Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 45: Dijodohkan


__ADS_3

Hasna mondar-mandir di dalam kamarnya. Malam ini papanya akan mengajaknya makan malam di sebuah restoran. Bukannya dia tidak mau diajak makan, tapi yang menjadi masalahnya dia akan dikenal oleh papanya dengan anak teman istrinya.


"Na, kamu belum siap juga?" tanya mamanya muncul dari balik pintu kamarnya yang tidak dikunci.


Hasna hanya nyengir kuda. "Ayo, buruan ganti baju" ujar mamanya.


"Ma, ngapain aku ikut" rengek Hasna. Dia tidak mau dijodohkan lagi seperti dulu. Buktinya laki-laki yang mau dijodohkan dengannya tidak mau dirinya.


"Na, mama mau mengenalkan kamu dengan anak teman mama. Mama mau kamu menikah tahun ini. Titik" tegas mamanya.


"Ma! Gimana kalau dia tidak suka denganku. Lagipula aku nggak mau dijodohkan" tolak Hasna.


"Eh, nih anak!. Kamu bakalan nyesel kalau nggak mau kenalan dengan dia" ancam mamanya. "Orangnya ganteng dan ramah, Na" ujar Mama Hasna.


Hasna mengerucutkan bibirnya. Dia jadi teringat dengan Hamish. Sudah lama mereka tidak bertemu lagi. Komunikasi via telpon juga jarang karena kesibukan masing-masing. Dia dan Hamish juga hanya berteman meskipun ucapan laki-laki tampan itu kadang suka memancingnya.


"Lho, malah melamun. Hasna!!" panggil mamanya menyadarkan lamunan gadis itu.


"Iya, Ma" sahut Hasna. Gadis itu pun terpaksa berganti pakaian.


Tring!


Sebuah pesan chat masuk di ponsel Hasna. Gadis itu meraih ponselnya.


"Bang Hamish" gumam Hasna.


(Assalamualaikum. Na, kamu ada di rumah?)


(Waalaikumsalam. Maaf Bang, aku dan keluarga mau keluar)


(Oh, ada acara apa?)


(Makan malam dengan teman mama)


(Wah, sayang sekali. Padahal aku mau bertemu dengan kedua orang tuamu)


Hasna melebarkan matanya. "Bang Hamish mau bertemu dengan kedua orang tuaku?. Mau apa?" batin Hasna histeris. "Apa dia mau ... Ya, Tuhan. Bagaimana ini,?."


(Kalau besok, bagaimana?)


Hasna coba menawar. Hamish tersenyum di seberang sana. Kemudian membalas kembali chat dari Hasna.


(Malam besok dan seterusnya aku sudah ada agenda. Hanya malam ini free)


Yahhh. Hasna memanyunkan bibirnya. Dia kecewa.


"Hasna!!" teriak mamanya memanggil dari luar kamar.


(Bang, aku mau siap-siap berangkat. Udah dulu, ya)


(Semoga acaranya sukses, ya)


"Ahhh, sukses apanya. Aku nggak mau dijodohkan. Kenapa kamu nggak ngabari sebelumnya sih, Bang?" ucap Hasna kesal.


"Kamu itu dandan kok lama sekali, Na" omel mamanya ketika melihat Hasna baru saja keluar dari kamar.


Hasna hanya menunjukkan wajah cemberut kepada kedua orang tuanya.


"Ayo, pergi. Nggak enak kalau keluarga Pak Hakim lama menunggu kita di sana" ujar papa Hasna.


Selama diperjalanan wajah Hasna ditekuk. Dia benar-benar kecewa. "Anak siapa lagi yang mau dikenalkan denganku" gerutu Hasna di dalam hatinya.


"Udah, Na. Mukamu itu nggak usah ditekuk melulu" protes mamanya menoleh ke belakang.


"Pokoknya anak teman mama ini ganteng banget. Dia harus jadi menantu mama" sambung mama Hasna.

__ADS_1


"Mama!!" teriak Hasna tidak suka.


"Sudah! Bertemu juga belum kamu kok sudah mau nolak saja, Na" sela papa Hasna.


