
Adinda mulai berdamai dengan Dimas sejak Dimas tiba-tiba menjemputnya di sekolah. Adinda belum bisa memastikan perasaannya terhadap Dimas. Adinda masih belum percaya kalau Dimas menikahinya karena cinta, dia takut perasaannya nanti dipermainkan. Laki-laki seperti Dimas mana mungkin jomblo sejati, pasti mantannya di mana-mana.
“Adinda” panggil seorang gadis ketika berpapasan dengannya di mall. Sepulang mengajar Adinda menyempatkan diri mampir ke mall untuk membeli kebutuhan dapur yang sudah habis.
“Putri” Adinda mengenali gadis yang menyapanya.
Gadis itu teman sekelasnya sewaktu SMA yang Adinda ketahui naksir berat sama Dimas, anak Paskibra itu. Tapi perasaannya tidak berbalas karena Dimas orangnya cuek.
“Ya, ampun, Din. Udah lama banget kita nggak ketemu. Eh, kamu tau nggak kabar Dimas yang suka ngerjain kamu itu?” tanya Putri.
Adinda hanya tersenyum. Temannya itu tidak tahu kalau gebetannya sewaktu SMA dulu sudah menikah dengan dirinya.
“Dia udah nikah” jawab Adinda.
Putri melongo mendengarkan jawaban Adinda. Dia tidak percaya kalau Dimas sudah menikah.
__ADS_1
“Kenapa? Kok, kaget gitu. Wajarkan kalau dia menikah” ucap Adinda heran melihat raut wajah Putri seolah tidak percaya laki-laki setampan Dimas sudah menikah.
“Eng ... kamu nggak tahu, ya. Aku dengar cerita dari Irsan, cowok yang satu kampus dengan Dimas. Katanya Dimas nggak pernah punya cewek. Temennya cowok semua. Kayaknya Dimas itu Gay, deh" tebak Putri yakin.
"Pantesan aja nggak tertarik sama sekali dengan gadis manapun yang naksir dengannya” lanjut Putri.
Putri adalah salah satu siswa cantik di SMA. Banyak cowok yang coba mendekatinya tapi hatinya hanya terpaut dengan Dimas. Makanya dia merasa heran kenapa Dimas sedikit pun tidak tertarik dengannya.
Adinda menelan salivanya mendengarkan cerita Putri tentang Dimas. Laki-laki yang hidup serumah dengannya, seorang gay. Dia tidak percaya dengan penuturan Putri.
“Mungkin dia menikah untuk menutupi status gaynya. Kasihan banget, ya, istrinya” lanjut Putri.
"Ya, Allah" hati Adinda menjerit.
“Eh, Put. Aku duluan, ya. Lain kali kita ngobrol lagi” pamit Adinda. Mereka pun akhirnya bertukar nomor kontak lalu berpisah.
__ADS_1
Sesampai di rumah Adinda menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya terpejam sambil mengingat ucapan Putri di mall tadi.
“Tapi Dimas kan pernah mencium ku” ingat Adinda sambil membuka kelopak matanya.
"Aargh. Bagaimana aku bisa membuktikannya kalau dia bukan gay. Mana mungkin aku menanyakannya langsung. Kalau Dimas tersinggung bagaimana?" hati Adinda berkecamuk membayangkan ucapan Putri.
***
"Kenapa kamu, Din?. Kayak banyak pikiran aja?" Tanya Sinta ketika mereka bertemu di sekolah.
"Sin, cowok gay itu seperti apa sih cirinya?" Bukannya menjawab pertanyaan Sinta, dia malah bertanya balik.
"Gay itu ... ya, cowok suka dengan cowok juga. Masa kamu nggak tahu" jawab Sinta.
"Kalau itu aku mah tahu, Sin. Maksudku, apa mereka bisa nikah dengan cewek juga?" tanya Adinda lagi.
__ADS_1
"Bisa juga, sih. Untuk menutupi status gay mereka. Mereka bisa menikah dengan cewek bahkan sampe punya anak juga. Jadi perbuatan gay mereka tidak tercium oleh keluarga" jelas Sinta.
Adinda meringis ketika mendengarkan cerita Sinta. Wah, bisa bahaya juga. Artinya orang seperti mereka biseksual. Ah, ucapan Putri kemarin membuat Adinda menjadi takut.