
Setelah mengetahui maksud terpendam Mayang kepadanya, Hendra merasa sedikit tidak nyaman berada di kantor dengan posisinya sekarang. Mayang tetap tidak peduli dengan status Hendra yang sudah beristri. Dia tetap mepet dengan Hendra. Gadis itu memang jauh lebih muda dari Sinta, tapi dia justru menyukai laki-laki dewasa seperti Hendra.
"Mas Hen, mau makan belum?" ujar Mayang muncul di balik ruangan Hendra.
Hendra tampak kaget. Dia memang tidak pernah menutup rapat ruangannya itu. Hendra melirik jam di tangannya. Memang sudah waktunya makan siang. Tapi makan bareng dengan Mayang, dia harus berpikir ulang. Dia tidak mau memberi harapan kepada gadis itu. Sebelumnya dia perhatian dengan Mayang hanya karena menghormatinya sebagai anak atasannya. Tapi entah apa yang dia bicarakan kepada kedua orang tuanya hingga orang tuanya mengira kalau dia juga menyukai Mayang.
"Ehm, kamu makan saja duluan. Aku akan makan di ruangan saja. Istriku membawakan aku bekal untuk makan siang" sahut Hendra menolak Mayang secara halus.
Mayang tersenyum sinis mendengarkan ucapan Hendra. "Mas, bekal kamu itu sudah dibuat dari subuh tadi kan, pasti sekarang dingin dan tidak enak lagi" cibir Mayang kemudian masuk ke dalam ruangan Hendra.
"Masakan istriku enak meskipun sudah dingin. Sebelumnya dia memang tidak sempat untuk membawakan bekal untukku, jadi kenapa aku tidak menghargainya ketika dia meluangkan waktu untuk membuatkan bekal suaminya" jelas Hendra.
Mayang berdecak kesal. Sejak pulang dari luar kota, sikap Hendra menjadi dingin kepadanya. Mayang duduk di atas meja kerja Hendra, paha mulusnya terpampang jelas di depan Hendra karena gadis itu memakai rok pendek di atas lututnya.
Hendra memalingkan wajahnya. Gadis itu berusaha sedang menggodanya. "Ya, Tuhan. Kuatkanlah imanku" batin Hendra.
"Kalau Mas mau makan, makan saja. Aku tetap akan duduk di sini" ujar Mayang manja, tangannya menarik ujung roknya sedikit lagi agar paha mulusnya lebih banyak terekspose.
"Mayang, kursi di depan itu kan kosong. Kamu bisa duduk di sana kan" ucap Hendra menelan salivanya sambil menahan godaan setan betina di depannya itu.
"Ya, ampun. Mas Hendra!. Kamu lucu sekali, sih. Aku makin suka sama kamu, Mas" seru Mayang tertawa manja sambil menyilangkan kakinya. Hendra menarik napas dalam. Semakin dibiarkan gadis itu nanti akan semakin menggodanya.
"Mayang, hentikan bersikap seperti wanita murahan" tegas Hendra. "Kamu tahu kan, kalau aku sudah memiliki istri" sambung Hendra.
Mayang membulatkan matanya mendengarkan ucapan Hendra yang menyindirnya. "Apa kamu bilang, Mas. Aku wanita murahan?" Mayang turun dari meja Hendra dan menatap tajam laki-laki di dekatnya itu.
"Asal kamu tahu, Mas!. Aku sudah membantu kamu hingga bisa berada di posisi sekarang ini" teriak Mayang. Hendra sudah menduganya. Apa yang istrinya ucapkan ternyata memang benar.
"Itu karena apa, Mas?" tanya Mayang. Laki-laki itu bergeming.
"Itu karena aku mencintai kamu, Mas" ujar Mayang menjawab sendiri pertanyaannya.
Hendra berdiri dari tempat duduknya. Dia menarik napas agar tetap tenang mengahadapi anak atasannya itu.
__ADS_1
"May, kamu masih muda, cantik dan pintar. Kamu bisa mendapatkan laki-laki yang masih single dan lebih baik dariku. Aku sudah punya istri dan anak. Istriku percaya denganku ketika aku keluar dari rumah, aku pergi untuk bekerja mencari nafkah yang halal. Aku sangat mencintai mereka, May" jelas Hendra pelan.
"Kamu salah telah menempatkan cintamu kepada pria yang sudah beristri" sambung Hendra ketika melihat Mayang hanya membisu.
Saat itu wajah Sinta berkelebat di depannya. Hendra pun jadi ingin cepat pulang ke rumahnya.
"Kamu jahat, Mas!!. Lantas perhatian kamu selama ini apa?" tanya Mayang tiba-tiba.
"May, aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri karena usia kamu jauh lebih muda dariku. Lagi pula kamu juga anak atasanku, tidak mungkin aku bersikap galak dan cuek kan" jawab Hendra menjelaskan sikapnya yang sudah disalahartikan oleh Mayang.
Airmata gadis itu merembes, dia patah hati karena telah ditolak mentah-mentah oleh Hendra. Tanpa kata-kata, Mayang berlari keluar dari ruangan Hendra.
Hendra menghembuskan napasnya dan menjatuhkan badannya ke kursi kerjanya. "Siap-siap dipanggil bos dan dipecat olehnya" gumam Hendra sambil memijat keningnya.
