Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 29: Telat


__ADS_3

Adinda berjalan sambil memegang tengkuknya. Badannya terasa pegal-pegal semua. Biasanya kalau sudah begitu tidak lama lagi tamu bulanannya akan datang.


Adinda memanyunkan bibirnya. "Ya, Allah. Bulan ini bakalan lewat lagi, deh. Kalau aku sampai dapat, Dimas pasti akan kecewa" batin Adinda.


Tok.Tok.Tok


"Din...Dinda" panggil Mama mertuanya.


Kebetulan hari ini Adinda tidak ada jadwal mengajar. Jadi dia bisa membereskan kamar dan ruang kerja Dimas.


"Iya, Ma" sahut Adinda sambil membukakan pintu kamar.


"Din, Mama mau pergi ke rumah Tante Sarah," ujar mertuanya itu.


"Ada acara apa, Ma?" tanya Adinda.


"Itu si Yana, anaknya. Udah melahirkan. Cucu Tante Sarah perempuan. Pasti lucu sekali," jawab Mama mertua Adinda dengan ekspresi wajah gemas.


"Iya, Ma. Aku mau membereskan kamar dan ruang kerja Dimas, mumpung aku ada di rumah." Adinda menjelaskan seolah menggambarkan bahwa dia sedang sibuk sehingga mertuanya itu tidak menawarinya untuk ikut ke sana.


"Ya, udah. Kamu jaga rumah saja. Mama pergi dulu, ya," ucap mertua Adinda meninggalkannya.


"Mama lihat cucu orang lain aja bahagia banget. Apalagi kalau cucu kandungnya sendiri" batin Adinda sedih karena belum bisa memberikan cucu untuk mertuanya itu. Mertuanya kan tidak tahu kalau dia pernah keguguran.


Derrt. Derrt. Derrt


Suara ponsel Adinda berdering di atas nakas.


"Siapa yang telpon, ya?," gumam Adinda lalu meraih ponselnya.


Dimas calling


[Assalamualaikum]


[Waalaikumsalam. Lagi ngapain, Din?]


[Beresin kamar. Pakaian yang udah lama nggak dipakai mau disumbangkan saja, Mas. Terus aku mau beresin meja kerja kamu. Kertas-kertas yang nggak berguna mau ku kasihkan ke Bibik yang jualan di warung ujung sana. Lumayan, kan buat dia bungkus cabe atau bawang]


Cerita Adinda panjang kali lebar.


[Rajin banget istriku ini. Aku kira masih di atas ranjang]


[Ngapain di atas ranjang kalau nggak ada temannya]


Adinda tersenyum geli mendengarkan ucapannya sendiri.


[Aku bisa pulang sekarang juga kalau kamu mau]


Dimas di seberang sana pun tersenyum manis menangapi ucapan istrinya itu.


[Ah, kesempatan. Nggak bisa dikasih lampu hijau nih laki]


Terdengar suara Dimas terkekeh mendengarkan ucapan Adinda.


[Udah kerja sana. Aku mau lanjutin kerjaanku]


[Nantilah, Sayang] bujuk Dimas.


[Kamu telpon mau ngapain?]

__ADS_1


[Kangen suara kamulah]


[Gombal!! Pagi-pagi udah ngegombal]


Susahnya kalau istri nggak biasa digombalin. Mental terus deh gombalannya.


Setelah Dimas mematikan telponnya Adinda melanjutkan kembali aktivitasnya. Tak lama dia pun istirahat karena badannya mulai terasa capek sekali.


"Ya Allah, baru bergerak sedikit begini kok rasanya udah kayak kerja rodi aja" keluh Adinda sambil mengelap peluh di dahinya.


Adinda pun merebahkan badannya di atas sofa yang ada di dalam kamarnya. Tanpa sadar dia pun tertidur.


***


Selesai sholat subuh Adinda bersama mertuanya membuat sarapan pagi. Mama Dimas membuat nasi goreng sementara Adinda membuat minuman dan roti bakar.


Adinda menutup hidungnya ketika aroma bawang goreng masuk ke dalam penciumannya. Perutnya mulai terasa bergejolak namun ditahannya sampai dia menyelesaikan roti bakar yang dia buat.


"Ma, aku ke kamar dulu. Nggak tahan lagi" ucap Adinda meninggalkan mertuanya. Setelah menyelesaikan tugasnya Adinda bergegas masuk ke kamar. Mertuanya hanya berpikiran kalau Adinda kebelet mau buang air besar.


Dimas yang masih berada di kamar tampak heran melihat Adinda masuk ke kamar dan terburu-buru langsung menuju ke toilet.


"Hoek ... Hoek ... Hoek"


Dimas mengeryitkan dahinya mendengarkan suara Adinda di dalam kamar mandi seperti sedang muntah.


"Hoek ... Hoek ... Hoek"


Semakin sering terdengar, Dimas pun menaruh iPad yang dia pegang di atas nakas dan menghampiri Adinda di dalam kamar mandi.


"Din, kamu kenapa?" tanya Dimas cemas melihat Adinda menyiram lantai kamar mandi.


"Udah tahu orang muntah pake nanya lagi" sungut Adinda menuju ke ranjang lalu duduk di sisinya. Adinda mendadak jadi sensitif ditegur Dimas begitu.


"Iya, maksud aku kenapa kamu sampe muntah begitu. Apa salah makan?" tanya Dimas lagi.


"Aku juga nggak tahu, Mas. Waktu Mama goreng bawang tadi perut jadi mual setelah mencium aromanya" jawab Adinda masih menutup mulutnya menahan mual.


