
Adinda tiba di sekolah dengan terburu-buru. Dia ingin segera menemui Sinta. Bicara lewat telpon tidak akan membuat Adinda puas, makanya dia menahan diri untuk tidak menelpon Sinta.
"Sin ... Sinta!!" panggil Adinda melihat Sinta melintas di dekat parkiran. Sinta baru saja memarkir motor maticnya.
"Ada apa sih, Din ?" Sinta penasaran kenapa Adinda sampai menunggunya di parkiran.
"Sini kamu!" Adinda menarik tangan Sinta agar menjauh sedikit dari parkiran.
"Apa sih, Din. Penting banget, ya?" ujar Sinta sewot Karen tangannya ditarik-tarik oleh Adinda.
"Kamu sudah tahu kan, siapa laki-laki yang dicintai Hasna?" tuduh Adinda dengan raut wajah marah kepada Sinta.
Sinta tampak gelagapan. Dia sengaja tidak mau memberitahu Adinda tentang siapa laki-laki itu. Karena Adinda pasti akan terkejut, itu yang Sinta pikirkan. Dia memikirkan perasaan Adinda.
"Bicara Sin, kenapa kamu diam saja?" desak Adinda menatap geram Sinta yang masih belum mau jujur dengannya.
"Aku..." lidah Sinta mendadak keluh. Dia tidak berani menyebut nama laki-laki itu.
"Kamu nggak berani bilang kalau laki-laki itu ternyata Dimas, suamiku. Iya, kan!!" teriak Adinda.
Mata Sinta membulat. "Bagaimana Adinda bisa tahu" batinnya.
"Kamu tahu dari mana?" cicit Sinta.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Hasna ada di perusahaan Dimas. Kemarin aku mampir ke sana untuk menemui Dimas, tapi apa yang aku temui. Sungguh di luar dugaanku" ujar Adinda tersenyum miris.
"Kenapa ini harus terjadi kepadaku. Aku tidak mau nanti Hasna menyalahkan aku, kalau aku telah merebut calon suaminya" lanjut Adinda sedih.
"Din, ini yang aku takutkan. Makanya aku tidak mau memberitahu kamu" tatap Sinta ikut merasa prihatin.
"Apa aku salah, Sin?" tanya Adinda.
"Nggak. Kamu nggak salah, Din. Ini semua terjadi karena takdir Allah" jawab Sinta menyakinkan.
"Jadi, aku harus bagaimana?" tanya Adinda.
"Lebih baik Hasna tidak usah tahu siapa suamimu" saran Sinta.
"Nggak bisa, Sin. Dia udah ketemu dengan Dimas dan perasaan cintanya kepada Dimas masih ada. Itu sama saja aku memberi peluang dia untuk mendekati Dimas kalau aku tidak memberitahu Hasna bahwa Dimas itu suamiku" tolak Adinda.
Sinta terdiam. Suara bel masuk pun telah berbunyi. "Nanti kita lanjutkan lagi. Udah bel masuk" ujar Sinta mengingatkan.
Adinda mengangguk setuju. Mereka meninggalkan area parkiran lalu berjalan menuju ruangan guru.
Setelah dua jam pelajaran pertama berakhir. Sinta buru-buru mencari Adinda di ruangan guru. Benar saja, Adinda sudah duduk di balik mejanya. Dia sudah lebih dulu sampai di ruangan guru.
"Din" panggil Sinta sambil mendekati Adinda.
"Apa?" sahut Adinda.
__ADS_1
"Din, Hasna tadi chatting denganku. Dia mau mengajak kita bertemu di tempat kemarin. Gimana?" ujar Sinta memberitahu.
"Pulang dari sekolah nanti?" tanya Adinda.
"Iya. Katanya besok dia udah akan pulang ke kotanya" jawab Sinta.
"Oke. Kalau begitu aku mau mengabari Dimas dulu untuk tidak menjemput ku" ujar Adinda lalu mengambil ponselnya di dalam tas.
"Dimas ngasih izin nggak, ya? Sekarang orangnya banyak tanya banget kalau aku nggak mau dijemput" batin Adinda sambil tangannya menggeser layar ponsel, mencari nomor kontak Dimas.
(Mas, pulang nanti aku ikut Sinta. Nggak usah jemput, ya)
(Mau ke mana?)
(Ke mall)
(Mall yang kemarin?)
(Iya. Nanti aku kabari kalau mau pulang)
Tidak ada balasan lagi dari Dimas. "Gimana? Dimas ngasih izin kamu, kan?" tanya Sinta. Adinda hanya mengangguk sambil melihat lagi isi pesannya kepada Dimas.
"Kayaknya ini pesan bukan minta izin deh, tapi sekedar pemberitahuan saja" Adinda menahan senyumnya.
***
"Hai, Na. Udah lama menunggu?" sapa Sinta menghampiri Hasna yang sudah duduk di tempat yang sudah dia pesan.
"Nggak juga. Kalian mau pesan minuman apa?" tawar Hasna tersenyum.
"Aku sama aja dengan kamu, Sin" ujar Adinda.
