
Di ballroom hotel, para pengusaha muda sudah ramai berdatangan. Acara pertemuan para pengusaha muda yang dikemas dalam bentuk seminar enterpreneur itu diadakan di sana. Para narasumber dalam acara seminar tersebut sudah duduk di depan. Acara pun akan dipandu oleh MC yang juga merupakan pengusaha muda ternama.
"Dia, kan?" gumam Hasna melihat Hamish, laki-laki yang ponselnya telah tertukar dengannya tadi sedang berada di antara salah satu narasumber yang duduk di depan.
"Kamu kenal dengan salah satu narasumber di depan itu?" tanya Afrina melihat Hasna menunjukkan tangannya ke arah depan.
"Iya, tadi baru kenalan di lobi" jawab Hasna.
"Dengan yang mana, Na. Wah, masih sempat, ya, kamu berkenalan segala" sungut Afrina, temannya sesama pengusaha juga.
"Nggak sengaja, tadi ponsel kita jatuh dan tertukar, begitu ceritanya" jelas Hasna tersenyum. "Itu wajahnya yang agak kearab-araban."
"Wah, dengan yang paling ganteng pula, Bang Hamish. Bisa aja nih anak" seru Afrina tidak percaya. Hamish merupakan salah satu pembicara yang sering mengisi acara seminar enterpreneur.
"Biasa saja, Rin" Hasna melototkan matanya kepada Afrina agar mereka tidak menjadi pusat perhatian orang.
Setelah acara seminar selesai, Hasna langsung akan pulang. Tiba-tiba tangannya ditarik Afrina.
"Hey, kamu tadi kan sudah menjawab salah satu pertanyaan dari narasumber. Hadiah bukunya diambil dulu, kan sayang" ujar Afrina mengingatkan.
"Udahlah, nanti aku bisa kemalaman sampai di rumah" tolak Hasna mengabaikan hadiah buku yang akan diberikan oleh salah satu narasumber tersebut.
"Ihh, ayo ambil saja" ajak Afrina menarik tangan Hasna menuju ke arah panitia acara.
"Bang Hamish, itu Mba yang menjawab pertanyaan Abang tadi" tunjuk panitia sambil berbisik kepada Hamish ketika melihat Hasna menghampiri mereka.
"Haduh, Rina ada-ada saja, nih" batin Hasna tampak grogi diperhatikan oleh beberapa laki-laki di depan mereka.
"Ini buku untuk kamu" ujar Hamish tersenyum sambil menyerah buku yang ada di tangannya kepada Hasna. Karena Hasna belum mengambilnya, Afrina pun berinisiatif mengambil buku tersebut.
"Wah, ini buku tulisan Bang Hamish, ya?" tanya Afrina ketika melihat nama Hamish tertera di cover buku tersebut. Laki-laki keturunan Timur Tengah itu hanya tersenyum mengangguk.
__ADS_1
"Na, jangan lupa minta tanda tangan Bang Hamish. Ini buku bagus, lho" ujar Afrina.
Hanya hanya menyunggingkan senyuman. Dia merasa tidak enak dengan laki-laki di hadapannya itu yang ternyata selain pengusaha juga seorang penulis.
"Boleh" ujar Hamish meraih kembali buku yang baru saja dia berikan lalu menandatanganinya di lembar pertama. Hamish juga menulis sesuatu di sana tanpa Hasna ketahui.
"Ini" Hamish langsung menyerahkan buku itu kembali kepada Hasna.
"Terimakasih" ucap Hasna kemudian menarik tangan Afrina agar menjauh dari sana. Hamish tersenyum sambil melihat Hasna berjalan meninggalkan ballroom hotel.
"Eh, tahu nggak, Na. Aku udah berapa kali ikut seminar enterpreneur dan pembicaranya pasti ada Bang Hamish. Aku juga udah punya beberapa buku karangannya" ujar Afrina antusias memberitahu Hasna.
"Istrinya pasti bangga sekali mempunyai suami seperti dia" gumam Hasna sambil mencari mobilnya di area parkir.
"Bang Hamish itu masih single alias belum punya istri" timpal Afrina.
"Kalau belum, dia pasti mencari wanita yang sepadan dengan pemahamannya" ucap Hasna. Bukannya dia tidak tertarik dengan laki-laki itu. Dia hanya masih takut untuk jatuh cinta lagi. Takut kalau laki-laki itu sudah memiliki tambatan hati seperti kisahnya dengan Dimas dulu.
