimas. Dari tadi mereka memang mengobrol tentang pekerjaan.


Hendra hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Dimas. Sinta sudah tahu makna senyuman suaminya itu.

__ADS_1


"Iya, Bang. Tambah satu lagi supaya sepasang, berdoa saja semoga yang kedua dapat anak cowok. Atau program ke dokter saja supaya dapat anak cowok" pancing Adinda.


"Bukannya tidak mau, tapi aku kasihan dengannya kalau hamil lagi. Seperti orang mau mati saja" ujar Hendra melirik istrinya.


"Lho, kok bisa seperti itu, Bang?" tanya Dimas heran.


"Makanan apapun yang dimasukkan pasti dimuntahkannya. Sampai diopname, harus melewati fase itu selama tiga bulan. Aku tidak mau hal seperti itu sampai terulang kembali" jawab Hendra sambil melirik istrinya.


"Tapi kan setiap kehamilan tidak sama antara anak pertama dan kedua, Bang" ujar Sinta. Dia sih oke-oke saja kalau mau menambah anak lagi.


"Iya, Bang. Pengalaman teman-teman kami juga begitu. Setiap anak beda-beda kondisi kehamilan tri semester pertama" timpal Adinda mendukung Sinta.


"Lihat nih, Bang. Gemes banget kan kalau punya baby lagi" ujar Sinta memancing Hendra. Suaminya itu hanya tersenyum kecil. Memang menggemaskan sekali melihat wajah anak yang masih bayi. Rasa letih setelah bekerja seharian seakan hilang ketika melihat wajahnya.


Setelah lama di tempat Adinda, Sinta dan suaminya berpamitan pulang. Hendra langsung menuju ke rumahnya.


"Eh, Bang. Alika kenapa nggak sekalian dijemput tadi. Mumpung kita diluar rumah" ucap Sinta menarik pergelangan tangan suaminya yang berjalan di depannya.


"Sengaja nggak dijemput" ujar Hendra cuek sambil masuk ke dalam kamar. Dia segera membuka pakaiannya.


"Abang aja, ah yang jemput. Aku malas mau ganti pakaian lagi" Sinta pun sudah membuka jilbabnya dan pakaiannya. Kalau sudah di rumah dia bisa memakai pakaian santai yang minimalis.


Hendra menarik badan istrinya yang masih mengenakan camisole. "Kamu bilang tadi Alika mau dikasih adik" bisiknya sambil menatap mesra Sinta.


"Ah, Abang ini. Modus saja" ujar Sinta sembari mengelak serangan Hendra yang menciumi lehernya.


"Aku nggak bisa hamil kalau KB-nya belum dilepas, Bang!" lanjut Sinta mengingatkan suaminya. Dia harus ke Dokter untuk melepaskan KB spiralnya.


"Kalau begitu besok buka saja" ucap Hendra masih sambil melanjutkan aksinya. Laki-laki beranak satu itu telah menjatuhkan tubuh Sinta ke atas ranjang.


"Hari ini bonusnya" sambung Hendra tersenyum sambil menatap istrinya. Sinta menurut saja yang penting suaminya sudah bersedia untuk menambah anak.


Drettt. Drettt. Drettt.


"Bang, tolong ambilkan ponselku" pinta Sinta masih di balik selimut. Mereka baru saja menyelesaikan aktivitas intim mereka.


"Mama, jam berapa Alika mau dijemput?" tanya Alika di seberang sana. Dia masih di rumah orang tua Sinta.


"Iya, Sayang. Mama ketiduran, mau siap-siap dulu, ya" jawab Sinta ngeles sambil menatap tajam suaminya. Hendra hanya mesem-mesem mendengarkan ucapan istrinya. Alika sudah menutup panggilan telponnya.


"Buruan mandi, Bang. Alika sudah ribut, tuh" sungut Sinta sambil mendorong badan suaminya agar turun dari ranjang.


"Iya, ayo. Emangnya kamu nggak mandi apa" Hendra pun menarik tangan Sinta untuk mengajaknya mandi bersama.


Setelah itu mereka pun berangkat untuk menjemput putri kesayangan mereka.


__ADS_1



__ADS_2