Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 33: Selingkuh?


__ADS_3

Ketika weekend, Sinta mengunjungi rumah mertuanya. Suaminya sedang tugas keluar kota. Sejak suaminya naik jabatan di tempatnya bekerja, kehidupan Sinta berkecukupan. Sebelum Sinta mengetuk pintu rumah mertuanya, dia mendengar suara ibu mertuanya yang cukup besar sedang berdebat dengan ayah mertuanya.


"Hendra itu sudah punya istri, Bu. Ngapain juga mau didekatkan dengan wanita itu" protes ayah mertua Sinta.


"Mayang bilang sendiri dengan ibu kalau dia mencintai Hendra, Yah"


Sinta menutup mulutnya dengan tangan. Dia sangat terkejut mendengarkan ucapan ibu mertuanya itu.


"Karena Mayanglah, Hendra bisa berada di posisinya sekarang ini. Lagipula Hendra sepertinya juga menyukai Mayang"


"Jadi maksud Ibu, Hendra harus menikahi wanita itu!"


Sinta mengurungkan niatnya untuk bertamu ke rumah mertuanya. Dia bersama anaknya cepat-cepat meninggalkan rumah itu.


"Mama, kenapa menangis?" tanya Alika, anaknya.


"Nggak apa, Sayang. Mata Mama hanya kemasukan debu saja" jawab Sinta sambil tersenyum mengelus puncak kepala putrinya.


Hati Sinta mendadak cemas, di luar kota suaminya pasti sedang bersama dengan wanita yang bernama Mayang itu. Tidurnya pun menjadi tidak nyenyak. Hendra juga biasanya menelpon jika tugas di luar kota. Tapi kali ini suaminya tidak memberi kabar. Sinta tidak merasa curiga, sehingga dia pun tidak ambil pusing. Ketika dia menghubungi suaminya, ponsel suaminya juga tidak aktif.


Di sekolah wajah Sinta tampak murung. Hati istri mana yang tidak sakit mendengar ucapan ibu mertuanya yang mendukung anak laki-lakinya untuk menikah lagi.


"Tidak!!. Aku tidak mau berbagi suami. Lebih baik Bang Hendra menceraikan aku dulu sebelum dia menikah dengan wanita itu" teriak batin Sinta.


"Sin ... Sinta!!" panggil Adinda melihat tatapan mata Sinta yang menerawang. Temannya itu sedang melamun. Adinda menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Sinta.


"Eh, kamu, Din" Sinta tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa?. Seperti ada yang dipikirkan" tanya Adinda kemudian duduk di samping Sinta.


"Din, apakah seorang suami setelah mapan dan sukses akan mencari wanita lain yang lebih cantik dan muda darinya?" tanya Sinta tiba-tiba. Adinda mendadak bingung mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Sinta.

__ADS_1


"Ya, tergantung. Kalau dia tipe suami setia, dia tidak akan mudah tergoda. Dia akan ingat siapa yang telah menemaninya ketika dia belum sukses. Tapi kalau dia bukan tipe suami setia, ya, dia akan dengan mudah pindah ke lain hati" jawab Adinda melihat wajah Sinta yang tampak murung. Sahabatnya itu tidak terlihat ceria hari ini.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Adinda.


"Suamiku selingkuh" jawab Sinta pelan.


"Astaghfirullah. Bang Hendra?. Nggak mungkin, Sin. Bukannya Bang Hendra sangat mencintai kamu sampai dia yang mengejar-ngejar cinta kamu" ucap Adinda tidak percaya.


"Sejak dia naik jabatan, Bang Hendra sering ke luar kota. Aku tidak tahu kalau pekerjaannya di sana ada seorang wanita. Aku juga mendengar langsung dari mulut ibu mertuaku yang mendukung dia dan wanita itu" jelas Sinta dengan suara pelan. Matanya berkabut. Dia menahan diri agar tidak menangis di dalam kantor.


"Ya, Allah!" seru Adinda sambil menutup mulutnya dengan tangan karena masih tidak percaya atas apa yang telah di dengar telinganya.


Setahu Adinda, suami Sinta laki-laki yang sholeh. Memang sekarang Sinta tidak lagi tinggal di rumah kontrakannya yang kecil. Dia sudah pindah ke rumah sendiri yang telah dibeli oleh suaminya.


