Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 27: Kejujuran


__ADS_3

Dimas tampak sibuk di ruang kerjanya dengan pintu ruangan yang tidak tertutup. Dia belum menanyakan ke mana Adinda pergi sampai pulangnya kesorean. Pakai alasan tidak mau dijemput segala.


Adinda pun bisa merasakan aura tidak enak sejak dia pulang ke rumah. Dimas sudah lebih dulu tiba di rumah,itu yang membuat hati Adinda merasa tidak enak.


"Din, Dimas nggak makan malam. Kenapa?" tanya mertuanya melihat Adinda sedang duduk di sofa. Ketika makan malam tadi hanya ada mereka berdua saja di meja makan.


"Nggak tahu, Ma" jawab Adinda.


"Coba kamu lihat sana. Jangan sibuk kerja sampai lupa sama diri sendiri. Dimas itu kebiasaan kalau sudah kerja, lupa makan" omel Mama mertua Adinda.


"Iya, Ma" Adinda beranjak dari tempat duduknya menuju ruang kerja Dimas.


Adinda berdiri di muka pintu yang tidak tertutup itu. Dilihatnya memang Dimas tampak sibuk di meja kerjanya. 


Adinda berjalan masuk ke dalam menghampiri Dimas.


"Mas, sibuk banget, ya" tegur Adinda sambil melihat tumpukan laporan di mejanya.


"Hmm" Dimas masih fokus melihat layar laptopnya tanpa menghiraukan Adinda yang sudah berdiri di sampingnya.


"Mas, udah dulu, dong. Kamu belum makan malam. Nanti dilanjutkan lagi kalau sudah makan" ujar Adinda.


"Nanti saja" tolak Dimas masih tidak peduli dengan Adinda.


Adinda menatap Dimas dengan kesal. Kalau sakit dia juga yang repot, kan. Adinda lalu keluar meninggalkan Dimas tanpa satu patah kata pun. Dimas menghentikan aktivitasnya melihat Adinda yang sudah menghilang dari ruangannya.


Tak lama kemudian Adinda kembali lagi menemui Dimas dengan membawa sepiring makan malam dan air putih untuk suaminya itu. Adinda menggeser kursi di dekat Dimas agar bisa menyuapinya makan.


"Aaa" ujar Adinda menyodorkan sendok berisi nasi ke arah mulut Dimas.


Meskipun matanya masih fokus di depan laptop mulutnya pun menganga ketika mendengarkan instruksi dari Adinda.


"Udah, Din" ucap Dimas setelah Adinda beberapa kali menyuapinya.


"Harus habis. Aaa lagi" ujar Adinda tidak mau mendengarkan Dimas. Dimas pun terpaksa memakan suapan Adinda hingga makanan di piring tak bersisa lagi.


"Ini minumnya" lanjut Adinda memberikan segelas air putih.


"Tiap hari kayak gini enak juga" ucap Dimas tersenyum setelah meminum habis air yang diberikan Adinda.


"Boleh saja" balas Adinda sambil menggeser kursi lalu berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Dimas.


"Beresin ini" jawab Adinda menunjukkan piring yang dia pegang.

__ADS_1


"Ke sini lagi, ya" pinta Dimas.


"Nggak, ah. Ngapain juga di sini, aku nggak mau jadi obat nyamuk" tolak Adinda cemberut.


Adinda melangkahkan kakinya lalu meninggalkan ruangan Dimas. "Dimas kalau kerja nggak toleh kanan kiri lagi. Ngapain juga aku ada di sana" batin Adinda.


Setelah mencuci piring bekas makan Dimas tadi, Adinda masuk ke kamar. Adinda melirik ponsel Dimas yang tergeletak di atas nakas. Entah kenapa hatinya tergelitik ingin melihat isi ponsel Dimas. Sebenarnya tidak ada rahasia di antara mereka soal ponsel. Meskipun ponsel Dimas dikunci, Dimas memberitahu Adinda kata sandi ponselnya. Begitu juga sebaliknya. Jadi kapan saja mereka ingin memakai salah satu ponsel, mereka tidak perlu repot harus memanggil pemiliknya untuk minta dibukakan ponsel.


"Ada pesan masuk. Nomor nggak dikenal ini" gumam Adinda lalu membaca isi pesan tersebut.


(Mas, aku ingin bicara. Besok, bisa kita bertemu sebentar di luar kantor? Hasna)


Mata Adinda membulat membaca pesan tersebut. Adinda tidak habis pikir dengan sikap Hasna yang belum sadar juga kalau Dimas itu suami orang.


"Apa maunya Hasna itu. Apa kurang jelas yang aku ucapkan tadi" ucap Adinda emosi.


"Lebih baik ku hapus saja SMS ini. Biar Dimas tidak tahu sama sekali" gumam Adinda kesal sambil menghapus pesan dari Hasna tersebut. Adinda kemudian meletakkan kembali ponsel Dimas di atas nakas.


"Berani sekali dia menghubungi Dimas, pake mau mengajak bertemu lagi. Kalau soal pekerjaan bisa di kantor, kenapa harus di luar kantor segala. Lama-lama bikin emosi aja nih anak!" Gerutu Adinda geram sambil  menyilangkan kedua tangannya di dada.


