Menjaga Hati

Menjaga Hati
Part 31: Tertukar


__ADS_3

Pagi hari


Setelah sarapan Adinda merasakan perutnya diaduk-aduk. Biasanya tidak mual-mual lagi kalau sudah lewat tri semester pertama.


"Hoek ... Hoek," Adinda memuntahkan isi perutnya.


"Yang, kamu kenapa?" tanya Dimas panik melihat Adinda sedang di  kamar mandi.


Dimas yang sudah berpakaian rapi dan siap berangkat kerja, melepaskan dulu jas yang dipakainya. Dia mendekati Adinda dan mengurut-urut tengkuk istrinya.


"Nggak tahu, kemarin-kemarin nggak mual seperti ini" jawab Adinda sambil mengelap mulutnya.


"Kamu tadi makan nasi goreng, kan?" tanya Dimas mengingatkan. Adinda hanya mengangguk


"Mungkin karena rasa pedas itu, bisa memicu asam lambung kamu juga. Mungkin juga calon bayi kita nggak suka pedas" sambung Dimas lagi.


"Mungkin juga, Mas" sahut Adinda. Gejolak ingin muntah itu sudah mereda. Adinda pun bersiap-siap untuk berangkat kerja juga.


Dimas duduk di tepi ranjang, menunggu Adinda yang sedang mengenakan jilbabnya. Sambil menunggu dia membuka ponselnya. Menunggu istrinya yang sedang berdandan lumayan membuatnya bosan.


"Ayo, Mas" Adinda sudah berdiri tepat di hadapan Dimas. Dimas  berdiri sehingga membuat badannya begitu dekat dengan Adinda.


Dimas menatap wajah Adinda yang tampak berseri meskipun hanya memakai bedak yang tipis.


"Mau tahu nggak obat supaya tidak mual lagi?" tanya Dimas masih menatap Adinda.


"Apa?. Kasih tau, dong" ujar Adinda begitu penasaran.


Dimas tersenyum lalu menarik tengkuk Adinda, mendekatkan wajahnya kemudian mengunci bibir istrinya itu. Sejenak Adinda kaget, namun dia pun ikut menikmati morning kiss dari suaminya itu.


Dimas melepas pagutannya agar Adinda bisa menghirup udara kembali. "Masih mual, nggak?" tanya Dimas tersenyum.

__ADS_1


"Ah, kamu ini. Bisa-bisanya" Adinda tersipu malu kemudian mencubit pinggang Dimas dengan gemas. Dimas tertawa lalu menghindar. Dia mengambil jasnya dan siap-siap keluar dari kamar sekaligus menghindari cubitan istrinya itu.


Tiba di depan sekolah.


"Mas, aku turun, ya" ucap Adinda sebelum turun dari mobil.


Adinda meraih tangan Dimas kemudian mencium punggung tangannya. Dimas kemudian mencium kening istrinya itu.


"Hati-hati, ya. Jaga makanan. Jangan makan sembarangan. Sebelum bel pulang cepat hubungi aku" pesan Dimas panjang lebar.


"Iya. Iya. Banyak sekali pesannya. Bisa-bisa tidak ada yang aku ingat" ujar Adinda tersenyum geli.


Setelah Adinda turun dan mengucapkan salam, Dimas pun melajukan mobilnya meninggalkan lokasi tempat istrinya mengajar.


"Din, sini!" panggil Shinta ketika melihat Adinda baru saja memasuki ruangan guru. "Aku bawa kue," ucap Shinta setelah Adinda duduk di hadapannya.


Adinda melihat satu tepak berisi cake yang sangat menggoda lidah untuk mencicipinya.


"Kamu buat sendiri?" tanya Adinda tidak percaya. Shinta kan paling malas membuat kue.


"Ayo, makan. Ibu hamil itu harus banyak makan" ujar Shinta lagi sambil menyodorkan kue ke arah mulut Adinda. Mau tak mau ibu hamil itu membuka mulutnya.