Dimas berjalan mendekati Adinda. "Kamu belum sarapan, kan?. Ayo, kita sarapan dulu, biar nggak mual lagi," ajak Dimas sambil menarik tangan Adinda agar berdiri.


Adinda menggelengkan kepalanya. Dia belum berkeinginan untuk mengisi perutnya.


"Ayolah, Sayang. Temani aku sarapan pagi" tatap Dimas mesra dengan tangan membelit pinggang Adinda.


"Aku mau mandi dulu, Mas. Jadi kalau udah sarapan bisa langsung pergi kerja" ujar Adinda.


"Ya, udah. Aku yang akan menemani kamu mandi" balas Dimas menyunggingkan senyuman.


"Ah, niat kamu udah lain itu!" ledek Adinda. Dimas terkekeh. Bisa saja Adinda membaca gelagatnya.


"Din" panggil Dimas lembut sambil semakin merapatkan badannya kepada Adinda.


"Apa?" tanya Adinda menatap manik suaminya.


"Tamu bulanan kamu belum datang, kan?" tanya Dimas.


"Belum, Mas. Tapi kayaknya udah mau datang soalnya kalau badanku mudah capek begini biasanya satu atau dua hari lagi udah datang. Kenapa?" Adinda balik bertanya setelah menjawab apa yang Dimas tanyakan.


"Sebelum dia datang, aku mau..."

__ADS_1


"Mau ap..." Belum sempat Adinda melanjutkan ucapannya, Dimas sudah menyosor bibirnya.


Adinda paling malas harus keramas pagi. Apalagi dia mau ke sekolah. Sudah pasti rambutnya masih lembab. Tapi mau bagaimana lagi dia akan berdosa jika menolak keinginan suaminya bahkan ketika sedang di dapur sekalipun, istri harus meninggalkannya. Adinda teringat dengan haditsnya.


"Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur."(HR. Tirmidzi)


Adinda dan Dimas keluar kamar dengan pakaian sudah rapi dan siap berangkat ke tempat kerja masing-masing.


"Kalian belum sarapan, kan?" ujar Mama Dimas. Adinda dan Dimas duduk di kursi makan untuk sarapan pagi.


"Tumben udah rapi begini baru mau sarapan" selidik Mama Dimas.


"Biar bisa langsung kerja, Ma" jelas Dimas tersenyum. Adinda hanya tersenyum simpul. Dimas mengambilkannya nasi goreng ke dalam piring.


"Dikit saja, jangan banyak-banyak" ucap Adinda. Soalnya dia ingin makan roti bakar juga, nanti kekenyangan kalau nasinya kebanyakan.


Dimas pun mengurangi porsi nasi goreng untuk Adinda. Mama Dimas hanya tersenyum memperhatikan perlakuan Dimas kepada menantunya. Anaknya itu benar-benar sangat mencintai istrinya.


***


Beberapa hari kemudian


"Kenapa si Adinda, kok melamun begitu" batin Sinta melihat Adinda duduk di balik meja kerjanya.


Sinta pun berjalan mendekatinya. Karena biasanya jam istirahat begini Adinda sudah mengajaknya ke kantin untuk mengisi perut.


"Hey, melamunkan apa?" tegur Sinta mendekati Adinda lalu duduk di sampingnya.


"Nggak, Sin. Aku cuma lagi mikir aja. Biasanya aku kalau mau datang bulan kan badanku pegal-pegal dan mudah capek. Ini udah lima hari lebih, udah lewat dari tanggalnya kok belum datang juga" jelas Adinda.


"Ya Allah, Dinda. Kamu kok malah sedih nggak datang bulan, sih" seru Sinta sambil menepuk pundak Adinda.


"Sinta, apaan sih. Sakit tau!!" ujar Adinda sewot sambil menatap heran Sinta.


"Din, kalau kamu belum datang bulan juga. Itu artinya kamu hamil dong" ucap Sinta dengan mata berbinar menatap Adinda.


Adinda pun melongo tidak percaya. Kenapa kok dia malah sampai tidak kepikiran ke arah sana.


"Iya, ya, Sin"


"Pulang ini coba aja kamu cek ke rumah sakit" usul Sinta. Adinda pun mengangguk setuju dengan saran Sinta.


Pulang dari sekolah, Adinda menyempatkan diri pergi ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit. Dimas yang agak terlambat menjemputnya hanya selisih jalan saja. Ketika Adinda naik ke dalam bis, mobil Dimas baru tiba di depan sekolah. Sudah 15 menit Dimas menunggu di dalam mobil sambil melihat ke arah dalam sekolah, namun sosok yang ditunggunya belum juga kelihatan.


Dimas pun coba menghubungi ponsel Adinda, tapi tidak bisa dihubungi. Akhirnya dia turun menghampiri satpam yang masih berada di pintu pagar sekolah.


"Cari siapa, Pak?"


"Bu Adinda, sudah pulang belum, ya?" tanya Dimas kepada satpam sekolah yang menegurnya.


"Oh, sudah, Pak"


"Terima kasih, Pak"  Dimas kembali lagi masuk ke dalam mobilnya.


Dimas pun mencoba menghubungi Mamanya untuk mengetahui apakah Adinda sudah pulang ataukah belum.


"Ke mana dia? Kalau kata Mama, Adinda sama sekali belum pulang ke rumah" gumam Dimas sambil menyalakan mobilnya untuk kembali lagi ke kantor.


Pikiran Dimas di kantor pun menjadi tidak karuan memikirkan Adinda. Ponselnya tidak bisa dihubungi dan juga tumben Adinda tidak mengabarinya kalau mau pergi sehingga dia kan tidak perlu datang untuk menjemputnya ke sekolah.

__ADS_1


__ADS_2