
Di rumah Amanda
Wanita itu tampak tidak bisa tidur nyenyak. Ucapan Sinta masih terngiang-ngiang di telinganya. Amanda membolak-balikkan badannya dengan gelisah. Farhan pun merasa terganggu tidurnya dengan gerakan Amanda yang berada di sampingnya.
"Kamu kenapa? Kok, tidurnya gelisah begitu?" tanya Farhan memicingkan matanya melihat Amanda.
"Mas, aku jadi merasa bersalah dengan Mba Dinda" ucap Amanda.
"Kamu kan, tinggal minta maaf saja" balas Farhan.
"Mba Dinda masih izin belum masuk ke sekolah" gumam Amanda.
"Lho, emang kenapa Dinda nggak ke sekolah?" Farhan kepo juga. Akhirnya dia serius mendengarkan ucapan Amanda. Jika tadi matanya masih berat untuk melek menanggapi ucapan istrinya itu, kini Farhan membuka matanya.
"Kata Mba Sinta, Mba Dinda keguguran" jawab Amanda pelan.
"Manda, ini bukan karena masalah kemarin, kan? Selidik Farhan.
Amanda membisu. Farhan mengubah posisinya, yang tadinya tidur kini sudah duduk di samping Amanda.
"Cemburu buta kamumu sudah merugikan orang lain" tuduh Farhan sambil melihat Amanda. Raut wajah istrinya yang merasa bersalah.
"Wanita mana Mas yang tidak cemburu, melihat suaminya di dalam foto berdua saja dengan wanita lain. Jadi wajar saja kan, kalau aku cemburu" ucap Amanda tidak terima, dia pun ikut mengubah posisinya. Amanda lalu duduk menghadap suaminya.
"Tapi, gunakan akal sehat" Farhan menempelkan jari telunjuknya ke kening Amanda.
"Wanita yang kamu lihat itu kan, kamu kenal. Dia bukan wanita yang tidak paham agama. Kamu tahu sendiri kalau Adinda itu aktivis di mushola kampus. Begitu mudahnya kamu menuduh Adinda yang tidak-tidak" sambung Farhan.
Amanda mengerucutkan bibirnya. Dirinya tahu kalau dia telah melakukan kesalahan, apalagi sampai Adinda keguguran.
"Udah, ayo tidur" ajak Farhan sambil membaringkan lagi badannya.
Amanda pun menyusul Farhan tidur. Jika Adinda sudah kembali beraktivitas di sekolah lagi, dia akan menemui Adinda untuk meminta maaf.
***
Keesokan pagi
Dimas melihat Adinda sedang merapikan jilbabnya di depan cermin.
"Kamu yakin, hari ini mau kerja?" tanya Dimas serius.
"Iya. Aku udah sehat, kok" jawab Adinda membalikkan badannya menghadap Dimas.
Dimas hanya tersenyum. Dia tidak bisa melarang niat Adinda yang ingin masuk kerja. Dimas pun sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia akan mengantar jemput Adinda ketika bekerja.
"Ayo, sarapan. Mama udah menunggu di meja makan" ajak Dimas. Adinda yang sudah siap berangkat kerja, mengiringi langkah lebar Dimas keluar dari kamar.
Adinda sudah membantu mertuanya membuat sarapan setelah selesai sholat subuh tadi. Kini Mama mertuanya itu sudah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama.
__ADS_1
"Ayo sarapan dulu, baru kalian berangkat kerja" ajak Mama Dimas.
Adinda mengambil tempat duduk di hadapan Mama mertuanya. Sementara Dimas menarik kursi di samping Adinda.
"Kenapa kakek nggak tinggal di rumah kita saja, Ma?. Jadi Mama nggak bolak-balik ke rumah kakek" ujar Dimas di sela mereka sarapan pagi.
"Kakek yang nggak mau. Beliau lebih suka tinggal di sana. Tempat dimana kakek dan nenek menghabiskan masa tuanya bersama". jelas Mama Dimas.
"Jadi, siapa yang menjaga kakek sekarang, Ma?" Adinda pun tak mau kalah ikut bertanya pula.
"Adik Mama. Rumahnya tidak jauh dari rumah kakek" jawab Mama mertuanya.
Adinda baru ingat kalau mertuanya itu punya adik perempuan. Adiknya itulah yang membantu kakek di rumah. Selesai sarapan pagi, Adinda dan Dimas pamitan pergi kerja.
"Hati-hati, ya" ucap mertuanya sambil melambaikan tangan ke arah Dimas dan Adinda yang sudah berada di dalam Outlander.
Adinda duduk dengan santai di samping Dimas yang sudah berada di balik kemudi.
"Sudah lama aku tidak naik mobil mahal ini" lirik Adinda ke arah Dimas. Dimas memang jarang menggunakannya kalau pergi bekerja.
"Mobil ini khusus untuk mengantar Yang Mulia Ratu" toleh Dimas dengan sudut bibir yang melengkung.
Adinda lantas tertawa kecil dan mencubit gemas lengan Dimas karena merasa malu.
Dimas pun merasa senang bisa mendengar lagi suara tawa istrinya.
Tiba di depan pintu gerbang sekolah, Dimas menghentikan mobilnya. Siswa yang datang ke sekolah sudah hampir tidak ada lagi karena tujuh menit lagi bel masuk akan berbunyi.
