Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 41: Terkejut


__ADS_3

Hamish mematut diri di depan cermin. Dia hanya memakai kemeja yang ngepas di tubuhnya, membuatnya semakin menawan. Setelah yakin bahwa dirinya telah merasa rapi, Hamish pun keluar dari kamar.


"Mau ke mana kamu?. Sudah rapi dan wangi begitu?" tanya Dimas ketika melihat sepupunya keluar dari kamar.


"Mau makan malam di luar" jawab Hamish.


"Hmm, dengan seorang gadis?" tebak Dimas. Hamish hanya tersenyum.


"Jangan sembarangan mengajak anak gadis orang di kota ini" ujar Dimas mengingatkan.


"Kami dari kota yang sama. Kebetulan dia sedang ada pekerjaan juga di sini, Mas. Jadi aku gunakan untuk pendekatan dengannya" jelas Hamish.


"Oh ... Kalau begitu kamu bisa kenalkan dia kepada kami untuk tes mentalnya" ucap Dimas bercanda tapi serius.


"Boleh juga. Itu kalau dia mau, lho" ujar Hamish tertawa kecil lalu berpamitan pergi.


"Mau ke mana Hamish, Mas?" tanya Adinda mendekati Dimas.


"Dinner di luar. Ayo, kita makan" ajak Dimas sambil merangkul pinggang Adinda.


"Lho, Hamish ke mana?. Mama dengar kamu tadi ngobrol dengan dia, Mas" tanya mama Dimas yang sudah menunggu di meja makan.


"Mau makan malam di luar, Ma" jawab Dimas sambil menarik kursi untuk Adinda duduk. Istrinya itu pun duduk kemudian mengambil nasi untuk Dimas.


"Makan yang banyak, Din" ujar Mama Dimas.


"Iya, Ma" sahut Adinda.


"Nggak perlu takut gendut. Wanita hamil memang gendut, Mas. Jadi nggak usah protes" sambung mama Dimas menyindir anaknya sendiri. Adinda hanya tersenyum geli.


"Siapa yang protes, Ma" sungut Dimas tidak terima. Memang tubuh Adinda terlihat sangat berisi, pipinya chubby dan pinggangnya tidak ramping lagi. Itu semua karena dia sedang hamil.


Setelah makan malam bersama, Adinda masuk ke dalam kamar. Dimas pun menyusulnya ke kamar. Dia ingin menuntut penjelasan dari Adinda tentang ucapan mamanya tadi.


"Din ... Dinda, sini dulu" panggil Dimas sebelum istrinya itu duduk di sofa.


"Apa, sih?" toleh Adinda.


"Maksud mama bicara begitu tadi apa?. Pasti kamu ini laporan yang tidak-tidak, iya kan?" tuduh Dimas.


"Nggak, kok. Aku nggak bicara apapun dengan mama. Kenapa menuduh aku begitu?" jelas Adinda sambil menatap wajah tampan suaminya.


Dimas hanya mengeryitkan dahinya. Adinda kemudian mendekati Dimas. "Kalau setelah aku melahirkan ternyata badanku tetap gendut, kamu masih cinta denganku, Mas?" tanya Adinda tiba-tiba.


"Ya, Allah, Sayang. Kamu bicara apa?. Kamu meragukan cintaku?" Dimas pun balik bertanya.


"Siapa yang tahu" gumam Adinda.

__ADS_1


Dimas menarik pinggang Adinda, menyatukan dahinya dengan dahi Adinda. "Kenapa kamu meragukan cintaku?" ucap Dimas sambil menatap manik istrinya. Hembusan napas Dimas terasa menampar wajahnya. Adinda belum sempat menjawab, Dimas pun sudah menikmati bibirnya.


Dimas tersenyum setelah melepas pagutannya. "Walaupun kamu sudah punya anak, wanita di luar sana mana tahu karena penampilan kamu selalu menawan dan seperti masih bujangan saja" jawab Adinda menatap suaminya.


Dimas tertawa kecil mendengarkan ucapan istrinya itu. "Kamu cemburu?" tanya Dimas menggoda Adinda.


"Nggak usah ditanya, Mas" ucap Adinda cemberut dan memalingkan wajahnya dari Dimas.


"Istriku, Sayang. Akulah yang tidak bisa berpaling dari cintamu" ujar Dimas meraih wajah Adinda agar menatap ke arahnya.


"Apa kamu sudah mengguna-gunaiku?" sambung Dimas.


"Ihh, yang benar saja. Syirik tahu nggak. Masih percaya hal begitu" jawab Adinda mengerucutkan bibirnya.


"Soalnya di pikiranku itu hanya kamu ... kamu dan kamu" jelas Dimas menjawil hidung Adinda gemas. "Dari dulu, lho."


Adinda tertawa renyah kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Dimas. Matanya menatap Dimas mesra.


"Benarkah?" tanya Adinda dengan suara manja.


