Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 19: Ada Apa Dengan Hasna


__ADS_3

Adinda tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan teman SMA-nya. Hasna bukan saja temannya ketika di SMA yang hanya satu tahun mereka di sekolah yang sama, tetapi sudah sejak SMP mereka satu sekolah. Kini gadis itu telah bermetamorfosa menjadi gadis yang cantik dan elegan. Ya, apalagi dengan Hasna bekerja di perusahaan papanya sendiri. Tentunya punya modal untuk mempercantik diri dengan berbagai macam perawatan kecantikan.


"Kenapa sampai laki-laki yang diceritakan Hasna itu menolaknya?" batin Adinda penasaran.


Karena waktu pertemuan itu Adinda pulang lebih dulu, pastilah Hasna sudah banyak bercerita dengan Sinta. Adinda pun mencari Sinta untuk menanyakan hal itu kepadanya. Dia tidak mau ketinggalan info tentang teman lamanya itu.


Salah satu siswa memberitahu Adinda bahwa Sinta berada di perpustakaan sedang mengawasi siswa belajar di sana. Adinda kemudian berjalan menuju ke sana dan berpapasan dengan Amanda di koridor kelas. Dia cuek saja melewati Amanda tanpa senyuman sedikit pun. Hatinya masih terluka dan belum bisa berdamai dengan Amanda. Adinda hanya butuh waktu untuk menata hatinya kembali agar bisa melupakan kejadian itu.


"Sin ... Sinta!" panggil Adinda memunculkan wajahnya di balik pintu perpustakaan.


"Masuk aja, Din" perintah Sinta. Adinda lalu masuk ke dalam perpustakaan dan duduk di samping Sinta.


"Kamu nggak ada jam mengajar?" tanya Sinta.


"Nggak, nanti dua jam terakhir baru aku masuk ke kelas" jawab Adinda sambil memperhatikan siswa kelas Sinta sedang mengerjakan tugas di meja baca perpustakaan.


"Sin, Hasna cerita apa aja setelah aku pulang kemarin. Dia cerita sama kamu nggak tentang calon suami yang telah menolaknya itu?" tanya Adinda lagi.


Sinta sempat terdiam mendengarkan pertanyaan Adinda. Hasna memang sempat melanjutkan ceritanya tentang laki-laki itu.


"Apa Adinda harus ku beritahu juga, ya?. Dinda baru saja mendapat musibah gara-gara Amanda. Kalau aku beritahu tentang ini, apa nggak akan menambah masalah baru buat Adinda" batin Sinta galau.


"Mmm. Laki-laki itu teman SMA-nya" ujar Sinta memulai cerita.


"Hm. Pasti laki-laki itu teman SMA-nya yang satu kota dengan Hasna sekarang" timpal Adinda. Sinta hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Adinda.

__ADS_1


"Terus..." ucap Adinda makin kepo.


"Setelah kuliah, mereka bertemu kembali ketika papa Hasna mau menjodohkannya dengan anak dari teman papanya itu. Tapi belum sempat perjodohan itu berlanjut, papa laki-laki itu meninggal dunia dan tidak ada kabar lagi tentang perjodohan itu. Padahal Hasna sudah berharap perjodohan itu berlanjut ke jenjang pernikahan meskipun mereka masing-masing masih kuliah"Sinta melanjutkan ceritanya.


"Kenapa sampai tidak ada kabar lagi dari laki-laki itu?" Adinda tampak berpikir.


"Mereka kan, tinggal di kota yang berbeda. Laki-laki itu melanjutkan usaha papanya dan tidak memikirkan perjodohan itu lagi" jelas Sinta menatap Adinda.


"Oh, mereka beda kota, ya. Jadi laki-laki itu ada di kota ini?" tanya Adinda lagi. Sinta hanya mengangguk, mengiyakan.


"Tapi kenapa Hasna tidak mencoba menanyakan lagi kepada laki-laki itu?" pikir Adinda.


"Apa Hasna pernah menanyakan perjodohan tersebut kepada laki-laki itu?" tanya Adinda lagi kepada Sinta.


"Pernah, saat itu mereka sudah sama-sama selesai kuliah. Papa Hasna berkunjung ke perusahaan laki-laki itu yang dulu dipimpin oleh papa laki-laki itu. Ternyata laki-laki itu tidak bisa melanjutkan perjodohan yang diinginkan oleh papanya karena laki-laki itu sudah menemukan wanita yang dicintainya selama ini. Hati Hasna pun hancur berkeping-keping mendengarnya. Sejak itu dia tidak mau menginjakkan kaki lagi di kota tempat laki-laki itu berada" jawab Sinta.


"Jadi laki-laki itu telah menikah dengan wanita yang dicintainya?" tanya Adinda semakin kepo. Sinta hanya mengangguk.


"Terus bagaimana? Hasna bukannya mau bertemu dengan laki-laki itu lagi?" tanya Adinda lagi teringat dengan ucapan Hasna di food court kalau dia mau mewakili papanya untuk bertemu laki-laki itu.


Sinta hanya mengangguk saja, tidak mau banyak komentar lagi. "Jangan sampai Dinda menanyakan siapa nama laki-laki itu" Batin Sinta menggigit bibirnya.


Tet.Tet.Tet.


Bel istirahat berbunyi, Adinda dan Sinta meninggalkan perpustakaan kembali menuju ke ruangan guru.

__ADS_1


***


Ketika pulang mengajar, Dimas memberitahu Adinda bahwa dia tidak bisa menjemput Adinda karena ada meeting.


"Kenapa, Din?" tanya Sinta menghentikan motor maticnya di samping Adinda yang sedang menunggu di teras kantor.


"Dimas nggak bisa jemput" jawab Adinda pelan. "Aku naik bis aja, deh"


"Ya, udah. Hati-hati, Din" pamit Sinta mendahului Adinda.


Entah kenapa Adinda tiba-tiba turun dari bis menuju ke arah perusahaan Dimas. Walaupun suaminya itu sedang meeting, Adinda akan menunggu saja di ruangan Dimas. Akhirnya memutuskan untuk mampir ke kantor Dimas.


Adinda masuk melalui pintu lobi. "Selamat siang, Bu Dinda" sapa security yang sedang menjaga di pintu lobi perusahaan.


"Siang juga, Pak. Pak Dimas masih meeting, ya?" balas Adinda menyapa Pak Amad, begitulah nama yang tertera di bajunya.


"Meetingnya udah lama juga, Bu. Mungkin udah selesai" jawab Amad.


"Makasih infonya, Pak. Saya ke atas dulu, ya" pamit Adinda.


"Silahkan, Bu" ujar Pak Amad ramah.


Adinda berlalu dari pintu masuk lobi dan berjalan melewati lobi menuju ke arah pintu lift. Baru berapa langkah, Adinda lantas mengurungkan niatnya berjalan ke arah lift.


Adinda melihat Dimas sedang berjalan beriringan dengan seorang wanita berjilbab yang sangat anggun dan elegan. Mereka baru saja keluar dari lift.

__ADS_1


Adinda terkejut bukan main. Dia benar-benar tidak menyangka akan melihat pemandangan yang dapat membuat hatinya bergemuruh.


__ADS_2