Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 42: Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

Adinda membuka pelan pintu ruangan kerja suaminya. Dia tersenyum melihat Dimas tampak khusyuk membaca sesuatu di atas meja kerjanya. Adinda menebak kalau itu adalah berkas laporan yang belum sempat diperiksanya atau juga proposal yang meminta bantuan di perusahaannya.


"Mas ..." panggil Adinda. Dia masih berdiri di depan pintu.


Dimas mengalihkan pandangannya ke arah pintu. "Ada apa?. Kemarilah dulu, jangan berdiri di sana" ujar Dimas.


Adinda berjalan pelan mendekati Dimas. Dari mulutnya mengalir cerita mengenai Hasna dan Hamish yang sedang berada di ruang tamu. Dimas berdiri dari tempat duduknya. Cerita istrinya membuatnya mengabaikan pekerjaannya sejenak.


"Mereka kenal di mana?" tanya Dimas.


"Mereka kan sama-sama pengusaha, Mas. Kayaknya sering bertemu karena itu" tebak Adinda karena dia belum tahu pasti dari Hasna.


Kalau Hamish tidak mengajak Hasna ke rumah mertuanya, mereka juga tidak akan tahu.


"Jadi aku harus mengantar mereka ke hotel malam ini?" tanya Dimas.


"Iya, jadi besok pagi Hamish tidak merepotkan Mas karena Mas kan mau ke kantor. Dia mau menginap di hotel yang sama dengan Hasna agar bisa pergi bersama ke bandara" jawab Adinda.


"Ya sudah, aku mau ganti baju dulu. Kamu mau ikut nggak?" tawar Dimas.


Adinda mengangguk. Dia juga sekalian mau membeli makanan kecil.


Tak lama mereka menunggu Dimas berganti pakaian, laki-laki tampan itu sudah bergabung di ruang tamu.


"Sudah siap?" tanya Dimas melihat Hamish dan Hasna secara bergantian.


"Iya, udah malam ini. Ayo, Mas" ajak Hamish.


Hasna merasa lega melihat Adinda ikut juga bersama mereka. Dia akan merasa canggung sekali bersama dengan kedua laki-laki tampan itu jika Adinda tidak ikut.


"Kalau sudah pergi bareng begini, tinggal minta restu lagi" celetuk Dimas sambil menyetir mobilnya.


Hamish hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Dimas. "Kamu setuju kan, Na" pancing Dimas.


Hasna melirik Adinda sambil tersenyum malu. "Bang Hamish itu banyak fansnya, mungkin juga udah ada yang dia suka" elak Hasna.


Dimas tahu kalau Hamish menulis beberapa buku tentang enterpreneur.


"Memangnya kamu tidak ngefans dengan Bang Hamish, Na,?" sindir Adinda. Hasna hanya tersenyum saja tidak menjawab pertanyaan Adinda.


Mobil Dimas pun tiba di depan hotel tempat Hasna menginap.


"Kalian tidak turun lagi?" tanya Hamish kepada Dimas dan Adinda yang masih berada di dalam mobil.


"Nggak, Nyonya ini mau cari makanan kecil" lirik Dimas ke arah Adinda yang masih duduk di belakang.


"Terima kasih, Mas" ucap Hasna. "Din, sampai berjumpa lagi, ya."


Adinda tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada Hasna.

__ADS_1


"Sayang, kamu pindah duduk ke depan sini, dong" protes Dimas.


Adinda pun keluar dari mobil dan pindah duduk di samping Dimas. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan lagi.


"Kamu mau makan apa malam-malam begini?" toleh Dimas sekilas.


"Aku kepingin makan martabak manis, Mas. Isinya kacang campur coklat. Hmm, enak banget" jawab Adinda sambil membayangkan martabak manis yang mau dia beli.


"Nggak kenyang apa makan nasi tadi?" omel Dimas.


Adinda mengerucutkan bibirnya. "Namanya juga kepingin, Mas. Kalau nggak mau, ya udah. Kita langsung pulang saja."


"Orang cuma nanya aja, sensitif banget, sih" ucap Dimas tersenyum sambil mengusap kepala Adinda.


"Siapa yang nggak sensi, yang nawarin mau ikut nganter Hamish dan Hasna tadi siapa" lirik Adinda.


"Iya, siap!!!" sahut Dimas sambil tertawa kecil.


Setelah cukup lama mengantri membeli martabak yang Adinda inginkan, mereka kemudian pulang.


"Mas, Hamish itu serius dengan Hasna atau hanya menganggap teman saja?" tanya Adinda. Dia tidak mau Hasna kecewa lagi dengan perasaannya.


"Sepertinya serius. Dia itu orangnya cuek dengan urusan wanita. Kamu bisa lihat sendiri kan, pulang saja mau bareng Hasna sampai gadis itu harus ikut dulu ke rumah. Padahal bisa saja dia antar Hasna dulu ke hotel terus dia pulang minta antar aku ke hotel" jawab Dimas.