Hasna tambah memanyunkan bibirnya. Orang tuanya sudah kompak mau menerima laki-laki itu sebagai calon menantunya.


Tiba di restoran, Hasna merasa enggan untuk masuk ke dalam. Namun mamanya menarik tangan gadis itu dan memaksanya masuk ke dalam.


Kedatangan keluarga Hasna disambut oleh keluarga teman mamanya yang sudah datang duluan.


"Maaf ya, Ameera. Kami datang terlambat. Nungguin gadis ini dandan lama sekali" ucap mama Hasna tersenyum tidak enak. Mereka pun berjabat tangan dan cium pipi kanan dan kiri.


"Ini, ya. Anak gadismu, Ris" ujar Ameera melirik ke arah Hasna.


"Iya, saya Hasna, Tante" Hasna menyambut tangan Ameera dan memperkenalkan dirinya.


Hasna melihat di meja tempat mereka akan makan tidak ada orang lain selain Ameera dan suaminya.


"Anakmu mana, Ra?" tanya Risti, mama Hasna.


"Dia kembali ke mobil, ponselnya tertinggal di sana. Dia bawa mobil sendiri" jawan Ameera tersenyum.


"Ayo, duduk" ujar Hakim mempersilahkan keluarga Hasna.


Makanan yang mereka pesan sudah terhidang di atas meja.


"Kalau Hasna mau pesan makanan sesuai selera, pesan saja. Tante pesan semua ini karena tahu makanan kesukaan mama kamu" ucap Ameera.


"Nggak usah Tante, ini sudah cukup kok" tolak Hasna halus.


"Tante Ameera cantik sekali, apa anaknya ganteng dan mirip dia yang berwajah timur tengah begitu. Aduh, kalau melihat Tante Ameera kok aku langsung ingat Bang Hamish, sih" lamun Hasna.


Ameera melihat anak laki-laki baru saja memasuki restoran. Hasna dan kedua orang tuanya duduk membelakangi pintu masuk sehingga tidak bisa melihatnya.


"Ngambil ponsel saja lama sekali" tegur Ameera ketika anaknya sudah dekat.


"Anak Tante Ameera!" teriak hati Hasna.


"Selamat malam, Om dan Tante" sapa laki-laki tampan itu.


"Iya, selamat malam" balas mama Hasna tersenyum sambil melirik Hasna.


"Suara itu ... seperti suara ..." batin Hasna mencoba menebak suara yang tidak asing lagi di telinganya.


"Aku duduk di sini, ya" laki-laki itu tersenyum sambil duduk di samping Hasna yang belum bertemu pandang dengannya.


"Na, kenalkan anak Tante" ujar Ameera melihat Hasna tampak diam saja. "Atau kalian sudah saling kenal."


"Belum ..." Hasna menoleh ke samping dan tidak melanjutkan ucapannya karena kaget melihat wajah laki-laki yang duduk di sampingnya itu.


"Yakin belum kenal" ucap laki-laki berparas Timur Tengah itu tersenyum kecil sambil melihatnya.


"Bang Hamish ... anak Tante Ameera?"  tunjuk Hasna tidak percaya melihat Ameera dan Hamish secara bergantian.


Pak Hakim dan papa Hasna ikut tersenyum geli melihat Hasna yang sudah dikerjai oleh Hamish.


"Ish, apa-apaan Bang Hamish. Tadi chat pake nanyain ada acara apa segala" dumel Hasna di dalam hatinya.


"Gimana, Na?. Nggak salah kan pilihan mama dan papa" bisik mama Hasna yang duduk di sisi kanannya.


Hasna tersenyum malu. Itu artinya kedua orang tua mereka sudah saling tahu bahwa mereka sudah saling kenal.


"Hamish ini orangnya sibuk, susah sekali mengajaknya pergi bersama seperti ini" ujar Ameera.


"Tapi untuk pertemuan hari ini dia tidak bisa mengelak lagi. Kalau tidak lewat ...." sela Pak Hakim, papa Hamish.

__ADS_1


"Sibuk juga kan untuk masa depan, Pa" timpal Hamish sambil melirik Hasna.


