Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 3: Air dan Minyak


__ADS_3

“Kamu dari mana?” tanya Dimas ketika mereka di kamar.


”Pergi kok, nggak izin suami” lanjut Dimas menatap Adinda marah.


“Lha, kamu sendiri ke mana? Pergi juga nggak bilang-bilang” sungut Adinda. “Lagipula mama tau kok, aku pergi ke mana?”


“Aku suami kamu, Din. Bukan mama!!” ujar Dimas dengan nada tinggi.


“Suami pergi nggak wajib izin sama istri, tapi istri selangkah sajakakinya keluar dari rumah, wajib izin sama suami” tegas Dimas. Adinda memang perlu diberi peringatan. Pikir Dimas.


Adinda merasa tertohok mendengarkan ucapan Dimas. Dia pikir Dimas tidak akan peduli dengan kepergiannya.


“Tapi paling tidak istri kan tahu suami pergi ke mana walaupun tidak wajib izin” balas Adinda masih tidak mau kalah.

__ADS_1


Dimas berjalan mendekati Adinda. Istrinya benar-benar keras kepala, sudah tau salah tetapi masih tidak mau mengakuinya. Adinda yang sadar dengan gelagat Dimas, berjalan mundur menjaga jarak. Badannya membentur dinding kamar. Dimas mengurung badan Adinda dengan kedua tangannya.


“Mau apa kamu?” tatap Adinda takut melihat senyuman misterius Dimas.


“Jadi ... kamu seorang istri?” tanya Dimas mendekatkan wajahnya.


“Yang harus tau ke mana suaminya pergi” bisik Dimas mesra.


Jantung Adinda berpacu dua kali lipat dari biasanya. Ketika Dimas semakin mendekatkan wajahnya, Adinda memejamkan matanya sambil kedua tangannya menahan dada Dimas. Dia takut Dimas akan melakukan kekerasan kepadanya seperti di film-film. Habislah dia, wanita yang tidak punya kekuatan apapun untuk melawan tenaga laki-laki.


Dimas tersenyum geli melihat Adinda memejamkan matanya dengan muka pucat. "Kau harus bersabar Dimas, menunggu waktu yang tepat, dia hanya belum terbiasa" batin Dimas sambil menatap wajah Adinda.


“Ngapain merem? Ngarep minta dicium lagi, ya” ledek Dimas sambil tersenyum.

__ADS_1


Mata Adinda terbuka lebar menatap jengkel Dimas. Dia sudah berpikiran yang tidak-tidak karena mendengar bisikan Dimas tadi.


“Idih ... siapa juga yang ngarep ... yang ada juga kamu tuh kalau ngelihat aku, pikirannya mesum” balas Adinda mendorong kuat badan Dimas dengan kesal.


Adinda berlari meninggalkan Dimas di kamar. Jantungnya berdebar kencang seperti habis berlari marathon saja. Adinda menarik napas panjang sambil memegangi dadanya yang masih berdebar kencang. Dia menuju ke dapur untuk menenangkan diri.


"Dimas rese!!. Jadi orang kok, nyebelin banget!!" gerutu Adinda kesal lalu meneguk segelas air putih.


"Jantungku rasanya mau copot karena ulahnya tadi. Apa dia dilahirkan untuk menjadi manusia menyebalkan begini?" lanjut Adinda masih kesal dengan sikap Dimas di dalam kamar tadi.


Sementara di kamar, Dimas terkekeh ketika melihat Adinda berlari keluar dari kamar. Dimas menghempaskan badannya ke tempat tidur. Dia suka sekali melihat wajah pucat istrinya tadi. Adinda memang polos. Setahu Dimas sewaktu SMA dulu, Adinda adalah anak rohis yang tidak pernah pacaran. Makanya dia suka sekali menjahili Adinda.


Mereka dua tahun berturut-turut satu kelas. Itu membuat Dimas semakin ketagihan untuk mengusili Adinda. Dimas semakin tertantang jika Adinda mencak-mencak marah kepadanya dan wajah barbie Adinda seketika berubah menjadi boneka Annabelle yang menakutkan. Teman-teman satu sekolah mereka tahu bahkan para guru juga tahu kalau Adinda si anak Rohis dan Dimas anak Paskibra bermusuhan, tidak pernah akur sepanjang sekolah. Bagaikan air dan minyak.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus bersabar membuat mu jatuh ke pelukanku, Adinda Sayang" Dimas tersenyum manis lalu memejamkan matanya.


__ADS_2