Sementara di ruang kerja. Dimas sudah mematikan laptopnya. Dia masih terbayang akan pertemuan Adinda dan Hasna di Kampung Bambu tadi siang. Ya, Dimas tahu tentang pertemuan itu. Dia penasaran kenapa Adinda tidak mau dijemput. Akhirnya Dimas menelpon Sinta untuk memastikan Adinda pergi ke mana dan bertemu dengan siapa. Sinta hanya memberitahu bahwa Adinda pergi ke Kampung Bambu bertemu dengan temannya. Akhirnya Dimas memutuskan untuk menjemput Adinda di sana. Tiba di sana Dimas begitu kaget melihat siapa orang yang ditemui istrinya itu.


"Apa yang sudah mereka bicarakan?" gumam Dimas.


Dimas berdiri dari tempat duduknya lalu keluar dari ruang kerja. Dia ingin menanyakan hal itu langsung kepada Adinda, apakah istrinya itu jujur atau tidak kepadanya nanti.


Dimas membuka pintu kamar. Dilihatnya Adinda sedang menelpon seseorang. Dimas tersenyum nakal. Dia ingin mengganggu Adinda agar berhenti menelpon.


Dimas mendekati Adinda lalu memeluknya dari belakang dan menyurukkan kepalanya di leher Adinda.


"Dimas!!" teriak Adinda kaget.


[Kenapa Din, teriak-teriak. Kamu telpon aku, lagi ehem-ehem apa]


Sinta sudah tertawa cekikikan di seberang sana.


[Ngomong apa sih kamu, Sin. Sembarangan aja. Ini Dimas ngagetin aku tahu nggak!]


Dimas semakin menjadi-jadi aksinya menggoda Adinda yang belum juga memutuskan telponnya.


[Ya, udah. Besok kita lanjut lagi. Jangan-jangan Dimas mau minta jatah, tuh]


Sinta terkekeh sebelum memutuskan sambungan telpon dari Adinda.


Adinda menyingkirkan ponselnya setelah menutup telpon. Dia lalu membalik badannya menghadap Dimas.

__ADS_1


"Aku pikir masih betah di depan laptop" sindir Adinda.


"Aku kepikiran, pasti ada yang nggak bisa tidur sendirian" balas Dimas menyindir. Adinda memanyunkan bibirnya. Dimas tahu saja kalau dia belum bisa tidur.


"Din, aku mau tanya sesuatu" ujar Dimas menatap Adinda.


"Apa?" Adinda tersenyum membalas tatapan suaminya.


"Tadi kamu bertemu siapa?"


"Apa penting buat kamu?" Adinda balik bertanya.


"Penting. Apapun yang kamu lakukan di luar rumah, aku harus tahu" jawab Dimas serius.


"Aku hanya bertemu teman lama. Wanita, kok" jawab Adinda.


"Siapa?"


"Mas, kamu tidak perlu tahu dengan detil aku bertemu dengan siapa, yang penting aku kan kasih tahu kamu kalau aku bertemu teman" jawab  Adinda tidak suka.


"Kenapa aku tidak boleh tahu kalau kamu bertemu dengan Hasna?" tuduh Dimas langsung. Adinda tercekat. Bagaimana Dimas bisa tahu kalau dia tadi bertemu dengan Hasna.


"Kenapa kamu ingin tahu sekali?" tanya Adinda malah curiga dengan Dimas.


"Apa kamu punya hubungan dengan Hasna sebelumnya?" selidik Adinda memancing Dimas.


Selama Dimas bercerita waktu itu dia memang tidak menyebutkan siapa nama gadis yang pernah dijodohkan dengannya dulu.


Kini balik Dimas yang tercekat. "Apa Hasna sudah menceritakan juga tentang perjodohan itu kepada Adinda" batin Dimas.


"Kenapa kamu diam? Jawab pertanyaanku, Mas" desak Adinda.


"Iya. Dia gadis yang dulu ingin dijodohkan papa denganku" jawab Dimas pelan.


"Mas, Hasna terobsesi sekali dengan kamu sampai dia rela ingin menjadi istri kedua kamu" ujar Adinda cemberut.


"Kamu mengizinkannya?" canda Dimas.


"Dimas!!" teriak Adinda sambil melototkan matanya kepada Dimas. Dimas terkekeh melihat reaksi Adinda.


"Din, aku nggak ada perasaan apa pun dengan Hasna. Kalau kamu mengizinkan dia menjadi istri keduaku demi persahabatan kamu, maka kewarasan kamu harus diperiksa" ujar Dimas menatap tajam manik Adinda.


Adinda pun tertawa kecil. "Justru karena aku waras, aku nggak akan mengizinkan siapa pun menjadi istri kedua kamu" balas Adinda geram.


"Pintar sekali istriku ini" puji Dimas lalu menarik badan Adinda agar lebih dekat dengannya. Adinda tersenyum.

__ADS_1


Wajah mereka berdua kini beradu. "Aku hanya mencintai satu wanita yaitu kamu. Di hatiku tidak ada tempat untuk wanita lain" ucap Dimas tersenyum, lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Adinda. Malam pun menjadi hangat dengan menyatunya dua insan yang cintanya kini semakin membara.



__ADS_2