
Sebenarnya terlintas dibenak Adinda untuk mengenalkan Hamish, sepupu suaminya itu dengan Hasna. Tapi Adinda ingin memastikan dulu, apakah gadis itu sudah move on dari Dimas atau belum. Tapi Adinda menepis niatnya. Dimas melihat istrinya itu belum memejamkan matanya. Laki-laki berparas tampan yang sudah memejamkan matanya sejenak itu merapatkan tubuhnya memeluk Adinda.
"Kenapa belum tidur?" tanya Dimas.
"Mas, ada lowongan kerja tidak di tempat kamu?" tanya Adinda sambil menautkan kakinya ke kaki Dimas.
"Kenapa? Kamu mau alih profesi, mau menjadi sekretarisku apa?" canda Dimas membalas tautan kaki Adinda.
"Ihh, siapa juga yang mau menjadi sekretaris kamu" elak Adinda. Getaran-getaran di kaki yang saling bertautan itu telah membangkitkan gairah Dimas.
"Kenapa kamu tidak mau menjadi sekretarisku?" tanya Dimas dengan tangannya sambil menyingkap daster yang menutupi bagian bawah Adinda.
"Bisa-bisa kamu nggak kerja nantinya" ledek Adinda bergelinjang merasakan sentuhan jemari tangan Dimas. "Karena kamu maunya nempel terus denganku."
"Kamu tahu sekali" ucap Dimas sudah mendekatkan wajahnya dan menikmati bibir istrinya.
Dimas melepaskan pagutannya memberi ruang untuk bernapas sebentar. "Mas ..." ucap Adinda menatap Dimas.
"Kamu yang memulainya ..." bisik Dimas tidak mau disalahkan. Dia kemudian melanjutkan pagutannya dengan tangan yang terus menelusuri lekuk tubuh istrinya. Suasana kamar pun menjadi gerah, Dimas pun menuntaskan hasratnya yang selalu terbakar jika berdekatan dengan istrinya itu.
Adinda dan Dimas masih berbaring di dalam selimut. Laki-laki tampan itu tidak bisa menahan diri jika sudah memeluk istrinya. Adinda sudah hapal betul dengan kebiasaan Dimas itu. Padahal dia mau membicarakan tentang pekerjaan. Eh, malah terlupakan.
"Jadi ... bagaimana tadi. Ada lowongan kerja tidak,?" ulang Adinda.
"Untuk siapa, Sayang?" toleh Dimas.
"Untuk suami Sinta, Mas. Dia sudah mengundurkan diri dari tempat kerjanya karena anak bosnya menyukainya dan telah menggodanya" jawab Adinda.
"Langsung datang saja temui akui di kantor" ujar Dimas.
"Benar, Mas?" tanya Adinda tidak percaya. Dimas hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih, Mas" Adinda langsung memeluk suaminya. Dimas pun merasakan kembali hangatnya tubuh Adinda yang menyentuh kulitnya.
"Pakai bajunya ... Nanti aku bisa khilaf lagi" bisik Dimas tersenyum. "Kalau kamu tidak hamil ... Aku tidak akan menolak melakukannya lagi."
Adinda mengurai pelukannya sambil tersenyum geli. Dia pun beranjak dari tempat tidur untuk mengambil bajunya.
***
__ADS_1
Hari Sabtu, jadwal mengajarnya tidak sampai siang. Adinda dan Sinta pun bertemu dengan Hasna di hotel tempat gadis itu menginap. Mereka akan menjemput Hasna dulu kemudian baru jalan ke cafe.
"Apa kabar?" sapa Hasna kepada Sinta dan Adinda.
"Alhamdulillah kami semua sehat" Sinta menjawab sekaligus menjadi juru bicara Adinda.
"Kamu sedang hamil, Din" Hasna melirik ke arah perut Adinda yang sudah membuncit. Adinda hanya mengangguk tersenyum.
"Alhamdulillah. Aku ikut senang" ucap Hasna.
"Oya, kita nggak usah cari cafe di luar. Di hotel ini saja. Makanannya enak-enak juga, lho" usul Hasna mengalihkan pandangannya ke arah Sinta.
"Iya, boleh juga" ucap Adinda dan Sinta serempak.
Drettt. Drettt. Drettt
"Din, ponsel kamu bunyi tuh" lirik Sinta.
Adinda segera merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya. "Dimas" gumam Adinda sambil melihat layar ponselnya.