"Iya, masa depan itu harus ditegaskan, Nak Hamish. Kalau tidak bisa didahului orang lain" ujar Mama Hasna.


"Iya, betul itu, Ras" ucap Ameera setuju.


"Bagaimana, Pak Reifan?" tanya Hakim kepada papa Hasna.


"Ya, kalau mereka berdua sudah sama-sama cocok kenapa tidak dilanjutkan dengan ikatan resmi" jawab Reifan tersenyum.


"Bagaimana, Na?" tanya Rasti menoleh ke arah anaknya.


"Terserah mama dan papa saja" cicit Hasna tersipu. Dia masih tidak percaya bahwa dirinya akan dijodohkan dengan laki-laki yang dia sukai.


Hasna makan bersama dalam diam dengan jantung berdebar karena duduk di sebelah Hamish. Sementara kedua orang mereka dan Hamish asyik mengobrol.


Setelah makan malam selesai, orang tua Hamish meminta anaknya untuk mengantar Hasna dengan mobilnya. Kedua orang tua mereka sengaja membiarkan mereka berdua saja.


"Naiklah" ujar Hamish membukakan pintu mobil untuk Hasna.


Gadis itu perlahan masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi.


"Na, aku mau memberikan sesuatu untuk kamu" ucap Hamish sebelum menjalankan mobilnya.


"Apa?" toleh Hasna penasaran.


Hamish mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil buludru berwarna merah. Hamish kemudian memberikan kotak perhiasan tersebut kepada Hasna.


"Apa ini?"


"Bukalah" perintah Hamish tersenyum.


Hasna tersenyum melihat cincin pemberian Hamish.


"Sebenarnya tadi mau aku berikan di depan orang tuamu, tapi aku lupa" ucap Hamish.


"Terima kasih" ucap Hasna sambil memasukkan cincin bermatakan berlian itu ke jari manisnya.


"Kok, bisa pas" sambung Hasna sambil menunjukkan jemarinya yang sudah memakai cincin pemberian Hamish.


"Tahu, dong" Hamish tersenyum kemudian menyalakan mobil dan meluncur meninggalkan area restoran.


"Abang pura-pura chat denganku tadi, maksudnya apa?" tanya Hasna teringat kembali betapa kesalnya dia mau dijodohkan tadi. Mana dia tahu kalau mau dijodohkan dengan Hamish.


"Aku udah menemui orang tua kamu sebelumnya. Dan aku juga sudah cerita tentang kamu dengan orang tuaku. Ternyata mamaku kenal dengan mama kamu, Na" jelas Hamish tetap fokus menyetir.


"Aku pikir Abang hanya menganggapku sebagai teman saja" gumam Hasna.


"Iya ... teman hidupku nanti" timpal Hamish.


Hasna menoleh kearah Hamish begitupun sebaliknya. Pandangan mereka bertemu sejenak. Kemudian keduanya membuang muka sambil tersenyum malu.


Wajah Hasna menghangat. "Aku telah dilamarnya" batin Hasna bahagia.


"Sebenarnya aku ragu untuk menerima Abang" ucap Hasna menunduk.


Hamish mengerem mobil dengan tiba-tiba. Untung mobilnya sudah memasuki area perumahan rumah orang tua Hasna. Gadis itu begitu kaget, kalau dia tidak memakai safety belt-nya, kepalanya bisa terbentur ke depan.


"Kenapa?" tanya Hamish kaget.


"Abang tadi bilang kalau setiap malam sibuk, istrinya pasti akan terabaikan" jawab Hasna mengingat chat Hamish dengannya tadi.


"Kalau belum ada istri aku menyibukkan diri dengan aktivitas lain di luar kantor, janjian dengan teman karena jarang bertemu. Tapi kalau sudah ada istri tentunya akan berbeda. Aku tidak akan mengabaikannya" jelas Hamish serius.


"Udah, Bang. Jalan lagi" ujar Hasna tersenyum ingin mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Hamish kemudian menjalankan lagi mobilnya. "Bagaimana bisa aku mengabaikan kamu, Na. Belum menjadi istri saja kamu sudah memenuhi pikiranku" batin Hamish menyunggingkan senyuman.



__ADS_2