Sinta lalu melihat daftar menu makanan dan minuman yang ada di tangannya. "Aku pesen jus mangga aja. Adinda juga."
Hasna memanggil waiters untuk menambahkan pesanannya.
"Gimana pertemuan kamu kemarin?" Sinta membuka percakapan di antara mereka setelah memesan minuman tadi. Adinda tampak melirik Sinta.
"Alhamdulillah lancar. Kerja sama antar perusahaan tetap berlanjut" jawab Hasna tersenyum.
"Kalian tahu nggak gimana rasanya aku bertemu dengan dia kembali?" sambung Hasna menatap Sinta dan Adinda silih berganti.
"Gimana?" tanya Sinta ingin tahu. Sementara Adinda no comment.
"Dia tambah ganteng aja. Wajahnya baby face banget, awet muda. Kalian tahu nggak, jantungku berdebar kencang ketika bertemu dengannya kemarin" ucap Hasna merasa malu.
"Na, dia udah jadi suami orang" ujar Sinta mengingatkan.
"Aku tahu, Sin. Aku juga nggak keberatan kok untuk jadi istri keduanya" celetuk Hasna.
__ADS_1
"Hasna!!" teriak Adinda tanpa sadar.
"Kenapa, Din?. Nggak salah kan, menjadi yang kedua. Bila perlu aku akan menemui istrinya untuk meminta izin" ucap Hasna percaya diri.
Adinda dan Sinta saling pandang. Hati Adinda memanas ketika mendengarkan ucapan Hasna yang begitu berani itu.
"Kamu kok yakin sekali, Na. Apa dia mencintai kamu?" Sinta memberanikan diri menanyakan hal itu.
"Menurut kalian, apa aku tidak layak untuk dicintai oleh laki-laki seperti dia?" tanya Hasna serius.
Adinda hanya membisu. Sementara Sinta melirik Adinda, dia bisa merasakan apa yang dirasakan Adinda saat ini.
"Sejak SMA aku memendam perasaan cintaku kepadanya. Saat tahun kedua orang tuaku mengajak pindah ke kota lain. Aku begitu sedih karena tidak akan bertemu lagi dengannya. Tapi ketika aku akan dijodohkan dengan laki-laki yang ternyata adalah dia, cinta pertamaku. Aku bahagia sekali" cerita Hasna dengan wajah berbinar.
"Tapi, dia tidak mau melanjutkan perjodohan kami karena wanita lain, yang sekarang sudah menjadi istrinya" sambung Hasna kini dengan wajah begitu sedih dan terluka.
"Kalau saja dia tidak menemukan wanita itu, mungkin aku sudah menjadi istrinya" sambung Hasna menyeka sudut matanya yang berair.
"Na, semua sudah takdir Allah. Laki-laki itu bukan jodoh kamu. Jangan mengharapkan laki-laki yang sudah menjadi suami orang lain" ujar Sinta mengingatkan.
"Ya Allah, aku tidak tahan lagi ada di sini" batin Adinda nyesek.
Sinta sesekali memperhatikan Adinda yang tampak diam membisu. "Sebaiknya aku mengajak Adinda pulang saja" batin Sinta ikut merasakan aura tak enak.
"Sebenarnya aku mau mengajaknya bertemu, tapi besok aku sudah harus kembali ke kota ku. Tiket pesawat sudah dipesan." gumam Hasna tanpa ekspresi.
"Ya Allah, mau ngapain lagi Hasna menemui Dimas. Urusan bisnis kan udah selesai" Adinda hanya membatin di dalam hatinya.
"Hmm. Na, aku nggak bisa lama-lama anakku sore ini mau pergi mengaji. Adinda juga katanya tadi mau mampir ke rumah orang tuanya, ada yang mau diambil. Ya, nggak, Din" toleh Sinta ke arah Adinda seolah memberi kode agar mereka pulang.
"Ah iya, Na" timpal Adinda.
"Oh, ya udah. Kalau begitu sampai ketemu lagi, ya" ucap Hasna.
"Kami pulang dulu, ya" pamit Sinta kemudian diikuti oleh Adinda.
Mereka bertiga pun bersama-sama meninggalkan food court. Hasna pergi kembali ke hotel. Sementara Adinda ikut Sinta keluar dari area mall.
"Makasih, Sin. Kamu punya inisiatif agar kita cepat pulang" ujar Adinda merasa lega.
"Aku juga bingung, mau komen apa ketika dia cerita tentang perasaannya" ucap Sinta.
"Iya, Hasna membicarakan Dimas terus. Aku tidak tahan lagi. Dia ternyata masih mengharapkan Dimas, sampai rela mau jadi istri kedua segala" ucap Adinda kesal.
"Aku nggak tahu gimana reaksi Hasna kalau sampai dia tahu kalau Dimas itu suami kamu. Untuk sementara aman karena besok dia udah nggak ada di kota ini lagi" ujar Sinta sambil berpikir.
"Ya udah, Sin. Aku naik taksi aja, deh. Makasih, ya" pamit Adinda turun dari motor Sinta.
Mereka berdua pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Adinda lanjut naik taksi, dia sengaja tidak mau dijemput oleh Dimas.
__ADS_1