Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 6: Terkejut


__ADS_3

"Din, kamu naik bis atau ikut aku?” tawar Sinta.


Kalau ikut Sinta, dia juga masih harus nyambung naik angkot lagi. Lebih baik langsung naik bis aja. Pikir Adinda.


“Woi, kelamaan mikir” teriak Sinta menjentikkan jarinya di depan wajah Adinda. “Atau kamu menunggu dijemput Dimas?”


“Aku nggak minta jemput. Lagipula mana mungkin tuh orang tiba-tiba datang menjemputku” jawab Adinda dengan nada kecewa.


'Aku udah mendiamkan Dimas, mana mungkin dia mau meluangkan waktu disela aktivitas kantornya untukku" batin Adinda tersenyum getir melihat beberapa rekan kerjanya menyapa pulang duluan karena sudah dijemput suami mereka.


“Ya, udah. Aku duluan, ya” pamit Sinta.


Dari jauh Pak Suharmin, satpam sekolah berlari tergopoh-gopoh menghampiri Adinda dan Sinta di kantor. Pak Suharmin mengatur napas sebelum bicara dengan Adinda.


“Ada apa, Pak Min?” tanya Adinda penasaran.


“Bu Dinda, ada cowok ganteng  menjemput ibu di luar. Buruan, Bu. Diaa udah lama menunggu” jawab Pak Suharmin.


“Cowok ganteng!!” teriak Sinta dan Adinda serempak mereka berdua saling tatap.

__ADS_1


“Siapa, Din?” tanya Sinta penasaran.


“Mana aku tahu” Adinda mengangkat bahunya.


“Ya, udah. Sana lihat.  Aku duluan, ya” Sinta melambaikan tangannya sambil menstarter motor maticnya.


Adinda berjalan menuju pintu gerbang sekolah, kaki Adinda berhenti ketika melihat sosok laki-laki tinggi yang berdiri membelakanginya di luar pintu gerbang. Jantungnya berdebar kencang ketika melihat sosok yang tidak asing lagi baginya.


“Tidak mungkin” gumam Adinda pelan.


“Ngapain dia repot-repot ke sini?” ada perasaan aneh yang menjalar di hati Adinda melihat kehadiran laki-laki itu.


“Ngapain?” tanya Adinda basa-basi sambil mengatur detak jantungnya yang sudah di luar batas normal.


Laki-laki tampan itu berbalik, lalu membuka kaca mata hitamnya. Dia tersenyum menatap Adinda. Sudah lama dia tidak mendengar suara Adinda.


“Butuh tumpangan plus makan siang gratis?” tanyanya tersenyum menatap Adinda.


“Aku nggak biasa naik mobil mahal” sindir Adinda.

__ADS_1


“Ayolah, Sayang. Aku kan udah minta maaf. Kita akhiri perang dingin ini” ujarnya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya di depan Adinda.


Adinda tersenyum kecil melihat tingkah Dimas. Dirinya tidak percaya kalau Dimas mau datang menjemputnya ke sekolah. Getar-getar aneh itu menyusup kembali ke relung hatinya. Akhirnya Adinda masuk ke dalam mobil. Entah mengapa degup jantungnya mulai tidak normal lagi ketika duduk berdekatan dengan Dimas di dalam mobil.


“Emangnya kamu nggak sibuk?”tanya Adinda basa-basi.


“Kesibukaanku terganggu karena memikirkan kamu” toleh Dimas tersenyum.


“Huh, gombal” ujar Adinda tanpa melirik Dimas.


“Aku nggak pernah ngegombalin cewek,” Dimas tersenyum sambil melajukan mobilnya menuju restoran seafood favoritnya. “You are the first” tolehnya melihat Adinda.


“Gombal lagi” gumam Adinda pelan.


“Terserah, deh” ujar Dimas menyerah.


Susah ya ngomong dengan perempuan. Bilang iya, salah. Bilang enggak, tambah salah lagi. Jadi, ya terserah aja. Mungkin kata 'terserah' seolah menggambarkan tanda pasrah.


Dimas berusaha mencairkan suasana antara dirinya dengan Adinda. Dia berusaha menyelami karakter dan sifat Adinda yang banyak belum dia ketahui. Meskipun pernah dua tahun satu kelas, bukan berarti Dimas kenal betul dengan sosok wanita bernama Adinda itu. Yang Dimas tahu, dulu Adinda adalah cewek galak, sengak dan tidak bersahabat dengannya.

__ADS_1


__ADS_2