"Iya, Sayang. Apalagi kamu sedang hamil begini. Hatiku tidak tenang kalau berjauhan dengan kamu" jawab Dimas jujur.


Adinda tersenyum bahagia kemudian mencium kilat bibir suaminya itu. "Aku mau ke ruang kerja sebentar" ujar Dimas tersenyum. Dia hendak berjalan keluar kamar. Adinda pun mengiringinya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dimas.


"Belum tidur, Din?" tegur mama Dimas.


"Belum, Ma" Adinda duduk dengan pelan di sofa yang tidak jauh dari mertuanya itu. "Mas juga di ruang kerjanya. Aku tidak bisa tidur nyenyak kalau tidak ada dia" sambung Adinda.


"Bawaan bayi itu" timpal mertua Adinda sambil tersenyum.


"Iya kali, Ma. Padahal kan sudah lewat tri semester pertama" gumam Adinda tidak percaya.


"Bayi dalam kandungan juga bisa merasakan kehadiran orang tuanya, Din. Bisa juga merespon ucapan kamu kalau diajak bicara" ujar mertuanya.


"Iya, Ma. Kalau aku atau Dimas mengelus perut, bayinya bergerak aktif" ucap Adinda sambil mengelus perutnya yang besar.


"Sudah di USG, cowok atau cewek anak kalian?" tanya mama Dimas.


"Insya Allah cowok, Ma" jawab Adinda tersenyum.


"Alhamdulillah. Mama senang kalau cucu pertama itu laki-laki" ujar Mama Dimas.


Ting. Tong


"Sepertinya Hamish sudah pulang" gumam mama Dimas beranjak dari tempat duduknya karena mendengarkan suara bel rumah berbunyi.

__ADS_1


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" mama Dimas membukakan pintu rumah. Wanita itu kaget melihat Hamish datang bersama dengan seorang wanita cantik.


"Bude, kenalkan ini Hasna" ujar Hamish.


Mama Dimas mengeryitkan dahinya. Dia mencoba mengingat-ingat pernah bertemu dimana dengan gadis bernama Hasna itu. Tapi memorinya belum berhasil untuk mengingat kembali.


"Ayo, masuk" ajak mama Dimas.


Karena mendengar dari arah ruang tamu sepertinya bukan hanya ada Hamish saja, Adinda pun menyusul ke ruang tamu.


"Ma ..." panggil Adinda sambil muncul di ruang tamu. Adinda tercekat ketika melihat sosok Hasna berdiri di samping sepupu suaminya itu. Adinda dan Hasna sama-sama terkejut.


"Ya, Tuhan. Hamish ini siapanya Adinda. Kenapa dia ada di rumah bude Hamish?. Ini rumah mertua Adinda, berarti Hamish dan Dimas?" tanya batin Hasna bingung sambil menebak-nebak. Gadis itu berharap Adinda pura-pura tidak kenal saja dengannya.


"Din, kenalkan" ujar Hamish mengenalkan Adinda dengan Hasna.


"Ham, aku udah kenal. Hasna ini teman SMA ku dulu" ujar Adinda melihat Hasna yang tampak grogi.


"I ...iya, Bang. Kami sudah saling kenal" sela Hasna tersenyum grogi. Adinda ikut tersenyum kecil.


"Hmm, jadi Hamish yang sudah membuat Hasna move on dari Dimas" batin Adinda.


"Aku mau menginap di hotel saja malam ini. Jadi besok ke bandara nggak perlu repot lagi" ucap Hamish menjelaskan alasannya pulang sambil mengajak Hasna.


"Jadi kamu mau minta antar Dimas ke hotel?" tanya mama Dimas.


"Iya, Bude. Aku mau membereskan pakaian dulu" jawab Hamish meninggalkan ruang tamu.


"Din, kamu temani Hasna dulu. Mama mau membuatkan minuman dulu" ujar Mama Dimas ikut meninggalkan ruang tamu.


"Din" Hasna mendekati Adinda dan meraih tangan wanita itu. "Please, jangan ceritakan masa laluku kepada dia yang berkaitan dengan Dimas" ucap Hasna memohon.


"Nggak, kok. Lagipula untuk apa Hamish tahu. Jadi benaran dia orangnya" goda Adinda tersenyum. Hasna hanya mengangguk tersenyum malu.


"Hamish itu sepupunya Dimas" jelas Adinda.


"Tapi wajahnya kok nggak mirip" ujar Hasna heran.


"Iya, mamanya Hamish orang timur tengah" ucap Adinda memberitahu Hasna.


Melihat mertuanya menghampiri mereka lagi, Adinda menjauh dari ruang tamu. Adinda harus menemui Dimas dan memberitahunya lebih dulu tentang hubungan Hamish dan Hasna.


"Aku mau memanggil Mas Dimas dulu, Ma" pamit Adinda menuju ke ruang kerja suaminya.


Hasna tidak menyangka bahwa dia harus berhubungan lagi dengan Dimas karena Hamish ternyata sepupu dari laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2