Hendra pulang kerja memang lebih awal dari biasanya. Hendra mampir ke rumah orang tuanya sebentar. Dia hanya ingin menegaskan kepada ibunya untuk tidak mencampuri urusan rumah tangganya.
"Ibu tidak usah bicara sembarangan kalau tidak tahu faktanya. Siapa bilang kalau aku menyukai Mayang juga?. Itu hanya persepsi Mayang, dan ibu menanggapinya. Aku sudah punya istri, Bu. Ibu jangan silau dengan harta orang tua Mayang lantas ingin menghancurkan rumah tanggaku dengan Sinta" cecar Hendra kepada ibunya.
"Tapi Mayang sendiri yang bilang kalau kamu sangat baik dan perhatian dengannya. Dia sangat mencintai kamu, Hen" ujar Ibu Hendra tidak mau disalahkan.
Ibu Hendra tertunduk diam. Hendra kemudian pergi dari rumah orang tuanya. Sinta memang bukan dari keluarga terpandang seperti Mayang, tapi Hendra sangat mencintainya. Dulu dialah yang mengejar-ngejar cinta Sinta karena awalnya Sinta sama sekali tidak meliriknya.
Hendra pulang ke rumah dengan hati yang kesal. Sementara di rumah, Sinta sudah mandi sore. Biasanya memang sore hari dia akan menjemput anaknya yang dititipkan di rumah orang tuanya. Alika yang masih sekolah TK pulang dari sekolah dia langsung dijemput oleh kakeknya dan gadis kecil itu meminta Sinta untuk menjemputnya sore hari saja karena dia mau bermain dengan teman-temannya di sana.
Sinta yang masih berbalut handuk tiba-tiba dipeluk oleh Hendra yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Abang!! Pulang-pulang langsung nyosor saja" ujar Sinta kaget. "Tumben pulang cepat" batin Sinta.
Hendra hanya diam sembari menciumi badan Sinta yang sudah wangi sabun mandi itu.
"Tumben Abang pulang cepat?" tanya Sinta sambil menghindari kecupan Hendra karena merasa geli.
"Aku kangen" bisik Hendra dengan suara berat. Tangannya sambil melucuti kemeja yang masih menempel di badannya.
__ADS_1
"Aabang maaandi duluuu" ronta Sinta bergelinjang merasakan sentuhan jemari Hendra yang sudah menyusup di balik handuknya.
"Dek, di kantor mata suamimu ini sudah melihat sesuatu yang bukan miliknya. Hanya kepadamu aku bisa melampiaskan hasratku yang sedang bergejolak ini" bisik Hendra kemudian memagut bibir istrinya dengan lembut. Sinta pun mengikuti irama suaminya.
Hendra kemudian menjatuhkan badan istrinya di atas ranjang. Tangannya sudah menarik handuk Sinta dan melemparnya ke sembarang tempat. Sore itu Hendra melampiaskan hasratnya akibat ulah Mayang yang telah memperlihatkan paha mulusnya. Di rumah Hendra bisa menikmati paha halal miliknya dengan sepuas hati.
"Karena Abang ini, aku jadi mandi dua kali, deh" ujar Sinta sewot sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Hendra hanya tersenyum sambil mengenakan baju kaos. Dia bersama Sinta akan pergi menjemput Alika pulang.
"Abang bilang tadi melihat sesuatu yang bukan milik Abang, maksudnya apa?" tanya Sinta teringat dengan ucapan suaminya tadi.
"Di kantor tadi, Mayang coba menggodaku dengan..." Hendra menggantung ucapannya sehingga membuat Sinta menjadi penasaran apalagi sudah menyangkut soal pelakor itu.
Sinta berjalan mendekati suaminya. "Dengan apa, Bang?" tanya Sinta penasaran.
Hendra menyibakkan belahan handuk yang masih Sinta kenakan. Hendra kemudian memandang paha mulus istrinya. "Dengan ini" jawab Hendra tersenyum menatap Sinta sambil mengelus pahanya.
"Hah!! Berani sekali dia" teriak Sinta kaget.
"Roknya pendek sekali, Dek. Dia tiba-tiba langsung duduk di meja kerjaku sambil merayuku agar tidak makan bekal yang kamu bawakan" cerita Hendra.
Mulut Sinta menganga. Dia teringat akan ucapan Adinda. Jika lama-lama dibiarkan mereka sering bertemu, suatu saat suaminya akan tergoda jika wanita itu semakin berani saja.
"Makanya aku ingin cepat pulang ke rumah dan menikmati paha halal ini" bisik Hendra masih mengelus paha Sinta hingga ke puncak. Sinta langsung menepis tangan Hendra.
"Abang!!!" pelotot Sinta."Kita mau menjemput Alika."
"Makanya kamu buruan pakai baju. Buat suami ngiler lagi, kan" balas Hendra tertawa kecil.
Hendra kemudian berlalu dari hadapan Sinta. "Aku tunggu di luar, ya" ucap Hendra sambil keluar dari kamar.
Sinta tersenyum geli. "Alhamdulillah, suamiku tidak tergoda dengan setan betina itu" batin Sinta bernapas lega.
__ADS_1
Sinta segera memakai bajunya. Dia dan Hendra akan menjemput Alika di rumah orang tua Sinta.