Adinda lupa memberi tahu Dimas kalau dia pulang lebih awal dari biasanya, tapi dia pergi menemui Hasna dulu baru akan menelpon Dimas untuk minta dijemput.
"Kamu itu sedang hamil, Sayang. Jangan sering-sering jalan ke mall atau ke mana pun" protes Dimas dengan nada tegas.
"Bukan ke mall, Mas. Nggak sampai jalan-jalan, kok. Kita duduk-duduk saja" jelas Adinda.
"Ya, sudah. Jangan lama-lama, cepat pulang" pesan Dimas sebelum menutup panggilan telponnya. Laki-laki tampan itu berada di rumah menanti telpon dari istrinya, jam berapa minta dijemput di sekolah. Tapi ternyata dia sudah berada di tempat lain.
"Kamu belum izin dengan Dimas, Din?" tanya Sinta. Adinda hanya nyengir kuda. Dia memang lupa.
"Udah tahu Dimas sekarang protect sekali dengan kamu. Jangan sampai lupa, nanti ribut lagi" sambung Sinta mengingatkan.
Hasna hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya itu. Dia merasa iri sekali dengan Adinda. Dimas benar-benar sangat mencintainya. Tidak ada ruang di hatinya untuk wanita lain selain istrinya itu. Hasna menepis kembali masa lalunya. Hal bodoh yang pernah dia lakukan.
Mereka bertiga sudah berada di restoran hotel. Sambil menunggu makanan yang mereka pesan, mereka pun berbincang-bincang.
"Kamu ke sini ada urusan bisnis lagi, ya?" tanya Adinda curiga.
"Iya, Din. Kamu masih marah denganku?" tanya Hasna. Dia tahu kalau Adinda mencurigai kedatangannya. Adinda hanya diam saja.
__ADS_1
"Tenang saja, Din. Aku tidak mengharapkan Dimas lagi. Aku sudah menyukai laki-laki lain" ujar Hasna yang melihat Adinda hanya membisu.
"Oh, ya. Siapa, Na?" tanya Sinta tidak percaya. Ternyata Hasna sudah bisa move on dari Dimas.
"Tapi ... aku takut dia tidak menyukaiku" jawab Hasna tidak yakin. "Aku takut kecewa lagi."
Adinda dan Sinta saling pandang. Mereka bisa mengerti dengan perasaan Hasna. Gadis itu trauma, takut cintanya ditolak lagi.
"Kau harus cari informasi dulu, apakah dia sudah punya istri atau belum. Jangan sampai jadi pelakor, Na" ujar Sinta blak-blakan. Sinta tidak bermaksud menyinggung masa lalu Adinda dan Hasna. Tapi jadikan pembelajaran kisah kemarin jangan sampai terulang kembali.
"Belum ada istri, kok" jelas Hasna.
"Syukurlah kalau begitu. Apa dia pengusaha juga?" sambung Sinta.
"Iya"
"Kamu harus mencari perantara, Na" saran Sinta.
"Aduh, siapa Sin yang harus menjadi perantara?. Udahlah biarkan berjalan apa adanya. Kalau dia juga menyukaiku, pastilah dia akan berusaha juga kan" ucap Hasna pasrah.
"Berdoa saja. Itu yang lebih baik. Toh, kalau jodoh juga tidak akan kemana" sela Adinda. Hasna tersenyum mengangguk setuju dengan ucapan Adinda.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, mereka bertiga pun berpisah. Adinda dan Sinta pergi meninggalkan hotel tempat Hasna menginap. Ketika kedua wanita muda itu keluar dari lobi, Hamish masuk ke dalam lobi.
Hasna masih berada di sekitar lobi karena baru saja mengantar kedua temannya. Hamish tersenyum melihat postur gadis itu dari belakang. Dia sudah hapal kalau gadis itu adalah Hasna.
"Na ... Hasna!!" panggil Hamish.
Hasna menoleh dan melihat ke sumber suara. Gadis itu kaget ketika melihat wajah tampan Hamish. Laki-laki itu baru saja menjadi pembicaraan mereka.
"Bang Hamish" gumam Hasna agak terkejut melihat kehadirannya.
"Malam ini tidak sibuk, kan?" tanya Hamish.
"Tidak. Kenapa memangnya?" Hasna pun balik bertanya.
"Mau makan malam di luar denganku?" tawar Hamish tersenyum.
Hasna mengangguk sambil tersenyum malu. Baru kali ini ada seorang laki-laki yang mengajaknya makan malam. Laki-laki berparas tampan seperti Hamish siapa yang sanggup untuk menolaknya.
__ADS_1