
Reno memandangi istrinya yang masih terpejam, terlihat lelah yang terpampang nyata di kedua mata yang biasanya terbelalak lebar kini tertutup rapat tak bergerak.
Ketika sedang asyik memandang tiba-tiba sang empunya mata terbangun. Senyum merekah di kedua sudut bibirnya.
"kamu udah bangun? berisik ya sama suara ngorok aku?" Vely lagi-lagi berkata dengan menutup mulutnya.
Reno tertawa geli melihat tingkah laku istrinya. Reno mendekat ke wajah istrinya akan mencium bibir yang tertutup rapat oleh kedua tangan itu.
"kamu ngapain?"
"morning kiss"
"enggak aku belum mandi"
"aku kan udah bilang aku akan meminta jatah morning kiss ku setiap hari"
"iya tapi nggak sekarang setidaknya biar aku gosok gigi dulu"
"enggak aku maunya sekarang"
Reno menarik paksa tangan yang menutupi mulut Vely kemudian mencium bibir itu dengan ganas.
Vely mendorong Reno menjauh darinya, Vely mengaduh kesakitan di perutnya.
"kenapa sayang?"
"perutku sakit banget"
Reno mengetuk-ngetuk perut Vely dengan dua jarinya.
"nggak kembung"
"tapi sakit, aku ke kamar mandi dulu"
Vely menuju kamar mandi diikuti Reno di belakangnya.
"kamu ngapain?"
"ya aku pastiin kamu nggak apa-apa"
"udah kamu di luar aja" Vely mengunci Reno yang masih di luar kamar mandi.
Setelah beberapa saat...
Vely melongo kan kepalanya keluar pintu.
"Ano ambilin ****** ***** aku sama pembalut di tas"
"pembalut?"
"iya"
"ah sial, jadi gagal kan malam pertama kita"
"he he he sabar sayang... orang sabar di sayang mama"
"awas ya kalau haid kamu udah selesai aku akan habisin kamu"
"iya dah terserah pokoknya sekarang ambilin dulu yang tadi"
__ADS_1
Reno berkali-kali mengumpat karena Vely mendapatkan jatah datang bulannya pas saat seharusnya mereka menghabiskan malam pertama mereka.
POV LEO
"tuan" Narsih
"ya bik"
"ini ada undangan untuk nyonya"
"undangan? dari siapa?"
"kurang tahu tuan"
Leo menerima undangan dari tangan Narsih kemudian membukanya, ada gambar prewedding mempelai berdua, mata Leo terbelalak melihat siapa gadis dalam gambar itu.
Leo naik ke kamar Sarah, Sarah terlihat pulas dalam tidurnya, entah pulas atau terlalu kelelahan karena selalu berteriak-teriak setia saat.
Leo membelai rambut Sarah dengan lembut tapi meskipun perlahan itu membuat Sarah membuka matanya.
"jangan menyentuhku" Sarah
Leo memberikan undangan kepada Sarah, sesaat Sarah melirik ke arah undangan yang tergeletak di sampingnya itu.
"Velysia?"
*jadi gadis itu bernama Velysia* (Leo)
"senyum itu rasanya ingin sekali aku mencabik nya, karena wanita ja\*\*\*g ini aku kehilangan Gilang dan dia sekarang dia bahagia dengan kekasihnya, br\*\*\*\*\*k" teriak Sarah
__ADS_1
"aku mau kita datang ke pernikahan kawanmu itu"
"dia bukan kawanku"
"apapun itu terserah kamu, yang penting aku mau kita datang ke sana"
"tidak sudi aku melihat wajahnya"
"mungkin jika tidak memberinya selamat kamu bisa mengacaukan pestanya iya kan?" bujuk Leo
Sarah terdiam...
"ya kamu benar aku akan mengacaukan pestanya, dengan begitu dia akan malu di depan banyak orang ha ha ha"
"kita datang bersama"
"tidak ! aku akan datang sendiri"
"lalu jika mereka semua menyerang mu siapa yang akan membelamu?"
"aku bisa menjaga diriku sendiri"
"dengan apa?" siapa? tidak ada yang mau mendukung kamu lagi setelah mereka tahu kamu pernah mencelakai gadis ini"
Sarah kembali terdiam...
"baiklah aku akan datang bersamamu"
*bagus ! hanya dengan iming-iming akan membuat keributan dia langsung mau hadir di pesta itu, aku akan memikirkan itu nanti yang penting aku bisa datang ke pesta itu kemudian meminta maaf padanya*. (Leo)
__ADS_1