"Pikirkan dengan jernih, Sin. Jangan hanya menduga. Kamu harus membicarakan hal ini dengan suamimu. Kalau ternyata dia jujur dan lebih memilih wanita itu, baru kamu mengambil tindakan. Ada Alika di antara kalian, itu yang perlu dipikirkan" nasihat Adinda.


"Iya. Aku akan menunggu dia pulang untuk membicarakan hal itu. Hari ini jadwal dia pulang dari luar kota" ucap Sinta dengan wajah sendu.


Dia begitu cinta dan menghormati laki-laki yang 5 tahun lebih tua darinya itu. Tapi dia tidak sanggup jika harus dimadu.


"Dimas ulang tahun, ya?" tanya Sinta.


"Nggak, sih. Mau ngasih hadiah nggak harus dia sedang ulang tahun, kan" jawab Adinda.


"Iya, tapi kamu jangan lupa mengabari Dimas kalau mau pergi denganku" ujar Sinta mengingatkan Adinda.


Adinda hanya menganggukkan kepala. Mereka kemudian menjalankan aktivitas mengajar di kelas masing-masing. Ketika jam istirahat, Adinda menghubungi Dimas untuk memberitahunya agar tidak usah menjemputnya di sekolah.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dimas.


"Aku mau ke mall dengan Sinta sebentar" jawab Adinda.

__ADS_1


"Din, kamu itu sedang hamil. Jangan keluyuran kemana-mana" ujar Dimas mengingatkan istrinya itu.


"Mas, sebentar saja" rengek Adinda manja.


"Oke ... Oke. Hati-hati, ya. Sampaikan pesanku kepada Sinta, bawa motornya pelan-pelan saja"  Dimas akhirnya menyerah juga. Adinda tidak bisa dilarang kalau sudah ada keinginan.


Tiba di mall


Adinda mengajak Sinta ke tempat pakaian pria. Dia mau membelikan Dimas kemeja dan baju kaos. Setelah mendapatkan kemeja dan baju kaos pilihannya, Adinda mengajak Sinta untuk mengisi perut. Maklum ibu hamil cepat lapar.


"Dimas pasti cerewet sekali, ya, kamu hamil begini?" gumam Sinta.


Adinda tertawa kecil. "Iya, dia dan mamanya sama saja. Malah dia lebih cerewet dari mama mertuaku."


"Sin, kita ke food court itu saja. Di sana ada es campurnya" tunjuk Adinda ke salah satu food court. Sinta pun mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan menuju ke sana.


Tiba di pintu masuk, Sinta menarik tangan Adinda. Menahan langkah kakinya untuk tidak masuk ke dalam food court itu. Sinta melihat sosok suaminya dengan seorang wanita di salah satu meja. Hendra tampak menunjukkan kotak kecil yang berisi perhiasan kepada wanita itu dan wanita cantik itu tersenyum menerimanya. Sinta tidak tahan lagi melihat pemandangan itu. Bukannya dia tidak mau melabrak mereka berdua. Sinta masih punya harga diri dan tidak mau mempermalukan dirinya sendiri di tempat umum. Dia membalikkan badannya menjauh dari food court tersebut.


Adinda yang juga ikut melihat pemandangan itu bisa merasa bagaimana sakitnya dikhianati oleh orang yang sangat dia cintai.


"Maaf, Din. Kita cari tempat makan lain saja" lirih Sinta menahan sesak di dadanya.


"Iya. Masih banyak tempat lain. Atau kita langsung pulang saja" ujar Adinda mengerti dengan suasana hati Sinta yang sedang kacau sekarang.


"Tidak apa. Kamu sudah lapar kasihan bayimu nanti" ucap Sinta mencoba untuk tersenyum. "Ayo, aku juga lapar, kok."


Adinda tersenyum tidak enak. Dia tahu Sinta memaksakan dirinya untuk menemaninya makan.


"Kamu lihat sendiri, kan" ucap Sinta sembari makan.


Adinda mengangguk. Dia melihat suami Sinta memberikan sebuah perhiasan kepada wanita itu. Dia yang bukan istrinya saja begitu perih melihat pemandangan tadi. Apalagi Sinta, hatinya pasti hancur berkeping-keping.

__ADS_1


"Dia tidak langsung pulang ke rumah, tapi justru pergi ke mall bersama wanita itu" ucap Sinta dengan wajah marah.


Adinda bengong melihat Sinta sudah melahap habis makanan di piringnya. Wah, kalau sedang emosi begitu Sinta parah sekali, ya. Adinda menahan senyumnya melihat Sinta yang juga telah menghabiskan minumannya.


__ADS_2