"Iya, ya" gumam Adinda membenarkan ucapan Dimas. "Kalau memang serius, Hasna akan jadi keluarga kamu, dong" sambung Adinda sambil tertawa kecil.


"Maksud kamu ..." Dimas melirik istrinya itu.


"Sayang, apa suami kamu ini kalah ganteng hah" protes Dimas.


"Nggak lah. Kamu itu laki-laki paling tampan yang sudah menaklukkan hatiku" ucap Adinda tersenyum geli sambil mengusap rahang Dimas. Laki-laki tampan itu hanya tersenyum kecil mendengarkan ucapan istrinya.


***


Hasna tidak dapat memejamkan matanya karena teringat dengan sikap Hamish. Entah kenapa dia menurut saja ketika diajak ke rumah Budenya yang ternyata mertua Adinda. Padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Namun mata gadis itu belum juga mau terpejam. Bolak-balik melihat ponsel tidak juga berpengaruh. Ponsel itu pun tergeletak di sampingnya. Hasna menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan dengan gelisah.


"Ya, Tuhan. Kenapa aku belum bisa tidur juga" keluh Hasna sambil memaksakan matanya terpejam.


Drettt. Drettt. Drettt


Ponsel Hasna yang tertindih badannya berbunyi. Hasna segera berbalik dan mengambil ponselnya.


"Bang Hamish!" gumamnya heran sambil menatap layar ponselnya.


"Assalamualaikum" sapa Hasna.


"Waalaikumsalam. Ada apa kamu telpon?" tanya Hamish dari seberang sana. Karena baru saja dia mau memejamkan matanya, ponselnya berbunyi.

__ADS_1


Hasna melebarkan matanya. "Bukannya dia yang menelponku?. Kok, malah bertanya" batin Hasna bingung.


"Bukannya Bang Hamish yang menelponku" ujar Hasna.


"Na, aku baru saja mau tertidur, tapi karena mendengar ponselku berbunyi jadi terbangun" jelas Hamish.


"Ya, Tuhan. Jangan-jangan terpencet sendiri karena tertekan olehku tadi" batin Hasna baru sadar.


"Maaf ya, Bang. Sepertinya terpencet sendiri karena aku tindih tadi"


"Kamu belum tidur?"


"Belum bisa tidur"


"Kenapa?"


"Nggak" Hasna mengelak. Mana mau dia berterus-terang alasan dia tidak bisa tidur karena laki-laki yang sedang berbicara dengannya itu.


"Tidurlah, nanti kesiangan lho" pesan Hamish.


"Kan ada yang akan membangunkan kalau aku kesiangan" canda Hasna.


Hamish tertawa kecil mendengarkan ucapan Hasna.


"Assalamualaikum" Hasna langsung menutup percakapan mereka di telepon. Wajahnya sudah menghangat. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu dengan seorang laki-laki.


Di kamar yang berbeda, Hamish tampak tersenyum memandang layar ponselnya. Dia tahu gadis itu pasti tersipu malu.


Keesokan harinya


Ponsel Hasna berdering nyaring tak henti-hentinya. Bukan alarm yang dipasangnya semalam yang berbunyi tetapi panggilan telpon di ponselnya.


Hasna mengerjapkan matanya sambil tangannya meraba-raba di atas ranjang mencari ponselnya.


Hasna menggeser layar ponselnya dan menempelkannya ke telinga dalam keadaan masih setengah sadar.


"Assalamualaikum" sapa Hasna dengan suara parau ciri khasnya jika baru bangun tidur. Gadis itu belum tahu siapa lawan bicaranya karena langsung angkat saja.


"Waalaikumsalam. Benar-benar kesiangan, ya" ujar suara laki-laki dari seberang sana.


Mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya, Hasna pun terlonjak duduk dan membuka matanya lebar-lebar.


"Bang Hamish" gumamnya dalam hati.


"Hah, jam berapa ini?" tanya Hasna.


"Jam 5 lewat, Na. Kamu belum sholat subuh kan?. Buruan sholat terus mandi dan turun sarapan. Aku tunggu, ya" jawab Hamish.


"Iya" ucap Hasna pelan. Hamish kemudian menutup sambungan telponnya.

__ADS_1


"Ya, Tuhan. Aku semalam tidur jam berapa, ya?. Kok, masih ngantuk sekali. Kalau Bang Hamish tidak menelepon bisa kebablasan sampe siang ini" gumam Hasna sambil beranjak dari atas ranjang.


Gadis itu segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah sholat subuh dia pun melanjutkan aktivitas pagi, membereskan pakaiannya sebelum keluar untuk sarapan pagi.


__ADS_2