"Hmm. Lembut sekali, Sin. Sepertinya ini kamu beli, deh" ujar Adinda masih tidak percaya.


"Ya, Allah. Dinda!!" teriak Shinta gemas. "Tidak perlu aku membuat video tutorialnya agar kamu percaya," pelotot Shinta.


"Iya, aku percaya" ucap Adinda tertawa kemudian mengambil satu potong kue lagi. Ternyata enak sekali cake buatan Shinta.


"Wah, sedang makan apa?" tanya Amanda menghampiri meja Shinta.


"Ayo, Man. Cicipi kue buatanku. Siapa tahu kamu mau order" tawar Shinta sekalian promosi.

__ADS_1


Amanda pun ikut mencicipi kue buatan Shinta. "Enak, Mba. Aku pesan satu loyang, ya. Topping-nya pakai keju  saja. Soalnya suamiku suka keju" ujar Amanda setelah merasakan enaknya kue buatan Shinta.


"Iya, aku juga pesan, Sin. Dua loyang, ya" ujar Adinda ikutan memesan.


"Oke. Terima kasih. Besok aku bawakan pesanan kalian" ujar Shinta semangat.


Mereka pun bersiap-siap untuk beraktivitas mengajar di kelas masing-masing karena bel masuk sudah berbunyi.


Di tempat lain.


Hasna tampak sedang berjalan memasuki lobi sebuah hotel dengan terburu-buru hingga tidak memperhatikan jalan di depannya lagi.


Bukk!!


Dia dan salah satu pengunjung hotel yang juga tidak memperhatikan jalan saling tabrak. Ponsel keduanya terjatuh ke lantai. Hasna dengan cepat memungut ponselnya yang jatuh. Begitupun juga dengan laki-laki yang menabraknya juga memungut ponselnya yang telah jatuh.


"Maaf ... maaf" ucap Hasna.


"Saya juga minta maaf" balas laki-laki berkacamata hitam itu.


Mereka pun melanjutkan lagi tujuan masing-masing. Tanpa sadar bahwa mereka sudah mengambil ponsel yang bukan milik mereka. Karena bentuk, warna dan tipe ponsel keduanya sama sehingga tertukar.


Hasna akan menghadiri pertemuan para pengusaha di ballroom hotel tersebut.


"Afrina, duduk di mana, ya?" gumam Hasna sambil mengedarkan pandangannya di dalam ballroom yang sudah ramai.


"Coba aku telpon saja. Dia pasti sudah datang duluan," gumam Hasna lagi sambil menyentuh finjer print di balik ponselnya. Ponselnya tidak terbuka tapi menyala dan memperlihatkan wallpaper seorang laki-laki berwajah tampan.


"Hah. Ini ponsel siapa?. Kok, ada foto laki-laki, sih" ujar Hasna terkejut bukan main. Dia membolak-balik ponsel tersebut. Memang sama persis dengan ponselnya. Hanya menggunakan silikon ponsel berwarna bening.


"Ya, Tuhan. Bagaimana aku bisa mendapatkan ponselku kembali. Kalau ponsel ini saja tidak bisa dibuka" pikir Hasna. "Ah, coba aku ke resepsionis saja untuk meminjam telpon dan menghubungi nomor kontakku sendiri. Siapa tahu laki-laki pemilik ponsel ini belum jauh."

__ADS_1


Hasna kemudian memasuki lift dan kembali ke lobi. Di sana dia meminjam telpon resepsionis untuk menghubungi ponselnya. Ternyata laki-laki yang memegang ponselnya baru menyadari kalau ponsel mereka sudah tertukar ketika Hasna menghubungi ponsel tersebut.


Mereka berdua bertemu kembali di lobi hotel dan saling berkenalan. Ternyata keduanya sama-sama pengusaha muda yang akan mengikuti pertemuan di ballroom hotel. Tapi karena Hamish, nama laki-laki itu ada keperluan sebentar dia pun keluar dari hotel dan tanpa sengaja telah menabrak Hasna.


__ADS_2