Sebelum Adinda turun, Dimas mendekatkan badannya di depan Adinda. Laki-laki tampan itu mau membukakan safety belt Adinda. Setelah berhasil membukanya, Dimas memalingkan wajahnya ke hadapan Adinda hingga wajah mereka sangat dekat sekali. Sejenak mata mereka bertemu dan terpaku saling menatap. Adinda dapat merasakan hembusan pelan napas Dimas. Perlahan Dimas menyatukan bibirnya ke bibir wanita yang sangat dicintainya itu. Adinda yang telah terperangkap dalam suasana romantis itu hanya memejamkan mata hingga Dimas menyelesaikan aksinya.
Dimas menarik diri sambil tersenyum salah tingkah. Dia tidak bisa menahan diri tadi. Adinda pun tampak masih terpaku di tempat duduknya.
"Nanti telpon aku kalau mau pulang" toleh Dimas. Dinda bergeming sedikit pun.
"Din ... Dinda" tegur Dimas.
"Eh ... apa?" Dinda baru tersadar ketika mendengar suara Dimas memanggilnya.
"Kalau pulang nanti, telpon aku" ulang Dimas. Adinda lantas mengangguk.
"Aku masuk dulu. Assalamualaikum" Adinda lalu keluar dari Outlander milik Dimas.
"Waalaikumsalam" balas Dimas lalu menyalakan mobilnya kemudian meninggalkan lokasi.
Adinda berjalan melewati gerbang sekolah sambil memegang pipi dengan kedua tangannya. Hangat. Jantungnya masih berdebar kencang akibat menerima kecupan hangat dari Dimas di dalam mobil.
Wanita berjilbab itu tersenyum sambil menggelengkan kepala untuk membuyarkan lamunannya tentang Dimas tadi.
"Din, kamu udah sehat? Kok, udah datang?" sapa Sinta menyambut Adinda yang baru saja melangkahkan kakinya ke dalam ruangan guru.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Aku bosan di rumah, Sin" jawab Adinda sambil membalas pelukan Sinta.
"Maaf, Din. Aku nggak sempet nengok kamu di rumah sakit atau di rumahmu. Anakku juga lagi kurang sehat " ujar Sinta sedih.
"Nggak apa kok, Sin" balas Adinda tersenyum.
"Ssst, itu Dinda udah masuk" bisik Bu Nina melihat Adinda dan Sinta sedang mengobrol.
"Jadi, benaran info kalau Dinda keguguran. Kasihan, ya" balas Bu Kiki dengan raut wajah sedih.
Bu Kenken yang ada di sana ikut memperhatikan juga. Bibirnya tersenyum sinis tanpa ada yang tahu.
Amanda yang duduk di balik mejanya menyunggingkan senyuman ke arah Adinda namun ketika seniornya itu melihatnya, dia sama sekali tidak membalas senyuman Amanda. Senyum Amanda memudar, dia menundukkan kepala dengan hati yang kecewa.
"Apakah Mba Adinda menyalahkanku?" Batin Amanda.
"Kami turut sedih, Din" ucap Bu Kiki menghampiri Adinda.
"Terima kasih, Bu Kiki" balas Adinda tersenyum.
"Masih muda juga. Kan, bisa coba lagi" canda Bu Nina sambil tertawa kecil.
"Bu Nina, bisa aja" ujar Adinda tersenyum lebar.
***
"Din, kamu lihat nggak muka Amanda waktu kamu masuk kantor tadi?" tanya Sinta pelan ketika mereka duduk di kantin sekolah.
"Iya, aku lihat. Aku males banget lihat mukanya" jawab Adinda memasukkan mie ayam ke mulutnya.
"Kalau bukan karena ulah dia, kamu nggak bakalan stres dan kehilangan calon bayi mu" timpal Sinta geram.
"Kekanakan sekali memang. Aku dan Dimas jadi perang dingin gara-gara foto itu" Adinda tersenyum miris.
"Ssst, Din. Amanda tuh. Kayaknya mau nyamperin kita, deh" bisik Sinta melihat Amanda berjalan menuju ke arah meja mereka.
"Mba Dinda, bisa bicara sebentar" ujar Amanda memberanikan diri.
"Bicara saja" ucap Adinda cuek. Dia tidak harus meminta Sinta pergi, kan.
Amanda melirik Sinta, sebenarnya dia hanya mau bicara empat mata saja dengan Adinda. Namun Sinta bergeming dari tempat duduknya.
"Mba, aku mau minta maaf atas kejadian kemarin" ucap Amanda penuh penyesalan duduk di hadapan Adinda.
"Aku tidak sehina yang kamu kira, Manda. Maaf, aku belum bisa melupakan semua kejadian itu. Sakit hati ini, dituduh saudara sesama muslimah sebagai orang munafik" ujar Adinda menatap Amanda dengan mata berkaca-kaca.
Ya, bukankah sesama muslimah itu bersaudara. Apalagi dulu mereka pernah sama-sama sebagai aktivis di mushola kampus.
Adinda beranjak dari tempat duduknya meninggalkan meja makan di kantin. Sinta pun ikut menyusul langkah Adinda. Amanda merasakan sesak di dada ketika melihat Adinda pergi begitu saja tanpa memaafkannya. Bulir bening pun merembes di sudut mata Amanda.
__ADS_1