Di tempat lain
Adinda melihat isi kulkas yang bisa dia makan. Hanya ada buah. Lumayanlah untuk mengganjal perutnya. Besok dia akan membeli cemilan untuk stok kalau malam-malam lapar begini. Setelah dari dapur, Adinda menghampiri ruang kerja Dimas yang tampak terbuka. Dimas memang tidak pernah menutup rapat ruang kerjanya ketika dia sedang berada di sana.
"Mas!" panggil Adinda masuk ke dalam kemudian menghampiri suaminya itu.
"Ada apa, hmm?" tanya Dimas melirik istrinya yang sudah berdiri di hadapannya.
"Kamu kok, masih kerja saja. Ini sudah malam. Ayo, tidur" ajak Adinda.
"Kamu sendiri, kok, belum tidur" ujar Dimas balik bertanya menatap Adinda. Mata Dimas masih menatap istrinya yang tampak menggoda. Adinda tidak sadar kalau dia sedang memakai baju tidur dengan tali sejari yang memperlihatkan lekuk badannya yang tampak berisi sejak dia hamil.
"Besok dilanjutkan saja lagi di kantor" ucap Adinda mendekati Dimas. Tangannya langsung menutup berkas laporan yang sedang dibaca Dimas.
__ADS_1
"Din, jangan main tutup saja. Aku jadi lupa sampai batas mana berkas ini sudah ku periksa" protes Dimas. Dia menatap Adinda geram kemudian berdiri dan merapatkan badannya ke badan Adinda.
Adinda tampak terkejut melihat reaksi Dimas. Laki-laki tampan itu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Adinda dan menatap wajahnya dengan intens.
"Mau kamu apa, Sayang?" ucap Dimas mesra.
"Aku tidak mau tidur sendirian" jawab Adinda.
"Harus ada imbalannya jika mau ditemani" balas Dimas menggoda Adinda. Degup jantung keduanya sudah bertalu-talu. Deru napas Dimas yang memburu dapat Adinda rasakan.
"Imbalan apa?. Masa aku harus membayar suamiku sendiri untuk menemaniku tidur" Adinda menatap Dimas dengan wajah penuh tanda tanya.
Dimas hanya tersenyum kecil kemudian mendekatkan wajahnya. Dia pun sudah membungkam bibir Adinda. Dimas semakin memperlama pagutannya ketika Adinda mulai membalasnya. Mereka berdua larut dalam sentuhan cinta yang membangkitkan kobaran gairah yang tidak terbendung lagi.
Dimas mendorong badan Adinda agar pintu ruangan itu tertutup. Dimas pun melanjutkan aksinya hingga menjatuhkan badan Adinda dengan pelan di atas sofa.
"Mas, kamu mau melakukannya di sini?" tanya Adinda membuka suara setelah Dimas melepaskan pagutannya.
"Sekali-sekali, Sayang. Lagian salah siapa coba, kamu sudah berpakaian seseksi ini di depanku" tatap Dimas nakal lalu ingin melanjutkan serangannya yang tertunda.
"Pintunya sudah dikunci?" ujar Adinda mengingatkan ketika Dimas hendak menciumnya lagi. Dimas hanya mengangguk.
"Mas!" panggil Dimas.
"Apalagi, Sayang?" tanya Dimas geram.
"Slowly" jawab Adinda tersenyum geli melihat wajah suaminya yang tidak sabar ingin menikmati aktivitas intim mereka berdua.
Dimas dan Adinda memakai kembali pakaian mereka setelah melepaskan sejenak hasrat yang menggelora tadi. Dimas kemudian mengangkat badan Adinda menuju ke kamar mereka. Wanita itu tersenyum sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Dimas.
"Lain kali kita coba di tempat lain" bisik Dimas tertawa kecil.
__ADS_1
"Ah, kamu ini mesum sekali. Nggak bisa lihat tempat. Kalau perutku semakin besar, bisa-bisa pinggangku sakit semua tahu nggak" elak Adinda sambil mengerucutkan bibirnya.
Dimas terkekeh sambil membuka pintu kamar mereka. Dia pun bisa tidur nyenyak malam ini di samping Adinda. Lampu kamar pun kini telah padam.