
"kamu kenapa sejak habis foto kemaren kayaknya diem aja?"
"nggak papa"
kalau di internet katanya kalau cewek bilang nggak papa pasti kenapa-napa (Reno)
"sayang...aku bukan orang yang peka yang akan tahu apapun tanpa di beri tahu, kalau memang kamu merasa ada yang membuat kamu nggak nyaman kamu bilang aku ya biar aku perbaiki sebisa mungkin" Reno masih sibuk menyetir
"Ano... kalau misalnya aku menunda untuk punya anak setelah kita menikah nanti gimana?"
Reno terdiam tak langsung menjawab pertanyaan Vely.
"kasih aku satu alasan" Reno
"hem... aku masih trauma" Vely menunduk memandang kedua tangannya yang bermain di ujung dress yang tengah dia kenakan.
"kamu masih trauma apa emang nggak mau mengandung anak dari aku" Reno
jlep ! rasanya pas ke ulu hati Vely, sangat menyakitkan perkataan yang barusan Reno utarakan.
"stop ! berhenti disini" Vely meminta Reno untuk menghentikan laju mobilnya, rasanya hati Vely tidak bisa menerima apa yang baru saja Reno katakan, Reno benar-benar menghentikan mobilnya, Vely turun tanpa aba-aba dari mobil Reno kemudian berjalan cepat setengah berlari mendahului mobil Reno.
Air mata Vely lolos tanpa beban, hatinya terasa sakit kepada Reno. Reno turun dari mobil dan mengejar Vely, Reno berhasil menggapai tangan Vely dan menyeretnya ke pelukannya, Vely meronta dan berhasil melepaskan dirinya dari Reno, Vely berlari dan kebetulan ada taksi akhirnya Vely naik taksi meninggalkan Reno untuk pulang.
"kenapa aku ngomong gitu sih sial pasti Vely sakit hati sama aku, biarin aja dulu biar dia tenang, kalau udah tenang aku akan minta maaf" Reno
__ADS_1
"dimana nyonya bik?" Leo
"nyonya di kamar tuan, seharian nggak mau makan"
"wanita itu selalu menguji kesabaran ku" Leo berjalan cepat menuju kamar Sarah setelah sampai di depan kamar Sarah tanpa permisi Leo langsung membuka pintu kamar Sarah dengan paksa.
Betapa kagetnya Leo melihat Sarah sudah tergelak di lantai dengan darah berceceran dimana-mana, darah segar itu keluar dari pergelangan Sarah yang terluka.
"bik bik Narsih cepat hubungi dokter, Sarah terluka bik" teriak Leo dengan ekspresi wajah sangat ketakutan, bik Narsih menyusul majikannya ke lantai atas.
"sepertinya dia ingin mengakhiri hidupnya bik"
"ya allah nyonya... tuan pindahin nyonya ke kasur biar saya bersihkan darah nyonya"
__ADS_1
"iya bik"
Leo mengangkat tubuh Sarah dan menaruhnya di ranjang, Leo melihat sebuah pisau buah tergeletak di lantai.
"bik singkirkan semua benda tajam yang ada di kamar ini, aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi"
"iya tuan"
"bibik sudah telepon dokter?"
"sudah tuan, dokter akan segera datang"
Benar saja dokter keluarga Leo sudah datang dan mulai membalut luka di pergelangan tangan Sarah, setelah beberapa saat dokter itu sudah selesai dengan tugasnya, dia pun segera pamit.
Leo duduk di tepi ranjang Sarah memandangi wanita yang sangat dicintainya tapi Sarah seperti sama sekali tidak mempunyai perasaan yang sama dengan Leo. Sarah bersamanya hanya karena membutuhkan seseorang untuk menunjang hidupnya agar tetap terjamin. Ketika tahu bahwa Gilang mau menikah dengannya Sarah lantas meninggalkan Leo karena Gilang lebih kaya dari pada Leo.
__ADS_1
"maafkan aku Sarah, aku berjanji akan menjadi lebih kaya lagi agar kamu tetap bersama dengan ku, aku sangat mencintaimu"